PERTEMUAN BANK INDONESIA (BI) ITU BERTAJUK “SILATURRAHMI EKONOMI”

Jumat, 22 Juli 20160 komentar

PERTEMUAN BANK INDONESIA (BI) ITU BERTAJUK
“SILATURRAHMI EKONOMI”


(Purwokerto 22/7) Pertemuan yang di inisiasi Bank Indonesia Perwakilan Purwokerto ini dikemas dalam tajuk "Silaturrahmi Ekonomi Banyumas". Mengambil tempat di rumah jabatan Pimpinan BI Perwakilan Purwokerto, pertemuan diawali dengan acara dinner dan kemudian dilanjutkan dengan diskusi santai yang mulai dimulai jam 20.30 wib. 

Pertemuan pertama ini lebih tepat disebut warming up session yang menitikberatkan pada keterbentukan persepsi serupa tentang pentingnya agenda “silaturrahmi ekonomi” ini  dilaksanakan secara rutin.
Alasannya sederhana saja, disamping media untuk menilik dan meng-update informasi seputar kinerja ekonomi daerah, pertemuan ini juga diharapkan menghasilkan pemikiran dan gagasan yang bias menjadi referensi bagi pemangku kebijakan dalam berkeputusan. Disisi lain, diskusi yang melibatkan pegambil kebijakan, organisasi-organisasi pelaku ekonomi, akademisi, pewarta dan juga pengamat, akan meahirkan sinergitas produktif yang berdampak pada akselerasi pertumbuhan ekonomi daerah dan juga kesejahteraan masyarakat. Demikian inti pengantar dari Pak Deni selaku tuan rumah dan juga Pimpinan BI Perwakilan Indonesia.

Dalam sambutannya, beliau juga meg-informasikan  bahwa dalam rangka lebaran idul fitri 1437 H yang baru saja usai, BI menyediakan uang cash menyentuh angka Rp 3,4 T. Angka ini  juga menggambarkan putaran ekonomi di wilayah Purwokerto khususnya di bulan puasa dan lebaran. Beliau juga berharap segenap stake holder bias berpartisipasi aktif untuk mendukung laju investasi khususnya di wilayah Banyumas.  


Malam itu juga ditampilkan slide yang menunjukkan bahwa sampai triwulan II, pertumbuhan
ekonomi Banyumas diangka 5,84 prosen.  Industri pengolahaan menjadi penyumbang tertinggi yang mengalami pertumbuhan 6,55 prosen dan kemudian diikuti oleh sektor pertaniaan dan perdagangan. Sementara itu, Kepala BPS (Badan Pusat Statistik) menjelaskan bahwa angka kemiskinan di Banyumas menduduki urutan ke-15 di Jawa Tengah dan ini menjadi PR besar yang harus diselesaikan. Tingkat inflasi juga perlu dijaga sebab semakin tinggi inflasi akan semakin mendorong pertumbuhan angka kemiskinan. Beliau menggambarkan bahwa penghasilan rata-rata per kapita orang miskin  itu hanya sekitar Rp 310.000/bulan.  Beliau juga menandaskan bahwa kalau tadinya sektor pertanian sebagai penyumbang kemiskinan, saat ini sumber kemiskinan itu justru bersumber dari perdagangan. Hal ini mencirikan bahwa peranan sektor-sektor  di Banyumas sudah bergeser. Kalau tadinya sektor pertanian menjadi unggulan, sekarang sektor industri yang leading dan kemudian diikuti dengan perdagangan dan pertanian. Ada satu hal yang menarik untuk menjadi perhatian dimana kontribusi perhotelan dan penginapan termasuk dalam kategori rendah, padahal purwokerto memiliki banyak hotel dan penginapan.

Sementara itu, ekonom BI, Bapak Joko mengatakan investasi perlu terus  digerakkan. Untuk itu, aspek keamanaan dan tata ruang perlu  menjadi perhatian sehingga mendatangkan kanyamanan investor berkegiatan ekonomi di Banyumas. Merespon statemen ini,  Bappeda menyampaikan bahwa saat ini Pemkab  Bbanyumas ini sedang meng-evaluasi tata Ruang. Pemkab juga sedang melakukan komunikasi intensif dengan dewan/legislatif sebagai bagian dari upaya menghasilkan tata ruang yang terbaik. Beliau  menginformasikan bahwa sebenarnya Banyumas sudah memiliki zona investasi, namun sering kali investor menginginkan lokasi yang kebetulan tidak sesuai dengan tata ruang sehingga memunculkan kesan investasi tersandra oleh tata ruang. Pak azis selaku kepala BPMPP menginformasikan bahwa tata ruang biasanya di evaluasi setiap 5 (lima) tahun sekali. Dalam rangka mendukung laju investasi,  BPMPP  terus berupaya melakukan terobosan-terobosan sehingga Banyumas ramah dengan investasi. Bahkan Pemkab Banyumas terus berupaya aktif berkomunikasi dengan investor-investor potensial untuk mengembagkan kegiatannya di wilayah Banyumas.  ‎‎


Bapak Didik Rudianto, legislator PDIP, mencoba menyoroti tentang pola sampling
penyerapan data yang dilakukan BPS dalam melakukan pemetaan kemiskinan. Hal ini dimaksudkan  agar lebih menggambarkan realitas di lapangan. Selanjutnya beliau  beliau mendorong peningkatan kreativitas pengembangan di sektor pariwisata sehingga Banyumas menjadi destinasi wisata yang lebih menarik bagi wisatawan domestik maupun asing. Obyek-obyek wisata modern yang ada di kota-kota besar layak di duplikasi  ke Purwokerto. Beliau mencontohkan bila memungkinkan obyek wisata semacam trans studio di Bandung juga ada di Banyumas. Beliau juga menyarankan agar Banyumas menyambut pembangunan bandara wirasaba tahun 2017 sejak dini, khususnya berkaitan dengan pengembangan pariwisata. Dipenghujung, beliau berharap perlunya semua pihak ikut meng-campaign perlunya peng-arus utamaan pengembangan pariwisata. Gagasan Pak didik tentang pengembangan pariwisata  ini disambut baik oleh Pak azis yang kesehariannya menjabat sebagai kepala BPMPP. Dukungan beliau ini bukan tanpa alasan mengingat pariwisata adalah titik masuk promosi daerah dan berpotensi mendatangkan multiplier effect khususnya mendorong laju tumbuh ekonomu.  




Dipenghujung diskusi santai ini, Pak Joko selaku ekonom BI Perwakilan Purwokerto menandaskan bawa perlu melakukan serangkaian upaya sistematis dan konstruktif yang  mencerdaskan kehidupan berdagang, mencerdaskan kehidupan bertani, mencerdaskan kehidupan ber-ekonomi produktif. Hal ini sebagai upaya  peningkatan kualitas ekonomi dan lompatan kesejahteraan masyarakat". 
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved