KOTA YANG MENAWARKAN “PELUANG KEBAIKAN YANG LUAS”

Selasa, 19 Juni 20180 komentar


KOTA YANG MENAWARKAN “PELUANG KEBAIKAN YANG LUAS”
Catatan 01 dari menyambangi kota kelahiran dalam semangat idul fitri

Aku terkaget bunyi klakson berkali-kali dari kendaraan dibelakangku saat aku memilih berhenti kala lampu merah menyala. Tak lama berselang, beberapa sepeda motor melintas dari kiri dan tetep melintasi lampu yang masih merah tanpa sedikitpun menandakan perasaan bersalah. Aku pun menemukan kunci jawaban mengapa mobil-mobil dibelakangku gerah dan merasa terganggu dengan sikapku yang memilih patuh. Ternyata, “taat lampu lalu lintas” adalah sesuatu yang tergolong aneh di kota ini.

Ketaatan terhadap lalu lintas terjadi bila hanya ada petugas/polisi yang berdiri di sana. Hal ini kupastikan saat memasuki kota yang nota bene adalah area “kawasan tertib 9lalu lintas”. Pada titik ini, semua memilih taat dan bahkan tidak satupun yang berani memberhentikan kendaraannya di bibir garis markah jalan. “ternyata ini tentang kesadaran dan budaya”, simpulku menyaksikan realitas masyarakat dalam berlalu lintas.

Hal serupa juga terjadi dala urusan “memakai helm”. Tak terlihat keyakinan mereka memakai helm saat berkendaraan roda 2 (dua) sebagai kebutuhan melindungi diri sendiri dari resiko. Apakah mereka memiliki cadangan nyawa sehingga tidak takut dengan resiko bila terjadi kecelakaan?. Uniknya, seperti ketaatan ber-lampu merah,  mereka menggunakan helm hanya bila memasuki kawasan terib lalu lintas.

Setidaknya, 2 (dua) fakta kepatuhan pengendara saat memasuki kawasan KTL (Kawasa Tertib lalu Lintas) meng-isyaratkan bahwa sesungguhnya potensi kepatuhan dan keamanan berkendaraan sangat terbuka lebar dibudayakan. Hanya saja, kerja keras  dan cerdas diperlukan dalam men-sosialisasikan dan meng-edukasikan perlunya membangun budaya tertib berkendara dan berlalu lintas.  Kerjasama semua pihak perlu digiatkan sehingga menyuarakan agenda ini secara serempak mulai dari sekolah, tempat-tempat ibadah, kumpulan-kumpulan RT dan lain sebagainya. Pada titik tertentu, kemudian perlu di lakukan control dan pusishment yang tegas atas setiap pelanggaran.              

Napak tilas mengitari kota menjadi caraku untuk mengenang sejarah masa lalu. Tiap sudut seolah mengingatkan langkahku di masa lampau, jejak dimana aku melalui setiap sudut kota ini di masa kecil. Semua masih komplit seolah menjadi artefak perjalanan hidupku. Sambil mengelilingi kota, aku meng-kisahkan ragam juangku kepada ketiga lelakiku dengan harapan mereka akan memiliki semangat juang dalam hidupnya.  Aku ceritakan di toko mana aku berbelanja dan kemudian naik bentor (becak motor) ke terminal bis. Aku sampaikan pula bagaimana berkomunikasi strategis dengan toke agar bisa dikasih hutang sehingga tokoku penuh dengan persediaan barang dagangan.

Dipenghujung cerita, aku pun tersadar bahwa hampir tidak ada yang berubah.Semua tempat dimana aku memiliki jejak masih lengkap, utuh dan bahkan kebanyakan mewujud dalam bentuk serupa dengan 25 (dua puluh lima tahun) tahun lalu. Adakah kota ini sengaja di design demikian sehingga menjadi identitas yang men-ciri  di memori setiap orang tentang kota ini?. Ataukah memang perubahan didefenisikan bukan terletak pada perwajahan kota?.

Aku mencoba berfikir positif saja walau sempat tergoda berkesimpulan bahwa “ini kota yang mengalami persoalan dengan pertumbuhan”. Pikiran positif ini pun terbenarkan dengan perkembangan disisi kota dimana begitu banyak berdiri hotel, supermarket dan bahkan mall. Obyek wisata alam juga tumbuh bagaikan jamur dimusim hujan. Beberapa universitas pun hadir sebagai penanda kota ini concern dengan kualitas dan masa depan sebuah generasi.   

Kota ini ini keren dan sangat potensial untuk lebih ditumbuhkembangkan. Pelibatan masyarakat  perlu di dorong sehingga terbangun kolektivitas produktif yang memberi daya dorong terhadap akselerasi pembangunan dalam arti luas.   Akselerasi perlu dilakukan dengan memberi ruang  lebih luas bagi masyarakat untuk berkiprah & berperan. Mungkin saja, kota ini memerlukan konsep planologi kota tegas sehingga perwajahan kota ini men-cirikan kerapi-an dan keindah-an sehingga lebih asik untuk di pandang dan dinikmati. Penyebaran konsentrasi pembangunan perlu difikirkan sehingga tidak terjadi sentralisasi keramaian yang menimbulkan kemacetan di bagian-bagian tertentu saja.

Satu hal lagi,  mindset & mentalitas masyarakat pun perlu didorong ke arah yang lebih dinamis sehingga terbangun percaya diri yang lebih dalam menumbuhkembangkan bakat dan kreatifitasnya. Pembangunan kesadaran di kalangan masyarakat perlu dilakukan secara massif sehingga memantik inisiatif untuk melibat dan berkontribusi dalam proses pembangunan secara proporsional.

Simpulnya, kota ini menawarkan “ruang kebaikan” yang luas bagi mereka  yang menyukai terbangunnya karya-karya keren bernada kemasyarakatan. Disisi lain, apresiasi atas setiap inisiasi masyarakat perlu dikembangkan sehingga terbangun semangat dan juga budaya kreatif disetiap lapisan masyarakat.  Praktek-praktek baik dan positif yang ada di keseharian masyarakat perlu digali dan disebarluaskan sehingga nilai-nilai kemanfaatannya menjadi lebih luas. Bakat-bakat unik dan hebat perlu difasilitasi sehingga menemukan titik optimum kedahsyatannya.

Pada akhirnya, defenisi hebat dan keren perlu di geser dari materialitas menjadi ke-karyaan. Eksistensi masyarakat pun tidak lagi ditentukan jumlah kebendaan yang mentereng, tetapi oleh seberapa banyak prestasi dan karya kreatif nan produktif yang berdampak luas bagi kehidupan dirinya dan juga  masyarakat .  Untuk itu, setiap orang harus dipandang sebagai insan unik dan berbakat, sehingga yang diperlukan hanyalah ruang-ruang penyaluran yang selalu memanjakan bakat-bakat itu menemukan titik optimumnya. Kalau hal ini mewujud, “kota kreatif” menjadi sangat layak untuk disematkan pada kota hebat ini.     


By : Muhammad Arsad Dalimunte

Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved