“Ekspansikan Sayap ke Luar Sangkar”

Selasa, 01 November 20160 komentar

“Ekspansikan Sayap ke Luar Sangkar
Disampaikan pada seminar nasional perkoperasian yang digelar oleh Kopma STAIN Kudus, 
31 Oktober 2016 di Gd. Rektorat STAIN Kudus Lt.3 , Kudus

 A.  Pengantar

Pemilihan thema seminar kali ini sangat menarik untuk di telaah. Thema ini   menggambarkan adanya spirit kuat mengembangkan aktivitas koperasi sampai keluar pagar kampus. Kalau ini yang menjadi “maksud para pengagas tema”, maka hal ini dapat diwujudkan dalam 2 (dua) pilihan cara, yaitu; (i)  meng-ekpans layanan dalam arti memperluas cakupan pelanggan tanpa diikuti pertumbuhan kepemilikan (baca: anggota); (2) meng-ekpans layanan  sekaligus kepemilikan (baca: anggota). 2 (dua) hal tersebut sebenarnya hanya tentang “pilihan” saja walau masing-masing pilihan memiliki nilai keunggulan dan kelemahan masing-masing.

Pada pilihan pertama, dimana pengembangan layanan tanpa diikuti pengembangan kepemilikan, maka yang terbangun adalah transaksi obyektif dimana  pemanfaatan layanan yang ditawarkan koperasi oleh masyarakat (baca: non-anggota) didasarkan pada pertimbangan rasional semata, seperti jarak, waktu, harga, performance dan kualitas layanan. Sedangkan pada pilihan kedua, pengembangan layanan juga diikuti pengembangan kepemilikan maka yang terbangun adalah transaksi subyektif  dimana pemanfaatan layanan koperasi lebih didasarkan oleh rasa kepemilikan (sebab anggota adalah pemilik) tanpa menghilangkan rasionalitas anggota sebagai manusia ekonomis. Pada pilihan kedua ini, sang anggota mengambil 2 (dua) manfaat sekaligus, yaitu menolong dirinya sendiri karena koperasi menawarkan nilai lebih dan sekaligus berpartisipasi dalam mengembangkan perusahaan koperasi yang mereka miliki bersama-sama. Untuk pilihan kedua sangat juga terbuka peluang terbentuknya market loyal atas layanan koperasi, sebab setiap transaksi identik dengan membesarkan perusahaan koperasi (dalam tinjaun kolektifitas) dan membangun nilai manfaat dari koperasi (dalam tinjauan anggota selaku insan pribadi). Sekali lagi, hal ini hanya tentang pilihan saja namun memerlukan ketegasan pilihan sebelum langkah ekspansi dilakukan.

Sebagai satu catatan, jika jenis unit layanan yang dikembangkan membutuhkan konsistensi komitmen banyak orang untuk membesarkannya, maka semakin banyak orang semakin banyak pula yang ikut mengambil tanggungjawab. Sementara itu, pada unit-unit layananan yang tidak membutuhkan konsistensi support massa yang banyak, maka menumbuhkan jumlah angota justru menjadi kurang efektif dan berpotensi menurunkan manfaat materil karea jumlah angka pembagi semakin banyak. 


B. Hakekat Koperasi dan Posisi Perusahaan Koperasi  
Secara filosopi, koperasi adalah kumpulan orang yang memiliki pandangan dan keyakinan serupa bahwa kebersamaan mendatangkan manfaat bagi dirinya, segenap anggotanya dan juga masyarakat. Sebagai kumpulan orang, fokus utama koperasi sesungguhnya membangun orang melalui pendidikan berkelanjutan yang ter-aplikasi dalam ragam metode yang efektif bagi keterbangunan pencerdasan.Untuk mendukung hal itu, koperasi idealnya selalu mengembangkan variasi pola pendidikan sehingga tebangun akselerasi pertumbuhan kapasitas anggota. Pada satu titik tertentu, kapasitas mendorong peningkatan kualitas aspirasi yang  meng-inspirasi  ide pengembangan perusahaan
koperasi.

Ragam ide atau gagasan itu idealnya berbasis kebutuhan anggota, baik dalam konteks memenuhi kebutuhan anggota secara bijak maupun dalam konteks meningkatkan pendapatannya secara cerdas.  Pada titik inilah berkoperasi sesungguhnya menolong diri sendiri. Artinya, lewat berkoperasi setiap orang merasa terbantu melalui aktivitas-aktivitas yang diselenggarakan koperasi dan juga oleh dirinya sendiri.

Sementara itu perusahan dalam koperasi merupakan wadah ragam aktivitas produktif yang diselenggarakan koperasi.  Perusahaan itu  mereka miliki dan kendalikan secara demokratis serta membesarkan secara bersama-sama. Hal ini pula yang kemudian menyebabkan jenis aktivitas yang dijalankan perusahaan koperasi kental berbasis kebutuhan mayoritas anggotanya. Kalaupun kemudian perusahaan Koperasi bergerak berbasis peluang, ujungnya tetap harus memeiliki relevansi bagi pertumbuhan  kesejahteraan anggota. Singkatnya, perusahaan dalam koperasi berposisi sebagai alat/media yang fungsi utamanya adalah men-sejahterakan para anggotanya.  


C.  2 (dua) Agenda Besar Setiap Koperasi
Setiap kelahiran koperasi pasti membawa agenda besar yaitu men-sejahterakan anggotanya dalam arti luas, baik secara materil maupun im-materil. Uniknya, upaya mewujudkan kesejahteraan itu dilakukan melalui mobilisasi kebersamaan yang didalamnya terdapat penyatuan energi dan sumberdaya. Distribusi peran pun dilakukan sebagai senjata terbaik  dalam mensukseskan cita-cita bersama. Distribusi peran ini juga  dan merupakan wujud gotong royong dan saling bahu membahu diantara segenap unsur organisasi yang merupakan ciri khas koperasi. Disamping itu, setiap inisiatif peran dari anggota didasarkan pada kesadaran bahwa apa yang dilakukannya bukanlah hanya membesarkan perusahaan koperasi, tetapi juga membesarkan/menolong dirinya sendiri.

Mereferensi alinie diatas, maka disimpulan ada 2 (dua) agenda besar setiap koperasi, yaitu :
1.      Bagaimana membangun kapasitas anggotanya melalui pendidikan sehingga menjadi insan cerdas dan lebih produktif dalam arti luas.  
2.      Bagaimana membesarkan perusahan koperasi yang fokusnya  juga men-sejahterakan anggota dalam arti luas (materil & immateril)

2 (dua) agenda besar ini tidak bersifat opsional karena agenda tersebut mulai melekat bersama kelahiran koperasi itu sendiri. 2 (dua) agenda ini juga menegaskan bahwa kesejahteraan tidak semata-mata bersumber dari aktivitas kolektif/unit layanan yang diselenggarakan koperasi, tetapi juga oleh diri anggota itu sendiri melalui perubahan tata cara hidup yang lebih men-sejahterakan dirinya secara ekonomi,sosial dan budaya. Inilah gambaran bagaimana distribusi peran dalam koperasi itu menjadi begitu penting. Hal ini juga menegaskan bahwa berkoperasi itu tidak sama dengan ber-investasi pada satu perusahaan non-koperasi dimana cukup menyetorkan sejumlah modal dan kemudian duduk manis menunggu hasil. Pada koperasi, status keanggotaan tidak semata-mata sebagai simbol kepemilikan, tetapi juga simbol komitmen untuk ikut mengambil tanggungjawab dalam membesarkan dirinya dan juga perusahaan koperasi. Singkat kata, hubungan antara dirinya sebagai anggota dengan koperasi adalah mutual partnership  (kerjasama yang saling menguntungkan).

Untuk 2 (dua) agenda ini, koperasi bersama anggotanya perlu terus meng-intensifkan pendidikan dalam tujuan membangun kapasitas dan sekaligus meng-intensifkan komunikasi produktif dengan segenap anggotanya. Idealnya, koperasi harus hadir disetiap keresahan yang sedang membelit anggotanya sebagaimana koperasi pun harus respon atas setiap ide atau gagasan yang berkembang di kalangan anggota. Dengan demikian, setiap anggota bisa mendefenisikan kepentingannya terhadap setiap kegiatan yang digelar oleh koperasinya.


D.  Bermula Dari Kemauan....
Tumbuhkembangnya koperasi itu sangat tergantung dari “kemauan”. Dengan demikian, apabila sebuah koperasi masih belum maju, maka “core problem”nya pasti terletak pada “kemauan” yang belum terbangun disegenap unsur organisasi. Sebagai catatan, ada 2 (dua) hal yang membuat setiap orang mau bergerak, yaitu harapan atau ancaman.

Me-referensi pada hal itu. maka kebersamaan di koperasi harus bisa membangun nalar harapan, sehingga terbangun “kemauan” menjadi bagian dari sebuah kebersamaan di koperasi. Kemauan yang dimaksud tidak terbatas hanya menjadi anggota, tetapi juga mengambil tanggungjawab untuk membesarkan dirinya dan juga koperasi secara bersamaan.   

Untuk itu, koperasi harus membangun nalar logis sehingga harapan itu memiliki rasionalionalitas mewujud dan sangat layak diperjuangkan bersama. Nalar-nalar logis semacam ini dijadikan sebagai bagian dari pendidikan terhadap anggota sehingga terbangun persepsi dan atau kefahaman serupa tentang arah yang dituju dan apa yang harus dilakukan setiap orang untuk mewujudkannya. Selanjutnya, pengetahuan diharapkan menjadi pemantik kesadaran untuk melakukan aksi-aksi berpihak anggota. Hal ini dimulai dari kemauan melakukan penyatuan energi dan potensi.

Ketika kondisi demikian mewujud, maka apapun aktivitas produktif yang akan dilakukan oleh koperasi akan terus tumbuh dan berkembang. Sepanjang aktivitas/unit layanan itu me-refresentasikan kebutuhan mayoritas anggota, maka dipastikan tidak akan pernah mati sepanjang loyalitas anggota terjaga. Pada kondisi demikian, maka posisi atau tata letak sebuah unit layanan menjadi tidak begitu berpengaruh apakah di dalam atau di luar pagar kampus. Sebaliknya, ketika pergerakan perusahaan koperasi  didorong keluar pagar kampus dan juga diikuti dengan tawaran kepemilikan (keanggotaan), maka pertumbuhan kuantitas anggota akan linier dengan pertumbuhan perusahaan koperasi.       


E. Kombinasi 95% dan 5%
Dalam tinjauan praktek, ber-koperasi itu 95% tentang semangat dan 5% tentang hal lainnya (baca: operasiona). Dalam semangat itu terdapat kemauan  bergerak untuk melahirkan nilai tambah baru dari sebuah kebersamaan. Sementara itu, operasionalisasi organisasi dan juga perusahaan hanya-lah berperan sebesar 5% saja.

Proporsionalitas 95% dan 5% itu memang bukan didasarkan pada satu penelitian ilmiah, tetapi terinspirasi oleh perjalanan panjang menjadi bagian dari perjuangan menumbuhkembangkan koperasi. Proporsionalitas tersebut juga merupakan bentuk penegasan bahwa
ketidakmauan untuk maju akan berujung pada ketidakmajuan”.

Untuk memudahkan atau menguatkan proporsionalitas tersebut, berikut diberikan beberapa ilustrasi :
1.      1000 orang karyawan sebuah pabrik mendirikan koperasi. Menyadari bahwa 900 orang dari mereka memiliki sepeda motor dan kebutuhan terhadap service, oli, onderdil dan pernik sepeda motor adalah sesuatu yang pasti, kemudian  meng-inspirasi kemauan untuk urunan mendirikan satu unit layanan koperasi berbentuk bengkel. Setelah urunan terkumpul, maka mereka memanggil para expertist di bidang perbengkelan untuk menjalankan atau mengelola keseharian bengkel tersebut. Sejak bengkel itu berdiri, para karyawan bebas dari persoalan perawatan motor mereka. Hebatnya lagi, semua kemudahan yang mereka nikmati diperoleh dengan harga yang lebih murah dibanding saat mereka ke bengkel yang lain. Illustrasi berdirinya bengkel ini berawal dari kemauan... KAH?
2.      setelah sukses dengan bengkel, kemudian terbangun kesadaran baru  bahwa setiap orang dari mereka dipastkan melakukan belanja bulanan, maka 1000 orang yang terhimpun dalam koperasi tersebut berencana mendirikan sebuah swalayan yang focus utamanya adalah menyediakan kebutuhan para anggotanya. Sejak swalayan ini berdiri,  mereka tidak perlu lagi repot-repot belanja sebab sudah langsung dianter ke rumahnya masing-masing. Hebatnya lagi, dengan jumlah uang belanjaan yang sama, mereka bisa memperoleh barang yang lebih banyak kuantitasnya karena harga di koperasi lebih murah.  Keterbatasan mereka dalam hal pengelolaan sebuah swalayan tidak menjadi penghalang mewujudkan mimpi tersebut, mereka pun menghadirkan pada expertis dalam bidang swalayan.  Illustrasi berdirinya swalayan ini berawal dari kemauan... KAH?
3.      200 orang mahasiswa/i berstatus anak kost ingin mendapati hidup lebih efisien. Ide yang tersepakati adalah membuat “dapur umum”. Mereka pun menyatukan alokasi anggaran makan bulanan mereka dan kemudian memanggil ahli dalam urusan masak memasak. Setelah program ini dijalankan, mereka pun terjamin makannya sebulan penuh dan total biayanya pun lebih murah ketika mereka makan diwarung. Illustrasi berdirinya “Dapur umum” ini berawal dari kemauan... KAH?
4.       dsb.

Contoh diatas menggambarkan bagaimana kemauan telah mendorong penyatuan potensi dan sumber daya (baca : urunan) dalam memenuhi apa-apa yang menjadi kebutuhan. Mereka juga membangun “harapan” dimana ada nilai tambah nyata ketika bersama-sama, yaitu minimal harga yang lebih murah dan jarak yang lebih dekat serta pelayanan yang pasti lebih prima. Satu hal lagi, mereka tidak perlu repot mengurus pengelolaan unit-unit layanan apapun, sebab menghadirkan expertis (ahli)  membuat semuanya menjadi beres. Sekali lagi, kuncinya adalah kemauan menyatukan potensi dan sumber daya.


F.  Penghujung
Satu hal yang menjadi catatan, membangun kemauan banyak orang untuk bersama-sama melakukan penyatuan energi dan sumber daya memang bukan perkara mudah, sebab memerlukan  rasa saling percaya, saling menjaga, saling menghormati, konsistensi berkomitmen, kebijaksanaan dalam memandang perbedaan dan lain sebagainya. Namun demikian, bukan berarti tidak mungkin sepanjang ada kemauan kuat mewujudkan disertai kesabaran berproses. Semua berawal dari kecil, tetapi keterjagaan kemauan  menjadi jalan bagi tumbuhkembangnya karya dan manfaat. 

Letak kemauan itu pada insan-insan didalamnya, sehingga bila ingin membagun kemauan, lakukanlah pencerahan sehingga terbentuk nalar hebat dari sebuah kebersamaan. Doronglah  menjadi aksi penyatuan potensi dan sumber daya, sehingga terbuka lebar peluang menggelar ragam aksi produktif yang akan men-sejahterakan semuanya. 

Demikian tulisan sederhana ini disajikan sebagai pemantik dalam membangun spirit kehidupan berkoperasi. Semoga, tulisan ini meng-energi untuk mengambil tanggungjawab mewujudkan karya koperasi yang inspiratif dan berpengaruh signifikan dalam membentuk kesejahteraan masyarakat. Amin Ya Robbal ‘Alamin.


Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved