CELOTEH RINGAN TENTANG SEBENTUK PILKADA

Rabu, 17 Januari 20180 komentar

CELOTEH RINGAN TENTANG  SEBENTUK  PILKADA  

A.   Muasal Inspirasi
Hari ini, aku di WA seorang temen yang mengarahkan pilihan pada salah satu paslon. Hal ini mengingatkanku pada 10 tahun lalu saat melibat dalam sebuah tim sukses. Ku respon dengan gegap gempita sebagai bentuk apresiasi terhadap semangat juangnya. Setidaknya, hal ini sebuah kehormatan terpilih menjadi orang yang di approach untuk mendukung paslon yang diidolakannya. Namun, apakah aku akan memilih paslon sesuai arahannya?. Mungkin terlalu dini untuk menentukan pilihan.


Tulisan ini bukan ekspresi kekecewaan karena tidak tercatat sebagai salah satu nama paslon yang bertarung di Pilkada. Itu sungguh jauh dari kemampuan, angan dan tidak pernah terimajinasi. Aku hanya ingin sekedar meng-ekspresikan perspektif ku tentang Pilkada sambil mengenang sepenggal masa lalu yang unik dan penuh drama.    Saat itu aku melibat aktif di sebuah tim Sukses. Walau berstatus sebagai pembelajar dalam urusan politik, tetapi aku berada dibagian strategis dan bergabung denan orang-ornag pinter nan hebat dalam urusan strategi politik. Alhamdulillah, walau peranku hanya sebutir pasir, kecerdasan konseptor dan totalitas kawan-kawan relawan berujung indah. Yang jelas, kemenangan itu karena keberpihakan Tuhan.

Uniknya, 6 (enam) bulan nimbrung ke dalam gegap gempita dari sebuah perhelatan sebuah pesta demokrasi,  aku pun tergiring berkesimpulan bahwa  , aku tak memiliki bakat dalam wilayah politik”. Disisi lain, secara sadar terbangun kekagumanku kepada para politisi, khususnya tentang keyakinan dan mentalitas dalam bertarung dan memenangkan sebuah permainan rumit dan begitu melelahkan. Sungguh memainkan ruang semacam itu tak mudah dan seolah membenarkan kalimat “kepastian terletak pada ketidakpastian itu sendiri.    

Sekali lagi kutandaskan, tulisan ini juga bukan bentuk lamaran untuk menjadi bagian dari tim sukses pada salah satu paslon, sebab berkecimpung sekali  merupakan bekal dan pengetahun yang cukup untuk berkesimpulan tentang apa dan bagaimana itu politik dan bagaimana hiruk pikuk sebuah pilkada. Aku tidak mengatakan politik itu kotor, tetapi aku yang harus berbesar jiwa memang tak memiliki nyali cukup berada di lingkaran bernama politik.   

Insha Allah tulisan ini tidak dimaksudkan untuk memihak pada paslon manapun, sebab ini hanyalah celotehan ringan dari orang yang kebetulan sempat berkecimpung walau sesaat. Kalau kemudian ada yang merasa diuntungkan dengan tulisan ini, itu hanya kebetulan semata. Jadi, tidak ada maksud lain kecuali berceloteh dengan harapan bisa menghibur dan atau bahkan meng-inspirasi kebaikan.    

Kembali ke labtop, pesta demokrasi bernama pilkada hampir tak mungkin diselesaikan lewat musyawarah untuk mencapai mufakat. Andai itu terjadi, pasti akan masuk ke dalam rekor dunia. Semua orang dari segala penjuru pasti akan datang dan bertanya dengan penuh keheranan, “bagaimana bisa hal semacam itu mewujud?”.

Atas dasar itu pula, setiap paslon beserta timsesnya masing-masing harus berjuang menyusun dan meng-implementasikan strategi yang sekiranya bisa meraup simpati dan loyalitas para pemilk suara.  Disana pasti hadir gembling, pertarungan keberanian dan rasa takut, kecamuk bayang kemenangan dan atau kekalahan. Di sepanjang prosesnya selalu hadir keyakinan yang tak boleh dipercaya 100 % sampai kemenangan itu benar-benar nyata. Alasannya sederhana, politik bisa berubah setiap detik sehingga perlu daya tahan jantung yang tak biasa.  

Satu hal yang menjadi catatan, kunci kemenangan ada di dalam “bilik suara” dan semarak-mya kampanye bukan ukuran pasti tentang peta suara. Dalam bilik suara, rakyat berdiri bebas dalam menentukan pilihan pemimpinnya.  

B.   Tentang Tim Sukses
Sebenarnya, Tim Sukses itu jauh lebih ampuh ketimbang paslonnya sendiri sebab apapun hasil akhir sebutannya tetep tim sukses. Hal ini sangat berbeda dengan paslon yang bertaruh langsung antara menang atau kalah, sebab seimbang alias draw itu belum pernah terjadi kecuali dalam sebuah pertandingan olah raga.

Untuk itu, sebagian paslon memilih  mem-pasrahkan dan mempercayakan urusan pememnangan kepada Tim Sukses, namun sebagian paslon lainnya membentuk double gardan dalam menghimpun suara. Pada pilihan cara manapun yang dipilih seorang paslon, selalu begitu banyak orang  merasa berperan bila kemenangan datang. Hebatnya lagi, sang Paslon pemenang pun tak pernah mempermasalahkan kondisi semacam itu, sebab sukses melenggang adalah target finalnya. Disamping itu, semakin banyak yang meng-claim ikut berjasa semakin besar potensi daya dukung saat sang paslon menjalani masa kepemimpinannya.

tak ada kawan atau lawan abadi, Yang ada hanyalah kepentingan abadi”, demikian pandangan politik ber-ujar. Hal ini pula yang membuat politisi terbimbing untuk tidak boleh percaya sepenuhnya pada siapapun, termasuk dengan orang yang duduk disebelahnya. Pada titik ini  “kesetiaan” menjadi begitu sulit didapati sebab saling men-curigai menjadi bentuk kewaspadaan terbaik untuk tidak terjebak. Kalau begitu, apakah akan ada tim sukses yang solid dalam arti luar dalam?.

Ada tidkanya bongkar pasang timses menjadi pemandu untuk bertemu jawabnya. Yang jelas, merasa nyaman diperbedaan dan akrab dengan ragam intrik  menjadi kunci eksis di lingkungan timses. Tak boleh baper karena para adventourir politik akan memainkan kepentingan pragmatisnya dengan ragam cara dan kadang memang tidak terfikirkan sebelumnya. Untuk itu, defenisi tentang kenyamanan  sementara harus direvisi, sebab perhelatan Pilkada adalah ajang menguntai kelihaian ber-strategi. Kehadiran para oppourtunist harus difahami sebagai bumbu penyedap ragam kegalauan sehingga tidak terpancing pada emosi berlebihan. 
 
C.   Tentang Konflik  di Masyarakat 
Menarik untuk mengamati perilaku para simpatisan yang seolah tak pernah kehabisan energi menyuarakan paslonnya. Bahkan tak jarang mengungkap keburukan  paslon lainnya dijadikan strategi demi mendapatkan tambahan suara dukungan. Mungkin hal semacam ini tidak terjadi di lingkungan orang-orang berpengetahuan cukup tentang politik. Namun, di arus bawah tak jarang perseteruan sengit terjadi sampai tak bertegur sapa.  Hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan, militansi buta dan terlalu berhasrat  keluar sebagai pemenang. Lagi-lagi hal ini menjadi bagian dari dinamika  sebuah pesta demokrasi bernama Pilkada. Bahayanya, bila hal ini dimanfaatkan pihak-pihak tertentu yang senang pertikaian mengedepan, sebab mungkin saja mereka mendapat keuntungan dari situasi rumit itu.

D.   Mendeteksi Motif Melibat
Menarik juga untuk mendeteksi motif setiap orang yang melibat secara aktif dalam arti lebih dari sekedar datang men-coblos di bilik suara. Apalagi ada pemahaman bahwa  setiap orang di muka bumi ini pasti memiliki motif ketika melakukan sesuatu, entah itu motif vertikal maupun motif horizonal. 

Kalau motif vertikal tentu mengarah pada kemuliaan diri dihadapan Sang Pencipta. Sementara itu, dalam perspektif horizontal bisa diklasifikasi motif jangka pendek dan motif jangka panjang. Sisi harga diri juga menjadi sebuah motif yang mungkin, sebab bagaimanapun juga menjadi tim sukses dari paslon bisa menjadi status sosial sementara dan bahkan berpeluang permanen bila berujung dengan sebuah kemenangan. 

Ragam motif ini kemudian berbaur dan saling berseliweran satu sama lain. Pergesekan kepentingan yang terkomunikasikan dengan baik berujung saling faham. Sementara itu, persinggungan kepentingan yang tidak menemukan jalan tengah berpotensi berujung dengan menang-kalah. Bahkan, tak jarang mereka rela berkorban materi dalam menunjukkan keberpihakannya pada salah satu paslon, walau tak pernah ada kepastian manfaat yang akan didapatnya.  Demikianlah kepentingan-kepentingan itu menjadi sumbu semangat dan pemantik adrenaline untuk melibat dan berkontribusi secara maksimal demi pemenangan. 


E.    Mendeteksi Keberadaan Tuhan
Tuhan lebih dekat dari urat lehermu”, demikian para pemuka salah stau agama sering menjelaskan keberadaan Tuhan. Persoalannya adalah tentang efektivitas kalimat ini dalam keseharian hidup orang-orang yang meng-imaninya. Menjadi menarik melihat seberapa besar ajaran agama berfungsi sebagai penuntun langkah pemenangan. Adakah rasa takut terhadap dosa dan salah akan efektif menjadi pengingat manjur untuk menghasilkan kemenangan yang fair?.

Andai saja ada tergoda meng-kodifikasi “Ini hanya permainan dunia”, mungkin menanti sebuah petarungan yang santun di Pilkada kali ini hanya sebatas mimpi belaka. Namun, Hal berbeda akan diperoleh ketika memandang dunia dan akhirat sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Pemaknaan semacam ini membuat setiap orang menjaga ucapan, sikap dan tindakannya dalam koridor yang di sukai oleh Tuhan.


F.    Penghujung
Pilkada memang unik dan setiap episode melahirkan cerita berbeda dan tak jarang mengundang amarah, geli, tawa dan atau keheranan luar biasa. 

Pilkada memang hanya tentang persoalan memilih A atau B, tetapi proses penggiringan ke-A atau ke-B yang kemudian menjadi inspirasi kelahiran ragam cerita, drama dan kisah seputar Pilkada. 

Yang jelas, apapun keadaannya dan bagaimanapun situasinya, pesta demokrasi akan berujung pada terdefenisinya paslon pemenang. Semoga iklim kondusif senantiasa terjaga dan pesta demokrasi kali ini tidak mempertontonkan trik kotor hanya demi kemenangan. Adu kreatif mencari dukungan lebih elegan untuk dipilih dan hal itu menandaskan sebagai seorang kesatria.

Semoga pegelaran pesta demokrasi kali ini tidak sekedar siapa yang menang dan siapa yang kalah, tetapi juga mampu meng-edukasi dan men-cerdaskan masyarakat dalam menggunakan hak pilihnya. Apakah harapan itu terlalu utopis?. 

     Menarik untuk mencernati segala dinamika yang akan mewarnai sepanjang proses   
     pilkada kal ini. 



keterangan :
sumber gambar : hasil googling
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved