MATUR THANKS "PEMBOKAT"

Jumat, 24 Agustus 20120 komentar




Hallo...bisa bantuin aku ndak cariin pembantu??..aku gi bingung nih dan harus nambah cuti karena si ijah (nama pembantunya) tak memberi kepastian apakah akan kembali atau tidak lagi ke rumahnya sesudah lebaran di kampung. Itu keluhan seorang sahabat  lewat telepon yang kebetulan suami istri berprofesi sebagai pegawai swasta. “ aduhhh...jadi bi ijah nih...setrikaan numpuk”, tertulis di status BB seorang sahabat. “Sialan nih, aku jadi nyuci piring gara-gara si atun pulang ke kampung”, celetuk seorang anak remaja puteri yang diperintah ibunya karena sang pembantu juga sedang pulang kampung lebaran. “las..kamu cepetan kembali ya ya.....ibu keteteran nih banyak banet tamu di rumah”, suara mohon itu begitu harap saat seorang ibu menelepon pembantunya yang lagi pulang kampung juga. “Pa...kalau si neng ndak balik lagi sesudah lebaran, siapa yang nemenin anak2 ya saat ma2 kerja??”, tanya seorang istri yang sedang bersandar di dada suaminya saat menjelang tidur. “ cari sendiri...”, nada ketus itu keluar dari seorang ibu muda yang terpaksa mencuci pakaian  pada anaknya yang berumur 7 (tujuh) tahun saat meminta di carikan mainan yang sangat disukainya. Semua kalut dengan kepulangan sang pembokap ke kampungnya. Kaum ibu banyak yang sensi dan cepet naik pitam, sementara para bapak banyak yang harus terjun dalam urusanrumah tangga. “maaf pak terlambat, sebab pembantu saya belum pulang jadi beresin pekerjaan rumah dulu”, jelas seorang staff pada atasannya.  

Oleh-Oleh Lebaran......
Terimakasih Pembokap...





Semua karena si pembokat pulang kampung berlebaran...

Hmmm...situasi semacam ini dialami banyak keluarga pasca masa berlebaran seperti sekarang-sekarang . Kondisi ini telah menyadarkan para majikan  bahwa peran si ija, si inem, si yulas, si neng dan si mang begitu luar biasa dalam keseharian dan stabilitas iklim sebuah keluarga. Sepertinya, lebih layak sang majikan dulu yang memohon maaf lahir bathin kepada para pembokapnya. Di sisi lain, peran strategis mereka juga selayaknya dijadikan momen mengkaji ulang tingkat kelayakan salary yang di terima pembantu setiap bulannya. Bahkan, momen ini bagus  dimanfaatkan untuk berfikir ulang dan menggagas penggantian fasilitas minim di kamar mereka.

Kericuhan suasana rumah akibat kebelum hadiran pembokat, selayaknya menjadi pengingat dan penyegar  kesadaran akan pentingnya memanusiakan mereka sebagai kebutuhan yang sebenarnya melekat pada setiap diri makhluk Tuhan bernama manusia. Atau, kata “pembantu atau pembokap” di musnahkan saja sebab sangat lekat dengan makna kasta rendah dari struktur sosial kemasyarakatan. Ada baiknya merubah “persepsi dan apresiasi” terhadap mereka, sehingga membuat mereka merasa lebih diapresiasi. Mungkin bukanlah sebuah keburukan ketika memandang dan memperlakukan mereka sebagai bagian dari keluarga. Panggilan bi atau mang layaknya diganti dengan panggilan mbak, mas, aa atau lainnya yang  membangun kesan lebih mengangkat harkat martabat dan membuat mereka lebih bersemangat.

Dalam pandangan yang lebih jauh, peran mereka yang begitu besar, khususnya dalam menemani dan mengikuti perkembangan anak sang majikan di setiap harinya menggiring pemikiran bahwa masa depan bangsa ini di pengaruhi oleh kualitas para pembokap itu. Karena generasi berikutnya yang akan melanjutkan estafet bangsa ini sebagian besar adalah buah karya mereka.  Kesimpulan ini tak berlebihan, karena kebanyakan orang tua (suami istri) lebih sedikit  waktunya bersama anak ketimbang pembantu. Mungkin ada pembelaan bahwa 1 jam bersama orang tua jauh lebih berkualitas dibanding 8 (delapan) jam bersama pembantu. Semoga memang begitu adanya, sehingga waktu yang singkat bersama anak tetap mendominasi faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan sang anak.

Teringat dengan visi microsft  yang mentargetkan “ satu rumah satu komputer”. Sepertinya capaian visi microsoft itu telah didahului oleh para pembokap yang di setiap rumah tangga hampir ada minimal satu orang dan atau bahkan lebih.

Tak terbayang kalau mereka bersatu dan membangun panji-panji harga diri, bisa jadi hal ini mempengaruhi kondisi perekonomian nasional. Namun, karena mayoritas dari mereka adalah kelompok low educated membuat hal itu hampir mustahil terjadi. Mereka akan tetap menjadi kaum marginal yang dipaksa keadaan menerima kenyataan hidup sebagai struktur terendah tanpa advokasi kecuali dari Tuhan atau dari majikan yang ber-Tuhan.  Pilihan yang tersedia hanyalah menerima keadaan, memaki kenyataan tanpa merubah perasaan, berpindah dari satu majikan ke majikan lain berharap perbaikan taraf hidup, atau berharap lelaki idola di kampung segera menikahinya sehingga bisa meninggalkan profesi pembantu dan menggantungkan hidup kepada sang lelaki sekaligus menjadi ibu rumah tangga.

Kesabaran mereka atas karakter majikan dan segenap anggota keluarga yang berbeda-beda dan keikhlasan mereka yang tak jarang dijadikan pelampiasan kepenatan urusan kantor, sepertinya layak dijadikan dasar peningkatan apresiasi terhadap mereka, baik apresiasi dalam sikap, fasilitas bahkan salary. Mereka hampir dipastikan orang-orang berpendidikan rendah, tetapi peran besar mereka dalam sebuah keluarga membuat mereka layak diapresiasi dari sisi rasa dan kemausiaan.

Semoga saja mereka tak diliputi lelah sehingga memanfaatkan liburan lebaran sebagai moment pengunduran diri. Semoga saja ragam tekanan selama dirumah majikan tidak menjadi dendam berujung doa yang tidak baik...he2 (ngancam nih...). Semoga sang majikan bukanlah perwakilan Tuhan yang ditugaskan sebagai pembangun kesabaran dan keikhlasan dikalangan para pembokap. Semoga bukan hanya mereka  yang berhak menikmati surga karena mereka terlatih mengimplementasikan “ikhlas dan sabar” dalam keseharian hidupnya. Sepertinya, doa yang terbijak adalah semoga sang majikan, segenap anggota keluarga yang didalamnya terdapat pembantu akan masuk surga secara bersama-sama. Aminn.. 

Sebagai penghujung, dalam sebuah diskusi ringan, seorang sahabat  berstatemen bahwa “lamanya seorang pembokap bertahan di sebuah keluarga menggambarkan kualitas dari keluarga tersebut”. Saya tak begitu faham maksud kalimat itu, tetapi berupaya untuk terus mencari makna dari kalimat bijak itu.

Demikian sekilas tulisan singkat sebagai bacaan ringan di pasca lebaran. Semoga menginspirasi kebaikan bagi penulis dan juga pembaca tulisan sederhana ini ...aminn.  Minal Aidin Wal Faizin, mohon maaf lahir bathin bagi yang merayakannya..



Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved