DETIK-DETIK PELIBATAN DIRI DALAM RUANG JUANG PERSIBAS DI LEVEL KOMPETISI DIVISI UTAMA

Selasa, 03 Februari 20150 komentar

A.  Bermula dari ketidaksengajaan......
Ini hari yang aneh...saat sedang menjemput anak sekolah, tiba-tiba HP berdering. Kulihat dilayar terpampang nama Sang Profesor yang . "Assalamu 'Alaikum...Sedang dimana Bang?", begitu sapa pertama dari Sang Profesor. Akupun menjawab dengan sedikit berkelakar,"Sedang memerankan ayah yang baik Prof, menjemput anak pulang sekolah biar mereka tak ter-ide usul ke ibunya ganti ayah",  Sang Profesor tertawa diseberang sana mendengar candaanku. Ternyata, Sang Profesor saat itu sedang berdiskusi dengan beberapa Peringgi Pengurus Persibas dan kemudian menyampaikan beliau ingin mau membicarakan seputar Sepak Bola. Aku tak heran sebab sudah mengetahu lama kalau beliau sangat mencintai sepak bola dan juga salah satu sesepuh klub kebanggaan Kab. banyumas, Persibas (Persatuan Sepak Bola Banyumas). Singkatnya, beliau mengabarkan 2 (dua) hal yaitu; (1) Tentang capaian prestisius Persibas lolos ke Divisi utama dan; (2) Tentang ajakan untuk ikut memikirkan Persibas yang mulai musim ini akan berlaga di level Divisi Utama. Singkat cerita, saat ditanya kesediaan, saya pun menjawab diplomatis, "kalau sudah komandan yang perintah, pasukan wajib menterjemahkannya". Oke Bang..."nanti Para Pengurus Persibas akan hubungi Abang secepatnya", demikian kalimat penutup dari Sang Profesor, Salah satu tokoh fenomenal di Banyumas ini.

Setelah pembicaraan telepon berakhir, anak barebku yang masih berseragam sekolah dan duduk disampingku bertanya kritis, "kok bicarain Persibas Pah"?. Aku hanya senyum dan kemudian menjawab, "iya, papah diajak ikut mikir Persibas". Kulihat anakku memperlihatkan ekspresi heran bercampur senyum. Hal ini bisa kufahami karena anakku juga penggila sepak bola dan sering berantem rebutan channel TV dengan adik-adiknya di setiap minggu siang.

Sesampai di rumah, saat duduk santai bersama istri, ku utarakan hal aneh tadi. Hal ini aneh bagiku karena sama sekali tidak pernah terfikir akan menjadi bagian dari sebuah klub sepak bola walau aku penggila sepak bola. Aku ingin melihat reaksi istriku atas hal ini setelah menceritakannya dengan nada datar. Ternyata, Istriku mendukung dengan catatan diniatin sebagai ibadah lewat menyenangkan banyak orang. Dukungan ini kemudian membuatku berfikir mencari hikmah mengapa urusan ini datang padaku tanpa ada angin dan hujan bola sebelumnya. Dimalam yang sama, akupun mencoba menghubungi sahabat-sahabat yang ku kenal sebagai penggila bola alias bola mania, sebut saja Om Ilham Nasa'i dan Om Sarwono. Aku ingin melihat respon dan gairah mereka untuk ikut menyumbangkan pemikiran atas rencana amanah ini. Dengan gegap gempita mereka mendukung dan secara moral siap untuk berkontribusi pemikiran dan gagasan demi kemajuan Persibas. 

Jum'at pagi, aku mendapat sms dari salah seorang pengurus Persibas. Isinya mengajak aku untuk ketemuan dengan para pengurus Persibas. Akupun datang di tempat yang sudah ditentukan dan ternyata beberapa orang dari petinggi Persibas sudah aku kenal sebelumnya. Pertemuan berlangsung santai dan gayeng. Aku tak lupa mengucapkan "selamat" atas capaian prestasi yang membanggakan dari Persibas, yaitu berhasil menembus level Divisi Utama. Mereka pun memaparkan rencana perjalanan Persibas di Divisi utama dan sekaligus menyampaikan hal-hal yang perlu pemikiran serius dan concern. Akupun sedikit memaparkan "coretan-coretan awal" seputar strategi sepakbola yang kubungkus dalam Istilah "Industrialisasi Sepak Bola". Mereka tertarik dengan tagline "Industrialiasasi Sepak Bola". Diakhir pertemuan, aku menyanggupi akan mendetailkan pemikiran dan sekaligus mengatakan ingin membentuk pasukan inti dulu yang akan duduk di level Direksi. Sebab, aku tak mau gegabah karena ini tentang sebuah pertaruhan besar, tentang harapan segenap penggila bola di seantero Banyumas.  

Malam harinya, aku pun mencoba menghubungi 3 (tiga) orang  sahabat yang kuragukan kecintaannya terhadap oleh raga sepak bola yaitu; Om Firdaus, Om Herry Kristanto dan Om Sumitro. 2 (dua) dari 3 (tiga) adalah rekan seperjuangan di Hipmi (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) BPC Banyumas. 3 (tiga) nama terakhir ini ku ajak ketemuan khusus untuk mendengar pendapat mereka. Seperti dugaanku, 2 (dua) dari mereka tidak terlalu memahami urusan sepak bola dan satunya lagi memang sepertinya sangat faham. Namun, pendapat ketiga orang ini cukup cerdas dan menyatakan siap membantu secara pemikiran. Aku tambah bersemangat mendengar pemikiran-pemikiran cerdas yang mereka ungkapkan dan kemudian meminta kesediaan mereka membantu mengkomunikasikan ke segenap pihak dan sekaligus mencarikan orang-orang yang tepat dan memiliki frekuensi sama untuk memikirkan Persibas ke depan. 2 (dua) sahabat ini menyanggupi dan satu sahabat lagi, yang keberyulan berstatus mahasiswa calon doktor ekonomi memang seorang pendatang baru di kota mendoan,  sehingga belum punya cukup referensi tentang kawan-kawan di Banyumas. Akhirnya keduanya bersepakat berkonsultasi dan mengkomunikasikan dengan ketua Hipmi (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia)  BPC Banyumas sekaligus meminta referensi  untuk mempercepat tertemukannya orang-orang yang tepat diajak berjuang untuk Persibas.  Dasar berfikirnya sederhana, untuk membangun industrialisasi bola diperlukan orang-orang kreatif, khususnya dalam ide-ide wirausaha. Kedua sahabat ini juga melakukan komunikasi dengan teman-teman komunitas lainnya guna melengkapi pencarian dan sekaligus menyerap aspirasi gagasan dan pemikiran yang sekiranya bisa mempercepat Persibas memasuki era industrialisasi bola. Pencarian ini memang rumit sebab ruang yang tersedia adalah "ruang juang" dan jauh dari tawaran kesejahteraan alias gratisan. 

Ada perbedaan mendasar ketika sebuah klub sepak bola bermain di jenjang Divisi Utama, yaitu harus memiliki kemandirian finansial. Hal ini berbeda saat masih di level divisi satu dimana sumber pendanaan klub dimungkinkan dari kucuran APBD Pemda setempat.  Atas dasar itulah kemudian PSSI mewajibkan pengelolaan klub-klub peserta Divisi Utama dalam naungan sebuah PT (Perseoran Terbatas) sehingga lebih luwes dalam menggali sumber-sumber pemasukan yang akan mendukung ekesistensi sebuah Klub Sepak Bola. Namun demikian, hal ini sungguh bukan pekerjaan mudah, dimana disatu sisi pegelaran Divisi Utama tinggal sebulan lagi dan faktanya PT pun baru akan dibentuk. Bagaimana bisa mendapatkan dana segar secepat mungkin?. Inilah beberapa pemikiran awal yang cukup menghenyakkan dan sekaligus pemantik adrenaline untuk berfikir kreatif agar bertemu solusi cerdas. Atas dasar itu pula, orang-orang yang mengurus PT Persibas harus memiliki integritas, kreativitas, dedikasi tinggi dan semangat berkorban dalam  membangun sebuah sistem kerja dan sekaligus menata karya produktif sehingga basis finansial club menjadi kuat dan mandiri secara bertahap dan berkesinambungan.

Satu minggu mereka mencari dan mengkomunikasikan, perjuangan siang malam ini pun akhirnya berbuah hasil dimana bertemu 2 (dua) sahabat yang kebetulan sudah aku kenal dengan baik dan ternaya juga adalah penggila bola. Bahkan 2 (dua) dari sahabat ini pernah menjadi bagian dari sejarah perjalanan Persibas saat masih remaja, yaitu Om Dimas (bernama lengkap Syaiful Dwi Gustaman) dan Om Budi (bernama lengkap : Abdullah Arif Budiman). Keduanya juga berprofesi sebagai pengusaha dikesehariannya. disamping itu, bersama keduanya, kami sama-sama berada di organisasi HIPMI BPC-Banyumas.  2 (dua) sahabat ini ku kenal sebagai orang-orang kreatif dan ber-etos kerja tinggi serta memiliki idealisme yang super hight juga.  Bayangkan  dipertemuan pertama saja mereka sudah menegaskan siap membantu dengan beberapa catatan, antara lain : (1) tidak ada penumpang gelap dalam visi besar yang akan dibangun dan; (2) tidak akan di intervensi oleh kepentingan diluar olah raga sepak bola. Ketegasan yang cukup menjamin sebuah harapan dan berpihak pada visi besar industrialisasi bola, begitu fikirku saat mendengar kalimat tegas dari kedua sahabat ini.   


Apa yang akan terjadi Kemudian?
Tak ada yang tahu apa yang terjadi esok hari, karena hal itu adalah prerogatif Sang Kuasa. Tetapi aku meyakini "niat baik akan bertemu jalannya". Walau pasti akan berliku, tetapi kuyakini perjuangan panjang membentuk sebuah Industrialisasi bola akan menemukan mimpinya. Lewat terbangunnya "team work" yang solid dan saling bahhu membahu, aku yakin akan bisa menghasilkan karya-karya monumental walau bermula dari ketiadaan sama sekali. Aku masih percaya bahwa segala bentuk karya yang mewujud di dunia ini merupakan buah dari  semangat dan keyakinan yang selalu terjaga. Atas dasar itulah, kemudian aku berfikir harus optimis. Kebetulan, aku beberapa kali juga terlibat dalam organisasi-organisasi produktif yang memulainya dari ketiadaan dan hanya bermodalkan semangat, idealisme dan team work yang solid, sehingga menjadi bagian Persibas adalah mengulang hal serupa walau berbeda tema. Semoga, memilih bergabung  dalam ruang juang PT. Persibas adalah sebuah keputusan tepat. Semoga Tuhan juga menilai langkah ini sebagai sebuah ruang perluasan area Ibadah yang akan memperluas kebermaknaan pada manusia lainnya dan sekaligus mempertinggi nilai diri dihadapan Sang Pencipta. 

Tuhan...aku pasrah karena urusan ini pun datang kepadaku tanpa terfikirkan atau direncakan sebelumnya. Ku fahami semua ini kehendak-Mu dan aku tak akan berhenti mencari hikmah dan terus berupaya sedaya mampu dalam membentuk kebaikan-kebaikan baru.  

Kumohonkan keberpihakan-Mu sehingga semua ini akan berujung dengan sebuah kebaikan dan kebahagiaan, baik bagi diriku, keluargaku, semua sahabat dan kawan yang meng-ikhlaskan diri untuk berkorban ikut memikirkan dan juga bagi seluruh masyarakat Banyumas khususnya para pencinta Bola. Amin.....................  

Penghujung......
Tulisan ini juga sebagai cara sederhanaku memohon izin pada segenap masyarakat Banyumas untuk ikut memikirkan satu tim sepak bola hebat bernama "Persibas". Ku akui ini  pengalaman perdanaku menjadi satu bagian dari sebuah Tim Sepak Bola, sehingga aku berharap doa restu dan daya dukung yang tulus agar bisa ikut memberikan satu warna yang akan membuat kalian lebih mencintai Persibas. 

Aku tahu ini akan menjadi perjalanan panjang, namun sebuah mimpi bermula dari keyakinan, keberanian dan kemauan untuk melangkah. Sepanjang seluruh lapisan mau bergandengan tangan dan bahu membahu, maka potensi ketercapaian mimpi akan sangat mungkin terbuka. 

Saat kita berusaha, disaat itu pula  layak untuk ber-asa. Sebab kerja keras dan cerdas adalah tiket yang pantas untuk menengadahkan tangan bermohon kesuksesan pada Sang Pencipta. 

Bravo Persibas...............!!!!!! 

Bravo Sepak Bola...!!!!
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved