APPLAUSE UNTUK KOGAT KEC.CILONGOK....

Senin, 30 Januari 20120 komentar


KOGAT demikian nama populer koperasi yang saat ini di huni oleh 310 orang berprofesi  guru SD se Kecamatan Cilongok, sebuah kecamatan di lingkungan Kab.Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia. KOGAT sendiri adalah singkatan dari Koperasi Guru Asistenan Tjilongok. Dari singkatan namanya, bisa dipastikan koperasi ini  berdiri saat ejaan lama masih berlaku di negeri ini.

Perjalanan koperasi ini cukup menarik untuk di ikuti. Setelah sempat jalan di tempat tahun 1980 sampai dengan 1988, pada tahun 1989 KOGAT mulai berbenah  dalam rangka membentuk  kebermanfaatan yang bisa dirasakan langsung oleh anggotanya. Dibawah kepemimpinan Pak Ghofur saat itu, langkah-langkah intensifikasi mulai dilakukan. Sebagai pimpinan yang dikenal luas sebagai orang yang jujur,sederhana, hangat serta memiliki gaya kepemimpinan spiritual, Pak Ghofur memulai perubahan dengan membangun “trust/kepercayaan” dan sekaligus “kolektivitas/kebersamaan”di seluruh unsur organisasi. Ragam pendekatan yang tak kenal lelah mulai menunjukkan hasil. Gairah berkoperasi mulai tumbuh bersamaan dengan kian meningkatnya kepercayaan anggota terhadap koperasinya. Dalam  



Pada Tahun ke-2, kebijakan tidak populer  ditawarkan kepada anggota, yaitu  tidak membagi SHU langsung kepada anggotanya. Akumulasi SHU di jadikan tabungan dengan harapan akan memperkuat permodalan koperasi yang berarti juga peningkatan kemampuan unit layanan utamanya, yaitu simpan pinjam. Setelah melalui penjelasan-penjelasan rasional lewat pola-pola yang edukatif, kebijakan tidak popular ini di setujui dan mulai di laksanakan. Lebih gila lagi, mereka mematok angka tabungan sebesar 10% dari setiap pinjaman anggota. Dalam perkembangan berikurtnya, semangat menabung ini kemudian di format ke dalam pola yang lebih dinamis dengan tetatp pada “pola tabungan berbasis transaksi”. Untuk memantapkan kesepakatn ini,  disusunlah keputusan  dalam RAT dimana margin (jasa yang dibayarkan atas pinjaman yang diberikan kepada anggota) di bagi menjadi 3 (tiga) bagian, yaitu; (a) 35% untuk pemupukan modal koperasi; (b) 35% dialokasikan sebagai jasa atas SHR (simpanan hari raya) yang dibayarkan tiap kali menjelang lebaran; (c) 30% untuk biaya-biaya di alokasikan untuk menopang operasional, biaya penyelenggaraan RAT dan lain sebagainya. Sisa alokasi dana operasional itu lah yang kemudian di defenisikan sebagai SHU. 
 
Satu hal yang menjadi catatan penting, tagline yang di kampanyekan adalah  “membudayakan menabung melalui pendekatan transaksi”. Artinya, proses menabung tidak dilakukan secara sengaja, tetapi disisipkan tiap kali anggota bertransaksi (meminjam).

Langkah ini betul-betul efektif dalam melipatgandakan modal yang bersumber dari tabungan anggota dan sekaligus mampu membentuk karakter hidup yang lebih terencana dari setiap individu anggota. Dalam konteks lebih luas, budaya menabung ini mampu menekan laju pertumbuhan “budaya konsumerisme”.  

Setelah pola ini berjalan lebih kurang 10 tahun,  secara organisasi KOGAT tumbuh menjadi  organisasi mandiri (membiayai kegiatannya sendiri). Bahkan, saat tulisan ini disajikan, KOGAT sedang memiliki idle cash (kas nganggur) lebih kurang Rp 600 juta, padahal permintaan pinjaman anggota telah terlayani seluruhnya. Dalam satu tahun ke depan, di proyeksikan  idle cash tumbuh menjadi  Rp 2M yang merupakan akumulasi pertumbuhan komitmen kolektif anggota dalam hal menabung.

Sebagai tambahan informasi, KOGAT juga menganut prinsip pelayanan 3S (senyum, sapa dan solusi)  dalam pelayanannya. Kekuatan komunikasi telah membentuk kerekatan sosial antar individu yang selanjutnya di drive menjadi “kekuatan kolektif”.  Kererkatan ini tak hanya pada pemenuhan transaksi, tetapi juga melebar pada sisi-sisi lain dari kehidupan dari komunitas ini. Misalnya dalam hal pengurusan perolehan sertifikasi guru, mereka saling membantu dalam penyiapan diri. Hebatnya lagi, setelah seorang anggota telah berhasil mendapat sertifikasi, ternyata berefek pada peningkatan naluri menabung. Tentu hal ini semakin meningkatkan akumulasi sumber daya di internal KOGAT.  Soliditas dan solidaritas yang tinggi di segenap unsur  organisasi KOGAT ini pun ternyata telah membuat pusing salah satu bank yang beroperasi di kecamatan itu. Bank tersebut sangat sulit untuk bisa meraih pangsa pasar dari para kaum guru SD untuk menjadi nasabahnya.       
Perlahan citra kualitas kolektivitas KOGAT kian membahana, sehingga hal ini menginspirasi banyak pihak untuk berkerja sama. Namun, koperasi ini tegas dan tidak mau di dikte oleh siapapun. Mereka hanya bekerja sama dengan pelaku bisnis yang menjunjung tinggi nilai kemandirian yang diusung oleh  KOGAT. Tak ayal, situasi ini membuat banyak pengusaha yang hanya bermotif memanfaatkan pangsa pasar terlokalisir ini (located market) berakhir dengan hanya gigit jari. Bahkan banyak pelaku bisnis yang mencoba menembus langsung ke anggota KOGAT, namun anggota cukup jeli dan tak mau melayani rayuan sebelum ada persetujuan dari para pengurus KOGAT. 

Dalam rancang berikutnya, saat ini KOGAT sedang berkomunikasi dengan salah satu Bank dalam hal aplikasi transaksi anggota KOGAT berbasis ATM. Dari kemitraan ini, KOGAT merencanakan semua transaksi menjadi lebih mudah bagi anggotanya. Untuk mendukung hal tersebut, saat ini KOGAT juga sedang merancang website, dimana semua anggotanya bisa mengakses saldo pinjaman atau saldo tabungannya masing-masing. Luar Biasa…itulah yang penulis rasakan ketika meninggalkan gedung KOGAT yang megah berlantai dua itu….  

Pelajaran menarik dari perjalanan mereka yang layak dicontoh adalah kemampuan membangun "spirit kolektif" dan men-drive nya ke dalam tindakan "menabung". Ini bukan pekerjaan mudah ditengah arus modernisasi yang menggiring setiap orang menjadi konsumtif. Menabung bukan hanya persoalan menitipkan uang, tetapi juga tentang disiplin dan mindset hidup. Melawan naluri konsumsi tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, tetapi mereka mampu mewujudkannya. Disatu sisi hidup mereka menjadi lebih bermakna, di sisi lain terbentuk akumulasi sumber daya kolektif yang membuka peluang bagi keterciptaan efisiensi kolektif. Artinya, terbudayakannya menabung dan menjadikan "life style" bukan hanya membuat mereka menjadi orang hemat, tetapi juga berpeluang meningkatkan pendapatan riilnya ketika akumulasi sumberdaya kolektif diarahkan pada pembentukan-pembentukan unit-unit layanan baru yang lahir berdasarkan skala prioritas kebutuhan mayoritas anggotanya. 
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved