DIALOG KOPERASI BERSAMA MAS GANJAR

Senin, 02 Juli 20180 komentar


DIALOG KOPERASI BERSAMA MAS GANJAR

“Peran Koperasi belum seperti ideal konsepsinya. Koperasi belum bisa menjawab tantangan kekinian dunia usaha. Koperasi belum menunjukkan peran significant dalam perekomoian Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Koperasi masih punya segudang hambatan sehingga perlu melakukan serangkaian langkah komprehensif secara bertahap dan berkesinambungan”, demikian inti pengantar moderator  dalam “dialog koperasi” yang digelar On Air di radio-radio jawa Tengah, Hari Selasa, 03 Juli 2018. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian HUT Koperasi Jawa Tengah yang puncaknya direncanakan di Kabupaten Pemalang. Hadir sebagai narasumber dalam acara ini, Mas Ganjar selaku Gubernur Jawa Tengah, Bu Ema selaku Kepala Dinas Koperasi dan UKM Prop. Jawa Tengah; Bung Niam mewakili praktisi koperasi mahasiswa; KSP Inti dana mewakili simpan pinjam konvensional, perwakilan Koperasi Syari’ah dari sala tiga dan Bu Aprilia mewakili KUD.

Koperasi itu dibenci dan sekalgus dirindu”, demikian kelakar Mas Ganjar, Gubernur Jawa Tengah, dalam mem-prolog perbincangannya tentang koperasi. Koperasi  itu unik dimana konsepnya dari dan untuk anggota. Oleh karena itu, koperasi hanya bisa tumbuh dan berkembang bila ada kemauan untuk menyatukan diri dan potensi serta bergotong royong diantara segenap anggotanya. Kekuatan persatuan anggota harus diikuti dengan pengelolaan perusahaan yang profesional sehingga koperasi mampu menyajikan tawaran menarik yang memiliki nilai tambah.  

Sementara itu, Ibu Ema selaku kepala Dinas Koperasi & UKM dalam dialog tersebut menyajikan keragaan koperasi yang saat ini berjumlah 25.956 dan yang aktif sekitar 21.000. Jumlah koperasi ini  merupakan hasil dari proses revitalisasi dimana sekitar 3000 BH (badan Hukum) koperasi dibekukan karena tidak jelas keberadaannya. Sementara itu,kontribusi koperasi terhadap PDB Propinsi Jawa Tengah sampai di angka 4.96 %.

Membincang tentang faktor hambatan tumbuhkembangnya koperasi, Bu Ema menjelaskan ada 4 (empat) masalah utama, yaitu; (i) kelembagaan; (ii) usaha, (iii) regulasi dan (iv) nilai2 koperasi (baca; lemahnya implementasi jati diri koperasi). 4 (empat) masalah ini me-referensi pada hasil sarasehan koperasi yang di gelar tahun lalu dalam rangka HUT Koperasi Jawa Tengah. Atas hal ini, Bu Ema selanjutnya menjelaskan langkah-langkah yang diambil, antara lain :  (i) mendorong penyelenggaraan pendidikan perkoperasi kepada anggota oleh gerakan koperasi; (ii) re-branding usaha; (iii) peningkatan kualitas  pengawasan dan; (iv), digitalisasi pelayanan koperasi.


Khusus Tentang SDM, Mas Ganjar menyampaikan perlunya peningkatan efektivitas metode pendidikan koperasi. Pendidikan tentang nilai beda koperasi dibanding dengan non-koperasi dan semangat kegotongroyongan,  juga harus disertai dengan pendidikan kewirausahaan sehingga anggota lebih semangat dalam meningkatkan produktifitasnya secara individu. Saat ini, SDM koperasi masih sering diisi oleh kelompok pensiunan sehingga sangat dimungkinkan sudah kehabisan energi walau tidak menutup kemungkinan memiliki gagasan-gagasan brilian. Mungkin yang dimaksud Mas Ganjar adalah perlunya kombinasi dengan generasi muda sehingga melahirkan sinergitas sehingga koperasi bisa tampil dengan semangat kekinian. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan koperasi untuk bisa eksis di era digital yang padat teknologi canggih nan super modern.

Koperasi harus bisa eksis dan bersaing. Jika belum bisa, maka koperasi harus bermitra dalam rangka memperkuat diri.”bersekutu tambah mutu”, demikian istilah yang dipinjam Mas Ganjar dari Malaysia dalam menandaskan perlunya koperasi berkolaborasi dan menjalin kemitraan strategis. Beliau mencontohkan, bila saja seluruh petani di Jawa Tengah bersatu maka bargainning position nya akan menjadi begitu dahsyat dan peluang menaikkan harga gabah atau membangun nilai tambah atas hasil panennya menjadi sangat mungkin. Sejalan dengan itu, koperasi perlu merangsang partisipasi aktif anggota dengan menciptakan “manfaat langsung yang bisa dirasakan” sehingga terbangun trust  dan kemauan untuk terus melibat secara produktif.  

Sekilas tentang KUD, Mas ganjar menegaskan komitmennya untuk menghidupkan kembali KUD. Beliau sudah memerintahkan Kepala Dinas Koperasi dan UKM untuk meng-inventarisir kembali KUD-KUD potensial untuk ditumbuhkan dan kemudian diberikan treatment yang tepat dan juga insentif bagi yang berprestasi. Kita harus menumbuhkan kembali KUD sehingga bisa berjaya sebagaimana sedia kala. Mas Ganjar juga menyampaikan bahwa dalam satu lawatannya ke Korea beebrapa tahun lalu dikagetkan dengan testimoni koperasi pertanian di korea yang dalam pengembangannya mencontoh konsep KUD yang ada di Indonesia.   

Mewakili gerakan koperasi mahasiswa, Bung Niam menegaskan bahwa dalam hal pendidi kan anggota , Koperasi Mahasiswa cukup concern. Bahkan Koperasi Mahasiswa memiliki formasi pendidikan ke dalam levelling mulai pendidikan dasar (Diksar), pendidikan menengah (Dikmen), pendidikan lanjut (Dikjut) dan ToT (Training on Trainer). Hal ini sebagai wujud komitmen koperasi mahasiswa dalam meng-edukasikan nilai-nilai kejuangan koperasi kepada generasi muda yang pada waktunya akan terjun ke koperasi-koperasi yang ada di masyarakat. Dalam kesempatan ini, Bung Niam juga menyuarakan tentang kurang berpihak-nya rektorat terhadap tumbuhkembangnya kopma.  

Mas Ganjar meng-apresiasi keberadaan dan ragam aktivitas yang diselenggarakan kopma. Tentang ke-belum berpihakan pihak kampus,Mas Ganjar bersaran untuk melakukan dialog dengan pihak kampus. Bahkan, bila perlu didirikan “koperasi universitas” yang ber-anggotakan mahasiswa, karyawan dan dosen. Untuk gagasan ini, perlu fasilitator yang bisa mengajar semua unsur duduk bersama dan mendiskusikan secara terbuka.  

Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved