BELAJAR LANGSUNG DARI PEBISNIS TANGGUH SANG PENDIRI OT (ORANG TUA) GROUP, BAPAK HAMID DJOJONEGORO

Kamis, 13 Oktober 20160 komentar

BELAJAR LANGSUNG DARI PEBISNIS TANGGUH 
SANG PENDIRI OT (ORANG TUA) GROUP, BAPAK  HAMID DJOJONEGORO

The Mission sukses menuntaskan misinya. The Mission sukses menghadirkan pengusaha sukses yang tercatat sebagai orang terkaya no.27 di Indonesia, yaitu 
Bapak  Hamid Djojonegoro. Profile inspiring dan amazing satu ini adalah pendiri (Founding Father) dari perusahaan Orang Tua (OT) Group.  Keberhasilan the Mission mencetak 2 (dua) rekor malam ini, disamping menghadirkan nara sumber yang luar biasa, The Mission juga sukses menghadirkan peserta sampai 500-an yang memaksa meeting room Heritage Hotel Purwokerto berstatus full.  Sebagian orang pun terpaksa mengubur mimpinya untuk berada
dibarisan peserta karena bangku sudah tidak tersedia.  “malam ini menjadi begitu special  dimana sebagian besar insan-insan pelaku ekonomi di Kabupaten Banyumas berkumpul’, ungkap salah satu peserta mewakili kekagumannya atas pegelaran hebat ini.

Usai gala dinner, lagu puji-pujian yang diakhir dengan do’a  pun mengkhidmatkan suasana seisi ruangan. Sambutan dan apresiasi singkat Om Sandra selaku ketua Hipmi (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) BPC Banyumas menjadi penguhujung ceremony dan sekaligus bermulanya penampilan sang nara sumber luar
biasa satu ini.   

”Bagaimana menjalankan usaha keluarga yang profesional”, menjadi tanya pembuka dari Pak Hamid. Tanya ini menjadi begitu penting mengingat banyaknya usaha berbasis keluarga tidak berumur panjang dan berbuntut dengan persoalan-persoalan yang kontra-produktif terhadap ketahanan usaha. Beliau memberi 2 (dua) saran/solusi  penting, yaitu :1. Musyawarahkan siapa yang didepan dan siapa yg dibelakang. Langkah pertama ini menekankan perlunya distribusi peran efektif diantara anggota keluarga yang terlibat dalam
pengelolaan sebuah bisnis. “Orang-orang  yang bekerja di bagian belakang berfungsi  mempersiapkan perform sehingga yang berada di barisan depan sukses menjadi pahlawan”, tambah beliau menjelaskan maksud statemen pertamanya: 2. Lakukan musyawarah minimal sekali se-bulan dan selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan sekali. Adanya musyawarah yang kontinue akan membantu terkomunikasikannya persoalan dan tersususnya solusi yang mewarnai perjalanan bisnis.

Jangan bekerja untuk orang lain dan jangan pula jadi bos bagi diri sendiri, Pesan beliau menandaskan positioning tegas seorang entrepreneur sejati yang tak lain adalah pejuang. Pesan bijak ini juga menandaskan kinerja seorang wirausahawan agar tidak bermental priyai.

Sebagai pelaku usaha, beliau berkesimpulan bahwa dunia selalu mengajarkan ilmu bertambah, tetapi jarang mengajarkaan ilmu berkurang. ”Kita terjebak selalu belajar untuk menang, tetapi sangat jarang belajar untuk kalah. Akibatnya, kita tidak memiliki mentalitas baja dalam menghadapi dinamika bisnis yang tidak selalu untung.  Kalau kita rugi dan kemudian bisa menemukan solusi, maka kita akan bertemu untung. Jadi, belajarlah mengatasi apa yang tidak disukai, dengan demikian anda akan menjadi pribadi yang tahan banting dan juga tahan uji”.  

Bagi mereka yang ingin menjadi bos, beliau juga berpesan, ”kalau ingin menjadi Bos, harus berani meninggalkan orang tua (menanggalkan kemapanan atas keberhasilan orang tua). Dengan demikian, akan mengerti tentang arti perjuangan dan sulitnya kehidupan. Dengan terjun ke dalam keseharian masyarakat yang begitu beragam, akan terbiasa berinteraksi dan belajar pada orang2 beragam karakter, mungkin tidak setuju dengan ide anda dan bahkan tidak meyakini apa yang anda benar-benar meyakininya. Pergumulan inilah yang mendorong terbentuknya kematangan dan kedewasaan dalam hidup”.

Dalam testimoninya seputar perjalanan bisnisnya, beliau mengatakan bahwa di 22 (dua puluh dua) tahun pertama perjalanan bisnisnya,  pengusaha fenomenal satu  ini fokus pada belajar merintis usaha. Apa yang beliau alami di fase ini tidak sepenuhnya sukses,  bahkan beliau mengalami bangkrut sampai tiga kali dalam perjalanan perjuangannya membangun bisnis raksasa di tanah air. Kegagalan tidak membuatnya berhenti, tetapi lebih bersemangat untuk bangkit dan mengambil hikmah dari apa-apa yang sudah terjadi. Pada fase berikutnya khususnya di  16 (enambelas)tahun kedua, beliau belajar  mendengar orang-orang yang berada disekelilingnya, belajar bersikap bijak atas setiap dinamuka yang ada dan tidak ketinggalan lebih mendekatkan diri pada Tuhan. ”Orang ber-iman harus berkarya”, tandanya menyemangati audience secara spiritual. Untuk itu, kenali diri anda dalam menentukan apa yang menjadi prioritas untuk dijadikan aktivitas. Beliau juga mengingatkan agar jangan menjadi budak duit, tetapi jadilah tuan duit. Beliau menambahkan, jangan menjadi seperti pohon pisang yang hanya berbuah bagus satu kali, sebab seorang pebisnis harus terus produktif dan tumbuhkembang.  Sebagai pengingat, beliau juga mengatakan Seorang Businesman harus tahu kapan bisnis itu kapan menemukan batas waktu produktifnya. Beliau mencontohkan bagaimana kemajuan teknologi mendorong lampu petromax mendorong percepatan menyentuh titik kulmunasi produktifnya.

Pebisnis tangguh satu ini juga sangat piawai dalam meng-organize pasukannya. Beliau berpesan  untuk tidak mengandalkan diri sendiri. Seorang pebisnis harus mampu  mencetak orang-orang  hebat disekelilingnya  sehingga bisa bergandeng tangan dan saling bahu membahu dalam membangun dan mengembangkan ragam inovasi. 
You have to build, you have to learn dan you have to grow”, tandas beliau. Seorang pemimpin harus visioner dan ikut terjun langsung menekuni bersama pasukan. Seorang pemimpin harus melakukan distribusi peran efektif dalam mewujudkan visi besar. ”Sebagai pemimpin, anda juga harus mau belajar mendengar bawahan sehingga mendapat informasi cukup untuk mengambil keputusan yang Tepat. Oleh karena itu, mendengar adalah kunci keberhasilan”, Pesan Pak Hamid. ”Pemimpin besar itu bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi orang lain”, tambahnya.


Dipenghujung presentasinya, beliau mengajak untuk belajar pada siapapun sehingga memperbesar peluang untuk berhasil. Ada satu lagi tips unik dari beliau, ”kalau mau berhasil jangan liat jumlah uangnya, tetapi prosentase pertumbuhannya”. Tips ini diberikan untuk mendorong pengusaha menjadi pribadi yang produktif dan selalu mengalami progressif. Alasan beliau sederhana saja, kalau yang dilihat pertumbuhan uangnya, maka berpotensi mengalami dis-orientasi dan terjebak penghambaan pada uang. Akan tetapi, ketika yang dilihat adalah angka-angka prosentase pertumbuhan atau penurunan, maka akan meng-energi untuk terus mengembangkan kreasi.


Akhirnya beliau menutup presentasinya dengan satu kalimat yang menunjukkan kematangan sebagai pebisnis,”Ingat, bisnis tidak lepas dari persoalan dan memerlukan solusi yang tepat dan cermat. Solusi pun sesungguhnya tidak pernah menyelesaikan persoalan secara tuntas. Bahkan tak jarang solusi menimbulkan masalah baru yang juga memerlukan solusi. Disinilah seorang pengisaha harus terus berfikir dan berupaya melakukan yang terbaik terbaik lewat pencarian dan pengembangan ide-ide cerdas” .

Testimoni yang penuh liku, hasil karya fantastic , filosopi hidup yang keren, telah menghipnotis seluruh audiense untuk menjadi pengusaha sukses sebagaimana Pak Hamid telah berada dikesuksesan luar biasa.  

Sebuah perhelatan yang sangat keren dan inspiratif...Special thanks For "The mission"......


Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved