MARY JANE di antara tiang eksekusi dan keberpihakan Tuhan KAH?

Selasa, 28 April 20150 komentar



Pembukaan
sumber foto: jpnn.com
Sepulang acara perpisahan salah satu rekan kerja, aku bergegas menuju rumah mengingat waktu jam operasional normal toko tinggal satu jam-an lagi. Aku tak mau mengecewakan anak bontotku  yang sedang duduk di bangku kelas 02 SD. Dia minta dibelikan peralatan sekolah. Aku tak mau dia kehilangan semangat atau merasa tidak diperhatikan. Aku ingin menjadi ayah yang baik disepanjang ingatannya. Sambil memacu kendaraan, aku menelepon sang istri untuk siap-siap agar waktu tidak terbuang. Sesampai di dirumah aku langsung memutar balik kendaraan. Sesaat kemudian anakku dan  mamanya masuk ke kendaraan dan kemudian melaju menuju toko alat tulis.



Melewati depan kampus Unsoed, semua kendaraan melambat. Samar-samar aku melihat sekumpulan orang berdiri rapi di depan pagar patung Soedirman. Saat kendaraan sudah mendekati keramaian, ku dapati satu  orang sedang membagikan  selebaran  kepada setiap kendaraan yang melintas. Ku minta istriku mengambil satu untuk mengetahui apa yang sedang mereka suarakan. Selembar kertas itu bertajuk Aksi Solidaritas Untuk Mary Jane. Ternyata, kerumunan orang itu adalah mahasiswa yang sedang menggelar aksi solidaritas yang mempertanyakan keadilan untuk  Mary Jane (MJ), seorang pekerja imigran berkebangsaan Filiphina. 

   

Mendadak Mary Jane (MJ) memang menjadi pembicaraan menjelang  pelaksanaan Agenda hukuman mati bagi narapidana khusus. Dari daftar yang akan di eksekusi, pekerja imigran ini menjadi salah satu dari 9 (sembilan) narapidana yang akan dicukupkan masa hidupnya di tiang eksekusi. Namun MJ memiliki keunikan kasus dimana ada kesan kuat bahwa MJ bukanlah pelaku, tetapi terjebak atau menjadi korban dari satu permainan tingkat tinggi dengan  memanfaatkan keluguannya. Hal ini diungkapkan dalam lembar press release yang disebarluaskan oleh sekelompok mahasiswa yang menggelar aksi solidaritas. Mengutip tulisan yang disadur dari Angellugue Maria (ketua FMN Padang), keterjebakan MJ dalam pusaran narkoba berawal dari situasi dimana temennya menjanjikan pekerjaan untuknya di Indonesia. Saat di Bandara Internasional Adi Sucipto, Yogyakarta, di dalam tas koper MJ ditemukan heroin 2,6 kilogram. Tak pelak lagi, situasi ini menjadi awal deritasi seorang MJ yang berujung dengan dikenakannya vonis hukuman mati baginya. Apalagi Narkoba tergolong kejahatan luar biasa. 




Keberpihakan Tuhan Bemula

Tulisan baris di TV One sekitar pukul 06.00 wib (29 April 2015) menuliskan 2 (dua) hal menyangkut M, yaitu : (i) Pemerintah Filipina memiliki perhatian atas kasus ini dan kemudian melakukan lobby untuk meminta penangguhan eksekusi atas warganya (cq. MJ) dan; (ii) Perekrut MJ pun menyerahkan diri pada kepolisian Filipina. Untuk hal terakhir dimana sang perekrut MJ menyerahkan diri mungkin diluar prakiraan semua orang. Sementara eksekusi untuk MJ ditangguhkan dan harapan hidup sepertinya mulai tumbuh kembali dibenak MJ. Apakah hal ini pertanda baik ke depan bagi perjalanan hidup MJ, proses hukum yang akan menentukannya.



Namun demikian, ada sisi spritualitas yang menginspirasi atas hal ini dimana logika awal telah mendefenisikan kematian MJ di waktu yang telah ditentukan, kemudian ditundakan oleh satu keadaan yang tidak di duga sebelumnya. Terlepas MJ adalah warga Filipina, rasa kemanusiaan membawa pada rasa haru. Andai pada akhirnya MJ terbebas dari hukuman mati, mungkin hal ini lebih tepat didefenisikan sebagai sebuah kemu’jizatan.    



Situasi ini sangat menarik untuk dipelajari. Penulis pun tertarik mencari data lebih banyak tentang perjalanan hidup MJ guna melihat bagaimana keberpihakan Tuhan itu datang dan tersematkan dikisah hidup MJ. Sayangnya, belum banyak data yang dimiliki penulis tentang seorang MJ dan latar belakang hidupnya, hanya saja dalam lembar press release ketua FMN Padang itu dijelaskan MJ berusia 31 dan memiliki 2 anak. Pendidikan terakhirnya setingkat SMP dan memasuki kehidupan rumah tangga pada usia masih belia, yaitu 16 tahun. Dia berprofesi sebagai pekerja migran dengan profesi pembantu rumah tangga, sedangkan mata pencarian keluarganya adalah pengumpul dan penjual barang bekas. Juga dikisahkan MJ masuk ke malaysia dengan visa turis dan untuk membayar seluruh biaya keberangkatan pun MJ harus mengorbankan motor dan telepon genggamnya yang terakumulasi senilai 7.000 peso. 

sumber fhoto : jpnn.com
Sekilas data singkat ini menunjukkan hidup MJ tergolong jauh dari kata mapan. Sepertinya keseharian MJ memang bertaruh dengan kerasnya kehidupan. Sayangnya, tak ada data lain tentang MJ sehingga memperkaya referensi penelusur hikmah untuk berkesimpulan dan sekaligus mengambil pelajaran atau hikmah, sehingga mempertebal keyakinan tentang sifat Tuhan yang Maha Penolong.  

Apa yang kemudian akan terjadi dengan hidup MJ?. Apakah penangguhan ini akan berujung pada pembebasan?. Sepenuhnya kita serahkan para proses hukum yang berjalan. Kalau pada akhirnya MJ terbebas dari persoalan hukum....maka hal ini merupakan pertolongan Tuhan pada seorang MJ....  

Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved