BERSAMA KOMUNITAS BUDDHA: MEM-PERSEPSI dan ME-MAKNA KOPERASI

Sabtu, 23 April 20161komentar



MEM-PERSEPSI dan ME-MAKNA KOPERASI
Sebagai Inspirasi  Pemberdayaan Masyarakat

Prolog
Ini bukan pertama kali penulis hadir mengisi acara seminar. Namun, ada sebuah perasaan excited ketika komunitas ini mengundang berdiskusi tentang pemberdayaan yang di format dalam acara seminar sehari. Mungkin saja, hal ini pertama kali bagi penulis berdiskusi dengan komunitas ini. Disisi lain, ada kebahagiaan tersendiri ketika komunitas Budha ini mulai melihat dan meyakini koperasi sebagai jalan untuk pemberdayaan ekonomi, sosial dan budaya. 

Ada satu yang menarik untuk menjadi catatan atas pegelaran seminar dimana penerimaan nilai-nilai universal koperasi  kian meluas. Hal ini juga menandaskan efektivitas penyuaraan koperasi ke kantong-kantong yang memperjuang pemberdayaan mulai menemukan efektivitasnya.     

A.  Menilik Sejarah
Kelahiran koperasi pertama di dunia bermula dari keinginan kaum buruh pabrik yang tertindas oleh keserakahan pemilik modal yang hanya mementingkan  pertumbuhan modalnya. Ketidakberdayaan akud kemudian meng-inspirasi terbangunnya kesadaran memperkuat diri dalam judul memperbaiki nasib. Melalui kebersamaan dan penyatuan potensi, mereka berhasil meningkatkan pendapatan riil  dimana dengan nominal serupa bisa menjadikan lebih banyak kebutuhan terpenuhi.

Singkatnya, Success Story dari apa yang mereka lakukan selanjutnya meng-inspirasi banyak orang untuk melakukan hal serupa. Kian lama seiring berjalannya waktu, koperasi kemudian menjadi satu bentuk yang diyakini sebagai alat perjuangan untuk merubah nasib. Perkembangan selanjutnya pun menunjukkan gairah ber-koperasi di dunia terus mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Catatan emasnya,  PBB selaku induk organisasi dunia menetapkan tahun 2012 sebagai tahun koperasi dunia. Uniknya, thema yang diambil adalah “cooperative’s entreprise build better world” yang dalam terjemahan bebas menjadi “perusahaan koperasi membangun dunia menjadi lebih baik”. Ada yang menarik dari pemilihan thema ini yaitu penggunaan “better world” atau “dunia yang lebih baik”. Telusur atas hal ini ternyata di latarbelakangi bahwa praktek perusahaan koperasi di berbagai belahan dunia memiliki nilai beda nyta yang tidak mungkin didapat pada perusahaan-perusahaan perseorangan, PT, Firma dan lain sebagainya. Praktek perusahaan koperasi mencerminkan adanya titik tekan pada kebijaksanaan-kebijaksanaan yang merupakan hasil pembangunan karakter manusia yang dilakukan secara terus menerus seperti keadilan ekonomi, pemerataan kesempatan berusaha, anti eksploitasi manusia, kesejahteraan kolektif, menolong diri sendiri dan lain sebagainya yang kesemuanya menjadikan koperasi efektif sebagai alat perjuangan kemanusiaan dan bahkan perdamaian dunia.

B.  menilik Defenisi
Me-referensi pada hasil General Assembly Induk Koperasi dunia di Manchester, 1995, Koperasi didefenisikan sebagai kumpulan orang yang otonom dan bergabung secara sukarela untuk memenuhi aspirasi dan kebutuhan ekonomi,sosial dan budaya melalui perusahaan yang mereka miliki bersama dan kendalikan secara demokratis. Dari defenisi ini, ada beberapa titik tekan yang layak menjadi inspirasi :
1.      Koperasi adalah kumpulan orang. Hal ini menegasikan pemahaman kebanyakan orang yang masih memandang koperasi sebagai kumpulan modal layaknya UD, CV,PT dan lain sebagainya. Sebagai kumpulan orang, koperasi menempatkan orang sebagai penentu dan memposisikan modal sebagai alat bantu (Just Servant). Nalar ini lah yang kemudian menggiring koperasi menganut sistem one man one vote (satu orang satu suara) dan bukan luluh pada sistem one share one vote (satu saham satu suara). Dalam pemaknaan radikalnya, seberapapun modal seseorang di koperasi, tidak kemudian menjadikannya dominan dan lebih berhak menentukan arah jalannya koperasi.
2.      memenuhi “aspirasi dan kebutuhan ekonomi,sosial dan budaya” sebagi tujuan. Aspirasi dan kebutuhan adalah muasal kelahiran aktivitas-aktivitas produktif koperasi yang tidak hanya sebatas urusan ekonomi, tetapi juga sosial dan budaya yang kemudian ter-integrasi dalam satu tujuan, yaitu “sejahtera”. Lewat proses komunikasi intensif diantara unsur organisasi selanjutnya terbangun kesepakatan-kesepakatan tentang apa yang akan dilakukan bersama-sama untuk kepentingan bersama.
3.      Perusahaan sebagai media. Perusahaan dalam koperasi adalah media atau sarana bagi pemenuhan aspirasi dan kebutuhan-kebutuhan anggota. Dinamika aspirasi akan menjadi bentuk pengendalian secara demokratis anggota atas jalannya perusahaan yang mereka miliki bersama. Pada titik inilah fungsi ganda anggota sebagai owner (pemilik) dan juga Customer (pelanggan) menjadi sangat berpengaruh dalam perjalanan sebuah koperasi.      

Berkoperasi itu sama dengan ikrar hidup bersama. Berkoperasi itu bukan sebatas mencari manfaat, tetapi bersama-sama menciptakan manfaat yang bisa dinikmati bersama melalui penyatuan potensi dan bakat segenap insan yang berhimpun. Namun, penyatuan potensi dan bakat tidak akan pernah terjadi bila antara satu dengan lainnya tidak saling percaya yang diikuti keyakinan bahwa saling mendukung merupakan cara terbaik untuk bisa menolong diri sendiri dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan bersama.

Disamping itu, persepsi sama dan rasionalitas ekspektasi perlu dibangun bagi setiap insan yang akan bergabung melalui penyelenggaraan pendidikan perkoperasian. Persepsi sama ini selanjutnya mendorong tumbuhkembangnya kesadaran setiap orang melakukan pembelaan terhadap koperasi melalui ragam aksi produktif, seperti bertransaksi dan aktif menyumbangkan ide dan gagasan bagi pengembangan koperasi. Disamping itu, kualitas outpus proses pendidikan yang diselenggarakan koperasi juga sangat menentukan kualitas ber-gagasan dan juga ber-demokrasi dalam koperasi.    

C.  Berkoperasi Itu Identik “Menolong Diri Sendiri”
Hakekat berkoperasi sesungguhnya menolong diri sendiri melalui cara-cara kolektif (baca: bersama-sama). Melalui kebersamaan yang didalamnya terdapat akumulasi potensi dan sumber daya, setiap orang menjadi berpeluang untuk menyelesaikan persoalan-persoalan maupun mengembangkan berbagai ide dan gagasan yang merupakan bagian dari cita-cita dan tujuan hidup pribadinya.  Sebagai gambaran tentang “menolong diri sendiri”, berikut diberikan beberapa abstraksi:
1.      Kala seseorang bergabung dalam koperasi dimana didalamnya terdapat kumpulan orang yang beragam karakter dan latarbelakang, sesungguhnya dirinya sedang mengembangkan koneksitas dan interaksi produktif yang akan mempengaruhi dirinya secara kejiwaan dan juga kehidupan sosial dan budayanya. 
2.      kala seorang anggota menabung di koperasi , sesungguhnya dirinya sedang belajar mendisiplinkan diri dalam pengelolaan pendapatan. Disamping itu juga membangun kebijaksanaan pada dirinya bahwa saat dia menabung identik dengan membantu anggota lain yang sedang membutuhkan pinjaman.
3.      Kala seorang anggota meminjam, sesungguhnya dirinya sedang menolong dirinya untuk menyelesaikan kebutuhannya, seperti pengadaan kendaraan untuk transportasi, investasi untuk kepentingan masa depan dan lain sebagainya.
4.      Kala seorang anggota membelanjakan kebutuhannya di toko koperasi, sesungguhnya anggota tersebut sedang membentuk efisiensi kolektif sehingga memperoleh harga yang lebih murah dan atau mendapatkan barang yang lebih banyak dengan jumlah uang yang sama bila dibelanjakan di toko yang lain.
5.      dan lain sebagainya     

Penjelasan dan abstraksi diatas menegaskan bahwa dalam wadah kebersamaan bernama koperasi, sesungguhnya seseorang berkoperasi identik dengan menolong diri  sendiri melalui “kebersamaan”. Kebersamaan dalam koperasi harus dimobilisasi sedemikian rupa sehingga semua orang merasa diperhatikan dan dipedulikan serta bangga menjadi bagian dari koperasi. Perasaan semacam itu diyakini akan mendorong kemauan untuk berpartisipasi dan mengambil tanggungjawab ikut membesarkan perusahaan koperasi, sebab setiap tindakan anggota berlandaskan kesadaran dan keyakinan bahwa setiap berpartisipasi di koperasi bermakna 2 (dua) hal sekaligus, yaitu: (1) menolong diri sendiri dan juga: (2) membesarkan perusahaan koperasi.   

D.  Menilik Azas Subsidiary Dalam Koperasi
Sepanjang tidak dilarang UU atau peraturan lainnya, koperasi boleh menekuni, menjalani dan atau mengembangkan usaha apa saja. Namun demikian, berbasis aspirasi dan kebutuhan anggota adalah hal yang diutamakan agar  anggota merasa dipedulikan, diperhatikan dan selanjutnya berpengaruh pada terbangunnya pembelaan produktif dalam bentuk support permodalan, transaksi, akses, ide, gagasan dan lain sebagainya.

Berkaitan dengan luas dan jenis aktivitas perusahaan, koperasi mengenal azas subsidiary.  Azas ini menegaskan bahwa “ apa-apa yang bisa dikerjakan anggota, sebaiknya tidak dikerjakan oleh koperasi. Sebaliknya, apa-apa yang tidak bisa atau tidak mungkin dikerjakan oleh anggota, itulah yang dikerjakan koperasi”. Pada Azas ini terkandung beberapa hal yang antara lain dijelaskan berikut ini :
1.      Perlu adanya relevansi saling mendukung antara apa yang dikerjakan atau dibutuhkan anggota dengan apa yang dikerjakan oleh koperasi.
2.      Diharapkan adanya fungsi supporting antara dari aktivitas yang dikerjakan koperasi dengan apa yang dikerjakan oleh anggota.
3.      Koperasi merupakan organisasi yang lekat dengan aspek pemberdayaan.   Aktivitas-aktivitas yang dijalankan koperasi idealnya berbasis potensi dan kebutuhan yang ada di lingkaran anggotanya. Dengan demikian, akan terbentuk sinergitas produktif dari interaksi anggota dengan koperasinya.    

Atas dasar itu, aktivitas-aktivitas koperasi idealnya me-refresentasikan  kebutuhan mayoritas anggotanya di wilayah ekonomi,sosial dan budaya. Nalar semacam ini yang memungkinkan koperasi menjadi kuat dimana setiap   kelahiran satu aktivitas  diikuti keterbentukan pangsa pasar loyal (baca : captive market/pasar tertutup) yang medukung operasionalisasinya.  Namun demikian, koperasi bukanlah bentuk perusahaan kaku sehingga menutup diri melayani non-anggota (kecuali hal-hal yang dikecualikan Undang-Undang atau peraturan lainnya). Disamping itu, koperasi juga sesungguhnya bisa mengerjakan hal-hal lainnya bernada peluang yang bisa dimobilisasi sepanjang tidak berseberangan dengan aturan yang ada dan nila-nilai sosial dan kebijakan lokal (local wisdom).

E. Roh Pengelolaan Perusahaan Koperasi
Perusahaan koperasi berposisi sebagai media bagi pencapaian cita-cita bersama yang merupakan resume dari ragam kebutuhan dan aspirasi yang berkembang di lingkaran anggota. Oleh karena itu,   Sebagai sebuah perusahaan berbasis aspirasi dan kebutuhan anggota, nafas pengeloan perusahaan koperasi harus mendasarkan diri pada semangat kekeluargaan. Hal ini sebagai sumber inspirasi dalam tahapan perumusan dan implementasi ragam strategi untuk menjaga dan menumbuhkembangkan aktivitas koperasi. Profesionalisme yang sering didengungkan setiap kali membincangkan manajemen perusahaan koperasi adalah profesionalisme berbasis kemanusiaan (humanistic), bukan profesionalisme yang hanya menekankan pada pertimbangan-pertimbangan ekonomi dan kemudian abai dengan persoalan-persoalan kemanusiaan. Sebab, muasal kelahiran koperasi sesungguhnya adalah alat untuk membentuk keadilan dan kemartabatan.
 
Dalam upaya membangun perusahaan koperasi sebagaimana cita-cita bersarnya, maka sebelum jenis aktivitas perusahaan diputuskan akan dijalankam koperasi. maka sebaiknya roh pembentukan aktivitas perusahaan harus terumuskan pertama kali. Roh yang terdefenisi tersebut merupakan refresentasi  aspirasi dan kebutuhan mayoritas penghuni koperasi. Selanjutnya, roh tersebut menjadi landasan dalam menjalankan kreativitas di tingkat operasional.

Sebagai stimulan, berikut ini dijabarkan beberapa contoh defenisi roh pengelolaan perusahaan koperasi:
1.      Sebagai media pemenuhan kebutuhan sehari-hari anggota.
2.      Sebagai Media Pembentukan Efisiensi Kolektif
3.      Media Pendidikan (anti konsumerisme, mencintai hidup sederhana, menabung dan lain sebagainya)
4.      Mendorong lahirnya para wirausahawan baru melalui penyediaan modal dengan jasa murah dan penyediaan media untuk promosi usaha anggota.
5.      Mendorong kemajuan usaha melalui fasilitasi akses, teknologi dan manajemen.

F. Rasionalitas Ber-Asa Pada Perusahaan Koperasi
Setiap orang yang bergabung dalam koperasi pasti membawa agenda kepentingan. Oleh karena itu, penyelenggaraan pendidikan perlu dilakukan sehingga mempermudah mencari jalan tengah dari ragam kepentingan tersebut. Lewat penyelenggaraan pendidikan, disamping akan membentuk pemahaman yang sama terhadap koperasi, pendidikan juga akan menyelaraskan harapan (baca: asa) dari setiap orang  yang bergabung di dalamnya. Jika hal ini tidak dilakukan, maka ragam persepsi, kepentingan dan ekspektasi akan meliar dan berujung pada sulitnya membangun kultur organisasi maupun dalam men-drive kolektivitas sebagai modal penting dalam menumbuhkembangkan perusahaan koperasi.

Setiap orang harus menyadari bahwa maju mundurnya koperasi sangat tergantung dari kesadaran setiap orang untuk ikut mengambul tanggungjawab dalam membesarkan, bukan memposisikan diri sebagai pengamat dan penikmat dari setiap capaian yang ada. Dengan demikian, terbangun pembacaan bahwa kebermanfaatan yang bisa dirasakan linier dengan partisipasi yang diberikan. Disamping itu, setiap orang  juga akan menjadi motivator dan sekaligus tauladan bagi lainnya, sebab semakin banyak yang mengambil inisiatif mengembangkan perusahaan maka semakin luas pula kebermanfaatan yang bisa dirasakan.     

G. Skala Ekonomis dan Rasionalitas Pola Pengelolaan Perusahaan
Walau berbasis kekeluargaan, profesionalisme pengelolaan adalah harga mati bila eksistensi sebuah koperasi masih diinginkan. Oleh karena itu, pola pengelolaan harus memiliki visi jauh dimana tahapan-tahapan pengelolaan yang dilakukan akan berujung pada terbentuknya budaya profesional di keseharian perusahaan koperasi.

Secara konsepsi, pertumbuhan dan perkembangan koperasi itu bertahap dan berkesinambungan. Dengan mengoptimalkan kolektivitas yang dipupuk secara terus menerus, koperasi kemudian menjalankan ragam aktivitasnya dengan tetap mendasarkan pada kadar kemampuan dan potensi yang ada pada dirinya.

Untuk itu, tahapan-tahapan harus disusun dalam perencanaan komprehensif, mulai dari perencanaan jangka pendek, menengah dan  panjang. Lewat perencanaan yang komprehensif, bisa di ukur tahapan-tahapan pencapaian dan hal-hal yang harus dilakukan setiap unsur organisasi untuk mewujudkannya. Dalam sebuah perencanaan mungkin saja terdefenisi bahwa pengelolaan perusahaan koperasi pada kurun waktu masih diselenggarakan oleh pengurus ecara langsung dan tanpa kompensasi apapun (pengabdian murni) sampai terbentuk skala ekonomi dalam arti perusahaan koperasi sudah bergerak diatas titik break event point. Setelah skala ekonomi dari operasional sudah terbentuk, maka kompensasi pun diberlakukan dan atau bahkan mulai memasukkan para profesional guna meng-akselerasi ragam unit layanan yang diselenggarakn oleh koperasi.   

H.  Penghujung
Dari tinjauan konsepsi yang utuh, memposisikan koperasi sebagai salah satu pilar ekonomi negara sebagaimana cita-cita Bung Hatta adalah rasional. Kalau pun realitas belum menunjukkan sebagaimana idealnya, itu menandakan luasnya ruang untuk berjuang. Mewujudkan koperasi ideal bukanlah perkara mudah ditengah arus individualitas akud yang menggejala di masyarakat. Namun demikian, kesabaran dan kesungguhan memperjuangkannya akan membawa pada capaian-capaian yang terus menunjukkan peningkatan.

Sebagai penghujung bernada kontemplasi, koperasi tidak-lah sebatas persoalan ekonomi semata atau tentang pertumbuhan uang/modal saja, tetapi yang lebih utama adalah keterbangunan orang-orang yang berhimpun didalamnya. Kesejahteraan tidaklah sebatas  wujud materil bernama SHU, tetapi juga bisa mewujud dalam kemanfaatan-kemanfaatan yang berpengaruh dan berkontribusi significant pada terbentuknya hidup berkualitas dari segenap anggotanya. Saatnya Paradigma “materialitas sebagi simbol harga diri yang kemudian telah menjebakkan persaingan tak pernah usaha” di koreksi oleh nilai-nilai kebijaksanaan yang ada di keseharian organisasi dan perusahaan Koperasi.  Bila itu mewujud, maka kualitas solidaritas, kegotongrotongan, empati dan saling peduli menjadi sumber kedirian dari setiap individu. Persainganpun akan bergeser menjadi kerjasama.   
Share this article :

+ komentar + 1 komentar

25 April 2016 19.52

Terima kasih sudah berbagi ilmu dengan komunitas kami... Semangat koperasi untuk membebaskan dari penindasan dan penderitaan secara komunal sejalan dengan semangat cinta kasih universal

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved