"PERMOHONAN MAAF” YANG BERULANG DIKESEMPATAN SERUPA

Senin, 20 Juli 20150 komentar



PERMOHONAN “MAAF” YANG BERULANG DIKESEMPATAN SERUPA



Idul Fitri pun datang kala ramadhan tlah berujung yang ditandai gema takbir di setiap sudut kampung berpenduduk mayoritas muslim. Idul Fitri sering didefenisikan sebagai hari kemenangan setelah sebulan lamanya berjuang dengan pengekangan nafsu, haus dan lapar yang terdefenisi dalam sebutan “berpuasa”. Kemenangan ini pun sering di intrepretasikan ke dalam tindakan-tindakan bernuansa perayaan. Bahkan, persiapan kemenangan sepertinya telah menjadi faktor penyebab utama majunya shaf-shaf tarawih di masjid pada 10 (sepuluh) hari terakhir ramadhan, sebab di hari-hari itu banyak yang menyibukkan diri dalam aktivitas persiapan lebaran. Pada situasi ini, substansi ramadhan tampaknya mengalami degradasi penghayatan. Puasa 20 (dua) puluh hari di sebelumnya tampaknya belum mampu menahan laju ingin untuk kemudian tetap berdiri tegak dan khusu' di shaf-shaf tarawih yang sesungguhnya lebih menjanjikan kebahagiaan hakiki. Inikah yang disebut keterjebakan manusia dalam semu?. Wallahu a’lam....      



Lebaran juga identik dengan “bermohon dan sekaligus menebar maaf”. Aura magis idul fitri telah melahirkan  kelapangan hati pada banyak orang untuk melebur akumulasi kekeliruan dalam satu kata “maaf”, mulai seorang suami pada istrinya, seorang ibu/bapak kepada anaknya, seorang teman degan teman lainnya, seorang sohib dengan sahabatnya dan bahkan seorang lelaki dengan mantan kekasih hatinya. Semua lebur dalam jabat tangan yang disertai kalimat yang bernada serupa. Ramadhan yang syarat dengan nilai-nilai maghfiroh tampaknya telah membukakan hati untuk bermurah maaf.



Mungkin kurang tepat men-soal apakah dalam tradisi bermaafan semacam ini berlangsung dalam situasi tulus dan ikhlas, karena itu sudah menjadi rahasia pribadi masing-masing. Tak bijak pula mengkomparasi tingkat kekhusu’an dan kesahihan “bertatap muka langsung” dengan “sekedar ucapan dan permohonan maaf via sms atau video conference”. Kurang arif juga menakar keseriusan “broadcasting ucapan dan permohonan maaf” yang banyak dilakukan para pemilik dan penikmat Black Barry. Kurang patut juga mempertanyakan apakah “kekeliruan dan salah” yang lebur dalam aksi salam-salaman juga bermakna “lebur atau terhapus” di pandangan Allah SWT. Yang jelas, semua berharap aksi "saling memaafkan" yang terucap di lebaran sejalan dengan penghapusan dosa dalam catatan Tuhan, walau mungkin bisa dibayangkan betapa sibuknya malaikat pencatatan amal manusia untuk menghapus catatan-catatan keburukan yang pernah tertuliskan. Tetapi, kurang tepat juga kalau kemudian menyebut malaikat pasti lelah dan sangat sibuk di setiap lebaran tiba, sebab malaikat punya cara kerja sendiri yang pasti berbeda dengan cara manusia melakukan aktivitas dan tanggungjawabnya.



Teringat tema “pertaubatan” dimana “penerimaan” terjadi bila ada kesadaran atas ragam kesalahan dan bertekad untuk tidak mengulangnya dan sekaligus memperbaiki diri. Artinya, pasca bertaubat,  idealnya seseorang berubah menjadi manusia yang jauh lebih baik dari sebelumnya dan berusaha untuk selalu lebih mendekat pada-Nya. Adakah hal serupa berlaku dalam “tradisi bermaafan” di momen lebaran idul fitri?. Adakah benar permaafan yang terlafalkan identik dengan score 0-0 (baca: kosong-kosong) ?. Ataukah “peleburan maaf” dijadikan pembenar untuk kembali menjadi pribadi sebelumnya sebab berkeyakinan akan memiliki kesempatan memohonkan maaf kembali di lebaran berikutnya?. Persoalannya adalah apakah ada kepastian bagi setiap orang akan bertemu kembali di Idul Fitri berikutnya.

Mungkin, ada baiknya setiap diri  merenung dan membangun kesadaran bahwa kematian merupakan hal pasti bagi setiap yang bernyawa. Ironisnya, tidak satupun yang tahu kapan ajal akan menjemput, sebab kedatangan malaikat sang pencabut nyawa tidak memandang usia dan bisa menimpa siapapun dan kapanpun. Untuk itu, “permaafan” yang sedang tersebar luas di idul fitri ini selayaknya disertai dengan kelahiran dan atau pertumbuhan keinginan kuat untuk menjadi manusia yang lebih baik. Disisi lain, “senantiasa mengingat kematian” juga layak dijadikan inspirasi menjaga kesadaran dan berkomitmen tinggi untuk tidak akan menyakiti siapapun lagi  dan tidak akan melakukan keburukan terhadap manusia dan pengrusakan alam beserta isinya.



Selamat menikmati sisa lebaran yang sebagian mungkin terbatasi oleh waktu cuti dan harus segera kembali ke kota perjuangan hidup. Semoga, segala pengeluaran dan pengorbanan demi perayaan idul fitiri demi “menjemput dan sekaligus menebar maaf” bukanlah sebuah ke-sia-sian, tetapi sesuatu yang di nilai Allah SWT sebagai sebuah ibadah dan kebaikan yang akan mempertinggi drajat dihadapan-Nya. Amin Ya Robbal ‘Alamin.....
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved