MENGAPA HARUS SALING MENGALAHKAN..??

Senin, 07 Mei 20120 komentar



Memaknai hidup sebagai pertandingan menyebabkan yang lain difahami sebagai musuh yang harus dikalahkan. Naluri memenangkan, sering pemicu  sedotan energi untuk mengintip kekuatan lawan, dan sisanya memperkuat diri demi satu akhir lebih baik. Apa yang di dapat dari sebuah kemenangan?? Apa yang dirasa oleh sang terkalahkan???.    

Ini tentang ”spirit of fighting”, ini tentang penggandaan gairah untuk kelahiran karya-karya spektakuler, ini tentang gengsi dan harga diri, ini tentang citra diri, ini tentang apresiasi bagi yang tertinggi, ini persoalan hukumuan bagi mereka yang malas berlatih, ini jalan pintas mencari potensi yang layak di orbitkan, ini tentang keinginan menghadirkan orang-orang terbaik dalam  satu komunitas bervisi unggul, ini tentang perulangan sejarah perlombaan pertemuan sel telur dan ovum yang merupakan muasal keterlahiran manusia....semua menjadi pembenar dan memotivasi perulangan tersajinya pertandingan demi pertandingan hidup dalam segala variasi bentuknya. 

Ironisnya, kemenangan tak jarang melahirkan perasaan lebih dan menjadi sumber parcaya diri. Yang menang tertawa lepas saat  air mata dan jerit bathin begitu dalam berlangsung disisinya. Yang kaya juga tak jarang memaknai sebagai pembenar untuk selalu di dengar dan bisa berbuat apa saja. Penguasaan yang satu terhadap lainnya tak terhindari.  Akibatnya, bukan tak jarang kekalahan melahirkan dendam kesumat yang terkuak dalam sikap dan perwajahan yang tak kunjung beraura cerah. Bahkan kekalahan tak jarang menimbulkan kreasi negatif untuk bisa menyemat sebutan lebih baik dari yang lain.

Ini paradigma dunia dan mungkin terlalu naif untuk dipermasalahkan. Ini tentang  pemanjaan ”killing insting” yang diyakini ada pada setiap manusia. Ini tentang dinamika hidup yang diyakini mati bila pertandingan ditiadakan. Ini tentang gairah yang memerlukan saluran pemuasnya. Sisi negatif dari pertandingan diyakini akan lenyap  dengan sendirinya walau pada kenyataannya hanya sedikit yang berhak menyemat kata ”juara” dan sisanya adalah kelompok mayoritas berstatus terkalahkan.

Tetapi pertandingan tetep terselenggara dengan peserta yang hampir sama jumlah pesertanya. Terkadang., di kemenangan yang terulang, banyak sang juara kemudian menyadari bahwa musuh terbesarnya ternyata bukan orang lain, tetapi adalah ”dirinya sendiri”.

Sesungguhnya ada yang terlupa, peserta lomba adalah manusia yang terlahir dengan keunikan dan talentanya masing-masing. Andai mereka di kolaborasikan menjadi  kombinasi akumulasi potensi, tak kan ada lagi yang merasa tersaingi, tak ada lagi yang merasa terkalahkan, tak ada lagi yang merasa terpinggirkan. Naluri membunuh akan berubah menjadi naluri saling asah, saling asih dan saling asuh.  Pada titik itu, manusia telah kembali ke fitrahnya...KAH???
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved