KETIKA SANG KETUA TAK MENJAWAB YANG DIPERTANYAKAN

Minggu, 09 Oktober 20160 komentar

KETIKA SANG KETUA TAK MENJAWAB YANG DIPERTANYAKAN



Pasca melayani kawan-kawan pejuang koperasi dari Kabupaten Bantul, Prop. Yogyakarta yang baru saja usai melakukan studi banding di Dekopinda Banyumas, Sang Ketua langsung melanjutkan pelayanan pada satu anggotanya, yaitu Bapak Masino, seorang pengurus koperasi dari KPRI Baiturrokhim Kementrian Agama Kab. Banyumas,.

Sekilas potret kecil koperasi ini, KPRI Baiturrokhim beranggotakan sejumlah 1007 Orang yang tersebar di seluruh wilyah Kabupaten Banyumas. Dari jumlah anggotanya, KPRI ini tergolong besar dan sangat potensial untuk berkembang. Dari sudut potensi keterbangunan kemandirian kolektif, penerapan SP (simpanan pokok)  Rp 500.00,oo dan Simpanan Pemupukan Modal (SPM) Rp 100.000,oo yang dibayarkan saat menjadi anggota serta SW (Simpanan Wajib) Rp 100.000 yang dibayarkan setiap bulan, membuat koperasi ini begitu potensial mengembangkan ragam aktivitas pelayanan kepada anggota-nya. Saat ini, KPRI yang berstatus hukum KSU (Kopeasi Serba Usaha) ini baru menyelenggarakan satu unt layanan, yaitu simpan pinjam. Hal ini pula yang mendasari kedatangan beliau untuk konsultasi ke Dekopinda. Segenap pengurus sedang berencana menyusun prototype pengembangan layanan yang akan dipresentasikan pada RAT Tahun tutup buka tahun 2016 nanti untuk diambilkan keputusan. Atas hal ini, Bapak Masino meminta pendapat dan saran kepada pimpinan Dekopinda Banyumas.


Secara prinsip, pimpinan Dekopinda Banyumas, M.Arsad Dalimunte menyambut baik kehadiran Pak Masino dan juga gembira dengan rencana pengembangan yang dicanangkan KPRI Baiturrokhim.. M.Arsad juga sepakat dengan pandangan dan keyakinan para pengurus bahwa KPRI ini sangat potensial dan layak untuk dikembangkan. Namun, pimpinan Dekopinda  tidak langsung menjawab secara specifik  usaha apa yang layak untuk dikembangkan oleh koperasi ini.

Berbekal kertas kosong yang sudah disiapkan Mas Showabi (staff Dekopinda), sang ketua memulai aksi corat coretnya. Seperti biasa dan menjadi ciri khas ketua satu ini, sudah bisa ditebak yang akan dilakukan adalah membuat diagram alur fikir yang memudahkan pemahaman dan pengambilan keputusan bagi siapapun yang berdiskusi dengan beliau.

Sang Ketua memulai dengan mengingatkan filosopi koperasi sebagai kumpulan orang dan fokus koperasi adalah menumbuhkembangkan kapasitas orang-orang didalamnya melalui pendidikan yang mencerdaskan. Sementara itu, perusahaan koperasi (baca: unit-unit layanan)  ber fungsi sebagai media  mensejahterakan anggota yang kelahirannya diinspirasi oleh pertumbuhan kapasitas anggota.

Sementara itu, dalam membangun unit-unit layanan, terlebih  dahulu perlu penegasan apakah orientasi-nya pada benefit oriented (orientasi kemanfaatan) atau profit oriented  (orientasi laba/SHU). Hal ini perlu dilakukan sebagai panduan bagi anggota dalam mem-persepsi-kan  dan sekaligus menata ekspektasi rasional atas keberadaan unit layanan tersebut. Sebab, fakta empiris menunjukkan tidak jarang  anggota meminta harga murah atau pinjaman murah tetapi berharap perolehan SHU yang Besar. Jadi, ketegasan orientasi ini juga berfungsi sebagai alat evaluasi capaian dan sekaligus referensi dalam menata strategi pengelolaan usaha/unit layanan tersebut  Sampai titik ini, Bapak Masino mengangguk dan membenarkan apa yang dinyatakan oleh pimpinan Dekopinda.

Sesudah tegas dalam hal orientasi, usaha yang akan dijalankan juga perlu mempertegas market/pangsa pasar nya, apakah hanya berorientasi pada pelayanan anggota saja ataukah juga akan melayani masyarakat umum.  Hal ini mengingat bahwa koperasi  tidak saja bisa membangun usaha berbasis pada kebutuhan mayoritas anggotanya, tetapi juga bisa berbasis optimalisasi peluang sepanjang tidak berseberangan dengan regulasi dan nilai-nilai sosial yang berlaku di lingkaran koperasi itu sendiri. Singkat kata, segmentasi pasar harus terjelaskan dalam perencanaan. 

Dalam menentukan jenis usahanya, koperasi juga perlu memperhatikan azas subsidiaritas (apa-apa yangbisa dilakukan anggota sebaiknya tidak dilakukan koperasi dan koperasi hanya melakukan  apa-apa yang tidak bisa atau tidak mungkin dilakukan oleh anggota). Hal ini untuk memastikan bahwa usaha yang dijalankan koperasi tidak berhadapan face to face atau bersaing secara terbuka dengan usaha yang dijalankan anggotanya. Usaha koperasi akan menjadi lebih strategis  bisa memberikan suppor bagi usaha yang dijalankan anggota. Misalnya, saat anggota koperasi banyak yang menyelenggarakan toko kecil di rumah, maka akan menjadi lebih men-sejahterakan anggota bila koperasi menyelenggarakan grosir yang akan memasok ke toko-toko milik anggotanya. Azas subsidiaritas ini juga mendorong terbangunnya hubungan emosional dan transaksional  berkelanjutan antar anggota dan koperasinya. Disamping itu, hal ini sebagai pengingat agar perusahaan koperasi tidak terjebak apa yang disebut dengan ego korporasidimana perusahaan koperasi asik dengan dirinya sendiri dan terjebak pada pengejaran pertumbuhan laba (baca: SHU) namun abai dengan anggotanya sendiri. Kalau hal ini yang terjadi, maka perusahaan koperasi berpotensi melakukan tindakan eksploitatif  dan menempatkan anggotanya hanya sebagai market serta melupakan posisi anggota sebagai pemilih sah koperasi. Penjelasan ini  mempertegas nilai beda koperasi dibanding jenis lembaga usaha lainnya. Nalar ini juga  mendorong koperasi sebagai alat perjuangan kesejahteraan bagi segenap anggotanya.  Bapak Masino manggut-manggut mendengar penjelasan sang ketua dan terlihat jelas ekspresinya menunjukkan lompatan semangat.

Jadi, kalau sekedar mau membangun usaha saja, KPRI cukup menyiapkan modal dan kemudian memanggil expertis (ahli dibidangnya), maka dipastikan usaha tersebut akan terbangun. Hanya saja, adakah roh kebersamaan di dalamnya?. Akan kah ikatan emosional dan rasa memiliki anggota terbangun dan berpengaruh signifikan terhadap jalan dan tumbuhkembangnya usaha tersebut?. Jika tidak, maka koperasi berpotensi terjebak pada ego corporasi yang membuatnya tidak beda dengan non-koperasi. Untuk itu, setiap kelahiran usaha/layanannya, koperasi idealnya terlebih dahulu menggelar agenda “duduk bersama dengan anggotanya” agar usaha yang dijalankan me-refresentasikan kebutuhan dan atau keyakinan mayoritas anggota. Hal ini tidak saja bermakna strategis dalam pemetaan potensi market sebagai dasar dalam perencanaan, tetapi juga membangun loyalitas yang merupakan pertahanan paling fundamental dan menentukan  kelangsungan dan keberlanjutan usaha tersebut. Proses duduk bersama  juga dimaksudkan terwakilinya kepentingan mayoritas anggota atas usaha tersebut. Pada titik ini, maka apapun usaha/layanan yang diselenggarakan koperasi akan pernah sepi sebab anggota pasti datang dan mengambil tanggungjawab untuk ikut mengembangkannya.  Disamping itu, pada diri setiap anggota juga terbangun kesadaran bahwa partisipasi yang dia lakukan sesungguhnya tindakan menolong dirinya sendiri (self help) dan menempatkan tumbuhkembangnya perusahaan koperasi hanya imbas loyalitas anggota yang terbangun dan terjaga. Pada yang demikian,, usaha-usaha yang dijalankan koperasi akan selalu lekat dengan empowering (pemberdayaan) yang akan men-sejahterakan dalam arti luas.

Pak Masino tampak begitu menghayati dan menatap tajam kertas berisi diagram alur fikir coret tangan sang ketua. Sang ketua tidak langsung memberi jawab atas pertanyaan awal seputar usaha apa yang sebaiknya dijalankan. Namun, pola penjelasan sang ketua telah meng-inspirasi banyak hal dialam imajinasi Pak Masino tentang pengembangan koperasinya.

Dipenghujung Sang Ketua kembali menandaskan koperasi sebagai kumpulan orang yang fokusnya mencerdaskan orang-orang didalamnya melalui pendidikan. Sang ketua juga mengingatkan bahwa keterbangunan dan tumbuhkembang perusahaan koperasi (baca: ragam unit layanan) adalah imbas dariefektivitas pendidikan yang diberikan koperasi kepada para anggotanya.

Oleh karena itu, indikator ideal keberhasilan koperasi sesungguhnya pada meningkatkatnya kapasitas anggota yang selanjutnya mempengaruhi hidupnya, baik dalam budaya fikir maupun pola tindak dalam meningkatkan kesejahteraannya. Jadi, kesejahteraan anggota bisa oelh karena tindakan anggota itu sendri maupun melalui karya kolektif melalui unit-unit layanan yang diselengarakan oleh koperasi.Untuk semakin memantapkan pemahaman, sang ketua memberikan contoh radikal dimana seharusnya bagian depan laporan pertanggungjawaban di buku RAT itu berisi testimoni/kesaksian anggota atas manfaat-manfaat yang sudah dia dapatkan setelah menjadi anggota. Sebagai pelengkap, sang ketua memberikan beberapa contoh keberhasilan koperasi yang bersifat materil antara lain; tadinya anggota konsumtif menjadi lebih selektif sehingga terbangun kemampuan menabung; tadinya anggota belum memiliki kendaraan dan kemudian bisa memiliki kendaraan melalui kredit murah yang diselenggaran koperasi; tadinya anggota belum memiliki rumah dan kemudian bisa memiliki rumah melalui kredit murah yang diselenggaran koperasi; tadinya anggota hanya mendapatkan 12 kg beras dengan uang Rp 100.000,oo ketika belanja di toko lain menjadi 13 kg karena koperasi menyelenggarakan unit layanan toko harga murah; tadinya anggota tidak punya usaha namun kemudian menjadi memiliki usaha karena koperas menyediakan fasilitas pinjaman murah untuk modal kerja; dan lain sebagainya.


Pertemuan ini berujung di jam 15.30 wib dengan akhir yang manis dimana pada diri Pak Masino terjadi lompatan energi dan semangat untuk mengembangkan koperasi. Saat berpamitan, Pak Masino sempat bertestimoni merasakan begitu tercerahkan atas penjelasan yang telah diberikan. Akhirnya, Pak Masino pun berpamitan dan meminta izin membawa 2 (dua) lembar kertas corat-coret itu  untuk menjadi  bekal dan bahan dalam rapat internal pengurus yang akan digelar beberapa menit kemudian.  
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved