MEM-BENAK WIRAUSAHA

Sabtu, 06 Oktober 20120 komentar


Disampaikan pada seminar kewirausahaan yang dilaksanakan oleh Fakultas ISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, 10 Oktober 2012 

A.  Berdefenisi Untuk Bersemangat

Ketika membicarakan wirausaha, sesungguhnya kita membahas  tentang semangat dalam menciptakan kemandirian berkarya. Kemandirian itu bisa dilakukan oleh satu orang atau atau beberapa orang yang kemudian baisa disebut kemandirian kolektif.

Menjadi beban bagi orang lain adalah muasal keterjajahan dan hilangnya kemerdekaan berfikir maupun bertindak. Kalimat ini sangat magis bagi sebagian para wirausaha, karena kalimat ini membangunkan gairah  setiap orang membangun kerajaannya sendiri lewat karya-karya yang teruji oleh alam dan waktu.

Semua orang ingin merdeka dalam menentukan arah hidup dan bebas menentukan pilihan, tetapi ironisnya hal ini hanya bisa diraih oleh sedikit orang. Hal ini dikarenakan di dunia ini tidak ada yang gratis dan setiap kenikmatan harus diraih dengan serangkaian pengorbanan. Pada fase pengorbanan ini lah banyak yang  mengalami patah arang dan kemudian berbelok arah. Mereka tak cukup kuat dengan badai, sehingga memilih untuk tidak melanjutkan pelayaran menuju  impian. Itulah perumpamaan yang tepat tentang berwirausaha dan hanya mereka yang memiliki semangat dan mental cukup lah yang mampu tetap berdiri dan kemudian berlari menuju cita-cita sesungguhnya.

Oleh karena itu, ketika anda ingin menekuni wirausaha mulailah berdefenisi tentang wirausaha itu sendiri. Defenisikan-lah apapun terhadap kata wirausaha, sepanjang itu mampu menyemangati dalam melahirkan karya-karya spektakuler. Ingat, kebenaran dari defenisi itu hanya bila anda sukses melahirkan sesuatu, sesuatu yang membantu diri anda sendiri dan akan menjadi lebih baik ketika juga bisa menciptakan kehidupan bagi orang lain. Jadikan defenisi itu sebagai inspirasi kala lelah sedang menerpa. Jadikan defenisi itu bernilai magis hingga berbalik arah menjadi sesuatu yang haram untuk di pilih.

B.  Siapapun bisa menjadi wirausahawan
Menekuni wirausaha tidak memerlukan lamaran layaknya anda memasuki sebuah pekerjaan. Berwirausaha juga tidak mensyaratkan ijazah apapun. Atas dasar itulah berwirausaha bisa dilakukan oleh siapapun yang mau melakukannya. Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau seorang tamatan SD menguasai bisnis tertentu dan bahkan memiliki karyawan/ti berijazah S2 luar negeri. Inilah uniknya wirausaha, dimana tingkatan ditentukan oleh capaian dan luasnya imbas dari ragam karya yang lahir dari ketekunannya menapaki setiap tahapan.

Oleh karena itu, siapapun anda dan apapun fakultas anda, bukanlah hal yang menjadi penyebab anda menjadi pengusaha atau tidak. Bahkan, fakta menunjukkan kalangan wirausahawan jebolan kampus 80% berlatar belakang fakultas yang tidak relevan dengan urusan wirausaha. Kalau demikian adanya, siapa bilang anda tak berpeluang menjadi seorang wirausahawan ?. Kecuali anda sendiri yang menetapkan diri tidak berbakat di wilayah ini.

C.  Instuisi Berwirausaha
Wirausaha juga merupakan tindakan pembentukan peta jalan. Setiap wirausahawan memiliki ceritanya sendiri-sendiri walau berujung sama, yaitu keberhasilan. Mereka memilih tidak mengikuti jalan yang ada karena dipastikan sesak dengan  manusia yang bertujuan sama. Mereka memilih membentuk jalan sendiri walau sunyi  dan mereka yakin suatu waktu akan memunculkan para pengikut saat mereka sudah berada di depan.  Inilah yang kemudian membentuk kepemimpinan dalam wirausaha di bidangnya masing-masing. Untuk mengarah ke sana, ketajaman instuisi menjadi modal penting karena menciptakan perbedaan membutuhkan keberanian berkeyakinan.

Bicara instuisi sesungguhnya persoalan kebiasaan. Orang bijak bilang, parang tajam kalau tak diasah akan menjadi tumpul dan parang tumpul akan tajam bila diasah terus menerus. Untuk itu, mulailah se sering mungkin mendefenisikan peluang dari apa yang anda lihat, anda dengar dan bahkan anda rasakan. Saksikan bagaimana seorang artis men-drive kekesalan hatinya  atas realitas cinta menyedihkan menjadi sebuah karya berbentuk lagu yang enak di dengar dan dinikmati oleh banyak orang . Bagaimana seorang produser mengangkat pengalaman nya menjadi sebuah sinetron serial yang ditonton  dan di ikuti banyak orang lewat televisi.  Semua itu berawal dari membiasakan diri, hingga mereka terlatih melakukannya berulang-ulang dan kian hari kian mahir. Anda pun bisa menjadi seorang penulis terkenal ketika anda memulai membiasakan menuliskan segala sesuatu dari apa yang anda fikirkan, dengarkan, rasakan dan lihat. Anda pun bisa menjadikan hobby sebagai sesuatu yang eyes catching dan menarik minat banyak orang untuk mengikuti. Intinya, semakin sering anda melakukannya, maka semakin tajam instuisi anda, Kapan anda memulainya dan kemudian membiasakannya???

D.  Mulailah Melangkah Tanpa Pernah Melihat  ke Belakang
Sebagai sebuah catatan, menekuni wirausaha memerlukan tindakan yang merupakan manifestasi dari defenisi yang telah ditetapkan dan keyakinan yang tinggi. Mulailah dari hal sederhana dari apa yang anda bisa, karena besar adalah akibat dari keberhasilan-keberhasilan kecil yang terakumulasi secara incremental. Tak ada kebesaran yang lahir tiba-tiba, sehingga ketekunan menjadi satu syarat untuk menapaki tahaan-tahapan menjadi besar dan mengibarkan bendera keberhasilan. 

Oleh karena itu, jangan berfikir panjang dan mulailah melakukan. Jangan  pernah keberhasilan menjadi pelemah semangat, sebab bisa jadi keberhasilan hadir setelah kebelumberhasilan  ke 999 dan sekaligus menutup akumulasi deretan kebelumberhasilan yang sangat menyesakkan dada. Jangan pernah melihat ke belakang sebab “keberhasilan” ada di depan.  Oleh karena itu, bertekadlah atau anda sama sekali tidak memulai bersentuhan dengan istilah kewirausahaan.

E.      Mendeteksi Makna Belajar Berwirausaha Di Kalangan Mahasiswa
Melihat dari keliaran dan dinamikanya, wirausaha tak ubahnya sekolah alam, dimana ragam kenyataan mewarnai perjalanannya. Ketika seorang wirausahawan mampu melewati ragam hambatan, maka peluang akan mewujud menjadi seperti yang diharapkan.

Sekedar mendeteksi, menekuni wirausaha memberikan implikasi luas pada peningkatan kapasitas diri, yang antara lain di jelaskan berikut ini :  


1.       Belajar Memiliki Tekad. Berwirausaha adalah kebulatan tekad  memperjuangkan sesuatu sampai titik darah penghabisan. Semangat dan pantang menyerah membuat wirausahawan  selalu berenergi.
2.       Membentuk mental. Setiap penawaran belum tentu berujung dengan transaksi dan bahkan bukan tidak mungkin dari sepuluh orang yang diajak komunikasi hanya satu yang merespon positif sebuah tawaran. Dinamika ini lah yang kemudian membentuk mental tangguh para wirausahawan ketika memilih untuk terus berjuang di ragam keberhasilan dan kebelumberhasilan.
3.       Belajar Mengambil Tanggungjawab dan disiplin . Membahagiakan orang lain adalah tugas utama kalau sang wirausahawan ingin menikmati kebahagiaan sesudahnya. Inilah tanggungjawab yang melekat pada diri seorang wirausahawan.
4.       Belajar komunikasi produktif. Efektivitas gagasan terwujud dari terbentuknya orang diluar dirinya (baca: konsumen) menyerap dan mengkonsumsi gagasannya . Untuk itu, sang wirausahawan dituntut mampu mengkampanyekan gagasannya lewat gaya komunikasi yang memikat perhatian orang lain. Rutinitas semacam ini lah secara perlahan membentuk kemampuan komunikasi produktif.
5.      Mengembangkan jaringan. Transaksi adalah bagian dari simpul komunikasi yang sesungguhnya bisa di ekspans ke arah yang lebih luas. Mereka menjadikan konsumen tidak sebatas untuk terkonsumsinya apa yang dia tawarkan, tetapi juga mencoba menggali potensi lain yang melekat pada konsumen tersebut. Pada komunikasi yang intensif akan  bermetamorfosis menjadi jaringan yang saling memperkuat satu sama lain.
6.      Membentuk kemampuan adaptasi. Dalam dunia wirausaha, hal yang pasti adalah ketidakpastian itu sendiri. Realitas selalu mengalami perubahan seiring dengan dinamika yang terjadi pada manusia, sehingga wirausahawan selalu di tuntut untuk bisa beradaptasi pada semua suasana.
7.      Keahlian manajemen dan kepemimpinan. Dalam bahasa singkat, manajemen adalah melakukan sesuatu melalui orang lain dan kepemimpinan adalah mempengaruhi orang lain. Pada titik perkembangan tertentu, wirausahawan sudah tidak memungkinkan lagi mengerjakan segala sesuatunya sendiri sehingga harus melibatkan orang lain. Pada titik ini, proses manajemen mulai mewarnai perjalanan usaha. Sementara itu, bersedianya seseorang melakukan sesuatu tentu tak lepas dari motif (kepentingan), sehingga perlu di motivasi melalui penyebaran pengaruh.
8.      dan lain sebagainya.

Intinya, dinamika yang  ada disepanjang proses  berwirausaha berimplikasi pada pembentukan kapasitas  diri dari banyak sisi.

F.  Penghujung
Berwirausaha adalah tentang semangat dan keberanian berkarya diatas keyakinan. Tidak satupun manusia yang bisa mendefenisikan apa yang terjadi satu menit sesudah saat ini. Siapa yang bisa menjamin ketika hari ini anda mengambil keputusan mulai mendirikan rumah makan besok akan ramai dengan pengunjung ?. Disinilah keyakinan dan sikap optimistic menjadi penting dalam menekuni wirausaha.

Keberhasilan bukanlah sebentuk hadiah, tetapi akibat logis dari ketepatan langkah dan ketekunan berproses mencapai keberhasilan. Semoga menginspirasi....!!!!!

Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved