MEN-TEMAKAN WIRAUSAHA

Senin, 11 April 20160 komentar



MEN-TEMAKAN WIRAUSAHA
(Dalam Tinjauan Praktis)
Disampaikan pada acara “lokakarya kewirausahaan” bagi peserta program PMW, Universitas Jenderal Soedirman, di Lantai I Gd.Rektorat Unsoed, Purwokerto, 09 April 2016
 


A.  Prolog Berdimensi Kontemplasi
Semua orang ingin bahagia/sukses dan masing-masing orang memiliki defenisi  tentang bahagia/sukses. Namun faktanya, tidak semua orang mendapati kebahagiaan. Hal ini mungkin dikarenakan terlalu tingginya defenisi tentang kebahagiaan sehingga sulit  untuk digapai, atau karena kurang bersyukur sehingga selalu merasa kurang dan atau mungkin karena salah dalam memilih jalan sehingga beujung ketidakbahagiaan.  

Hidup adalah sebentuk kesempatan yang didalam perjalanannya terdapat banyak pilihan. Pemaknaan atas hidup selanjutnya mempengaruhi pada pilihan mana yang akan diambil untuk membuat hidup tetap hidup.  Atas dasar itu,  setiap orang bergerak melakukan sesuatu baik untuk sekedar bertahan hidup maupun mengembangkan makna-makna hidup ke wilayah yang lebih luas di luar dirinya. Oleh karena itu, sebagai guidance (panduan) perlu disusun pemaknaan tentang hidup dan dirumuskan tujuan hidup sehingga lebih jelas arah yang dituju dan peng-arus utamaan energi, fikiran dan tindakan.

Sebagai satu bahan perenungan, “banyak orang yang menginginkan sukses, tetapi sebagian mereka tidak benar-benar menginginkan kesuksesan itu  datang. Hal ini terlihat dari kurang relevannya antara langkah-langkah yang dilakukan dengan tujuan yang sesungguhnya ingin diraih”. Sebagai contoh; adalah mustahil mendapatkan nilai bagus pada satu mata kuliah tanpa diikuti belajar yang tekun, serius dan sungguh-sungguh.


B. Memakna Kewirausahaan
Dalam terjemahan bebas, kewirausahaan merupakan upaya sadar  membentuk kemandirian yang pada perkembangannya bias menciptakan harapan hidup bagi orang lain. Sementara itu dari sisi praktek lapangan, wirausaha itu  itu 90% tentang semangat dan mentalitas,  10% tentang hal-hal bersifat teknis. Dalam semangat dan mentalitas itu terkandung keyakinan kuat, optimistic, positif thinking tanpa menghilangkan kewaspadaan  dan keberanian berkeputusan untuk memperjuangkannya. Sedangkan  hal-hal teknis menyangkut tentang operasionalisasi usaha yang dijalankan dimana masing-masing  obyek pasti memiliki karakter dan kekhasan sendiri-sendiri.

Mereferensi alinea diatas, maka bila ingin menekuni atau terjun ke dunia wirausaha, hal pertama yang dilakukan adalah membangun semangat dan mentalitas. Sebab, semangat dan mentalitas adalah inspirasi berkeberanian memulai, berkemauan belajar untuk menjadi lebih baik, ber-kesabaran dalam berproses dan berbesar jiwa atas hasil akhir. 

Sementara itu, hal-hal teknis menyangkut penyusunan gagasan/ide, perencanaan, tindakaan operasional, pengendalian dan evaluasi. Berkaitan dengan hal-ha teknis berwirausaha, berikut di berikan beberapa tips yaitu:
1.      Mulailah dari dari siapa. Seorang wirausahawan itu harus berorientasi pada pangsa pasar (market oriented). Perumusan market yang jelas akan mempermudah untuk menemukan detail usaha yang akan dijalankan. Sesudah hal ini bisa ditegaskan baru memasuki tahap selanjutnya, yaitu menentukan apa yang akan dijalankan
2.      Dalam rangkan menentukan apa, sebaiknya me-referensi pada apa yang dibutuhkan oleh target market tersebut.  Penggunaan metode ini akan lebih bisa mendekatan pasar karena apa yang ditawarkan memang apa yang mereka butuhkan. Mereka akan merespon positif karena jawaban dari yang mereka butuhkan adalah apa yang anda bawa atau tawarkan. Namun, hal ini sangat berbeda dengan sesuatu yang benar-benar baru atau belum ada sebelumnya. Pada jenis ini, seorang wirausahawan harus  melakukan edukasi pasar (market education) sehingga bisa diperoleh informasi yang lengkap tentang apa yang ditawarkan dan nilai guna ketika di konsumsi atau di gunakan. 
3.      Bagaimana?. Goal akhir dari penawaran adalah terjadinya transaksi. Untuk itu, dalam rangka meningkatkan probabilitas kesuksesan maka pengenalan karakter target market  akan sanga membantu dalam perumusan pola pendekatan yang efektif. Sebab, target konsumen yang didekati dengan cara yang sesuai dengan karakternya, maka konsumen itu akan merasa nyaman. 
4.      Kapan dan dimana?. Sebenarnya berwirausaha itu bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja sepanjang terdapat ”peta kebutuhan” atau berhasil membentuk ”rasa butuh” pada target market. Mendekatkan diri pada calon konsumen tentu akan memudahkan mereka untuk meng-akses usaha yang anda jalankan. Dekat dengan konsumen yang dimaksud dalam hal ini bukan saja secara geografis, tetapi juga dekat secara emosional dan mudah dijangkau baik secara manual maupun melibatkan perangkat IT.

C. Lakukan Segera dan Nikmati Prosesnya
Berwirausaha itu memerlukan keberanian dan kecepatan dalam betindak. Kebanyakan pertimbangan sering berujung penundaan. Oleh karena itu, lakukan segera dan nikmati prosesnya. Artinya, kala sudah menjeburkan diri maka keadaan akan menuntun dan bahkan memaksa sang wirausahawan untuk terus berfikir mengembangkan kreativitasnya agar bisa bertahan (survive) dan berkembangkan (grow) . Oleh karena itu, keuletan, kesabaran,  ketekunan dan kemauan untuk belajar dari dinamika sangat berpengaruh pada hasil akhir. Wirausahawan yang terus menerus melakukan evauasi atas setiap tindakan pada akhirnya akan menermukan cara terbarukan yang kemudian berdampak pada peningkatan kualitas dan juga kuantitas usaha yang dijalankan. Salah hal layak menjadi catatan dimana tidak ada keberhasilan tanpa perjuangan dan keprihatinan. Hal ini juga menandaskan bahwa keberhasilan memerlukan kerja keras, kerja cerdas, waktu dan kesabaran. Sementara itu, keprihatinan yang dimaksud adalah terbangunnya daya tahan atas ragam hal yang tak jarang sangat menguras energi dan emosi. Seorang wirausahawan harus tangguh dan tetap dalam semangat terjaga ketika kenyataan belum seperti harapan. Rintangan harus difahami sebagai bagian yang harus dihadapi dan bukan untuk dihindari. Kekhawatiran harus dilawan hingga terangun keberanian.   


D. Ketajaman Insting Bisnis
Satu pepatah bijak mengatakan ”bisa kerena biasa”. Artinya, keterbiasaan akan mendatangkan kemampuan yang kian hari kian menjadi lebih baik. Pada titik tertentu, kebiasaan itu akan masuk ke dalam alam bawah sadar dan muncul seketika tanpa proses kesengajaan. Lihatlah bagaimana seorang yang mendalami ilmu beladari memasang kuda-kuda seketika saat dikagetkan oleh sesuatu. Sama halnya dengan orang yang sudah terbiasa dengan keypad HP atau keyboard komputer yang bisa mengetik begitu cepat dan bahkan tanpa melihat sekalipun. Belajar dari hal tersebut, maka ketika menginginkan untuk memiliki insting bisnis yang tajam, maka bangunlah kebiasaan berfikir kreatif dan produktif atas setiap apa yang dilihat, yang didengar dan bahkan yang dirasakan. Lihatlah bagaimana para pencipta lagu sering terinspirasi atas apa yang dirasakannya atau apa yang disaksikannya. Juga banyak terknologi terbarukan yang terinspirasi oleh kesulitan yang sedang dialami masyarakat. Ketajaman insting semacam ini sesungguhnya lahir dari kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan.   


E. Sekedar Tips Sederhana
Kalau memulai berwirausaha memerlukan semangat dan mentalitas berkeputusan, semangat dan mentalitas itu pun harus ada pada tahap menjalankan dan dalam menerima hasil akhir dari proses panjang. Untuk membangunkan dan memelihara semangat dan mentalitas itu, berikut disampaikan beberapa tips yang mungkin bisa menjadi stimulan atau inspirasi : 
  1. Mulailah segera, karena berangan-angan saja tak pernah bisa menghasilkan apapun. Untuk itu, mulailah dari apa yang memang bisa untuk dilakukan.
  2. Jangan pernah mengeluh, karena mengeluh tak pernah merubah keadaan. Seorang wirausahawan bukan diharamkan untuk menangis, sepanjang pada bulir air mata tertentu tertemukan kekuatan untuk berdiri dan melanjutkan langkah.
  3. Tekuni dan jalani  wirausaha dengan jiwa  dan nikmati setiap dinamika yang mewarnainya. Menjalani sesuatu dengan jiwa akan menuntun untuk senantiasa ber-energi dan teguh pada upaya-upaya memperjuangkan mimpi.
  4. Kesuksesan adalah hadiah bagi mereka yang berani berkeputusan dan efektif dalam memilih cara. Oleh karena itu, kebelum berhasilan bukanlah alasan untuk berhenti, tetapi seharusnya dijadikan sumber energi untuk terus memperbaiki “diri dan cara”.
  5. Semua menginginkan laba yang banyak, tetapi control diri untuk tidak terjebak dalam emosi berlebihan diperlukan. Hal ini ter-inspirasi dari kesuksesan yang berujung kesedihan karena ketidakmampuan mengendalikan emosi dalam berwirausaha. 
  6. dan lain sebagainya.


F. Penghujung
Kalau keberhasilan ternyata di langkah ke-100, maka adalah sebuah kekliruan besar untuk berhenti di langkah ke-99. Namun akan menjadi sangat tidak mungkin sampai dilangkah 100 kalau tidak pernah berani melakukannya mulai langkah ke-1 (pertama).

Demikian tulisan sederhana ini disampaikan, semoga menginspirasi kebaikan dan lompatan semangat dalam menekuni kewiirausahaan. Semoga Tuhan senantiasa berpihak pada langkah dan do’a kita semua. Amin.

Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved