Rayuan cerdas kepada para orator brilian dan penguasa bijaksana

Kamis, 25 November 20100 komentar

Menjual Kemiskinan & Kemelaratan

Rayuan cerdas kepada para orator  brilian dan penguasa bijaksana


Pemicu….

Thema ini terinspirasi oleh rasa kagum dan hormat kepada para pakar dan pemerintah. “Kekayaan ide dan cara baca unik atas sesuatu”  yang dititipkan Tuhan pada  mereka terbukti telah mampu menghipnotis naluri dan alam bawah sadar banyak orang. Artinya dalam mengemban misi perubahan, keberadaan keduanya merupakan punya nilai strategis tinggi dalam mensukseskan sebuah isu perubahan.  Atas dasar itulah rasa kagum dan hormat saya tidak pernah berkesudahan.

Ketidakrelaan  dan degradasi rasa hormat dan bangga mulai mengemuka ketika  daya dukung positif hanya langkah  akomodatif politik ekonomi saja.  Bagaimanapun juga, keberpihakan penguasa berpengaruh besar dalam mempercepat pertumbuhan keyakinan dan kesadaran masyarakat akan kedahsyatan koperasi.  Dengan demikian, koperasi tidak hanya menjadi khayalan tingkat tinggi para pencinta sorga, juga tidak dijadikan “komoditas politik ”  untuk  para politisi dalam upaya mendulang dukungan dan bahkan jangan sampai menjadi “jualan” para orang pintar untuk meraih predikat ketokohan/kepakaran dalam bidang perkoperasian.

Oleh karena itu, andai cara saya mengungkapkan harapan dan kritikan  menimbulkan ketersinggungan dalam alinie-alinie  berikutnya, mohon dilihat dari niat  yang terlalu kuat untuk melahirkan koperasi yang bermartabat dimata pelaku ekonomi lainnya.  Mungkin saya terlalu bermimpi….tetapi hasrat begitu kuat untuk menjadikan semua ini menjadi mimpi bersama… 

Mencibir ???

Saya tidak bermaksud mencibir apa yang telah dilakukan para orator/tokoh yang hobby menyuarakan  koperasi dengan segudang lompatan logika yang mewarnai retorikanya. Secara jujur, saya juga banyak belajar dan terinspirasi untuk melakukan hal-hal positif bagi perkembangan koperasi.  Untuk mensterilkan fikiran,Saya jadikan “berfikiran positif  dan husnudzon”  sebagai  pilihan sikap yang tegas atas apa-apa yang mereka sampaikan  ketimbang terjebak dalam kecurigaan yang hanya memperkuat posisi syaitan dalam fikiran saya. Artinya, saya yakin mereka ikhlas dan punya keinginan kuat menyaksikan koperasi eksis dan berkibar di negeri tercinta ini.

Pemaparan wacana yang dilakukan oleh para orator brilian begitu atractive mampu menghipnotis semangat audiens. Namun demikian, semangat itu mulai runtuh secara perlahan dan pasti, tatkala perbenturan antara wacana dan realitas terjadi ditingkatan teknis. Akhirnya, sang pejuang koperasi kembali ke model lama yang stagnan.

Kegandrungan membicarakan koperasi dari perspektif makro telah menciptakan kemiskinan “wacana teknis implementasi ” yang dapat dijadikan panduan lapangan bagi para penggerak koperasi.  Sesungguhnya  semua yang mereka sampaikan mencerminkan “kecerdasan tak terbatas” yang melekat pada pribadi mereka dan bahkan telah berkontribusi nyata bagi penambahan tumpukan  arsip wacana perkoperasian di negeri ini. Ironisnya, koperasi tak kunjung berkibar. Apakah teknik pengemasan wacana yang tidak mampu membangkitkan gairah implementasi, ataukah memang sang orator hanya tertarik membahas alur fikir dalam perspektif makro, atau karena keterbatasan  sang orator  dalam hal tingkat empiris/pengalaman teknis, ataukah  sang penerima wacana yang kurang tekun dalam belajar dan memahami alur fikir sang orator.

Adalah sebuah kerinduan yang tak kunjung terobati atas ketersediaan “pemikiran  komprehensif (hulu sampai hilir)” yang memuat langkah-langkah konkrit bagaimana seharusnya koperasi lahir, berdiri,berjalan  dan berlari sebagaimana yang mereka gambarkan dalam tingkat wacana.
Disamping “pemikiran komprehensif” berfungsi sebagai panduan teknis, juga  berfungsi untuk me-minimize terjadinya deviasi konsepsi ditingkat implementasi.  Dengan demikian, uang yang dikeluarkan (baik uang negara maupun  berasal dari orang-orang yang pengen ke sorga) untuk menghadirkan para pakar tersebut dalam berbagai acara ilmiah  (seminar/lokakarya) akan lebih bermakna dan dapat dipertanggungjawabkan secara horizontal maupun vertikal. Kalau demikian adanya, maka pembicaraan koperasi tidak hanya menarik dibicarakan dalam ruang-ruang ilmiah yang dilengkapi dengan prasarana yang megah, tetapi juga menjadi kajian yang menarik dimeja makan tiap keluarga di negeri ini dan bahkan di warung kopi .

Pertanyaan-pertanyaan yang  bergemuruh dalam  fikiran saya sebagai bentuk reaksi dari miskinnya panduan-panduan teknis implementasi semata-mata  atas  dorongan mimpi dan keinginan kuat dalam memajukan koperasi.  Kalaupun sang orator menjadi tersinggung dengan pertanyan itu, setidaknya itu cara baca/awalan  yang baik untuk  diubah menjadi ketersinggungan positif. Dengan demikian, apa yang menjadi impian saya dan semoga juga impian kebanyakan para penggerak koperasi, akan terwujud.   Andai terlahir “ tulisan ilmiah” yang mencoba mengupas koperasi mulai dari rasionalitas konsepsi, relevansi dalam perspektif hidup kekinian dan langkah taktis dalam mewujudkannya, saya bisa bayangkan betapa bahagianya insan bangsa ini hidup  tenang dan damai dalam kesejahteraan.  Bahkan insan bangsa ini akan mempunyai kesiapan yang lebih untuk kehidupan dizaman berikutnya. Sejauh itukah ???. Jawabnya Ya ketika anda  melihatnya dari “perspektif  nurani”

Namun demikian, sejujurnya saya pun khawatir reaksi  sang orator atas pertanyaan–pertanyaan tersebut adalah salah satu, sebagian dan atau seluruhnya dari 3 (tiga) kekahawatiran saya berikut ini:
1.    Mereka mengatakan bahwa implementasi fikiran-fikiran cerdas yang mereka wacanakan bukanlah wilayah yang menarik untuk dibicarakan. Artinya, ide-ide cerdas itu lahir hanya sebagai bentuk pertanggungjawaban ilmiah terhadap kehadiran mereka dalam satu acara dan  upaya mempertahankan  predikat ketokohan yang ada pada mereka. Atau lebih buruk lagi
2.    Mereka menjawab bahwa urusan implementasi adalah bukan space/wilayah yang menarik untuk dilakukan sebab selain  membutuhkan keringat banyak juga memerlukan  waktu  panjang. Artinya, mengimplementasikan ide  cerdas itu juga memberi hasil/keuntungan pribadi yang terlalu lama dan tidak semenarik ketika mereka menjadi pembicara dalam satu seminar. Yang lebih parah lagi adalah ketika mereka memberi jawaban
3.    urusan implementasi bukan urusan mereka. Ketokohan mereka cukup dipertahankan hanya pada tingkat kekayaan berwacana saja.  

Namun bathin saya berharap kekhawatiran itu tidak terbukti sebagian dan atau seluruhnya. Namun demikian, andai  satupun dari jawaban itu terlontar, berati  saya baru menemukan orang yang pantas memperoleh predikat  “ kecerdasan tak sempurna”.

Alur fikir  ini bukan berarti mendeklarasikan diri bahwa apa yang saya lakukan adalah yang paling benar. Tetapi hanya ingin membangun kesimpulan yang sama bahwa permasalahan koperasi tidak cukup dibicarakan pada tingkat wacana di meja-meja ilmiah dan atau di ruang-ruang ber AC. Terlalu sulit membayangkan bagaimana “ide cerdas dan aplicable” tentang kemiskinan dapat dihasilkan dari meja yang dipenuhi makanan berkolesterol tinggi dan atau jenis makanan yang bernilai gengsi tinggi. Saya tertarik dan salut tentang upaya “Demi More” mensukseskan perannya dalam film “Streptese” dengan cara nimbrung pada kehidupan malam yang dipenuhi para penari streaptese. Mungkin Demi more terlalu sentimentil, tetapi ilangkah itulah yang membuat kesuksesan dia memerankan seorang streaptease.

Pengangkatan thema ini tidak dimaksudkan untuk memancing kebencian para pakar konsep terhadap saya dan atau membawa sang pakar untuk jengkel pada diri nya  sendiri. Tulisan ini adalah bentuk rayuan cerdas untuk memotivasi dan menstimulan sang pakar  menciptakan karya yang lebih membumi sehingga lebih mudah dicerna para pengelola koperasi yang mayoritas  mempunyai keterbatasan dalam memaknai bahasa ilmiah yang penuh dengan lompatan logika.

Saya tidak sepakat bahwa permasalahan teknis koperasi seperti mengurai benang kusut.  Cara fikir itu hanya melemahkan semangat kita untuk  pembuktikan keampuhan konsepsi koperasi. Saya pun tidak menafikkan bahwa wacana yang dipaparkan oleh para pakar  telah membantu  para pelaku koperasi lainnya dalam berinspirasi untuk memodifikasi teknis pengelolaan sebuah koperasi. Saya pun menyadari betapa besar dan diperlukannya kepiawian para pakar dalam mengembangkan wacana koperasi.   Namun apa salahnya memberi masukan agar  wacana-wacana yang mengemuka  mampu  membangun kesadaran dan sekaligus keyakinan  tentang kedahsyatan koperasi. Dengan fomat yang lebih bergairah pasti akan mampu menstimulan rakyat, minimal pada tingkat penasaran. dan selanjutnya menciptakan gairah  untuk  melihat koperasi dari sisi yang berbeda. Semoga harapan ini bukan semata-mata impian yang tak berujung.

Pesan Buat Penguasa Yang Bijaksana

Tergerak hati untuk mengajak pemerintah, pemimpin opini koperasi dan pakar praktisi untuk duduk dalam satu meja tanpa sajian makanan berselera,taplak meja & vas bunga yang mewah untuk bersama-sama melihat secara jujur dan obyektif  “kebenaran konsepsi koperasi“ dan “rasionalitasnya menjadi  salah satu pilar ekonomi bangsa”.   Andai kesimpulan akhir adalah  tidak mungkin/terlalu utopis,   maka adalah sebuah alasan yang tidak terbantahkan  untuk menghilangkan  kebijakan dan keberpihakan pemerintah terhadao upaya-upaya membangun dan memperceoat akselerasi pertumbuhan dan perkembangan koperasi.  Tetapi, andai kesimpulannya adalah “benar dan layak”, tidak ada alasan bagi negara untuk membiarkan “ketidakberdayaan” ini berlangsung lebih lama lagi. Langkah-langkah  sosialisasi dan intervensi harus segera dilakukan dengan format yang lebih layak dan lebih menjamin terciptanya sebuah kondisi yang kondusif. Namun demikian,  langkah-langkah yang dilakukan pemerintah juga harus bisa dipastikan  tidak akan menciptakan ketergantungan, tetapi menjadi bola salju kemandirian di kalangan koperasi.  Dengan demikian pada satu titik tertentu, segala bentuk intervensi  pemerintah terhadap koperasi harus dikurangi secara bertahap dan selanjutnya dibiarkan maju,berkembang atau mati secara alamiah.

Adanya kesinkronan dan keseimbangan antara wacana dan panduan teknis diyakini sebagai strategi yang ampuh membangun koperasi yang tangguh. Dengan demikian  “kemiskinan & kemelaratan” tidak akan pernah menjadi thema yang akan menguntungkan orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Andaipun ada yang kebagian roti dari proses pengentasan kemiskinan & kemelaratan itu, setidaknya diikuti dengan pertanggungjawaban horizontal maupun vertikal. Sebuah kondisi yang begitu sejuk untuk dirasakan dan juga diceritakan. 

Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved