Hasil Semifinal Leg 01 Bukan Sebuah................

Kamis, 25 Juni 20150 komentar



Ketika Fanatisme dan Aura Terbangun...


Para pecinta sepak bola Banyumas sudah mengetahui kalau PSIS sukses menekuk Persibas Banyumas dengan score 1-0di semifinal leg 01 Kapolda Cup 2015 , baik menyaksikan langsung di stadion maupun lewat pemberitaan media massa. Tentu, pecinta sebak bola Persibas juga sepakat kalau Persibas telah berjuang habis-habisan demi nama baik daerah, walau harus ternodai dengan hal-hal non teknis yang akhirnya memancing emosi para pemain, official dan juga penonton yang menyaksikan langsung di tribun Gor Satria Purwokerto (GSP). 


Persibas sudah menunjukkan kapasitasnya sebagai sebuah tim sepak bola yang layak diperhitungkan. Faktanya, Persibas mampu menyuguhkan permainan yang sangat menarik dan bahkan mampu mengimbangi tim-tim yang sudah lebih dulu punya nama dan bertengger para pemain bintang sepak bola nasional.  Kolektivitas tim, organisasi permainan yang ciamik, strategi variatif dan berkelas, berhasil di ramu oleh tim pelatih yang di komandani oleh mantan punggawa Timnas, Putut Wijanarko. Satu fakta menarik adalah berhasilnya Persibas menjuarai “Bupati Cilacap Cup” beberapa waktu lalu. Padahal turnamen pra-musim itu diikuti oleh PSCS Cilacap, Persibangga Purbalingga dan juga Persiba Bantul. Level permainan ini juga konsisten saat Persibas Banyumas sukses menaklukkan PSCS dengan skor 2-0 di babak penyisihan Kapolda Cup 2015 yang saat ini tengah berlangsung. Tak heran kalau kemudian Persibas saat ini mulai disegani oleh tim-tim lawan. Di sisi lain, masuknya Persibas Banyumas ke level Divisi utama juga berdampak pada meningkatnya animo dan keberpihakan masyarakat Banyumas terhadap tim kesayangannya. Hal ini bisa dilihat bagaimana besarnya animo masyarakat berduyun-duyun bila Persibas bertanding, baik saat Persibas bertindak sebagai tuan rumah maupun saat Persibas laga tandang. “ kemana pun Persibas, para fans fanatik selalu mendampingi”. “Rika ora dewekan”, begitu slogan yang selalu dikumandangkan oleh para loyalis Persibas.  

Apa yang terjadi di semifinal Leg I kapolda Cup kemarin sungguh melukai perasaan segenap pemain, official dan juga pencinta sepak bola Banyumas. Gol yang dianulir, seringnya Persibas dirugikan atas kepemimpinan wasit, begitu mudahnya kartu kuning dan kartu merah bila pemain Persibas melakukan pelanggaran dan banyak lagi hal lainnya yang seolah ingin menutup laju langkah dan prestasi Persibas. Terkadang terbersit ingin menggelar pertandingan di kota netral dipimpin  wasit yang integritasnya tidak perlu dipertanyakan, sehingga bisa lebih obyektif melihat dn mengukur seberapa jauh sebenarnya kualitas Persibas dalam urusan teknik bermain bola.  Walau hanya berkelakar, “penggunaan wasit eropa” yang dilontarkan salah seorang facebooker pendukung setia Persibas, tetapi  layak untuk difikirkan. Setidaknya, ide itu tidak lepas dari rasa frustrasi dari sederetan pengalaman buruk atas kepemimpinan wasit setiap kali Persibas main. Yang jelas, walau kemarin Persibas Banyumas kalah 1-0, segenap masyarakat Banyumas pencinta sepak bola tidak pernah berfikir bahwa Persibas benar-benar kalah. Mereka semua mengapresiasi dan berkesimpulan sama bahwa “para pemain sudah berjuang maksimal dan seharusnya hasilnya tidak demikian”.   

Akan tetapi Itulah sepak bola, selalu ada cerita dan selalu ada drama yang mewarnai setiap pertandingan. Hal demikian tidak saja terjadi di negeri ini, tetapi juga diseluruh dunia. Hanya saja, yang membedakan satu sama lainnya adalah “kualitas drama” nya. Ada drama yang tersaji dengan sangat rapi dan ada pula yang terlalu mudah untuk ditebak. Ada yang mengundang keprihatinan dan ada pula kenakalan yang mengundang kekaguman. Sepak bola memang penuh intrik dan bahkan sudah  merasuk ke ruang-ruang kehidupan masyarakat yang luas, mulai tentang gengsi, menang kalah, perjudian, harga diri dan tak lepas pertimbangan industri. Bagaimana dengan ragam drama di sepanjang Kapolda Cup 2015? . 

Satu hal yang menjadi catatan, muasal ketereselenggaraan turnamen ini adalah keprihatinan atas kondisi sepak bola tanah air yang kemudian memantik kepedulian atas nasib para pemain sepak bola yang terlantar. Perseteruan para petinggi PSSI dan petinggi negeri telah mengakibatkan ketidakjelasan nasib para pemain, sehingga niat baik penyelenggaraan kompetisi ini disambut baik oleh tim-tim sepak bola di Jawa Tengah, khususnya klub-klub penghuni kasta  Divisi Utama. Namun demikian, ketika kompetisi mulai di gelar, ragam kepentingan mulai masuk, seperti urusan harga diri, nama baik tim,  gaji  pemain, pendapatan wasit, pemasukan tim  dan lain sebagainya yang terakumulasi menjadi pernik-pernik turnamen kali ini.       


Belum berakhir.....
Hasil pertandingan Semifinal Leg I belum sebuah akhir bagi kedua tim. Artinya, masih ada satu pertandingan lagi yang akan menentukan siapa yang berhak masuk ke final. Namun demikian, tak bisa disalahkan kalau ada yang berkesimpulan hasil kemarin sebagai awal yang buruk bagi Persibas. Bahkan, bila merujuk pada kualitas buruk fair play di partai semifinal Leg 01,  sulit dibendung ketika para fans dan klub Persibas bersikap apatis dan memprediksi kalau pertandingan semifinal leg 02 akan lebih buruk lagi kualitasnya. Disisi lain,mungkin hasil kemarin menjadi angin segar bagi tim PSIS, dimana saat main leg ke-2 mereka bertindak sebagai tuan rumah. Apalagi mereka mengantongi keunggulan 1 (satu) gol yang mereka cetak di kandang. Tetapi, sepertinya PSIS tidak hanya akan mengejar hasil seri.  Diprediksi mereka akan menyerang sejak menit awal. Bagaimanapun juga, pasti ada perasaan tidak puas menang ternoda ragam insiden saat bermain di kandang Persibas. Pasti ada nurani dan semangat fair play demi menjunjung tinggi ”nama baik” PSIS yang sudah lama menjadi ikon sepak bola Propinsi Jawa Tengah ini. Jadi, yang diburu PSIS nanti bukan hanya kemenangan saja, tetapi juga ingin menyandang ”layak dan memang patut” tampil di partai final.    


Heroisme Dalam Format Win Or Loose
Tertinggal 1-0 saat di kandang dan harus menang dengan selisih gol 1 (satu) memang bukan perkara mudah bagi Persibas saat bermain di kandang PSIS nanti. Tetapi perlu juga di ingat, kemenangan 1-0 di leg pertama bisa menjadi blunder bagi PSIS bila tidak disikapi dengan bijaksana. Sementara itu, bagi Persibas Banyumas, bermain tanpa beban bisa menjadi faktor pelipat energi dan kemudian muncul sebagai pemenang. Saatnya semangat herosime seluruh pemain Persibas dibangkitkan. Tanpa beban, sabar dalam bermain, tidak terpancing emosi apapun keadaannya nanti, tidak mengenal rasa takut, menjaga kekompakan tim. menjunjung tinggi fair play, tabah menghadapi segala intrik yang mungkin ada, merupakan sederetan modal penting yang harus disiapkan saat beranjak menuju kota Semarang. Semua harus ikhlas berjuang untuk nama baik Banyumas. Menang atau kalah harus terhormat, prinsip  itu harus dipegang teguh semua pemain dan official . Semua harus memandang bahwa menang di kandang lawan adalah sebuah kehormatan yang tidak ternilai harganya. Semua akan mengagumi kalau hal ini benar-benar bisa mewujud. Disamping itu, harus disadari bahwa pertandingan semifinal leg 02 nanti bukan hanya persoalan teknis saja, tetapi juga menyangkut persoalan non teknis dan psikologis yang akan mempengaruhi tensi permainan. Persibas harus belajar pada Bayern Munchen dan klub-klub besar lainnya saat sukses mengejar ketertinggalan walau harus  bermain di kandang lawan. Apalagi, Fakta leg 01 menunjukkan bahwa secara permainan Persibas sudah membuktikan kualitasnya, sehingga beranjak ke Semarang bukan sekedar untuk menggugurkan tanggungjawab untuk bermain tetapi menjadi seorang patrio.       


Kedewasaaan Fans Persibas yang layak di acungi jempol
Ketenangan kelompok Fans Persibas di situasi mencekam leg 01 sangat layak di apresiasi. Laskar Bombastik, Ultras dan Satria tetap tenang dan memberikan dukungan secara sportif. Mereka tidak terpancing situasi memanas yang terjadi di tengah lapangan. Mereka tidak membuat onar atau menambah kekacauan suasana. Mereka juga menghormati fans PSIS yang asik berpesta dan menunjukkan euforia kemenangan timnya. 

Sikap semacam ini layak diacungi jempol dan menandakan ketiga kelompok fans Persibas itu memiliki kedewasaan dalam urusan sepak bola. Mereka menjalankan tugasnya sebagai pemain ke-12 di pinggir lapangan yaitu menyemangati sejak menit awal sampai pluit akhir pertandingan dibunyikan. Mereka bersorak dan terus menyanyikan lagu-lagu magis yang dimaksudkan memompa semangat dan stamina para pemain. Mereka juga menyambangi seluruh pemain Persibas dan tetap memberikan semangat apapun hasil akhir pertandingan. “Rika ora tau dewekan”, slogan itu benar-benar mereka tunjukkan dimanapun tim kesayangannya bermain dan berjuang mengibarkan bendera Persibas Banyumas. Semoga kedewasaan semacam ini terus terjaga dan bisa menginspirasi para kelompok fans tim-tim lain di tanah air. Semoga...!!!!!!    


Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved