ROMANTIKA “CUCI PIRING” DI MESS PERSIBAS BANYUMAS

Selasa, 16 Agustus 20160 komentar

ROMANTIKA “CUCI PIRING”
DI MESS PERSIBAS BANYUMAS
sumber : Tulisan Pemain Persibas Banyumas Subagyo


A.  Permulaan Bernada Pengantar Redaksi
Kali ini, redaksi mencoba menampilkan sisi lain dari perhelatan sepak bola di lingkungan Persibas Banyumas. Tulisan tentang pernik-pernik lain yang sebenarnya menjadi bagian tidak terpisahkan dari urusan bola, namun menjadi menarik  menampilkannya sebagai bentuk bacaan atau hiburan ringan. Apalagi, tulisan ini merupakan kisah nyata dari salah satu pemain Persibas Banyumas. Tulisan berikut ini merupakan karya pertamanya sejak di dorong oleh manajemen untuk belajar menulis. Kebetulan saja, disamping bermain bola, beliau juga memanfaatkan waktu sore untuk kuliah di salah satu kampus swasta terkenal di kota Purwokerto. Namun demikian, redaksi melakukan beberapa revisi tanpa mengurangi esensi, dengan harapan agar lebih enak dibaca dan atau tidak menimbulkan multy tafsir. Pemuatan tulisan ini juga bentuk apresiasi atas upaya keras beliau dalam belajar menulis. Semoga hal ini akan menjadikannya lebih giat untuk melatihkan diri dalam urusan tulis menulis.



B. Pelajaran Dibalik Cuci Piring
Sebelumnya saya mohan maaf jika pada saat membaca tulisan ini banyak kata-kata yang terkesan semrawut, acak-acakan atau dalam bahasa jawa-nya ora karuan. Maklum bro, baru belajar nih . hehe. Dikesempatan kali ini, Saya mau berbagi cerita tentang salah satu kegiatan rutin saya di luar teknis sepakbola.  perkenalkan nama saya Subagiono, asal Banyuwangi, Jawa Timur.  Kali ini, saya menulis bukan tentang latihan ruitn sepak bola, juga bukan tentang perkuliahan,  dan bahkan bukan tentang serunya sebuah pertandingan bola, melainkan tentang cuci piring.

"Deneng isah-isah di critakna , apa ora nana kegiatan sing luweh apik apa? " mungkin sebagian dari pembaca berfikir seperti itu ya. Semoga aja sebagian yang lain masih mau membaca tulisan ini sampai selesai ….hehe..Amin. Oke… Saya mulai...

Mencuci piring” menjadi rutinitas saya setiap kali teman-teman sesama Pemain Persibas selesai sarapan pagi, makan siang dan atau makan sore. Awal mulanya, aktivitas ini bukan karena diperintah tetapi murni inisiatif sendiri.
Hampir bisa dipastikan setiap harinya saya mencuci piring 3 (tiga) kali. Dalam urusan makan, ada hal-hal menggelikkan yang sering terjadi, baik sebelum dan atau selesai makan.  

Sebagian kawan-kawan ada yang mengambil porsi banyak tapi tidak habis, ada yang menyerobot jatah yang lain sehingga yang belakangan tidak kebagian, ada yang tidak suka menu tertentu dikarenakan alergi, terkadang sedang kurang berselera, ada yang hanya mengambil makanan di ruang makan dan kemudian melahapnya  di ruang lain dan kemudian menaruh piring bekas semaunya, ada yang selalu menggumam ketika mengambil makanan, ada juga yang kerapkali memecahkan piring saat kebagian porsi makan kurang sehingga sering iseng piringnya ikutan di makan...ha..ha...ha. Namun demikian, sebagian teman ada juga yang sering membantu menata piring, ada juga yang ikhlas menaroh piring kotor ke ruang makan dan sebagian lagi membantu membersihkan sisa makanan, dan lain sebagainya.
     
Disaat dalam kondisi sehat atau bugar, membersihkan sisa makanan dan mencuci piring bukanlah sesuatu yang berat untuk dilakukan. Namun, pada saat kondisi sedang capek habis latihan, banyak kerjaan lain, ngantuk, ataupun kurang fit, kegiatan semacam ini menjadi terasa begitu berat untuk dijalani. "Aduuuh, kesel Acan lah, wis latihan abot, isih urung ngumbahi klambi, piring ya urung di isahi, " priwe kie ? Kanca-kanca enak temen si ya , wis bisa leyeh-leyeh , bisa langsung turu , bla bla bla bla . . ", demikian beberapa fikiran negatif  ketika rasa malas menghinggapiku.

Teringat Manager Persibas, Mas Dimas, pernah mengajarkan tentang The Power of Mindset, sehingga fikiran-fikiran dan atau perasaan-perasaan negatif  semacam itupun coba diatasi dengan membangun pola pikir yang positif. Terlebih karena saya juga punya tanggung jawab kepada teman-teman yang seolah mendorong  saya untuk konsisten melakukannya. Tanpa disadarti, kegiatan cuci piring ini ternyata mendatangkan banyak manfaat pada diri saya sendiri. Ketika saya pulang kerumah,  biasanya saya acuh dengan piring kotor, namun sekarang jadi aktif membantu ibu mencuci. "ya mbatin pisan lah , deneng piring-piringe bocahan tok sing di isahi  , gone ibune ora, kan pamali , ora elok . doso kang”.

Atas rutinitas kecil  di Persibas inipun,
saya jadi terlatih belajar tentang disiplin dan tanggung jawab. Sering terfikir,
kalau saya tidak mencuci nanti teman-teman makan pake apa?. Mosok pake daun pisang . ya let ana si ora papa , kadung ora nana jur kepriwe , kan dadi Inyong sing salah maning. Terus saya juga jadi tahu pentingnya membangun mindset  sehingga seberat  apapun pekerjaan pasti bisa terselesaikan  bila didukung dengan pola pikir yang baik. Sebaliknya, pekerjaan kecil pun akan terasa berat jika otak kita dipenuhi fikirabn-fikiran egative. Intinya, Use the power of a positive mindset to help finish your job.

Terima kasih telah membaca tulisan saya yang acak-acakan ini,  semoga bermanfaat. Saya juga mohon maaf jika banyak dari kalimat-kalimat saya yang mungkin kurang berkenan bagi sebagian orang dan atau bahkan menyinggung perasaan. Ini merupakan pelajaran pertama saya menulis di Blog Persibas Banyumas…he2 

Akhir kata..Wassalamu'alaikum wr, wb


Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved