APRESISI TERBUKA UNTUK SUTRADARA “SINETRON ANAK JALANAN”

Jumat, 07 Oktober 20160 komentar

APRESISI TERBUKA UNTUK SUTRADARA “SINETRON ANAK JALANAN”

Ini hanya perasaan sesaat atau mungkin lebih tepat sebagai ekspresi kegalauan akibat terbawa perasaan terlalu dalam ketika mengikuti lanjutan jalannya “sinetron anak jalanan”. Mungkin aku menjadi lebay seketika, tetapi melepas ke-baper-an ini perlu total expression agar kembali ke realitas hidup dan keluar dari efek drama sinetron yang sukses mengaduk-aduk perasaanku. Apalagi, sang istri dan ketiga lelakiku menggodaku dengan nada yang merusak suasana kebathinanku yang lagi larut sehingga kegalauanku semakin menjadi-jadi. Akhhh..... 


Tulisan ini mengalir saat sinetron sedang tayang sambil sesekali melihat aksi lanjutan pasca boy masuk IGD untuk mendapat perawatan dokter. Saat mata ini concern mengikuti gerakan jemari di keybord laptop, telinga ini tetep mengikuti upaya Raya yang berusaha kerras mengejar Reva untuk meng-informasikan kalau Boy di rumah sakit. Sayangnya, Reva sepertinya tidak mendengar dan memilih cuek dan mengikuti amarah-nya lewat aksi ngepot dan standing bersama motornya. Aksi inipun membuat Raya memilih berhenti mengejarnya. 

Sang Sutradara sukses mengacak dan mengaduk emosiku. Sang Sutradara sukses mematahkan prediksi seisi rumah yang memperkirakan reva datang dan menjadi penyemangat boy untuk bangkit lagi. Hal ini berdasarkan biasanya kalau boy bertanding mengalahkan musuh-musuhnya. Ternyata, kali ini tidak seperti biasanya. Bahkan, kecelakan kecil yang dialami Reva tak bisa dipastikan apakah dalam rangka  menuju arena pertandingan atau tidak. Sikap Macan (mama cantik) yang memilih nonton dipinggir jalan karena tak berhasil merayu reva lewat WA untuk mengajaknya bersama-sama menyaksikan juga sedikit menjengkelkan, walau sang Macan dalam dilema karena Wiryawan (sang suami) sudah menugaskannya untuk itu. Tetapi, bukankah lebih baik Macan memilih menjadi penyemangat di pinggir ring walau tanpa seorang Reva, mengingat hebatnya pengaruh pada semangat juang anak lelaki satu-satunya. Tapi lagi lagi sutradara sukses mengaduk-ngaduk perasaanku.

Sutradara juga membuat skenario dimana Boy kalah melawan Jurong, pemain MMA yang berasal dari Thailand. Sentimenkupun muncul mengapa Indonesia harus dikalahkan walau hanya di sinetron. Ini persoalan nama harum bangsa dan dimanakah nasionalisme sang sutradara?. Apalagi, Rio sang pimpinan srigala diberi ruang mengganggu konsentrasi Boy lewat bualan keselamatan reva. Ironisnya, Boy yang dikenal sebagai petarung tangguh selalu memiliki kelemahan kehilangan konsentrasi bila orang-orang yang dicintainya terluka atau sedang dalam ancaman bahaya. 

Strategi licik ini pun sukses menggoyahkan konsentrasi dan pertahanan Boy. Rasanya sebel banget mengapa sutradara memberi ruang pada kelicikan dimana hal ini jelas jauh dari semangat fair play sebuah pertandingan.  Tapi, sesi pembusukan ini menjadi nalar logis atas kekalahan Boy Wiryawan. Tapi, kekalahan Boy itu terasa menyakitkan. Praktek provokasi semacam itu sangat tidak logis di pegelaran pertandingan sekelas Asia Tenggara, sama tidak logisnya ketika Reva dan Mamanya selau mendapat kesempatan membisikkan dan men-suntikkan semangat  ke telinga Boy dari samping ring di setiap keadaan kritis  boy dipertandingan-pertandingan sebelumnya. Hmmm...sutradara sukses membangun militansi  buta dan pembelaanku terhadap pemera utama pilihannya, boy dan reva. Akhh..lagi-lagi sutradara sukses dan menyebalkannnn...     

Kegalauan berlanjut saat Reva baru akan keluar dari rumah sakit bersamaan dengan masuknya ambulance yang membawa Boy. tadinya aku berfikir akan berpapasan sehingga asa dan rasa  ini termanjakan dengan mempertontonkan keampuhan cinta. Tapi, lagi-lagi tidak seperti dugaanku. Bahkan saat keluar dari lift, Reva betemu dengan Adriana Sebagaimana biasanya peran antagonis, lagi-lagi Adriana selalu menambah runyam suasana.

Sikap Adriana yang ngotot, tidak malu dan memaksakan diri untuk mendapati keadaan Boy yang masih belum sadar sungguh keterlaluan. Skenario ini sukses menjadi energi tambahan amarah dan kejengkelanku. Kedatangan ibu Adriana  yang mengajak paksa Adriana  pulang  membangunkan kesadaranku kalau ini hanya sebuah sinetron....sinetron man....!!!. Lagi-lagi sutradara sukses mengibuliku.

Akhirnya kelicikan Jurong diperlihatkan setelah memberi hadiah segepok uang atas peran busuk Rio saat pertandingan final MMA itu. Hal ini menjadi jawaban mengapa nasionalisme Rio dan pasukan Arigalanya berada di titik 0 (nol) besar. Kebencian Srigala terhadap grup anak jalanan dan tawaran uang dari Jurong berjodoh dan menjadi inspirasi energi Rio dan temennya untuk memerankan tingkah yang mengundang kejengkelan penonton ter-amat sangat. Akh...lagi-lagi sutradara sukses membuatku semakin baper .............

Andai sutradara membaca tulisan ini, mungkin akan tersenyum dan bahkan terpingkal-pingkal. Potongan iklan disaat-saat kritis juga menandaskan kebrilianan RCTI selaku penayang sinetron ini. Ketersajian tulisan ini tak terelakkan sebagai simbol kekaguman dan acungan jempol atas kepiawaian sutradara dan produser  serta stasiun RCTI. Dengan jiwa besar, aku harus katakan kalian benar-benar sukses menempatkan karya ini dikepala penonton....Congratulation....!!!

Seketika aku jadi ingat ketika berkesempatan menjemput seorang ekonom senior Prof Dhawam Raharjo di stasiun kereta Purwokerto beberapa tahun lalu. Kehadiran beliau saat itu untuk mengisi satu seminar di Kampus Unsoed Purwokerto. Setelah aku mempersilahkan beliau naik ke dalam kendaraan, aku pun  langsung menginjak pedal gas menuju hotel tempat beliau menginap. Sambil senyum-senyum sendiri dan bahkan menahan tawa mendengar materi pembicaraan beliau. Untuk tidak menggangu keasikan beliau bertelepon ria, aku mencoba mengajak ngobrol dengan staff beliau DR.Tarlih untuk sekedar mengobati keheranan dan juga geliku.  Bagaimana tidak, sebab yang dibicarakan beliau via telepon adalah tentang kelanjutan sinetron kesukaannya yang terpaksa terlewatkan karena masih dalam perjalanaan menuju Kota Mendoan saat sinetron itu diputar. Uniknya lagi, pembicaraan berlangsung sejak mula masuk kendaraan sampai ruang lobby hotel.  Bahkan, saya sempat menunggu seitar 15 menitan sampai pembicaraan usai. Atas apa yang kurasakan malam ini, sepertinya terdapat  sisi kesamaan dengan beliau walau garis hidup berbeda nyata....ha2..Mungkin pengungkapan testimoni ini hanya caraku melakukan pembelaan atas kebaperanku yang sudah menyentuh lebay...ha2..Semoga juga tulisan ini tidak dibaca Prof Dhawam Raharjo dan juga DR. Tarslih..ha2

Udah ah...cukup nulisnya..... Dado juga sudah berhasil menelepon Reva  dan berjanji akan segera menyusul ke rumah sakit menjenguk Boy. Tangis Mama Reva yang coba membangunkan Boy juga sebentuk ekspresi kekhawatiran wajar dari seorang ibu. Amarah Macan yang menolak bersalaman saat reva tiba di rumah sakit juga bentuk kekecewaan yang masih bisa difahami atau dimenegerti. 

Tadinya aku menduga ini akan menjadi moment yang akan mempertontonkan sisi indah bagi para pembela pemeran utama sinetron ini. Sayangya...asaku tak bisa bersandar karena tulisan yang kudapati kemudian dilayar TV adalah.. "BERSAMBUNG"..............akhhhhh...sebellllllllllllllllllllll


Kufikir kelebay-an ini tidak perlu kuperpanjang lagi sebab sinetron berikutnya di stasiun TV yang sama adalah “Anugrah Cinta”, sebuah sinetron yang juga super romantis dan selalu sukses membuat baper berat. Apalagi sinetron satu ini menduduki rating tertinggi dalam urusan sinetron televisi. Tapi aku tak mau hanyut lagi untuk kedua kalinya malam ini. Aku memilih siap-siap bergabung dengan temen-temen HIPMI BPC Banyumas yang katanya mau juguran alias kumpulan untuk mem-finalisasi konsep “Entrepreneur Class” yang direncanakan launching di medio Oktober 2016 ini. 


sumber gambar : google searching
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved