KETIKA BAPPEDA KAB BANYUMAS MENGGELAR FGD PENAJAMAN PROGRAM PENANGGULANGAN KEMISKINAN

Rabu, 16 November 20160 komentar

KETIKA BAPPEDA KAB BANYUMAS
MENGGELAR FGD PENAJAMAN PROGRAM PENANGGULANGAN KEMISKINAN


A.  Prolog
 Bappeda Banyumas menggelar FGD Penajaman Program Penanggulangan Kemiskinan  di Hari Selasa, 15 Nopember 2016 dengan mengambil tempat di Aula Bappeda Kabupaten Banyumas . FGD ini dihadiri segenap stake holder mulai dari legislatif, eksekutif, BPS, BI, Perbankan, Ketua Forum CSR, Kopkun, Hipmi, para pemberdaya, Kadin dan lain sebagainya. Bupati pun hadir memberikan sambutan, arahan dan semangat kepada segenap peserta FGD.  

B.  Sedikit Resume di satu jam terakhir
Datang terlambat karena ada tabrakan agenda, memaksa hanya bisa mengikuti FGD  yang men-temakan kemiskinan ini  di satu jam terakhir. Untungnya, sesi kesimpulan belum terlewat bekesempatan menyaksikan bagaimana ide-ide hebat dan keren mengemuka serta begitu mencerahkan dari beberapa peserta FGD.

semangat pengentasan kemiskinan”  telah memantik ragam gagasan sampai-sampai Kepala Bappeda Kab Banyumas kebanjiran ide. Satu hal yang pantas menjadi garis tegas bahwa ”persoalan kemiskinan ini akan terselesaikan”. Mungkin terlalu dini berkesimpulan, tetapi berfikir positif dan membangun asa atas semangat yang membuncah bukanlah sesuatu yang berlebihan.


Ada beberapa hal yang layak digarisbawahin dari ragam pemikiran dan gagasan yang berkembang, antara lain :
1.       Perlu adanya  perpaduan antara seluruh elemen yang memiliki comcern dan atau kepedulian terhadap persoalan kemiskinan.
2.       Perlunya data statistik kemiskinan up to date sehingga persoalan kemiskinan lebih mudah dianalisa.   
3.       Penanggulangan  kemiskinan perlu menggunakan pola pemberdayaan masyarakat dima partisipasi masyarakat menjadi ruhnya.
4.       Gerakan-gerakan ini perlu terorgansisir dan terkoneksi dengan baik sehingga program yang satu dengan lainnya bersifat saling memperkuat
5.       Kepemimpinan menjadi sangat penting dalam mendorong setiap program pengentasan kemiskinan.
6.       Metode keroyokan yang tersistematis menarik untuk dipilih sebagai cara mengentaskan persoalan kemiskinan.

"Semua harus dimulai dari desa", ungkap salah satu audience.  Untuk itu, perlu belajar mempercayai orang desa bahwa mereka punya potensi dan kemampuan cukup berkontribusi dalam persoalan yang membelit mereka. "Miskin itu bukan berarti bodoh, pinter itu bukan tak mungkin miskin", pungkas beliau menyemangati. 

Dipenghujung, Kepala Bappeda Banyumas, Bapak Eko, menyampaikan akan dibentuk tim kecil yang akan men-sistematisir gagasan-gagasan cerdas yang berkembang sepanjang FGD tergelar.

C.  Sumbang Saran Kadin Banyumas
Menyadari tidak mungkin hadir tepat waktu, Kadin mencoba memberikan sumbang fikir dan men-share nya lewat WA kepada beberapa peserta di pagi hari menjelang FGD dimulai, termasuk Kepada Kepala Bappeda Kabupaten Banyumas, Bapak Eko. Sumbang Fikir ini dimaksudkan memantik adrenalin kreatif untuk mengembangkan gagasan-gagasan yang lebih detail dan aplikatif dalam penanggulangan kemiskinan.

Dalam penyajian di Blog ini, dilakukan beberapa pengembangan kalimat tanpa menghilangkan substansi gagasan awalnya.  Adapun sumbang saran yang dimaksud tersaji berikut ini :  



“MEN-TEMAKAN KEMISKINAN”

A.  Klesifikasi Miskin. 
Miskin terbagi menjadi 2 (kelompok), yaitu :
  1. Memilih miskin. Pada sebagian orang secara sengaja telah memilih untuk miskin. Hal ini biasanya dipengaruhi oleh persepsi dan pemaknaannya  tentang kehidupan di dunia dan pemahaman bahwa dengan miskin maka hal-hal yang dipertanggungjawabkan dihadapan Tuhan menjadi lebih sedikit. Pada kelompok ini, mungkin lebih tepat dilakukan “pembiaran” sebagai bentuk rasa hormat atas persepsi dan keyakinannya.
  2. Miskin sebagai akibat kebodohan. Hal ini sebagai dampak  kekurang-tepatan langkah di masa lalu. Dalam konteks ini, miskin menjadi buah kemalasan dan kebodohan dalam arti luas.
Dari 2 (dua) kelompok ini, maka fokus pengentasan lebih tepat diorientasikan pada kelompok ke-2 (dua) dimana kesadaran akan kekeliruan dimasa lalu menjadi potensi untuk duduk bersama merumuskan solusi komprehensif.

B.  Muasal  Kemiskinan:
  1. Kemiskinan struktural. Dalam hal ini, kemiskinan dibaca sebagai dampak  kurang efektifnya kebijakan dalam mendorong pemberdayaan dan atau pemeretaan kesempatan berusaha. Dengan kata lain, diperlukan adanya kontemplasi dan atau re-orientasi kebijakan yang memberi peluang dan memotivasi  rakyat untuk kaya dalam nuansa keadilan kesempatan dan juga pemerataan yang senantiasa terjaga. 
  2. Kemiskinan karena kebodohan. Hal ini semata-mata akibat respon yang tidak tepat dalam menterjemahkan kesempatan hidup dan mengkombinasi antara bakat diri dan alam seisinya. Dalam situasi ini, kebesaran jiwa atas kekeliruan dimasa lalu menjadi sumber energi untuk melakukan “perubahan cara” untuk hasil yang lebih baik dan berpengharapan.

 C.  Gagasan Solusi
  1. Jangka pendek.  Karitas atau donasi hanya efektif menyelesaikan persoalan kemiskinan jangka pendek namun tidak menyelesaikan persoalan jangka panjang.  Bahkan, langkah ini berpotensi menyebabkan ketergantungan yang membuat kemiskinan itu menjadi lebih akud. Artinya, obat mujarab semacam ini hanya bersifat jangka pendek dan memerlukan langkah-langkah lanjutan.  
  2. Jangka menengah. Menciptakan lapangan pekerjaan lewat menumbuhkembangkan investasi dalam arti luas. Hal ini tentu diikuti dengan penciptaan iklim kondusif sehingga melahirkan faktor-faktor pendukung seperti; (i) peningkatan  kualitas public service; (ii) law enforcement; (iii) campain potensi banyumas dan lain sebagainya yang mendukung iklim usaha yang sehat.  Investasi dalam hal ini tidak terbatas pada upaya mendatangkan investor, tetapi jauh lebih penting menyatukan potensi dan energi masyarakat banyumas untuk mengoptimalkan sumber daya yang ada bagi peningkatan produktifitas masyarakat.
  3. Jangka panjang
·      Pada masyarakat miskin. Perlu melakukan langkah-langkah pemberdayaan berbasis potensi pada masyarakat miskin itu sendiri dengan meng-optimalkan potensi alam yang bisa dikerjakan oleh masyarakat miskin itu sendiri. Berbagai pendidikan dan pelatihan perlu digelar baik dalam rangka memotivasi maupun dalam membentuk ketrampilan-ketrampilan baru yang berfungsi sebagai senjata mereka menjadi insan produktif. Pada pendekatan ini, segenap yang terlibat memerlukan penjiwaan kuat agar efektifitas tercapai dan pertumbuhan berkesinambungan.  
·     Pada generasi muda. Pendidikan dan ketrampilan perlu terus dikembangkan dikalangan generasi muda sehingga menjadi insan kreatif dan produktif. Apresiasi atas setiap kreativitas perlu dikembangkan sehingga melahirkan budaya kreasi dan inovasi di kalangan generasi muda.   
·     Agama sebagai inspirasi berkinerja. Spiritualitas vertikal sangat mempengaruhi mindset berfikir dan kinerja seseorang. Agama terkadang dimaknai secara sempit terbatas pada ritual rutin saja dan belum sampai menjadikannya sebagai inspirasi untuk lebih berkinerja, baik dalam membangun kemandiriannya maupun dalam mengembangkan kepedulian terhadap orang lain. Untuk itu, menarik untuk dilakukan pengkajian atau eksplorasi sehingga ditemukan pemaknaan yang utuh dan menginspirasi energi untuk menjadi insan-insan yang lebih produktif. Eksplorasi yang dimaksud bukan pada konteks mempertanyakan kebenaran agama, tetapi melakukan pengkajian secara mendalam bagaimana ajaran agama bisa mendorong segenap penganutnya menjadi insan yang bermanfaat bagi insan lainnya. Dengan demikian, setiap orang memiliki etos kerja tinggi yang berpotensi mendukung terbangunnya kemandirian diri dan sekaligus memperbesar peluang meluasnya makna diri pada insan lainnya dan juga alam.  Dalam hal ini,     peran serta permuka agama menjadi penting dalam memotivasi para pemeluknya. Pemuka agama perlu mendorong keyakinan menjadi sarana efektif membangun insan-insan kreatif , inovatif dan produktif.  Paradigma “produktif itu mulia”  perlu dibangun dan dikaitkan dengan kemandirian dan juga kepedulian dengan sesama. Alasannya sederhana saja, hanya pada insan berkepedulian bisa diharapkan semangat berbagi kesempatan dan juga saling mendukung dalam menumbuhkembangnya ragam karya yang men-sejahterakan.

Masukan ini hanya sebentuk gagasan awal atau lebih tepat dikatakan sebagai pemantik munculnya ide-ide kreatif yang meningkatkan peluang terselesaikannya persoalan kemiskinan dan sekaligus melahirkan harapan-harapan baru, khususnya dalam mensejahterakan masyarakat. 
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved