BELAJAR BERSAMA : MERANGKAI HIKMAH dan MEMAKNAI MU’JIZAT

Kamis, 05 Februari 20150 komentar



A.  MERANGKAI HIKMAH dan MEMAKNAI MU’JIZAT

Hikmah..apa itu hikmah?..sebuah persepsi yang lahir dari pemaknaan atas sebuah pristiwa atau sebentuk hal baik yang disodorkan Tuhan sebagai hadiah dari kebijaksanaan berfikir?. Apapun itu, menjaga pola fikir dalam kerangka ketauhidan adalah sebuah keharusan. Berprasangka positif pada Sang Pencipta jauh lebih mulia ketimbang mengumpat ragam kenyataan hidup yang tak berpihak.



Mukjizat..apa itu mu’jizat?. orang banyak menyebutnya sebagai miracle, sebentuk pertolongan yang hadir disaat akal sudah tak mampu berfikir dan menemukan solusi atas persoalan rumit yang sedang  melanda.  Kehadiran mukjizat begitu membahagiakan dan sangat bernilai sebab kedatangannya selalu diwaktu yang sangat dibutuhkan dan tidak terduga sebelumnya. Adakah mu’kizat datang tanpa sebuah alasan?. Adakah  mukjizat sebentuk hadiah ataukah kedatangannya bisa dinalar?. Banyak yang mendefenisikan bahwa mu’jizat hanya diperuntukkan bagi para rasul, sehingga mukjizat yang sering disebutkan manusia biasa lebih tepat disebut dengan karomah yang kehadirannya  mutlak menjadi hak prerogatif Allah SWT.  Namun, sebagai manusia yang hidup dalam wilayah horizontal dan juga mengenal logika “sebab –akibat”, mungkin tidak berlebihan mendefenisikan karomah adalah sebentuk pembalasan atau hadiah  dari Tuhan atas ragam kebaikan yang pernah dilakukan dimasa lalu. Bahkan, mungkin sudah lupa kapan kebaikan itu dilakukan dan kepada siapa pula kebaikan itu diberikan. Pemaknaan ini sepertinya lebih bijak dan meng-inspirasi untuk terus melakukan kebaikan yang lebih banyak lagi.



Hidup adalah sebuah perjalanan dan juga kesempatan. Dunia adalah media sementara  untuk kemudian berujung pada alam akhir yang menjanjikan kekekalan ada didalamnya. Untuk menjalani dan mewarnai hidup, Tuhan pun membekali Manusia  dengan akal dan fikiran hingga berkemampuan merancang ingin, angan atau cita-citanya dan juga memiliki kebisaaan untuk beranalisa dan atau memprediksi tentang esok hari. Namun demikian, tidak satupun dari manusia memiliki kemampuan dalam hal memastikan apa yang akan terjadi kemudian, bahkan satu detik sesudah saat ini sekalipub. Hal itu merupakan wujud nyata keterbatasan kemampuan dan pengetahuan manusia serta sekaligus penegasan bahwa ada Allah SWT yang mempengaruhi dan berkuasa penuh atas hidup manusia. Nalar ini membawa pada satu simpul bahwa manusia hanya perlu bercita-cita  dan kemudian mengoptimalkan segala kemampuan olah fikir dan energinya secara efektif, selebihnya biarlah menjadi urusan Sang Penguasa. Tentu segala sesuatunya harus berlandaskan niat baik, sehingga daya  dukung Tuhan terhadap ketercapaian cita-cita itu menjadi lebih berpeluang. Hal ini memang sulit diterima oleh para peng-agung akal dan fikiran. Namun apa menariknya pula untuk memaksakan, karena Tuhan pun sesungguhnya tidak punya kepentingan kepada manusia yang nota bene adalah salah satu ciptaan-Nya. Bahkan manusia pun tak boleh memaksakan manusia lain untuk meyakini-Nya, sebab ber-Tuhan adalah persoalan pilihan. Namun, mengingatkan satu sama lain adalah termasuk kebaikan yang nyata, sehingga layak untuk terus diupayakan pendengungannya. Persoalan kemudian pada akhirnya mereka mau mengikuti atau tidak atas apa yang diingatkan atau disamapaikan, biarlah itu menjadi urusan-Nya, sebab kepentingan manusia adalah berbuat baik secara terus menerus.      



B.  Sebentuk Usaha, Do’a dan Kebelumterkabulan

Adalah sifat manusia selalu memiliki motif dalam melakukan sesuatu, baik itu motif horizontal maupun motif vertikal. Persoalan kemudian akan berhasil mendapatkan motif atau tidak, itu menjadi persoalan perkenan Tuhan. Manusia hanya bisa berjalan pada nalar kenormalan dan kepatutan saja, seperti orang bekerja diayakini akan mendapat hasil, baik dalam judul gaji/salary (bagi karyawan) maupun keuntungan (bagi para wirausaha). Mungkin, bagi karyawan atau PNS angka yang didapat memiliki kepastian yang lebih ketimbang para wirausahawan. Adanya kontrak kerja pada sektor swasta dan kepemilikan NIP pada sektor PNS selalu diikuti dengan kebijakan atau peraturan tentang penggajian. Artinya, satu-satunya yang menghentikan hak atas sejumlah gaji pada profesi karyawan adalah apabila dikeluarkan alias dipecat  atau karena perusahaan atau pemerintah kehilangan kemampuan memenuhi kewajibannya terhadap para pegawai tersebut. Hal berbeda dengan para wirausaha dimana mereka bertarung dengan keyakinanannya disetiap hari dan juga selalu teruji kebenaran atau koreksi atas prediksinya tentang sebuah hasil. Namun, pada sisi manapun yang menjadi pilihan peran, kesemuanya adalah bagian dari upaya manusia untuk mempertahankan dan sekaligus membuat hidup tetap berlanjut.



Pertanyaan menarik kemudian adalah mengapa tiap orang tak berpenghasilan sama walau semua orang sudah berupaya sekuat tenaga?. Mengapa setiap orang  tampaknya memiliki tingkat kebahagiaan yang berbeda-beda walau pada tingkat perolehan atau capaian materi yang serupa?.   Adakah keterkabulan do’a bisa juga mewujud dalam bentuk kebelum terkabulan?. ...................

kita bahas di tulisan edisi  berikutnya...

Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved