MAAF... PURWOKERTO BUKAN “KOTA SAMPAH”

Sabtu, 01 Oktober 20160 komentar

MAAF... PURWOKERTO BUKAN “KOTA SAMPAH”

Ide tulisan ini bermula saat jalan pulang dari kondangan seorang sahabat yang melangsungkan resepsi pernikahan di kabupaten tetangga, Purbalingga. Pada saat melintasi jalan di sekitar area Kampus Exacta Unosed Karangwangkal, ada satu kendaraan ber-nopol luar kota menarik perhatian penulis. Kaca pintu depan sebelah sopir terbuka lebar sehingga wajah Sang Supir  yang sedang melahap makanan kecil (cemilan) begitu jelas terlihat dari spion . Namun, tiba-tiba saja dia membuang bungkus biskuit ke luar tanpa sedikitpun menoleh apakah ada kendaraan dibelakangnya atau tidak. Dalam hitungan detik,  satu pengendara sepeda motor yang menyalipnya pun langsung melindas bungkus biskuit itu. Untungnya si pengendara sepeda motor tak menganggap hal ini masalah dan tetep melaju melewati mobil itu.  

Aku sedikit terganggu atas sikap supir ini karena membuang sampah semabarangan.   Apalagi wajah sang sopir tampak cuek dan tak terlihat sedikitpun ada perasaan berdosa. Ternyata aksi serupa tidak berhenti sampai disitu, sesaat setelah menenggak habis minumannya, diapun langsung membuang keluar cangkir minumannya begitu saja tanpa menoleh apakah ada kendaraan dibelakang atau yang sedang akan menyalipnya. Kali ini, kendaraanku yang hampir kena lemparan cangkir itu karena terbawa angin. Dari jenis cangkirnya nya, sepertinya cangkir itu berisi kopi yang diperoleh secara gratis dari satu pameran kopi yang sedang berlangsung di depan kampus Fisip Unsoed. Aku menduga demikian bukan tanpa alasan, karena tadi pun aku memperoleh minuman kopi gratis dari anak-anak muda komunitas pencinta kopi saat melintas di area itu. Kali ini...ekpresi sang supir pun serupa ..terlihat jelas tanpa perasaan bersalah...setelahnya, dia menyulut sebatang rokok dengan gaya khas kelelakian yang tegas.   

Atas dua kejadian ini, terbenak betapa sembarangannya supir ini dengan seenaknya membuang sampah begitu saja. Rasanya ingin me-nyetop  kendaraan itu dan kemudian memintanya mundur atau memutar balik arah dan kemudian memungut kembali sampah yang sudah dibuangnya. Aku tidak sedang marah atau jengkel, tetapi ini bentuk edukasi/pendidikan yang tepat sehingga sang supir tidak mengulangnya lagi dimanapun dan kapanpun. Aku  membayangkan kalau 1000 orang melakukan hal serupa setiap harinya, bisa jadi kota purwokerto yang terkenal sangat peduli kebersihan ini bisa berubah menjadi kota sampah.

Tulisan ini tidak bermaksud mengumpat atau meng-ekspose amarah atau menggunjing keburukan orang lain, tetapi hanya sebentuk wise message bagi semua orang yang kebetulan membaca tulisan ini bahwa kebersihan adalah tanggungjawab bersama. Untung saja sampah itu berupa cangkir atau bungkus biskuit, bisa dibayangkan kalau yang dibuang adalah kulit pisang, maka bukan tidak mungkin akan membuat kendaraan lain terpeleset.  Walau sang supir mungkin pendatang yang hanya melintas di kota mendoan ini, bukan berarti boleh seenaknya membuang sampah sembarangan. Tindakan itu bukan saja bisa mencelakai pemakai jalan lainnya, tetapi juga kalau terakumulasi bisa menjadi faktor penyebab banjir dan meresahkan banyak orang. Semoga ini menjadi pengingat bagi diri penulis sendiri maupun para pembaca tentang perlunya menjaga kebersihan dimanapun kita berada. 

Terlepas dari tindakan Sang Supir yang kurang tepat dan tergolong bad habit , penulis mengucapkan terima kasih telah menginspirasi lahirnya tulisan sederhana ini. Semoga hikmah ketersajian tulisan ini juga akan mengalir pada Sang Supir dan juga pembaca...Amin..... 
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved