KOPERASI SEBAGAI IDIOLOGI YANG TERUKUR

Sabtu, 14 April 20122komentar


 
Disampaikan pada agenda Seminar Koperasi yang dilaksanakan KOPMA STAIN Purwokerto, Jawa Tengah, Indonesia, 14 April 2012

A.  Pembuka
 Sebagai sebuah ideologi (gagasan dan keyakinan sistematis), koperasi diyakini sebagai alat perjuangan untuk meningkatkan kesejahteraan berbasis kolektivitas (kebersamaan). Bahkan beberapa tokoh dan pakar koperasi memandang koperasi sebagai model dan sekaligus alat perjuangan efektif untuk melakukan koreksi bijak atas praktek kapitalisme yang menyebabkan kendali perekonomian  hanya pada beberapa kelompok saja.

Pada beberapa kajian ilmiah seperti diskusi, seminar atau lokakarya semua hapir berpandangan bahwa koperasi  berpeluang besar dan memiliki efektivitas tinggi menjadi sistem ekonomi  efekti bagi peningkatan kesejahteraan, pemerataan kesempatan dan sekaligus  membentuk keadilan ekonomi.


Kesimpulan ini di perkuat  oleh beberapa fakta  menarik di berbagai belahan dunia dimana koperasi berhasil memainkan peranan penting dalam sektor perekonomian negara. Disisi lain, di tetapkannya tahun 2012 sebagai tahun koperasi dunia oleh PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa) menjadi  penguat bahwa nilai-nilai dan praktek koperasi telah terbukti  kebenarannya,  kebermanfaatannya dan implikasi positifnya dalam membangun kehidupan yang lebih bermartabat. Hal ini diperkuat lagi dengan pemilihan thema Tahun Koperasi Dunia 2012 yang berbunyi : “cooperative’s entreprise build better world”.


B.  Membedah Defenisi Koperasi  
Sebelum lebih jauh membicarakan koperasi, berikut ini disajikan  defenisi koperasi hasil f kesepakatan ICA (International Cooperastive Alliance/ Alliansi koperasi dunia) di Manchester, Inggris, 1995: Koperasi adalah perkumpulan otonom dari orang-orang yang bersatu secara sukarela untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan aspirasi-aspirasi ekonomi, sosial & budaya bersama melalui perusahaan yang mereka miliki bersama & mereka kendalikan secara demokratis”.

Dari defenisi tersebut diatas, dapat  ditemukan jawaban  pertanyaan dasar tentang apa, mengapa dan bagaimana  seharusnya berkoperasi sebagaimana  dibedah secara singkat berikut ini : 
1.       Menjawab apa (what).  Koperasi adalah kumpulan otomom dari orang-orang yang bersatu secara sukarela.  Dalam hal ini yang  menjadi catatan penting adalah bergabungnya seseorang ke dalam koperasi dilandasi oleh kesadaran, sukarela dan keikhlasan serta tidak ada paksaan dari pihak manapun. Dengan demikian, koperasi adalah kumpulan orang-orang yang memiliki keyakinan yang sama dan memiliki keinginan kuat  membentuk kebermaknaan dari   kebersamaan. Hal ini juga bentuk koreksi bagi sebagian masyarakat  yang mungkin masih memahami koperasi sebagai “kumpulan modal” layaknya perusahaan-perusahaan non koperasi.
2.       Menjawab mengapa/untuk apa (why). Tujuan berkoperasi adalah untuk memenuhi aspirasi-aspirasi ekonomi, sosial dan budaya.  Untuk itu, apapun aktivitas yang akan di jalankan koperasi  haruslah mewakili kebutuhan mayoritas anggota berdasarkan stratifikasi yang disepakati dan disusun bersama.  Dengan demikian, koperasi hakekatnya merupakan media penyatuan kepentingan dari segenap pemiliknya (anggotanya).  
3.       Menjawab bagaimana (how). Dalam mencapai tujuannya, koperasi membangun perusahaan yang mereka miliki bersama dan mereka kendalikan secara demokratis. Untuk mencapai tujuan-tujuan diatas, maka koperasi perlu membangun perusahaan yang mereka miliki bersama dan dalam pengelolaannya memegang teguh pada nilai-nilai koperasi seperti keterbukaan, kesetiakawanan, saling tolong menolong, kepedulian sesama dan lain sebagainya. Dengan demikian,  nilai-nilai yang menjadi pedoman tersebut akan menjelma menjadi “pembeda yang nyata” dan  sekaligus  sebagai simbol kualitas  kebersamaan (kolektivitas) yang terbangun.


C.  Membangun Koperasi
Diberbagai belahan dunia, beberapa negara berhasil mewujudkan koperasi  tangguh dan bahkan mampu mempengaruhi kehidupan negara, khususnya dalam bidang  ekonomi, sosial dan budaya. Namun demikian, di negeri kita  kondisinya sepertinya agak berbeda. Ini bukan bermaksud merendahkan  bangsa sendiri, tetapi sebagai bagian dari cara membangun semangat pembuktian bahwa sesungguhnya kita bisa.  Namun demikian, hakekat membangun koperasi adalah untuk meningkatkan kesejahteraan bersama bukan untuk hebat dipandangan orang lain atau untuk tujuan mengalahkan siapapun. Berharap kita bisa sesungguhnya tidaklah berlebihan, apa lagi kultur asli indonesia memang lekat dengan kegotongroyongan dan hal ini merupakan  modal terpenting untuk menumbuhkembangkan kehidupan berkoperasi.


D.  Kampus Sebagai Media Strategis Untuk Memulai
Tri dharma perguruan tinggi terdiri dari pendidikan, penelitian dan pengabdian pada ,masyarakat. Kombinasi 3 (tiga) hal ini pula  yang telah menjadikan kampus dipercaya oleh masyarakat sebagai agen perubahan. Kampus yang dihuni oleh kaum intelektual memiliki kemampuan yang lebih dari cukup untuk memformulasikan sebjah perubahan.  Namun demikian,  ketika tanggungjawab sosial insan kampus melemah dan justru asik dengan diri sendiri, maka pada titik inilah berharap perubahan berawal dari kampus menjadi tak mungkin lagi.  

Ditengah lemahnya apresiasi masyarakat terhadap koperasi, ditengah minimnya fakta-fakta (baca: karya) nyata tentang kedigdayaan koperasi dalam membangunan tatanan kehidupan masyarakat yang lebih bermartabat, di tengah banyaknya koperasi yang berpraktek layaknya non koperasi, ditengah sepinya koperasi yang berjalan diatas konsepsinya sendiri, peranan kampus menjadi sangat strategis dan diharapkan mengambil tanggungjawab untuk memulai perubahan lewat ketauladanan berkarya. Untuk itu, selayaknya Kampus berinisiatif  membangun sebuah koperasi yang sesuai konsepsi JATI DIRI nya dan memiliki kebermanfaatan-kebermanfaatan yang nyata bagi segenap stake holder dan masyarakat luas pada umumnya.  Kalau itu benar-benar bisa di wujudkan oleh institusi kampus , maka apresiasi dan gairah masyarakat untuk menumbuhkembangkan koperasi akan tumbuh dan berkembang secara bertahap dan berkesinambungan.


E.  Keterukuran
Koperasi adalah sebuah ideologi yang mengabarkan dan menyemangati  kedahsyatan  kolektivitas (kebersamaan). Namun demikian, ideologi koperasi bukanlah cukup didiskusikan dalam tingkat wacana tetapi juga harus diikuti dengan praktek yang berujung pada kelahiran karya yang  mendatangkan kebermanfaatan bagi segenap stake holdernya.  Untuk itu, perlu dilakukan upaya-upaya pencapaian  yang terencana, sistematis dan terukur. Penjelasan ini pula penegas bahwa koperasi adalah ideologi komprehensif dan terpraktekkan sampai ke dataran realitas hidup.  

Dalam kajian ilmiah, kebersamaan (kolektivitas) adalah modal luar biasa dan strategis dalam membentuk  keberdayaan. Namun demikian,  dalam tinjauan lapangan, membangun kolektivitas  itu pula yang sering sulit diupayakan. Hal ini mungkin karena belum tertemukannya metode efektif dalam membentuk kesamaan persepsi dan ekspektasi terhadap koperasi itu sendiri.


F.  Mewujudkan Karya Sebentuk Koperasi  
Mewujudkan sebuah karya tidak lah  semudah membalikkan tangan, namun demikian itu bukan alasan memadamkan  mimpi dan keinginan untuk berkarya. Pepatah bijak mengatakan, “dimana ada kemauan di situ pasti ada jalan”.  Artinya, kemauan selalu diyakini menjadi sumber energi dan inspirasi. 

Demikian halnya koperasi yang dalam roh perjuangannya berbasis pada kolektivitas (kebersamaan).  Kebaikan-kebaikan yang terkandung dari sebuah kebersamaan sepatutnya menjadi alasan penguat dan sumber lipatan energi untuk terus menekuninya. 

Sebelum memasuki tahapan operasional, ada satu hal yang terlebih dahulu hadir di sebuah koperasi, yaitu “keyakinan kolektif”. Hal inilah yang pertama kali harus terbangun di segenap anggota koperasi. Jika tidak, maka kondisi ini  berpotensi menimbulkan konflik-konflik yang memforsir banyak energi dan menjauhkan koperasi dari hakekat  dan tujuan awalnya. Lebih baik tak melakukan apapun sebelum meyakini betul bahwa “keyakinan kolektif” itu benar-benar  terbangun secara massif. Satu hal yang memerlukan perhatian, koperasi adalah kumpulan orang yang masing-masing   memiliki masa lalu , sejarah perjalanan hidup dan karakter yang berbeda-beda. Untuk itulah, komunikasi yang intensif dan keterbukaan satu sama lain  sangat membantu bagi akselerasi keterbentukan apa yang disebut “keyakinan kolektif”.

Sementara itu, pada tingkat operasionalisasi sebuah koperasi dapat di golongkan menjadi 3 (tiga) tahapan berikut ini, yaitu :
1.       Segenap anggota koperasi duduk bersama untuk : (i) menyusun cita-cita bersama berdasarkan stratifikasi yang disepakati oleh mayoritas anggota; (ii) merumuskan distribusi peran efektif dalam mencapaianya.
2.       Sesi implementasi segala komitmen yang terbangun pada tahap pertama.
3.       Duduk bersama lagi untuk; (i) menilik pencapaian ; (ii) mengevaluasi konsistensi komitmen masing-masing anggota (auto koreksi berjama’ah) ; (iii) merancang mimpi berikutnya; (iv) distribusi peran efektif dalam pencapaian  mimpi baru yang telah didefenisikan secara bersama-sama dan; (v)  me-refresh spirit kolektif semua pemilik organisasi sebagai  modal untuk memasuki tahapan berikutnya.

Tahapan semacam inilah yang dinamakan kolektivitas dalam koperasi. Kebersamaan tidak hanya dalam proses penyusunan rancangan mimpi, tetapi juga dalam proses pencapaiannya. Dengan demikian, apapun hasil akhirnya dibaca sebagai hasil karya bersama (kolektif). Jadi, dalam koperasi tidak ada istilah keberhasilan atau kegagalan perorangan, karena koperasi adalah milik bersama. 


G.  Penutup
Demikian pemikiran sederhana tentang koperasi,  semoga mampu men-stimulan kesadaran dan lompatan kemauan untuk mewujudkan sebuah koperasi  tangguh yang menginspirasi lebih banyak orang untuk  mengkampanyekan kebaikan-kebaikan koperasi melalui keseimbangan orasi dan aksi. Aminn.
Share this article :

+ komentar + 2 komentar

15 April 2012 11.40

PAK SAYA MINTA IJIN AMBIL MATERI INI BUAT BAHAN TULISAN SAYA (JAELANI kOPERASI KOPMA STAIN PURWOKERTO)

15 April 2012 16.11

Silahkan Kang Jaelani....sepanjang untuk kebaikan....selamat menulis...

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved