TAK SEMERIAH PERGANTIAN MASEHI

Rabu, 14 November 20120 komentar


Tahun Hijriah bukanlah Tahun Masehi. Perbedaannya juga terasa begitu nyata di pergantian tahunnya. Mungkin karena pergeseran Hijriyah hanya di rayakan parsial oleh ummat yang beragama Islam, sementara Tahun masehi di rayakan oleh seluruh dunia. Jadi tak mengherankan kalau tak terdengar bisingnya knalpot dari pawai motor atau sepinya pergantian malam dari tiupan trompet.  

“Tapi tak perlu sedih, karena tanpa perayaan pun tak membuat mati kok”, kata seorang kawan yang suka memelihara jenggot. “Lagian, apa penting nya perayaan??”, kata kawan yang lain yang kemana-mana selalu pakai sarung. “tapi ndak seru”, kata seorang bocah berumur sembilan tahun karena papahnya tak mau di ajak keluar jalan-jalan dan bahkan sibuk  mencari-cari sebuah buku sampai tertidur di depan lemari. Lain lagi dengan celetukan kawan-kawan di kantor,” mau nyuci apa ya di malam 1 syuro??”. Penulis tak faham apa yang dimaksud, tetapi rekan lain tertawa terpingkal-pingkal gara-gara “jawaban singkat padat tak bernada” dari salah satu rekan.  

Di sebagian yang lain, Pergantian tahun sering mengaitkan dengan re-fresh spirit yang diawali dari kontemplasi. Mereka menyepi dan berkhidmat, merenung atas capaian-capaian di waktu lampau dan mencoba menggagas langkah-langkah di mendatang. Mereka ingin menemukan cara baru dalam mengisi tahun yang akan segera baru lewat menyendiri, bermuhasabah di mesjid atau langgar.

Apapun pemaknaannya, yang jelas tahun baru hijriyah pasti akan datang. Banyaknya persoalan-persoalan seputar agama, mulai perbedaan pendapat berujung perpecahan, perbedaan mazhab yang berujung pertumpahan darah dan lain sebagainya, yang kesemuanya terjadi karena fanatisme berlebihan atau cara pandang yang sempit. Bahkan sebagian dari yang berseteru tak menyadari bahwa sebagian dari mereka menyukai iklim tak kondusif ini terus berlangsung dan bahkan tak sedikit dari mereka mengkompor-komporin secara halus dan hampir tak terasa. Islam adalah agama yang mencintai kedamaian dan penuh kelembutan. Islam sangat menghargai perbedaan dan memandangnya sebagai rahmat, mendorongnya sebagai inspirasi untuk duduk bersama.   Islam juga mengumandangkan solidaritas dan persatuan. Islam tak pernah memaksakan manusia dalam beragama dan sifat-sifat universal ajarannya menegaskan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Persoalannya adalah seberapa jauh ummat memaknai ini dengan tepat dan bijak???.

Sepertinya...perubahan tahun hijriyah ini moment strategis  untuk menata ulang langkah guna menjadi insan bijak, baik dalam tindakan sebagai pribadi maupun sebagai bagian dari komunitas Islam yang berkomitmen tinggi menjaga citra agama Islam, mulai dari ucapan dan juga tindakan.

Selamat tahun baru Hijriyah......semoga penyusunan langkah dan keterbangunan komitmen baru sebagai hasil kontemplasi adalah bentuk perayaan paling indah dan bermakna bagi kemajuan pribadi kita dan juga kejayaan Islam sebagai agama yang Rahmatan Lil ‘Alamin. Amin Ya Rob....
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved