KETIKA AKU BEGITU MERINDU...

Minggu, 18 Februari 20180 komentar


KETIKA AKU BEGITU MERINDU...

Aku rindu mandersa (surau/musholla) milik Kakek (orang tua dari bapakku). Aku rindu menapaki tangganya setahap demi setahap  sampai menuju manara puncak (lantai 03). dimana aku biasa menyuarakan azan tanpa bantuan microphone. Tak peduli suaraku bagus atau tidak, dogma tentang kemuliaan mengumandangkan azan telah membangunkan percaya diri untuk  melengkingkan satu persatu kalimat azan itu sampai selesai.

Aku sering menaiki tangga itu sendirian dan terkadang barengan dengan adik-adik ayahku yang umurnya  hanya selisih satu atau  dua tahun saja. Kami sering berebut kesempatan memukul kentong  sekeras-kerasnya untuk mengabarkan pada semua orang kalau waktu sholat telah tiba. 

Tak kalah serunya saat Bulan Ramadhan dimana bunyi kentong maghrib demikian magis-nya bagi siapapun yang sedang berpuasa, khususnya anak-anak seusia kami saat itu.  Terkadang sengaja  menghabiskan bekal buka puasa yang sengaja kami bawa dari bawah, sesudahnya  baru memukul  kentong. Kebiasaan buruk ini pun membuat Sang Kakek marah karena terlambat memukul kentong gara-gara aksi nyeleneh nan egois itu.  

Mandersa ini juga tempat diriku digembleng mengenal huruf dan belajar mengaji. Aku masih ingat begitu sering beranjak  dari ruang belajar mengaji  dengan alasan mau melihat jam dinding ruang persujudan untuk memastikan  apakah waktu sholat Isya sudah masuk atau belum. Kalau sudah masuk, maka ini menjadi alasan tak terbantahkan untuk meninggalkan ruang belajar mengaji dan kemudian mengumandangkan azan di menara mandersa dengan penuh percaya diri. Sejujurnya, ini strategiku menghindari giliran membuktikan kebenaran tajwid membaca alqur’an  dihadapan Sang  Guru yang tak lain adalah kakekku sendiri.   Masih terngiang suara nenek kala mencontohkan dan membimbing cara membaca Alqur’an dengan baik.  Uniknya, beliau  melakukannya dari seberang  posisi duduk sila para murid-muridnya (sehingga beliau membacanya dari sisi terbalik).

Akupun  rindu suasana tadarusan ramadhan tiap kali  usai sholat tarawih.  Ketukan kaleng  menjadi momok bagi siapapun sebab suaranya bak palu hakim dan penanda hilangnya hak peserta tadarusan dalam melantunkan ayat Alqur’an. Inilah aturan baku yang berlaku  dimana setiap peserta tadarus yang sedang dapat giliran melantunkan ayat Alqur’an wajib  menghentikan bacaannya bila terkoreksi oleh 3 (tiga) kali ketukan dari peserta tadarus lainnya.

Tak jarang aturan main ini menjadi awal lahirnya dendam antara satu peserta dengan peserta  lainnya.   Kejengkelan pun sering muncul kala harus berhenti di ayat pertama hanya karena keliru dalam membunyikan huruf dan atau salah dalam urusan panjang pendek. Namun demikian, tanpa disadari aturan ini telah melahirkan begitu banyak pelajaran bagi kami, mulai dari berhati-hati dalam melantunkan ayat, bersabar menunggu setiap giliran, berfikir cermat & kritis, berani ambil resiko, belajar berbesar jiwa dan lain sebagainya.

Masih seger diingatan  seputar  aksi nakal  bersama  temen sebaya yang kebanyakan sedang memasuki masa puber. Kain Tabir pembatas  barisan peserta tadarus pria dan wanita selalu menjadi media kreativitas negatif. Membuat lobang kecil pada kain tabir menjadi cara  demi bisa melihat barisan wanita yang sedang mengaji dan atau sedang menyimak. Kami pun tak jarang berebut kesempatan memaksimalkan lubang kecil magis di kain tabir itu sebagai media menyampaikan pesan yang tertulis dalam secuil kertas. Ujung-ujungnya, aksi ini pun tidak jarang menjadi muasal tumbuhkembangnya benih cinta monyet diantara para peserta tadarusan. Disisi lain, pemanfaatan lubang magis ini pun selalu menjadi muasal jeweran  bila ketahuan sang guru/pendamping tadarusan.

Aku pun sedang merindukan saat di setiap sore berangkat ke Madrasah Ibtidaiyah, Dengan peci dikepala berikut tas berisikan kitab, ku kayuh sepeda  BMX   kebanggaanku lengkap dengan termos es  lilin yang setia menempel di bagian belakang.  Masih kuat di memoriku saat para Ustadz/ah  menyampaikan ragam pelajaran seperti fiqih, hadist, bahasa arab, imlak, nahu, shorof, tarikh, lughot dan lainnya.

Terlepas ilmu agama hanya kudalami sampai MTs (Madrasad Tsanawiyah), setidaknya deretan pelajaran itu telah menjadi bekal  mengisi perjalanan waktu, menemani  dalam menghadapi rintangan hidup penuh dinamika dan drama nan melelahkan, menjadi penyemangat  saat akal lumpuh memakna realitas hidup dan atau sedang terjebak dalam ragam soal yang tak kunjung bertemu jawab.

Aku sedang merindu...merindu masa kecil yang kental dengan lingkungan religius yang begitu mendamaikan dan menentramkam jiwa, sebuah masa yang telah membawaku ke kehidupan saat ini. Kerinduan ini berujung harap terbangun spirit untuk belajar agama lebih giat lagi, agar terbimbing menjadi pribadi yang lebih baik lagi....Aaamiin.
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved