BELAJAR BERSAMA MEMBANGUN MIMPI INDAH BERPELUANG NYATA

Senin, 16 Juli 20120 komentar


Di sampaikan pada Pendidikan dan Pelatihan Dalam Rangka Harkop ke-65 yang dilaksanakan oleh DEKOPINDA Kab.Banyumas, 18 dan 19 Juli 2012, di Purwokerto, Kab.Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia.


A.  Pembuka : Realitas Yang Menginspirasi.
Kata “Koperasi” begitu populer di telinga masyarakat Indonesia, tetapi kepopulerannya belum  di ikuti oleh realitas karya nya yang  brilian dan kebermaknaannya yang luas. Ada apa kah??

Sebagian  besar dari kita terbiasa dan terlatih membangun karya mandiri. 100% otoritas ada di tangan kita dan tak tersentuh oleh siapapun, kecuali aturan-aturan dan norma-norma yang berlaku. Sebagian dari kita sukses membuat capaian luar biasa dengan menempatkan orang lain hanya sebatas “konsumen” tanpa pernah menjadi “pemilik”. Oleh karena itu, tak satu pun yang bisa menggugat keberhasilan itu, karena pencapaiannya oleh upaya kita  sendiri. Sebaliknya, ketika “jatuh ke dasar yang paling rendah”, maka tak satupun yang bisa di mintai tolong, kecuali pada orang yang bersimpati atau pada orang yang sangat berharap bisa meraih sorga. Jika tak menemukan satu dari 2 (dua) orang tersebut, apa yang kemudian terjadi..???



Disisi lain, sebagian dari kita mungkin kurang terlatih untuk berkomitmen dan kerjasama dalam jangka panjang, khususnya dalam hal membangun ekonomi, sosial dan budaya melalui lembaga yang bernama Koperasi. Uniknya, kita adalah bagian dari koperasi itu sendiri dan bahkan dalam jangka waktu yang tidak singkat. Anehnya lagi, kita biarkan koperasi berjalam secara alamiah saja tanpa mencoba mengambil tanggungjawab untuk membesarkannya dalam tindakan yang lebih nyata selain rutin membayar iuran wajib bulanan. Kita pun hampir tak pernah gerah pada keadaan yang stagnan, kita pun kurang bergairah melakukan  perubahan-perubahan yang mempeluas harapan. Tetapi, sebagian dari kita kemudian akan marah ketika permohonan pinjaman tidak  di setujui atau di tolak.  Anehnya, sebagian besar dari yang suka marah tak kunjung keluar dari keanggotaan koperasi,. Mengapa Kah???

Satu pertanyaan menarik patut dicari jawabnya: seberapa besar kah “koperasi” dalam mencapai tujuan-tujuan hidup pribadi anggotanya???. Mungkin jawaban dari tanya ini akan menginspirasi banyak gagasan dalam perjalan koperasi selanjutnya. 

B.  Koperasi Sesungguhnya Tidak Bebas Nilai
Koperasi adalah organisasi yang tidak bebas nilai. Idealisme yang diperjuangkan sudah terkonse dalam “jati Diri” yang meliputi defenisi, nilai-nilai dan prinsip-prinsip. Itulah sebabnya dikatakan koperasi tidak bebas nilai, tetapi terikat pada konsep jati diri nya. Jati diri ini sesungguhnya tidak hanya “pembeda yang nyata” tetapi juga memuat tentang “semangat” yang seharusnya selalu di kumandangkan di segenap stake holder koperasi.

Kalau di telaah lebih jauh, kita akan menemukan  kemuliaan nilai-nilai yang diperjuangkan. Disamping itu, “telaah jauh”  akan membawa kita pada temuan obyektif mengapa koperasi kita tak kunjung berkembang (baca : seadanya)  dan sekaligus akan menginspirasi dalam merumuskan apa-apa yang harus kita selesaikan untuk membangun sebuah koperasi yang kuat, besar dan penuh manfaat. 
Sebagai upaya me re-fresh ingatan kita tentang Jati Diri Koperasi, berikut ini di sajikan hasil kesepakatan induk koperasi dunia (ICA/International Cooperative’s Alliance), pada tangggal 23 September 1995, di Manchester, Inggris :
1.      Defenisi :
Koperasi adalah perkumpulan otonom dari orang-orang yang bersatu secara sukarela untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan aspirasi-aspirasi ekonomi,sosial & budaya bersama melalui perusahaan yang mereka  miliki bersama & mereka kendalikan secara demokratis.
2.      Nilai-nilai :
 Koperasi berdasarkan nilai-nilai menolong diri sendiri, tanggungjawab sendiri, demokrasi, persamaan, keadilan dan kesetiakawanan. Anggota koperasi percaya pada nilai-nilai etis kejujuran, keterbukaan, tanggungjawab sosial, serta peduli terhadap orang lain.
3.      Prinsip-prinsip :
 (i) Keanggotaan sukarela dan terbuka; (ii) .Pengendalian oleh anggota-anggota secara demokrasi ; (iii) .Partisipasi ekonomi anggota; (iv) .Otonomi dan kebebasan; (v) .Pendidikan, pelatihan dan informasi; (iv) .Kerjasama antar koperasi; (vii) .Kepedulian terhadap komunitas


C. Menggelitik Sedikit Kenyataan dan Merangkai Sekelumit Mimpi
Berikut ini disajikan beberapa cerita singkat yang mungkin bisa menginspirasi gairah kita untuk mengembangkan koperasi demi tercapaianya kemanfatan-kemanfaatan baru dalam berkoperasi.  Adapun beberapa cerita yang dimaksud di jelaskan berikut ini :
1.      Sekelompok pedagang tahu  yang juga berprofesi sebagai petani bersepakat  merubah cara mereka berbelanja bahan baku. Kalau tadinya mereka membeli sendiri-sendiri di sumber yang sama, mereka ingin mengubahnya dengan cara membeli bersama-sama dengan harapan : (i) harga akan menjadi lebih murah karena membeli dalam skala lebih besar; (ii) waktu nya lebih efisien melalui berbagi tugas belanja secara bergantian. Dengan demikian, waktu yang tadinya digunakan untuk berbelanja  bisa dialihkan untuk menggarap sawah. Disisi lain, dari agenda “belanja bersama” ini menginspirasi mereka untuk menyeragamkan harga jual, sehingga mereka tidak lagi bertanding saling  mengalahkan, tetapi bersatu untuk saling memperkuat.  Apa kesan anda tentang  cara para pedagang tahu ini??  
2.       Sekelompok mahasiswa/i sebuah universitas yang berlatar ekonomi setara (pas-pasan) berkumpul  untuk mencari cara mengingkatkan “pendapatan riil”  dari uang saku mereka yang tergolong pas-pasan pula. Terbersit untuk  membuat dapur umum sebagai strategi untuk memastikan bisa makan  3 (tiga) kali  sehari. Kemudian mereka berinisiatif  membawa peralatan makan (gelas, piring, sendok dan garpu) dari rumahnya masih-masing (maklum perilaku anak kost yang kreatif). Selanjutnya, mereka mengumpulkan sebagian dari uang saku mereka untuk membeli peralatan masak dan juga  mengangkat seorang “staf rumah tangga” yang bertugas “khusus memasak”. Cara ini sukses menjamin mereka bisa makan 3 (tiga) kali sehari secara teratur.  Hidup mereka juga menjadi lebih sehat di perantauan. Ternyata, kebersamaan tak sampai di situ, mereka mulai berfikir bagaimana seandainya mereka urunan/iuran  lagi  dan bulan ketiga mereka sukses membeli “mesin cuci”, sehingga mereka mencuci tidak lagi manual seperti sebelumnya .  Setahun kemudian “cara hidup mereka” ini tercium oleh temen-temen lainnya dan kemudian menyatakan minat bergabung . Setelah musyawarah internal, akhirnya diambil keputusan untuk menerima teman-teman yang berniat bergabung itu dengan catatan “sepakat dan siap”  dengan prinsip dan aturan yang ada.  Disamping itu, mereka “mewajibkan” setiap calon anggota mengikuti agenda “sosialisasi dan edukasi” prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang diperjuangkan kelompok mahasiswa tersebut. Akhirnya kian hari kian banyak yang bergabung dan tanpa di sadari mereka sudah berjumlah besar. Awalnya hanya sekedar “dapur umum”, mereka tingkatkan menjadi sebentuk  “warung makan”. Bagi anggota kelompok dipastikan gratis karena sudah membayar iuran bulanan dan bagi mereka berstatus non- anggota diperlakukan sebagai konsumen umum dan harus bayar sesuai harga standar yang ditetapkan. Demikian halnya dengan mesin cuci jumlahnya menjadi lebih banyak  sehingga akhirnya mereka pun membuat usaha laundry dengan menggunakan prinsip yang sama dengan “warung makan”. Tak lama berselang, akhirnya mereka mempunyai unit layanan fhoto copy , pulsa centre dan rental komputer sekaligus warnet. Semua menggunakan prinsip pengelolaan yang sama, yaitu “perlakuan khusus pada anggota”. Indahkah kisah ini????
3.  Suatu ketika, seorang yang kebetulan berprofesi PNS merasa “ jengkel sendiri”  saat berjalan-jalan di sebuah tempat perbelanjaan modern. Hal ini dikarenakan dia melihat label harga baju yang sama dengan yang dipakainya ternyata jauh lebih murah dibanding dengan di kota asalnya. Kebetulan baju yang dia pakai baru saja dia beli kemarin di kota asalnya. Namun, jengkel itu malah menginspirasi dirinya untuk berfikir bijak bahwa hal itu disebabkan oleh perbedaaan strategi masing-masing swalayan. Persoalan kemudian yang ada dibenaknya adalah mengapa dia menjadi “obyek” dari strategi itu. Di akhir lamunannya, dia berfikir hal ini sesungguhnya bisa di selesaikan dengan cara bijak yaitu mengkomunikasikannya dengan koperasi yang kebetulan dia berstatus sebagai anggota. Ternyata komunikasi ini membuahkan hasil dan terbentuk komitmen di segenap unsur organisasi untuk membangun unit layanan berbentuk “toko khusus fahion” yang di kelola dengan cara modern. Sejak saat itu, segenap anggota selalu mentransaksikan kebutuhan fashion nya di koperasi. Akhirnya, tak ada lagi orang yang jengkel atau merasa tertipu .
4.       Berawal dari keinginan memajukan ekonomi pedesaaan, disebuah desa  dilakukan musyawarah yang berujung pada kesepakatan untuk membentuk sebuah lembaga keuangan.  Mereka berkomitmen tidak akan merambah pada unit layanan yang sudah di kerjakan oleh anggotanya, seperti warung, produksi jajanan kecil, usaha bakso, mie ayam dan lain sebagainya. Tujuan dasar dari pembentukan lembaga keuangan ini adalah : (i) mengajak masyarakat  untuk membiasakan hidup sederhana dan membangun kebiasaan untuk menabung; (ii) mendorong bakat-bakat kewirausahaan di lingkungan pedesaan; (iii) memberi pinjaman kepada anggota tanpa dikenakan jasa dan hanya ada tambahan 0,2% untuk biaya operasional pengelolaan dan pengembangan lembaga keuangan tersebut. Satu hal yang menjadi catatan, setiap kali anggota meminjam, pengelola memastikan bahwa pinjaman tersebut hanya untuk kepentingan produktif dan atau benar-benar kepentingan mendesak (sebuah keadaan yang tidak di duga sebelumnya).  Segenap perangkat desa sampai RT disarankan untuk terus mengkampanyekan semangat menabung dan semangat berwirausaha. Beberapa waktu kemudian, desa itu begitu maju dan guyub. Semangat kegotongroyongannya begitu kental dan desa itu jauh dari kejadian-kejadian yang meresahkan masyarakat.  Apa kesan anda dengan kisah ini ?
5.       Dalam diskusi beberapa petinggi KUD ada fakta menarik dimana  banyak petani yang menjual padi nya kepada tengkulak saat padi baru akan menguning. Hal yang menyebabkan hal itu adalah karena petani membutuhkan uang cepat untuk membiayai kelanjutan hidupnya. Akibatnya, petani sang pemilik lahan seolah menjadi pekerja bagi tengkulak tersebut. Rasa kesetiakawanan telah membawa mereka pada pembicaraan serius untuk mencari solusi integratif atas permasalahan para petani tersebut yang mayoritas juga adalah anggota KUD. Setelah melalui diskusi panjang, di sepakatilah untuk melakukan beberapa hal baik bersama-sama, maupun dilakukan oleh masing-masing KUD yaitu : (i) mengintensifikan toko saprotan (sarana produksi pertanian) dengan sistem pengelolaan profesional; (ii) menjadikan KUD sebagai pilihan utama menjual gabahnya; (iii) meng-intensifkan simpan pinjam, baik dari sisi tabungan maupun pinjaman yang diberikan kepada anggota untuk mendukung pengadaan saprotan; (iii) menyelenggarakan “rice mill” baik yang kelilingan maupun yang standby di tempat; (iv) secara bersama-sama menjalin kemitraan dengan koperasi lainnya dalam hal pemasaran beras. Setalah dilakukan upaya-upaya tersebut, KUD-KUD tersebut kemudian menjelma menjadi satu kekuatan yang sangat berpengaruh, khususnya dalam hal ketahanan pangan. Di sisi lain, kesejahteraan petani  dalam arti luas meningkat tajam.
6.       Di sebuah kabupaten terdapat 75 (enam puluh) koperasi yang berhasil mengembangkan “semangat menabung” di koperasi nya masing-masing, sehingga memunculkan surplus kas (idle cash) dengan rata-rata Rp 1 M per koperasi. Atas keberhasilan itu, kemudian mereka berfikir untuk membuat kerja sama mendirikan sebuah “supermarket”. Setelah melakukan komunikasi kepada anggota masing-masing koperasi, akhirnya mereka memutuskan untuk merealisasikan gagasan tersebut. Mereka tak cukup berpengalaman dalam pengelolaan “supermarket”, sehingga mereka  merekrut para expertis (ahli) yang bertugas mengelola supermarket tersebut. Setahun kemudian, supermarket itu berdiri megah dan di pintu masuk terpampang dengan gagah  tulisan  “SELAMAT  BERBELANJA DI PERUSAHAAN MILIK SENDIRI”. Supermarket ini menerapkan perlakuan khusus pada anggotanya, yaitu menerapkan harga pokok, sementara margin nya diserahkan sepenuhnya kepada anggota (yang ngasih tambahan margin di ucapkan terima kasih dan yang tidak ngasih kebangetan...he22). Sementara kepada yang bukan anggota dari koperasi pendiri Supermarket di berlakukan harga sesuai label. Disamping itu, bagi anggota koperasi, supermarket ini juga berfungsi sebagai “tempat menerima tabungan”. Sehingga, apabila seorang anggota ingin menabungkan sisa kembalian belanjanya (walau hanya Rp 300,oo) juga di layani.  Hal yang sungguh aneh lagi di setiap kasir supermarket itu tertulis pesan aneh  : (i) “belanjalah secukupnnya” dan ; (ii) “gunakan uang anda dengan bijaksana”. Tulisan ini tampak berlawanan dengan spirit pertumbuhan omzet, tetapi sangat bernilai “pendidikan” bagi mereka yang meresapinya. Beberapa tahun kemudian, berbekal budaya menabung yang tumbuh subur dan supermarket yang  kian hari kian berkembang, koperasi-koperasi pendiri supermarket tersebut melanjutkan kerjasamanya dalam bidang pembangunan industri berbentuk pabrik. Luar biasa, akhirnya kota itu perlahan menjadi kota koperasi dan masyarakatnya terkenal dengan ciri ramah dan bijaksana.

Satu hal yang menjadi catatab penting, semua cerita diatas adalah  fiksi atau lebih tepat dikatakan sebagai sebuah mimpi indah tentang dahsyatnya kebersamaan dalam koperasi ketika di kelola dengan serius dan di dukung oleh anggota yang loyal. 


D. Alat Ukur Obyektif Keberhasilan Berkoperasi.
Dalam kontek yang paling sederhana, mengukur tingkat keberhasilan koperasi bukan lah hal yang sulit. Kita cukup menyebar 1 (satu) pertanyaan tertutup pada segenap unsur organisasi (baca: pengurus, pengawas dan anggota), yaitu : “bahagiakah anda menjadi bagian dari koperasi???”. Jangan lupa berikan 2 (dua) pilihan  jawaban “ ya” atau “belum”. Besarnya prosentasi yang menjawab “ya” merupakan indikator obyektif tingkat keberhasilan koperasi itu. Demikian sebaliknya, besarnya prosentase yang memberi jawaban “belum” menggambarkan tingkat “ke-belum berhasilan dan luasan PR” yang harus di selesaikan oleh koperasi tersebut. Apakah sulit melakukan hal ini??   


E. Penghujung : Sedikit Berkontemplasi
Ketika koperasi mampu menyatukan kepentingan ekonomi dengan memobilisasi karakter sosial dan budaya anggotanya hingga mencintai kebersamaan, maka apapun menjadi sangat mungkin di jalankan oleh koperasi. Disamping itu, koperasi dipastikan akan mampu menyelesaikan masalah-masalah ekonomi yang dihadapi oleh anggotanya.  Oleh karena itu, tak heran  PBB mengeluarkan resolusi yang menetapkan tahun 2012 sebagai tahun koperasi dunia. Bahkan dalam tagline tahun koperasi dunia PBB memilih thema  “the cooperative’s entreprise build better world” (perusahaan-perusahaan koperasi membangun dunia yang lebih baik).

Logika menelusur bahwa koperasi sangat mulia dan sangat mungkin untuk dioperasinalkan. Persoalannya adalah seberapa besar kemauan segenap stake holder koperasi menyatukan diri untuk kemudian membangun keberdayaan kolektif. Pada koperasi yang benar, segenap stake holder bisa mengembangkan tujuan-tujuan pribadinya melalui kerjasama yang  mereka ciptakan di dalam koperasi yang mereka miliki dan kendalikan secara demokratis.

Oleh karena itu, kalau kemudian realitas mayoritas koperasi stagnan (baca: kalau tidak mau dikatakan belum maju), sesungguhnya bukan karena  “ketidakrasionalan”   konsepsi koperasi di kekinian zaman, tetapi di ke-belum nemuan cara efektif memobilisasi terciptanya kebersamaan dan men-drive kebersamaan ke dalam aksi-aksi produktiv multy dimensi. Koperasi membimbing ke arah kemandirian dan selayaknya koperasi membangun kemandirian diatas kolektivitasnya.

no previewMembangun kebersamaan memang bukan perkara mudah, atas dasar itulah koperasi perlu menyelenggarakan “pendidikan” secara kontinyu dan berkesinambungan dalam ragam bentuk pola. Dengan demikian, setiap anggota mengetahui apa, mengapa dan bagaimana sharusnya berkoperasi. 

Demikian tulisan sederhana ini tersampaikan kepada segenap peserta diklat. Semoga menginspirasi kebaikan dan memacu lompatan  kemajuan koperasi......amin....
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved