Road to Kopma Unhas Makassar.... Bagian 01

Rabu, 23 Desember 20150 komentar



Road to Unhas Makassar.... Bagian 01
21-22 Desember 2015

Tentang perjalanan

Perjalanan ini bermula dari keajaiban Tuhan...setidaknya kalimat ini mewakili rasa syukur stepping 1 road to Makassar. Bagimana tidak, terkabarkan tiket kereta purwokerto-yogya diperoleh jam 10.05 saat posisi masih di kantor dan sedang melayani tamu. 10.15 baru bisa keluar kantor dengan setengah berlari menuju parkiran kendaraan, sementara jadual kereta berangkat jam 10.30 wib. Start dengan kepasrahan, kupacu kendaraan sedemikian rupa dengan penuh kewaspadaan dan juga masih mengedepankan keselamatan. Sebab, aku tak mau berakhir konyol dan masih ingin menjadi ayah yang baik bagi 3 (tiga) jagoanku di rumah. Aku sengaja tak mau melihat jam tanganku karena khawatir akan membuatku lebih tergesa-gesa dalam berkendara. Setalah melakukan beberapa trik yang agak sedikit ngaco, akhirnya aku sampai di parkiran stasiun 10.37 dan tepat 10.10 wib berdiri di depan pos pemeriksaan tiket. Alhamdulillah...pemerangkatan kereta ditundakan 15 menit sehingga aku pun akhirnya bisa naik kereta menuju yogya...Ini keberpihakan Tuhan, fikirku menandaskan rasa syukur. Aku duduk di posisi bangku yang berhadapan langsung dengan 2 (dua) sejoli yang tampaknya begitu romantis. Mereka tak canggung menunjukkan kehangatan komunikasi. Ter-ide kemudian menyibukkan diri dengan menggelar kerjaan di labtop. Ter-ingat ada satu permintaan menyumbangkan gagasan dalam bentuk ”tulisan-tulisan bijak”. Sedang asik berusaha mendapatkan ide, tiba-tiba saja lamunanku terhenti oleh tawaran daftar menu dari petugas kereta api. Aku ambil satu teh manis hangat yang akan menemaniku dalam mencari inspirasi. Ku serahkan satu lembar Rp 100.000-an disertai dengan permohonan maaf tidak ada uang pas. Akhirnya, sang petugas mengatakan ”nanti aja pak bayarnya..!!!”. Petugas itu sepertinya tidak membawa uang recehan. Kereta hampir yogya dan sang petugas tak kunjung datang untuk menagih dan akhirnya ku putuskan menitipkan Rp 5.000 untuk bayar teh yang ku minum lewat sepasang insan yang duduk di hadapanku.    

Tepat jam 01.45, kereta tiba di Yogya, tepatnya stasiun tugu. Setelah mencoba mengecek keberadaan nafas dengan sebatang rokok di smoking area, aku menunaikan sholat jama' zuhur dan ashar. Saat keluar dari mushola, aku mendapati satu oulet yang menawarkan gudeg dan begitu mengundang selera. AKu sempatkan melahap se porsi gudeng sambil mengenang ribuan memory saat menamatkan sma di kota ini 22 tahun lalu. Usai makan, aku mencoba bertanya pada bagian informasi apakah ada shuttle bus yang menuju bandara Adi Sutjipto. Aku pun disarankan berjalan kaki sedikit ke malioboro dimana ada halte shuttle disana. Setelah 20 menitan menunggu dan tenggelam dikerumunan antrian, akhirnya si shutlle ber-identitas 1A itu pun muncul. Begitu padat, sehingga aku harus berdiri karena tidak ada bangku yang tersedia. Tak apa fikirku untuk menhibur diri sambil menikmati perjalanan yang melintas disepanjang jalan malioboro. Serasa tersaji kembali memori disetiap sudut dimana ada kisah mudaku dulu saat beranjak dewasa. 

Lamunanku seketika terganggu, saat   2 (dua) orang puteri jepang naik di halte berikutnya. Sesaat kemudian setelah berhasil mendapatkan tempat duduk, mereka bertanya ke ibu yang kebetulan duduk di sebelahnya apakah shuttle bus ini sampai ke prambanan. Tergerak untuk membantu sang ibu yang terlihat sedikit bingung melayani mereka karena keterbatasan bahasa, namun aku sendiri tidak begitu yakin apakah shuttle bus ini sampai ke prambanan atau hanya sampai bandara saja. Maklum saja, ini pertama kali aku naik shuttle di kota ini. Zaman dulu, saat aku masih SLTA di kota gudeg ini, alat transportasi umum jenis ini belum ada.  Tetapi, karena kulihat kedua wanita jepang ini tampak begitu gusar, kucoba mengambil kendali suasana untuk menenangkan. Dengan inggris pas2an, aku meyakinkan pada mereka bahwa kalau jarak antara bandara dan candi prambanan itu tidak terlalu jauh. kalaupun shuttel bus ini tidak hanya sampai bandara, saya akan membantu mereka untuk mencarikan bus yang akan membawa mereka candi prambanan. Mereka pun terlihat menjadi tenang dan bisa menikmati suasana perjalanan yang kebetulan sedang rintik hujan. AC Shutlle bus yang stabil membuat penumpang merasa nyaman walau sebagian penumpang berdiri termasuk diriku. Jam 13.57 wib aku sampai di bandara Adi Sutjipto dan akhirnya kudapat informasi fix bahwa rute perjalanan shuttle bus beridentitas 1A ini sampai ke prambanan sehingga 2 (dua) turis jepang itu pun tak perlu berganti bus.dan  aku pun langsung melanjutkan langkah  menuju ruang chek-in bandara International Adi Sutjipto. Ada rasa senang, setidaknya bisa memasukkan sesuatu dibenak  2 (dua)  puteri jepang itu bahwa orang indonesia itu ramah , memiliki kepedulian dan rasa hormat kepada tourist walaupun negara asal kedua puteri ini pernah menjajah negeri Indonesia dengan cara yang sulit dilupakan.     

Perjalanan Pulang Menuju Kota Mendoan
Waktu menunjukkan 15.30, panitia mengingatkanku tentang jam penerbangan yang tertera 17.15 Wita. Mereka mengingatkan kalau sore biasanya jalan menuju bandara sering macet. Aku pun menutup sesi diskusi terkahir di sekretarian Kopma (Koperasi Mahasiswa) Unhas, Makassar dan segera bergegas menuju bandara Hasanuddin bersama 3 (tiga) pejuang kopma Unhas. Sepertinya mobil harus berjalan pelan ketika mendapati lampu merah terakhir sebelum mencapai bandara. Macet luar biasa dan polisi tampak kesulitan mengendalikan kendaraan dari 4 (empat) penjuru. Apalagi jam 4-an adalah jam pulang kantor sehingga secara bersamaan orang-orang melintas. Tampaknya lampu merah tak berfungsi walau nyala dengan normal. Ketidaksabaran menghinggapi semua orang dan kesadaran terbangun kala semua bertemu di tengah. 2 (dua) polisi mencoba mengambil alih kondisi dan setelah 20 menit terhenti, akhirnya kami dapat giliran juga untuk melintas. Alhamdulillah, akhirnya kami mencapai bandara juga dan alhamdulillah masih bisa chek-in walau terdaftar sebagai orang terakhir. Setengah berlariku pun harus terhenti saat melewati pos pemeriksaan dimana tak hanya tas, HP dan jam tangan yang harus dilewatkan lorong deteksi, tetapi juga ikat pinggang. Sepertinya petugas kekeh terhadap SOP walau aku sedang mengejar pesawat yang sebentar lagi berangkat.  Setelah sukses melalui pemeriksaan dan kembali menggunakan sabuk, aku pun memilih berlari ketimbang ketinggalan pesawat. Akhirnya, lebih kurang 2 (dua) jam penerbangan membawaku tiba di Yogyakarta sekitar 18.15 Wib.

Perjuangan belum usai sebab satu langkah lagi harus kulalui yaitu terminal bis Yogya. Ada kekhawatiran tidak dapat bis idola  di route Yogya-Purwokerto, sehingga sepanjang perjalanan shuttle bus yang membawaku ke terminal, aku terus memanjatkan do’a. Ada perasaan berdosa kala telah memutuskan untuk jama’ takhir saja. ”Semoga Tuhan mengerti...!!!!” aku mencoba menghibur diri dan sekaligus berdoa penuh harap masih ada kesempatan menunaikannya se tiba di Purwokerto.   

Alhamdulillah, jam 02.15 Wib kakiku menginjak rumah dan langsung merebahkan badan di kasur setelah mandi dan menunaikan sholat jama’ takhir untuk magrib dan Isya. Saat mau memejamkan mata, teringat saat turun dari bis ada seorang mahasiswi yang bertanya apakah ini terminal purokwerto?. Aku meng-iyakan dan sekaligus bertanya mau ke mana?. Ternyata dia seorang mahasiswi salah satu kampus terkenal di purwokerto dan tujuan akhirnya adalah asrama mahasiswa. Sempat terbersit untuk menawarkan tumpangan, toh arahnya tidak terlalu jauh dengan tujuan akhirku. Tetapi akhirnya ku urunkan niat untuk menawarkan karena dia seorang wanita dan khawatir memunculkan fitnah apalagi di pagi buta begini. Akhirnya ku tinggalkan mahasiswi itu sambil berdoa semoga dia dapat tumpangan yang baik. Kudapati terakhir kali dia sedang sibuk dengan papan keyboard HP nya. Mungkin dia sedang berkoordinasi penjemputan degan temannya.  


To be Continue...
tentang Proses Berjalannya Seminar dan materi....
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved