BUKAN BERARTI “SANDAL JEPIT” ITU MENJADI MILIKKU

Jumat, 03 Agustus 20180 komentar


BUKAN BERARTI “SANDAL JEPIT”  ITU MENJADI MILIKKU
Kisah ringan nan inspiratif dari seorang sahabat  

Usai melakukan sholat 2(dua) raka’at ba’da Jumat, akupun beranjak keluar dari mesjid untuk melanjutkan aktivitas. Namun, ada sedikit hambatan karena tak kunjung berhasil menemukan sandal jepit yang sudah kuberi tanda khusus berupa “huruf” memakai spidol. Aku mencoba mencari diantara tumpukan sandal yang masih banyak, tetapi tak kunjung berhasil menemukan sanda jepit yang sudah akrab denganku hampir 1 (satu) tahun itu. Sesudah mencoba duduk beberapa menit sambil memantau jama’ah yang keluar mesjid, ku pastikan tidak ada jama’ah yang datang kembali karena merasa  salah membawa sandal.

Sambil menunggu semua jama’ah keluar dari mesjid, aku memperhatikan satu sandal jepit yang  mirip dengan sandalku namun tidak satupun ada yang memakainya. Kebetulan sandal jepit itu pun diberi tanda khusus dengan huruf yang serupa dengan sandalku dan  sama-sama di tulis dengan menggunakan spidol. “mungkin, sang pemilik sandal jepit ini keliru sehingga membawa sandalku tanpa sengaja”, simpulku dalam hati.  

Mas..sepertInya sandal jepit saya ada yg menginginkannya..hehe.. Bisa belikan sandal jepit..nanti sy ganti..”, demikian kukirim WA ke salah satu temen sekantorku yang sudah pulang lebih dulu. Sambil menunggu, aku kembali masuk ke dalam mesjid dan   kebetulan bertemu seorang sahabat yang lama sudah tidak bersapa. Kami pun ber-cengkrama tanpa thema sampai 10 menitan. Saat partner kerjaku datang mengantarkan sandal jepit baru yang dibungkus kresek, aku hanya memberi kode untuk meletakkannya di sudut saja karena aku sedang menjawab satu pertanyaan ringan dari sang sahabat. Tak lama berselang, aku pun berpamitan dan kemudian beranjak.

Kuambil sandal jepit yang masih terbungkus tas kresek. Saat akan menggunakannya, aku masih melihat sandal jepit yang mirip punyaku masih ada di posisinya. Kesimpulanku menguat tentang kemungkinan sang pemilik sandal ini telah keliru membawa sandalku. Sempet ter-ide untuk membawa sandal itu, karena akalku berkesimpulan bahwa sandal itu pasti tidak akan ada yang membawanya pulang, Akan tapi sesaat kemudian ku batalkan niat itu. Alasannya sederhana saja, walau mungkin sang pemilik sandal jepit itu telah keliru membawa sandalku, namun itu bukan alasan cukup untuk meng-haki atau meng-klaim sandal itu menjadi milikku.

Akhirnya, aku meninggalkan mesjid dengan menggunakan sandal jepit baru yang tadi dianter oleh teman sekantor. Sambil berjalan menuju ruang kerja, aku mencoba membangun ikhlas dan sekaligus maaf untuk orang yang telah membawa sandal jepitku serta berdo’a semoga hal ini menjadi sumber tambahan kebaikanku dimata Sang Khalik. Selanjutnya, aku mencoba ber-istighfar dalam hati sambil berdo’a semoga kejadian ini bukan wujud amarah Tuhan atas ragam khilaf dan salah yang mungkin kulakukan, entah itu di sengaja atau pun tidak. Sambil ber-muhasabah, aku terus melangkah dan kemudian melempar senyum ke temen-temen sejawat saat memasuki ruang kerja. “semoga sandal yang dibawa orang lain itu menjadi sumber pahala baru dan sekaligus menjadikan pengurang dosa”, ujarku kepada rekan-rekan sambil memasuki ruang kerja.

Sejenak duduk di kursi kerja, akupun teringat kembali kejadian serupa. Hanya saja, 2 (dua) minggu  sesudah kehilangan, aku melihat kembali sandal jepitlku itu ada di barisan sandal di teras mesjid. Saat itu, aku hanya tersenyum sendiri tanpa mencoba meng-konfirmasi pada orang yang menggunakannya. Harapku, sandal itu akan terus di bawa ke mesjid dan atau untuk perjalanan yang baik sehingga aku pun berpeluang memperoleh nilai kebaikan passive dari sebuah sandal jepit. Uniknya lagi, sandal yang Jum’at kemarin keliru dibawa orang lain adalah sandal pengganti waktu kejadian yang mirip  dengan tahun sebelumnya.

                                                                                           
                                                                                           special thank to sahabat
                                                                                           yang sudah mau berbagi cerita di blog ini



Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved