MEM-PILOTTING DESA WLAHAR WETAN SEBAGAI RUANG JUANG INTEGRATED FARMING

Senin, 24 Oktober 20160 komentar

MEN-DRIVE GERAKAN KEDAULATAN PANGAN 
DI DESA WLAHAR WETAN, KEC. KALIBAGOR, KAB BANYUMAS

23.10 WIB bukanlah waktu ideal untuk menggelar meeting, tetapi begitulah Om Herry menggangu semua orang untuk mendiskusikan satu karya sosial dalam kontek desa. Ini merupakan bagian dari rangakaian tindak lanjut dari seminar Menjangkarkan  Kedaiulatan Pangan Melalui Integrated Farming berbasis koperasi Pemberdaya yang digelar tanggal 20 Oktober 2016 di Fakultas Pertanian, Unsoed.

Hadir dalam agenda ini, Om Firdaus (Direktur Kopkun Institute), Anis Sa’adah (Aktivis Kopkun Institute), Om Herry (aktivis sosial) dan Muhammad Arsad D (Ketua Dekopinda Kab. Banyumas). Tidak ketinggalan Mas Dodit selaku Kepala Desa Wlahar, satu desa yang akan dijadikan pilot project

“Kita harus tegas bahwa perjuangan ini untuk siapa. Pada titik dimana ada warga sebagai subyek, maka harus dilatih warga untuk mengemukakan kegelisahannya,tingkat pemahaman terhadap persoalan yang membeliatnya dan  bagaimana pola fikir warga dalam memaknai dan mensikapi persoalan itu”, jelas Om Herry dalam membuka diskusi

Satu hal yang perlu menjadi perhatian dalam men-temakan pemberdayaan, yaitu “ Yang memberdayakan dan Yang diberdayakan harus berdaya”. Titik fokus pada statemen ini bukan pada semangat materialitas, tetapi pada efektivitas apa-apa yang dilakukan. Efektivitas berawal dari “nilai tambah” sehingga kreativitas menjadi kunci penting. Demikian awalan dari Bang Arsad.   . 

Idealnya proses pemberdayaan lahir dari gerakan bottom up, namun bukan tidak mungkin diawali dari officialisasi (inisiasi top dawn dari pemerintah desa) dan pada tahap tertentu dilakukan de-officialisasi (dimana pemerintah desa menarik diri secara sengaja) dengan target terbentuknya keberdayaan”, ungkap Om Firdaus mengawali reaksinya.

Semangat pemberdayaan dalam diri Mas Dodit Sang Kepala Desa mulai membuncah berawal dari perjalanan ke Salatiga dalam rangka satu diskusi pembangunan “desa mandiri”. Pertemuan itu melahirkan satu tekad untuk membangun contoh inspiratif di desa yang dipimpinnta, Wlahar. Beliau tertantang mewujudkan satu pola pemberdayaan masyarakat yang men-sejahterakan. Menjadi Desa Mandiri Menjadi Kehidupan dan Penghidupan, dijadikan sebagai tagline perjuangannya. Dalam gerakannya, beliau ingin men-sinergikan semua potensi melalui kombinasi peran yang saling menguatkan.

1100 KK harus sejahtera secara ekonomi, sosial dan budaya. Hal ini harus diperjuangkan dalam semangat pemberdayaan dan kemandirian. Kalau kemudian ada dana desa dan infrastruktur desa serta logistik lainnya, itu berfungsi sebagai daya dukung. Dalam hal ini, maka keterbangunan kualitas masyarakat menjadi fokus utama dalam gerakan ini. Bila kemudian ada 900 KK berprofesi petani, maka tema “integrated farming” menjadi sangat relevan diperjuangkan di Desa Wlahar. Ujung dari gerakan ini adalah terbangunnya kedaulatan pangan. “Ini memang perjuangan jangka panjang, namun harus dimulai”, tegas Om Firdaus.    


The struggle is beginning...pergerakan akan dimulai di Desa Wlahar. Belanja ilmu, pengalaman dan terknologi akan dijadikan modal utama. Mendatangkan orang-orang sukses diajak masuk untuk memaparkan keberhasilannya dan sekalgus dimintai pendapat guna akselerasi pencapaian mimpi besar tentang keterbangunan sebuah desa. Simpul semangat ini akan dimulai dari penyusunan road map.  






Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved