CURHAT SANG PEJUANG TENTANG MANAJEMEN & KEPEMIMPINAN

Selasa, 12 Juni 20120 komentar


PEMBUKA
Tulisan ini sebenarnya hanya curhatan seorang manager  via email dan kemudian di share kepada segenap pembaca dengan harapan bisa menginspirasi atau menambah hikmah. Karena alasan etika nama asli dan perusahaan di sembunyikan.




PERTANYAAN:

Selamat pagi Pak, mohon maaf mengganggu dan mengambil sedikit waktu Bapak untuk membaca tulisan saya ini.

Lewat tulisan ini, saya mau sedikit melaporkan kondisi medan perang yang sedang saya jalani Awal saya masuk ke medan ini bulan Juli 2011, ini sudah satu tahun saya berperang dalam rangka penggemblengan peningkatan kualitas diri saya sendiri. Saya akui, dan orang lain pun mengiyakan, jika masuknya saya kedalam medan perang ini sebenarnya sedikit dipaksakan, secara kemampuan berperang saya belum ada, apalagi kemampuan saya menjadi panglima perang, jelas saya belum ada se ujung kuku sekalipun.

Kemudian, dalam perjalanannya jelas banyak hal yang saya dapat di medan ini, yang belum pernah saya peroleh di padepokan X, dan saya dipaksa harus bisa menyelasaikan masalah tersebut. Kondisi awal masuk, saya benar – benar belum tahu medan yang harus di lalui. Saya memaksa diri saya sendiri untuk mencoba melakukan apa yang saya bisa dan  tahu biar bisa berjalan di medan ini, tanpa sifat kandel (ilmu) yang cukup untuk menaklukkan medan ini.

Kondisi awal, saya harus menyiapkan semuanya, mulai dari menyiapkan amunisi, senjata,  dan menyiapkan prosedur cara menggunakan senjata, serta merekrut prajurit,dan banyak hal teknis yang memang belum ada. Sampai pada batas waktu perjalanan yang harus saya lewati, saya belum mampu menempuh setengah dari medan perang ini, bahkan diawal pasukan kami hampir kembali mundur kepintu gerbang, ketika sudah tidak ada lagi bantuan amunisi untuk terus berperang, dan ini pun kesalahan saya memilih amunisi/senjata di awal, hingga kami memaksakan diri  memaksimalkan semua yang kami miliki untuk dijadikan senjata berperang. Ditambah beberapa prajurit kami yang memilih untuk tidak melanjutkan bergabung,mereka lebih memilih bergabung dengan pasukan yang sudah lebih kuat. Saya akui, ini kesalahan saya, tidak bisa memberi  keyakinan dan motivasi , dan juga karena saya terlalu asyik dan larut  dalam perang secara langsung, sehingga fungsi komando seorang panglima hampir tidak ada. 

Hampir 7 (tujuh ) bulan kami berperang dengan sisa – sisa amunisi yang kami miliki. Memang sudah dua bulan ini pencapaian kami terus bertambah , meskipun tanpa adanya tambahan amunisi. Dalam dua bulan ini ada pertumbuhan rata-rata 19% dari jangkauan yang tertinggi yang pernah kami capai. Dan dengan masuknya satu anggota baru di pasukan kami, memang banyak mendukung pencapaian ini. Akan tetapi target pemberi amunisi sebenarnya dalam satu tahun masuknya saya sebagai panglima, diharapkan medan perang bisa direbut dengan amunisi yang ada. 

Saya minta saran dari Bapak, apa yang harus saya lakukan dalam satu bulan kedepan. Sebagai  panglima , saya sudah merasa gagal berperang memperebutkan medan ini. Saya meminta pandangan  Bapak berkaitan dengan kegagalan ini, ada dua hal yang sebenarnya akan saya sampaikan kepada pemberi amunisi :
  1. Saya keluar dari pasukan ini , dan menyerahkan semua komando kepada pemberi amunisi untuk menyerahkan kepada panglima yang baru.
  2. Saya meminta untuk menjadi prajurit biasa dan menyerahkan komando kepada panglima baru.
Dua hal diatas ada dua konsekuensi yang harus saya terima, kalau saya mengambil opsi pertama secara nilai , nilai saya tidak akan turun, tetapi secara pertanggungjawaban terkesan saya lepas tanggung jawab. Kalau saya memilih opsi kedua, secara nilai, saya menurunkan nilai saya sendiri yang sudah lama saya rangkai dengan banyak pengorbanan, tetapi secara tanggung jawab saya masih dianggap ikut bertanggungjawab.Sebagai panglima saya sportif untuk mengakui bahwa saya gagal memimpin pasukan ini. Dari sini saya pun tahu beberapa kelemahan saya :
  •        Saya kurang tegas, terlalu lemah
  •        Saya tidak bisa mempertahankan ide saya, walaupun ide itu benar
  •        Kurang percaya diri
Dari hal tersebut, saya mohon masukan dari Bapak sebagai guru dan motivator saya.
Terima kasih, dan maaf telah mengambil waktu Bapak yang terbatas.

JAWAB

Saya sudah membaca dan kesan yang saya rasakan adalah “mengagumkan”. Saya tidak bicara pada hasil saat ini yang mungkin masih jauh dari harapan, tetapi saya kagum bagaimana anda  menata kalimat demi kalimat yang  menggambarkan perkembangan  kapasitas diri yang luar biasa.

Dalam kalimat2 itu ada nuansa tanggujawab begitu kuat,  ada keinginan kuat untuk maju dan menciptakan perubahan,  ada jiwa besar yang mengakui kebelum sempurnaan diri, dalam kalimat itu ada mimpi  kuat untuk membangun karya besar. Artinya,  modal untuk menciptakan sesuatu  sudah ada pada anda.  

Anda sudah melakukan lompatan besar dibanding dulu saat pertama kali saya kenal. Sebagai pelatih, saya bangga dengan perkembangan anda  yang luar biasa ini dan sekaligus membangun keyakinan saya bahwa akan lahir karya besar dari tangan dingin anda layaknya  seperti mimpi sang owner dan juga seperti mimpi anda sendiri  tentang berkarya.

Secara obyektif saya bependapat, anda sudah memiliki rangkaian senjata untuk melanjutkan karya itu.  Terus kembangkan percaya diri untuk mempimpin pasukan dan terus kembangkan wawasan hingga secara nyata anda lebih layak untuk memimpin.
Saran saya...lanjutkan.....!!!!. Seorang pemimpin tidak perlu tahu segalanya, tetapi harus bisa mempengaruhi semuanya untuk mencapai tujuan besar. Tugas utama kepemimpin adalah menebar pengaruh, tidak harus pintar melakukan hal teknis A sampai Z. Bangun motivasi bagi segenap pasukan dan fahamkan pada mereka ini bukan tentang uang, tetapi tentang idealisme berkarya dan pantas di kenang.  Ini bukan tentang berapa yang didapat dengan bekerja, tetapi ini tentang berapa makna yang tercipta dari keterlahiran sebuah karya. Allah maha penghitung yang  adil  dan menghadirkan keberpihakan karena punya alasan yang layak.  
Satu hal lagi, saya tak tertarik mengomentari angka-angka yang anda sajikan karena dalam pandangan saya itu akan tumbuh dengan sendirinya bila segenap SDM punya visi yang sama dalam bekerja. Jadi, angka itu adalah imbas  dari  kolektivitas segenap pasukan. Ingat uang itu benda mati dan yang membuat uang habis, tumbuh atau berkembang adalah manusia.

Oleh karena itu, teruslah mengembangkan diri dan kemampuan  serta menularkan  pada segenap pasukan. Lakukan perubahan lewat pendekatan ketauladanan, sebab ketauladanan lebih menjanjikan  ketercapaian sebuah mimpi.Selamat berjuang untuk melahirkan rekam jejak spektakuler dalam hidup. Saya tahu itu tak mudah, tetapi keberhasilan tidak hadir dengan tiba-tiba. Keikhlasan,kesabaran dan ketekunan selalu menjadi “magic akselerator”  ketercapaian sebuah mimpi. KAH???.
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved