RAPAT ARAH PENGEMBANGAN EKONOMI KAB BANYUMAS 2018-2023

Rabu, 07 Februari 20180 komentar


RAPAT ARAH PENGEMBANGAN EKONOMI KAB BANYUMAS 2018-2023

Purwokerto, 07-Feb-2018. Bappeda Litbang Pemkab Banyumas menggelar Rapat Perencanaan Pembangunan Ekonomi Kab. Banyumas 2018-2023 dengan Pembahasan Prospek  Ekonomi dan tantangan Pengendalian Inflasi. 


Rapat ini menghadirkan segenap stake holder antara lain : OPD di lingkungan Pemkab Banyumas. Universitas di lingkungan Kab Banyumas, ISEI Banyumas, Assosiasi dan perhimpunan pelaku usaha seperti Kadin, Assosiasi beras, Hipmi, Appindo dan Dekopinda Banyumas. Rapat tergelar di ruang pertemuan Bank Indonesia Purwokerto dan dimulai dengan agenda  makan siang bersama.   


Dalam laporan dan sekaligus prolognya, Bapak Eko, selaku kepala Bappedalitbang Kab. Banyumas dan juga sebagai moderator dalam agenda ini menyampaikan bahwa ada 2 (dua)  dokumen perancanaan yang akan disusun, yaitu; (i) perencnaan tahunan untuk 2019 dan’ (ii)  jangka menengah periode 2018-2023. Perencanaan memiliki 3 (tiga) sisi yang merupakan satu kesatuan, yaitu teknokratik, politis dan partisipatif.  Sisis teknokratik, perencanaan harus dilengkapi dengan analis dan akademis. Sisi politis mereferensi dari visi dan misi kepemimpinan daerah. Sisi partisipatif ditempuh melalui musrenbang mulai dari tingkat desa. Ketiga sisi ini harus menjadi satu kesatuan dalam perencanaan yang komprehensif. 



Assekbang Pemkab, Bapak Didi Rudwiyanto, dalam sambutannya menyampaikan bahwa agenda ini Sangat strategis sebab berkaitan dengan perwajahan ekonomi Kabupaten Banyumas di mendatang.  Agenda ini juga berlangsung dalam suasana kebathinan yang diwarnai iklim politik Pilkada yang sebentar lagi akan di gelar.     Perencanaan pembangunan ekonomi harus bersifat menyeluruh (komprehensif) dengan memperhatikan efektivitas ketercapaian. Moment ini juga sebagai moment “belanja masukan” sehingga menghasilkan perencanaan yang terukur dan realisitis. Untuk itu perlu jeli memperhatikan varibel-variabel berpengaruh, antara lain: (i)  kebijakan publik; (ii) tata kelola dan; (iii) lingkungan strategis, seperti akan adanya Bandara, jalan Tol dan Double track. Dipenghujung sambutan dan arahannya, Bung Didik menyampaikan harapannya, “Pemkab sangat berharap masukan dari berbagai stake holder dalam perencanaan pembangunan ekonomi Kab. Banyumas 2018-2023.

Dalam session rapat ini juga diisi dengan presentasi oleh 4 (empat) nara sumber, yaitu :  
a.   Capaian Kinerja Ekonomi Banyumas oleh Badan Pusat Statistik Banyumas (cq. Bapak Edi)
b.    Prospek Ekonomi Kab Banyumas 2018-2023 oleh Perwakilan bank Indonesia
c.    Alternatif Kebijakan Program Pembangunan Ekonomi Banyumas 2018-2023 oleh ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia)
d.      Perencanaan Pembangunan Ekonomi Daerah Kab Banyumas oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsoed (cq. Bapak DR. Refi)


01.   Bapak Edi, Badan Pusat Statistik
Dalam presentasinya beliau menjelaskan beberapa hal seputar capaian, yang ,meliputi pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, kemiskinan,IPM (indek Pembangunan Manusia), kinerja ekonom dan tingkat inflasi.  Beberapa hal yang menjadi catatan dalam presentasi beliau, antara lain:
a.      Banyumas sudah beralih ke industri pengolahan yang semula mengandalkan pertanian.  
b.      Tingkat Gini Ratio Banyumas masuk dalam kategori sedang, yaitu 0,32.
c.      Sistribusi presentasi PDRB menurut pengeluaran didominasi oleh pengeluaran konsumsi rumah tangga yang pada tahun 2016 menunjukkan angka sampai 70,48
d.      Sisi inflasi pada tahun 2017 menyentuh angka 3,91.  
e.      Dari sisi pelaku ekonomi, UKM memiiliki porsi 98% yang secara detail dijelaskan sebagai berikut : (i) Mikro 199.958 ; (ii) Kecil 14.371; (iii) Menengah 2.084 dan; (iv) Besar 147. Hal ini juga sejalan dengan posisi tenaga kerja sebagai berikut : (i) Mikro 311.267; (ii) Kecil 76.065; (iii) Menengah 39.250 dan; (iv) Besar 21.054.  


02.   Bapak Fadhil, Deputi Bank Indonesia Perwakilan Purwokerto
BI mengawali presentasinya  dengan presentasi Bu Askah, mengawali presentasinya tentang perkembangan ekonomi global yang diproyeksikan stabil selama 5 tahun ke depan. Pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2017 berada pada kisaran 3,7%.

Sementara itu Banyumas didefenisikan : komoditas unggulan ekspor agribisnis yaitu gula semut (indonesia rangking no.6 dan minyak atsiri (Indonesia rangking 15 dunia). Pertumbuhan 2016 tercatat 6,06%. Berkaitan dengan proyeksi ke depan, BI meyakini Banyumas akan tumbuh oada kisaran 6,2%. Hal ini didukung pertumbuhan sektor pariwisata dan industri pengolahan. Fakro pendukung pariwisata antara lain wisata baturraden, pancuran pitu, pancuran telu dan lain sebagainya. Sementara itu,  untuk faktor pendukung industri pengolahan antara lain potensi pertanian, peprkebunan dan kehutanan (gula semut, durian, terpentin), double track kereta api dan jalan raya lintas jalur selatan dan kemudahan berusaha.  

Ada catatan tambahan dari Pak Fadhil, dimana perlu pengayaan kreasi agar purwokerto menjadi tempat singgah yang menarik.


03.   Bapak DR. Agus Soeroso, ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia) Banyumas
DR. Agus mencermati presentasi BPS yang menekankan bahwa pemicu pertumbuhan ekonomi adalah pengeluran rumah tangga yang menunjukkan angka sampai dengan 70%. Dari hasil penelitian marketing mengyopulkan bahwa wanita adalah unsur pengambil keputusan dalam berbelanja.  

Proyeksi pertumbuhan ekonomi, Indoensia 5,1-5,3% dan implikasi Prov Jawa Tengah; pertum uhan ekonomi 5,3-5,6; (ii) kemiskinan maksimal 13%; (iii) tingkat pengangguran maksimal 4%.

Sebagai sumbangsih pemikiran terhadap penyusunan rencana pembangunan, beliau menyampaikan beberapa gagasan sebagai berikut :
a.  Investasi pada klaster bisnis yang mampu mendorong ekonomi lokal dan mendorong pengembangan entrrepreneurial
b.   Menumbuhkembangkan iklim bisnis yang kondusif
c.    Membangun jejaring dengan stakeholder
d.    Memantau dan meningkatkan brand Banyumas     

  
04.   Bapak DR. Refi, FEBI (Fakultas Ekonomi dan Bisnis) Unsoed
Dalam presentasinya, dijelaskan faktor pertumbuhan ekonomi :
a.   Besarnya konsumsi rumah tangga
b.   Sektor pengolahan, perdagangan dan pertanian
c.   Laju inflasi yang berfluktuasi selama 5 tahun terakhir masuk kategori baik.


Isu-isu strategis mengatasi kesenjangan :
  1. Mengembangkan peran lembaga-lembaga ekonomi di tingkat desa/kecamatan
  2. Fasilitasi pendirian usaha2 baru melalui pendmpingan teknis yang terprogram
  3. Peningkatan akses informasi pasar dan potensi pasar untuk mnedorong produk-produk lokal.
  4. Peningkatan iklim penanaman modal, khususnya di wilayah yang banyak penduduk miskin, serta mendorong penanaman modal menarik tenaga kerja.

Gagasan strategi pengendalian inflasi
  1.  Perlu perbaikan produksi komoditas pertanian, terutama beras yang harganya melonjak dan komoditas pertanian penting lainnya (cabe, bawang dan daging)
  2. Peningjatan kualitas infrastruktur pertanian dan pendampingan
  3. Perlunya upaya-upaya mempersingkat rantai nilai terutama untuk barang-barang kebutuhan pokok
  4. Perlu upaya berkelanjutan menampung barang2 hasil pertanian sehingga ketersediaannya terjamin.

SESSION DISKUSI
Dalam sesi diskusi tersampaikan beberapa hal :
  1. perlu juga mengedepankan pembangunan sumber daya manusia berbasis spiritualitas
  2. perlunya memperhatikan relevansi antara investasi dan tata ruang (Dishub)
  3. start up memerlukan perhatian sehingga ada kesinambungan yang tumbuh dan kembang (Bapak Darmawan/UMP)   
  4. Perlu penjelasan tentang bisnis pom bensin mini yang saat ini sedang trendi di lingkungan masyarakat. Hal ini perlu kejelasan sehingga Dinas Tenaga Kerja, Koperasi dan UKM memiliki dasar yang kuat ketika ada masayarakat yang menginginkan mengatasnamakannnya dengan kelembagaan koperasi.  ( Pak Budi/ Disnakerkop & UKM). 





Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved