KETIKA GADIS ITU MENGAMBIL PILIHAN “TAK WAJAR”

Selasa, 27 Maret 20121komentar


(Bagian 01)

Saat sibuk menyiapkan ragam data untuk pekerjaan kantor besok, tiba2 pintu rumah Mukzi diketuk dan terdengar ucapan salam.  Alaikum salam...jawab Mukzi dan kemudian  membukakan pintu serta mempersilahkan beberapa wanita itu untuk duduk. “Sebentar ya mbak...saya lagi ketanggungan” sela mukzi sambil kembali ke meja kerjanya untuk memberesin berkas-berkas yang masih berantakan. Sambil memberesin, Mukzi coba mengingat tentang satu wajah dari empat wanita yang datang bertamu malam itu. Benak mukzi merasa begitu akrab dengan salah satu wajah itu, tetapi dia belum berhasil mengingatnya sampai dia kembali ke ruang tamu untuk bergabung.


Seperti bisanya mukzi  menyapa setiap tamu dengan hangat dan bersahabat, namun saat yang sama memory  mukzi terus mencoba mencari dan mengingat  kembali dengan satu wajah ini. Sepertinya gadis ini mengerti kalau mukzi sedang melakukan pencarian di memorinya. Saya Dewi pak, sahut gadis itu. Oh iya..gimana kabar mbak dewi, sahut Mukzi sambil terus mencoba mencari. Kemudian dewi mengenalkan 3 (tiga) teman lainnya yang datang bersamanya.

Tak lama berselang, kebetulan istri mukzi datang dan baru pulang dari toko membeli keperluan sekolah anak-anak. Begitu mengucapkan salam dan masuk rumah, istri mukzi  langsung meyapa hangat,  Dewi pun  langsung menjelang istri mukzi untuk bersalaman dan kemudian diikuti oleh teman-teman dewi yang lain. “Gimana kabar Mbak Dewi ???”,  tanya istri mukzi dengan begitu hangat. Situasi ini ternyata tak mampu membantu mukzi  untuk mengingat tentang seorang Dewi. Akhirnya Mukzi jujur pada istrinya bahwa dia sedang mencoba mengingat-ingat. Istrinya coba mengingatkan mukzi bahwa beberapa tahun lalu Dewi pernah nginep di rumah ini. Kebetulan saat itu, salah satu saudara istri mukzi adalah sahabat Dewi.

Akhirnya mukzi menemukan ingatannya. Memory mukzi tertuju saat pertama kali bertemu  saat Dewi diutus  seorang rektor sebuah universitas dimana mukzi juga pernah berkuliah disana.  kemudian Mukzi langsung menanyakan seputar  kuliah dewi.

Kemudian Dewi menjawab; “Alhamdulillah Pak, kuliah saya sudah selesai dan baru saja wisuda beberapa hari lalu. Oleh karena itu, malam ini saya kemari untuk mengabarkan kelulusan saya sekaligus mau berpamitan pada bapak dan ibu. Besok saya mau meninggalkan purwokerto menuju kampung saya di Cianjur, Jawa Barat.”. Terus, rencana selanjutnya Mbak Dewi mau cari kerja atau mau wirausaha???, tanya istri mukzi. “Begini Bu, rencana saya mau pulang ke kampung  sekaligus ingin membangun desa. Disamping saya ingin dekat dengan Ibu saya (karena telah berpisah lama), saya ingin menerapkan ilmu yang sudah saya peroleh di bangku kuliah. Kebetulan saya tinggal dikampung transmigran di pinggiran Cianjur. Saatnya saya berterimakasih atas kebaikan Tuhan dengan mencurahkan ilmu saya untuk memajukan kampung saya. Saya melihat banyak potensi yang bisa dikembangkan, namun karena belum adanya sumber daya manusia yang mumpuni, saya fikir ini kesempatan saya untuk mencoba berbuat sesuatu” jawab Dewi dengan mimik  yang begitu serius dengan tekanan suara yang sangat dalam.
Mukzi tertegun dengan jawaban Dewi. Mukzi tak melihat sedikitpun keraguan anak ini untuk memulai mimpi besarnya. Mukzi terkagum ketika Dewi tak memilih layaknya kebanyakan sarjana yang biasanya memilih pergi ke kota-kota besar  mencari peruntungan hidup. “Ini benar-benar pilihan yang sangat tidak populer”, fikir mukzi. Namun demikian, semangat dan idealisme yang sangat jelas dalam nada setiap kalimat Dewi membuat mukzi begitu yakin bahwa suatu waktu nanti dia akan berhasil membangun desanya.

Mukzi masih ingat  saat pertama kali bertemu dimana Dewi menceritakan bahwa dia dan keluarganya pernah  transmigrasi di Aceh. Namun, karena kerusuhan di aceh (GAM) yang juga penyebab ayah tercintanya mengembuskan nafas terakhir, mereka harus meninggalkan semuanya dan kemudian lari ke Jakarta untuk menyelamatkan diri. Bahkan, sebelum akhirnya mereka di pindahkan oleh pemerintah lagi ke tempat transmigrasi baru (Cianjur, jawa Barat), mereka sempat terlunta-lunta dijakarta dan mengharap belas kasihan orang-orang untuk bisa bertahan hidup.
Pengalaman pahit itu telah menginspirasi lompatan energi bagi Dewi. Kesedihan dan tragedi Aceh yang terus membayangi hari-harinya  ikut menjadi pengobar semangatnya untuk menjadi seseorang di suatu waktu. Desa terpencil di Cianjur tempat ibu dan adiknya saat ini bermukim telah menyulut api mimpinya membangun  desa itu. Kobaran semangat hidup  ini memang sudah dilihat mukzi dari cara Dewi memperjuangkan kuliahnya yang hampir putus dengan bekerja sebagai pekerja part time  di sebuah swalayan di sekitar kampus.  Masih segar dalam ingatan mukzi, saat kuliahnya hampir putus yang dia lakukan bukan menengadahkan tangan untuk mendapatkan pertolongan atau belas kasihan dari orang lain, tetapi dia  berupaya mencari kerja  yang bisa menopang kelanjutan hidup dan kuliahnya.  

Sebentar lagi, Dewi akan pulang menuju kampung impiannya  dan memulai perjuangannya membangun kampung halaman berbekal semangat membara dan ilmu pengetahuan di bidang pertanian yang diperoleh saat dibangku kuliah.


Mukzi yakin dan sangat yakin...suatu waktu Dewi akan berhasil membangun desa nya tercinta. Mukzi kemudian menyemangati Dewi sebagai bentuk apresiasi dan kekaguman atas idealisme Dewi yang begitu kuat.  Kemudain Mukzi berpesan padanya; “ Mbak Dewi...saya sangat apresiate atas pilihan tidak popular yang diambil mbak dewi. Itu pilihan yang sangat mulia walau dalam perjalanannya pasti tak  mudah, tetapi konsistensi niat dan semangat  akan membimbing semua mimpi itu menjadi nyata. Sejarah membuktikan bahwa banyak penggubah dunia memulai mimpinya  dari sudut-sudut desa terpencil. Atas dasar itu, saya punya keyakinan kalau Mbak Dewi akan bisa melakukannya.  Disamping itu, segala yang datang dalam hidup manusia sesungguhnya adalah ketetapan Tuhan yang diinspirasi oleh konsitensi niat dan kesungguhan tindakan manusia itu sendiri. Oleh karena itu, saya yang juga masih tahap berjuang, berpesan untuk terus  “memperjuangkan mimpi” itu dengan selalu mengingat 5 (lima) hal ini: (1) Bangun dan jagalah selalu niat baik; (ii) bangunlah mimpi besar; (iii) optimalkan segala energi, talenta dan waktu yang dititipkan Tuhan; (iv) bangunlah  do’a yang tidak egois dan terakhir; (v) pasrah pada Sang Pencipta dan ikhlas dalam setiap ketetapan-Nya.”

Setelah meresapi pesan dan nasehat mukzi, kemudian Dewi dan kawan-kawannya mohon izin pamit. Sebelum berpamitan , Mukzi sempatkan meminta Dewi untuk berfhoto dengan istri mukzi sebagai kenang-kenangan. Sementara itu, Dewi pun menitipkan sebuah makalah yang ternyata deskripsi tentang desanya di Cianjur, Jawa Barat.

Dua jam kemudian saat menjelang tidur, istri mukzi tersenyum ketika melihat Dewi menyalin 5 (lima) pesan itu  di status facebooknya. “Dewi memang contoh sarjana yang luar biasa. Semoga akan banyak lagi  yang akan mengikuti jejaknya”,  ujar istri mukzi dan kemudian bergegas tidur.

Selamat jalan Dewi Supriyatin...selamat berjuang untuk sebuah mimpi mulia. Semoga Tuhan senantiasa berpihak atas rancangmu tentang sebuah desa nan indah. Aminnn...


-------------------------------semoga menginspirasi pembaca........................................

sampai ketemu di bagian 02....tentang Desa Transmigran Cianjur dimana Dewi akan merengkuh mimpinya...
Share this article :

+ komentar + 1 komentar

12 Desember 2012 14.49

sangat inspiratif kenlkan donk sama mba dewi

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved