“KETIKA SEMUA ORANG BERMIMPI HAL SERUPA”

Selasa, 19 Juni 20180 komentar


“KETIKA SEMUA ORANG BERMIMPI HAL SERUPA”
Catatan 02 dari menyambangi kota kelahiran dalam semangat idul fitri


Ada kekaguman saat mendapati mesjid-mesjid menggunakan AC di kota ini. Hal ini tak kudapati 5 (lima) tahun lalu saat terakhir kali berkunjung ke kampung kelahiranku ini. Terlepas karena udara yang sering panas, kondisi ini seolah men-simbolkan 2 (dua) hal, yaitu; (i) masyarakat memiliki kehidupan yang layak dan; (ii) mesyarakat memiliki kepedulian tinggi dalam urusan ber-Tuhan. Supermarket pun sudah berdiri tegak di beberapa titik di lingkar kota ini. Hotel-hotel berkelas pun hadir di kota ini dan bersaing sehat untuk mengais keuntungan. Obyek wisata pun jumlahnya begitu banyak dan masing-masing menawarkan ciri khas tersendiri. Beberapa universitas juga hadir sebagai pusat peradaban dan tempat pembentukan insan-insan berkualitas. “Ini kota yang maju dan berkembang”, ujarku dalam hati saat melakukan napak tilas di kota ini      

Tak jarang aku berpapasan dengan mobil-mobil bagus cenderung mewah saat melintasi jalan propinsi, jalan kabupaten dan bahkan jalan desa. Saat mengelilingi desa dipagi hari untuk menghirup udara segar yang masih bebas dari polusi, aku pun mendapati banyak kendaraan berkategori serupa terparkir di banyak garasi, Tadinya aku fikir ini pasti mobil para perantau sukses  yang mudik. Namun, sepertinya dugaanku salah dan mobil-mobil  keren itu ternyata kendaraan harian yang dipakai oleh mereka. Pada level lebih rencah,  pun terlihat nyata motor-motor merk terkini lalu lalang melintas di jalan raya. Kalaupun ada mobil atau sepeda motor jadul yang melintas, jumlahnya relatif kecil dibanding keluaran terbaru.  

Sumber daya alam melimpah ternyata menjadi penyumbang kesejahteraan masyarakat disini. Sawit dan karet yang mendatangkan uang secara periodik, tidak saja menjadi mesin jawab atas kebutuhan pokok, tetapi juga telah membawa mereka bersentuham dengan kebutuhan sekunder dan bahkan tertier.  Terbersit tanya, apakah semua memiliki lahan atas sawit atau karet?.

Observasi singkat menunjukkan sebagian anggota masyarakat bukanlah pemilik lahan, tetapi sebagai penggarap lahan. Sebagian lainnya berprofesi sebagai tukang becak, pembantu rumah tangga dan atau menjadi buruh/karyawan di perusahaan-perusahaan swasta, baik yang bergerak disektor perdagangan maupu industri. Menjadi wirausahawan dan PNS adalah profesi lainnya, khususnya mereka yang memiliki keberuntungan hidup.

Yang jelas, apapun profesinya, “memiliki sebidang lahan sawit atau karet” adalah mimpi yang terpatri pada setiap orang. Untuk itu, mereka rajin menabung dan bahkan berhutang bank demi mewujudnya mimpi indah. Ketekunan, kesabaran dan keuletan pun pada akhirnya membawa mereka sukses menggapainya. Mereka pun pada akhirnya memiliki kebun yang luasnya beragam. Kebun ini kemudian dijadikan  sebagai  sumber passive income dan  menjadikan profesi yang mereka jalani di keseharian sebagai sumber  active income. Artinya, active income dijadikan sebagai penjawab kebutuhan pokok dan passive income menjadi alat untuk bisa bersentuhan dengan kebutuhan sekunder atau tertier. Sementara itu, bagi yang menginginkan lahan yang lebih luas, mereka memilih menahan diri untuk hidup mewah. Hasil kebun di setting untuk menghasilkan kebun baru, entah itu dengan cara membangun lahan baru atau take over lahan  yang dijual karena sang pemilik butuh uang mendukung anaknya bersekolah ke tingkat yang lebih tinggi.

Dipenghujung pengamatanku dari depan teras rumah pun berakhir dengan beberapa pertanyaan yang memerlukan jawab untuk berkesimpulan komprehensif tentang kota ini, yaitu; (i) dengan sumber daya melimpah, apakah menggiring masyarakat ke dalam faham materialitas?; (ii) sejalan dengan itu, apakah masyarakat terjebak gaya hidup konsumerisme dan individualisme?; (iv) dengan tingginya gairah masyarakat dalam membangun sarana ibadah, adakah ini hanya sekedar kebanggaan simbolik yang mem-budaya ataukah cerminan keberhasilan agama sebagai inspirasi masyarakat  untuk lebih ber-kinerja secara ekonomi?; bagaimana dengan tingkat kesenjangan dan implikasi sosialnya?. Bagaimana pula dengan indeks kebahagiaan masyarakat disini?. 

Singkatnya keberadaanku di kota ini tak memungkinkan mendapat jawab atas semua tanya itu. Yang jelas, kesimpulan sementaraku, kota ini keren, berkembang, menyenangkan dan sepertinya berpeluang menjadi kota metropolitan. Hanya saja, yang perlu menjadi catatan penting adalah tentang imbas pembangunan & kemajuan.  Implikasi sosial perlu ter-kendali dimana kebijakan lokal (local wisdom) tetap terjaga sehingga masyarakat tidak kehilangan identitasnya. 

Semoga Tuhan memberiku kesempatan lagi untuk kembali dan menemukan jawab atas segala tanya yang membenak. Aamiin.


By : Muhammad Arsad Dalimunte

Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved