MEMAKNAI & MEMBANGUN KOPERASI YANG BENAR

Selasa, 23 November 20100 komentar

 Disampaikan pada Diskusi Koperasi di PKPU Purwokerto, 16 Oktober 2010

Prolog
Memahami koperasi dalam arti sesungguhnya tak semudah mengucapkannya. Perlu kebijakan berfikir dan kesantunan bertindak. Oleh karena itu, pada tulisan ini saya  tidak membahas tentang usaha koperasi, tetapi lebih menekankan pemahaman koperasi.  Harapan saya, Anda terhindar dari praktek-praktek keliru yang menyesatkan diri anda dan juga banyak orang.

Kasus Nyata
Sejarah membuktikan, adanya mis-persepsi atas konsepsi koperasi menjadi penyumbang terbesar atas fakta banyaknya koperasi yang sulit berkembang. Memaknai koperasi sebagai badan usaha telah menjebakkan koperasi berjibaku untuk membangun  ragam usaha dan berharap pada laba (SHU) yang besar. Ironisnya, ragam usaha yang direncanakan tak kunjung teralisasi dan  SHU yang diimpikan entah kapan bisa menjadi nyata. Permodalan selalu biang keladi yang mengemuka, menjadi pembenar sekaligus permakluman atas ke-belum-berkembangan. Akhirnya, koperasi sering tinggal papan nama atau lebih tepat dikatakan ”hidup segan mati tak mau”.

Memahami Koperasi
Dalam bahasa yang mudah difahami, koperasi adalah kumpulan orang yang ”berkomitmen untuk hidup bersama”. Jadi kata kuncinya adalah ”berkomitmen hidup bersama”. Berbasis pada masalah-masalah, keinginan/cita-cita dan akumulasi potensi yang melekat pada masing-masing yang terlibat, mereka kemudian mendefenisikan tujuan-tujuan dan diakhiri dengan pembagian peran secara proporsional dalam mewujudkannya.

Mereferensi pembacaan diatas, operasionalisasi koperasi sesungguhnya hanya terdiri dari 3 (tiga) tahap yang terus berulang, yaitu; (i) duduk bersama mendefenisikan mimpi; (ii) berbagi peran dalam mencapainya dan; (iii) duduk bersama lagi untuk melakukan auto koreksi berjamaah guna untuk menilik pencapaian, mengevaluasi efektivitas partisipasi dan menata ulang mimpi berikutnya. Atas dasar itulah, koperasi tidak mengenal istilah keberhasilan atau kegagalan perorangan, tetapi apapun yang terjadi dalam koperasi difahami sebagai hasil/karya bersama. Inilah yang disebut dengan kolektivitas.

Berbicara kolektivitas, tentu bukan perkara sederhana. Perlu ada spirit dan keikhlasan untuk mengganti kata ”aku”,”kamu”,”dia”,”mereka” menjadi kata ”kita”. Oleh karena itu, sebelum anda membentuk koperasi, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memastikan bahwa segenap insan yang terlibat memiliki kesamaan pemahaman apa itu koperasi.  Dengan demikian, sejak pertama kali berdiri, segenap insan menyadari betul bahwa berkoperasi sesungguhnya identik dengan mengambil tanggungjawab. Kemanfaatan-kemanfaatan yang muncul kemudian harus dibaca sebagai ”imbas” dari kualitas spirit kolektivitas yang tercipta .  Jadi, kemanfaatan bukanlah sebuah tujuan, tetapi semata-mata imbas.

Ekualiti dalam koperasi
Koperasi adalah kumpulan orang yang berkedudukan sama. Koperasi tidak membedakan atau memandang orang dari latar belakang, gender,status sosial dan bahkan agama. Koperasi adalah organisasi yang terbuka pada siapapun sepanjang siap dan ikhlas untuk hidup bersama dan bergabung atas dasar suka rela. Koperasi bukanlah kumpulan modal dimana besaran modal akan menentukan seberapa besar pengaruhnya dalam proses pengambilan keputusan. Koperasi menjunjung tinggi ekualiti (kesamaan dan keseimbangan), oleh karena itu koperasi tidak mengenal istilah one share one vote tetapi one man one vote.

Usaha dalam Koperasi
Usaha/unit layanan dalam koperasi sesungguhnya adalah ”media” yang lahir atas keinginan kolektif  karena dirasakan sebagai kebutuhan bersama. Artinya, usaha apapun  yang kemudian lahir dan berkembang merupakan representasi kebutuhan anggotanya, bukan keinginan latah sebagian orang saja. Kalau proses ini yang berlangsung, maka usaha apapun yang  dilakukan koperasi bisa dipastikan tak akan pernah bangkrut atau mati sepanjang komitmen anggotanya terjaga dan terpelihara. Apapun bentuk dan ragam usaha yang dijalankan koperasi adalah sah-sah saja sepanjang memang didasarkan atas kemauan anggotanya dan tidak bertentangan dengan ketertiban umum, norma masyarakat dan peraturan-peraturan yang berlaku di negeri tercinta ini.

Istilah SHU (Sisa Hasil Usaha) Bukan Sekedar  Pembeda
Mayoritas masyarakat masih berpandangan bahwa SHU itu adalah laba sebagaimana yang kita kenal dalam bentuk usaha lain (PT,UD,CV dan lain-lain). Sekilas memang tampak sama, karena perhitungan SHU mendasarkan selisih antara pendapatan dengan biaya sebagaimana pada perhitungan laba rugi. Dalam spirit koperasi SHU bukanlah indikator keberhasilan, karena sesungguhnya indikator validitas keberhasilan berkoperasi dapat diukur dari apakah anggota bahagia atau tidak. Dengan demikian SHU tidak lebih hanya alat ukur yang menjelaskan tentang selisih antara pemasukan dan pengeluaran. Bahkan dalam bahasa ekstrim, SHU 0 (nol) pun tidak masalah sepanjang anggotanya benar-benar bahagia dan tidak mempermasalahkannya.    

Edukasi Kunci Berkoperasi
Membangun persepsi dan keyakinan sama bukanlah sesuatu yang mudah. Demikian halnya menjaga spirit kolektivitas dalam sebuah komunitas yang bernama koperasi. Ragam manusia identik dengan ragam pemikiran dan keinginan.  Oleh karena itu, edukasi yang kontinue dan berkesinambungan memegang peranan penting dan bahkan menjadi kunci utama dalam menjaga eksistensi dan dinamika koperasi. 

Penutup
Demikian tulisan singkat ini sebagai stimulan dalam mendiskusikan koperasi. Semoga bisa menginspirasi dan memperkuat gairah anda menekuni koperasi dalam arti sesungguhnya. Berkoperasi butuh pemahaman yang tepat, spirit yang benar, energi besar, kebijaksanaan berfikir dan kesantunan bertindak. Siap KAH???
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved