MENAKAR POTENSI KOPMA MEMBELI KAMPUS

Selasa, 01 Desember 20150 komentar



MENAKAR POTENSI KOPMA MEMBELI KAMPUS
oleh-oleh diskusi dengan para pejuang Kopma IAIN Walisongo, Semarang

 
Pacsa menyelesaikan tugas pencerahan perkoperasian di Pesantren An-Najah di Minggu, 29 Nopember 2015, penulis langsung menuju rumah dan kemudian  memberi code kepada anak-anak bersiap-siap  untuk mengisi minggu yang libur. 

Ups...tapi sepertinya agenda ini harus tertunda dulu karena ada yang terlupa tadi Isma salah satu kader Kopma (Koperasi Mahasiswa) IAIN Walisongo Semarang mengabarkan kalau mereka sedang dalam perjalanan menuju Purwokerto. Mereka melakukan serangkaian perjalanan studi banding perkoperasian di berbagai kota dan salah satu destinasinya adalah Kopkun. Isma berharap perkenan penulis memberikan pencerahan kepada segenap kader-kadernya yang berjumlah lebih kurang 50 (lima) orang. Atas hal ini, sepertinya keadaan mengaajarkan pada anak-anak untuk lebih bersabar dan bijak memahami perjuangan yang tidak mengenal waktu atau tanggal merah. Walau wajah anak-anak menunjukkan nada protes namun sepertinya agenda makan siang diluar bisa mecairkan suasana dan mendatangkan permakluman serta merelakan sang papah untuk mampir dulu ke arena diskusi koperasi.

Tepat jam 14.00 Wib, penulis dan keluarga tiba di Kopkun 3 yang terletak di Desa Teluk, Purwokerto. Setelah rehat sejenak di ruang transit, penulis langsung memasuki arena diskusi yang sudah dipenuhi kader Kopkun selaku tuan rumah dan juga 50-an orang kader-kader Koperasi Mahasiswa IAIN Walisongo Semarang.

Diskusi dimulai dari memberikan sedikit testimoni seputar kelahiran dan perjalanan Kopkun dimana penulis kebetulan menjadi salah satu pelaku sejarah berdirinya Kopkun. Selanjutnya penulis mencoba memantik fikiran kreatif dan semangat juang audience yang sesekali diselingi dengan kelakar yang mengundang senyum dan atau gelak tawa. Penulis coba meyakinkan mereka bahwa sesungguhnya tidak ada relevansi antara IP (Indek Prestasi) dengan Ber-Kopma, sebab ber-Kopma sesungguhnya adalah tindakan cerdas meng-efektifkan waktu bermain. Disamping itu, Penulis meyakinkan peserta bahwa Ber-Kopma adalah salah satu media dan kesempatan luar biasa untuk membentuk soft skill yang akan menjadi pendukung kesuksesan para kader dikemudian hari di realitas kehidupan pasca kampus.ragam aktivitas yang dijalankan dan diperankan kader di keseharian Kopma adalah proses yang ikut berperan melipatkandakan kedewasaan dan kematangan kader. Oleh karena itu, intensitas dan kualitas be-kopma memiliki relevansi dengan kecerahan masa depan kader itu sendiri, Intinya, ber-Kopma merupakan bagian dari Investasi sumber daya manusia sehingga kesempatan ini harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya”.

Dalam kelakar dan sekaligus mantik-nya, penulis menyarankan ada 2 (dua) hal agar Kopma bisa maju : (i) menyumbangkan semua asset nya ke pihak universitas dan; (ii) membangun kembali kopma dari titik 0 (nol) di luar pagar Kampus. Bahkan penulis memberi jaminan kalau bertindak mandiri semacam itu akan membuat kopma akan kuat dan kokoh. Bahkan bukan tidak mungkin kalau kemudian suatu waktu Kopma bisa membeli kampus kalau dijual . Sontak imajinasi liar ini disambut gelak tawa dan tepuk tangan segenap peserta diskusi. Penulis menyampaikan 2 (dua) hal ini untuk membangunkan kesadaran mereka tentang dahsyatnya sebuah kebersamaan berlabel koperasi. Penulis ingin mendorong  peningkatan gairah untuk terus melakukan pencarian makna-makna kebersamaan yang melekat dari sebuah koperasi.  Kesadaran tersebut diharapkan akan menggelinding menjadi bola salju  dan berujung dengan lahirnya karya-karya fenomenal dari tangan-tangan dingin pejuang kopma, khususnya di kopma IAIN Walisongo.

Termantik oleh satu pertanyaan peserta, penulis menyampaikan perlunya aplikasi work smart di lingkungan Kopma. Penulis ingin menegaskan kader-kader kopma harus mempraktekkan kerja-kerja kreatif dan kerja-kerja pemikiran. Hal ini disampaikan agar kader kopma tidak berpandangan sempit bahwa ber-kopma itu identik dengan menjaga atau mengelola toko kecil atau meng-operasikan mesin foto kopi. “Kalian kuliah untuk  meningkatkan kapasitas diri sehingga bisa berkerja dengan fikiran dan bukan didominasi oleh tenaga.Oleh karena itu, proses-proses kopma juga harus mencerdaskan lewat pengembangan ragam ide dan karya genuine yang mencirikan kaum intelektual. Menjaga toko tidaklah buruk, tetapi anak kopma harus berorientasi menjadi seorang designer toko dan atau usaha-usaha lainnya. Cara fikir semacam ini perlu ditanamkan sehingga kader-kader kopma itu selalu bersemangat untuk menjadi insan-insan unggul melalui ketauladanan pemikiran dan karya”.


Ditengah semangat yang sedang me-naik, penulis terpaksa mencukupkan diskusi di menit ke-60 (enam puluh) mengingat harus menunaikan kewajiban lain yaitu menjalankan peran ayah bagi 3(tiga) orang anak yang sedang menunggu gelisah di ruang tansit. Keadaan ini dimengerti oleh peserta apalagi saat penulis menyampaikan kekhawatirannya kalau-kalau ke-3 (tiga) anaknya ber-ide untuk ganti ayah karena terlalu sibuk dengan urusan koperasi.  Cara berpamitan semacam ini langsung disambut disambut gelak tawa dan tepuk tangan segenap peserta. Akhirnya diskusi tercukupkan dan diakhiri dengan fhoto bersama.

Usai diskusi, seketika penulis meninggalkan ruangan dan langsung tancap gas menuju landasan Udara Wirasaba Purbalingga  dimana ekspo pesawat terbang sedang digelar. Dengan semangat 45, ketiga lelaki terus menyemangati ayahnya untuk memacu kendaraan lebih kencang agar cepat sampai di bandara. Ibu anak-anak hanya tersenyum melihat tingkah ketiga jagoan itu sambil mengingatkan sang ayah untuk tetep berhati-hati dalam mengendara. 

Sesampai disana..tiba-tiba  semangat ketiga lelaki ini berubah menjadi kekecewaan mendalam, khususnya anak nomor 2 (dua) yang sangat hobby dalam urusan IPTEK. Bagaimana tidak, imajinasinya tentang hebohnya pegelaran ekspo pesawat terkubur oleh kenyataan dimana ekspo sudah selesai dan tidak satupun pesawat yang masih terparkir dilandasan udara.  

Sebagai seorang ayah, ada perasaan berdosa yang amat sangat mendapati mereka diam seribu bahasa bercucur air mata disepanjang perjalanan pulang. Kali ini, dibelikan minuman dan makanan sekalipun tak bisa mengobati kekecewaan yang sedang melanda.  

Penulis pun speechless dan hanya bisa merenungi betapa indahnya dinamika hidup dan perjuangan.Semoga, di suatu waktu nanti..kejadian menyedihkan ini bisa membangunkan makna bijak pada sang anak bahwa berjuang itu memang tidak mengenal waktu. Semoga  akan terbangun juga dibenaknya bahwa menyebarluaskan kebaikan terkadang harus menegasikan agenda-agenda kesenangan pribadi. Akhirnya, penulis hanya bisa berharap semoga kejadian ini tidak mereka hitung sebagai pelengkap sederetan kekecewaan sejenis  dan kemudian meng-inspirasi mereka ber-ide pada ibunya untuk  berganti ayah sebagaimana kelakar penulis dipenghujung diskusi tadi.....
  

      


   
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved