Menilik “Sejarah” untuk hidup selamanya

Kamis, 25 November 20100 komentar

Untuk hidup selamanya, ada baiknya menemukan jawaban mendasar mengapa seseorang mau berkoperasi. Kontemplasi panjang terhadap pertanyaan ini menginspirasi 2 (dua) alasan logis yaitu; (a) adanya kesadaran akan keterbatasan untuk bergerak sedirian dan ; (b) adanya keyakinan bersama akan menjadi kuat. 2 (dua) alasan ini juga mampu mewakili pendapat pragmatis  yang menjudgment keanggotaannya dikoperasi dilatarbelakangi “agar bisa hutang”. 


Andai 2 (dua) alasan ini terbentuk lewat proses bottom-up, maka menumbuhkembangkan kesadaran kolektif adalah sesuatu yang sangat mungkin. Dengan demikian, aktivitas apapun yang akan dilakukan oleh koperasi (organisasi maupun usaha) pasti bersumber dari proses pemilihan aktivitas yang bottom-up.  Dampaknya kemudian, bisa dipastikan aktivitas koperasi akan senantiasa mendapat dukungan penuh dari seluruh organisasi.  Hal ini disebabkan adanya kesadaran kolektif akan implikasi sebuah aktivitas terhadap kepentingan/ketercapaian tujuan masing-masing orang yang tergabung didalam koperasi. Kalau kondisi dan semangat ini  yang menjadi budaya, maka adakah peluang “kematian” bagi koperasi ???.

Untuk menemukan jawaban dan sekaligus membangun keyakinan atas jawaban itu sendiri, maka ada baiknya kita menilik awal mula lahirnya sebuah usaha, khususnya dari perspektif kewirausahaan.

Salah satu trik dalam menciptakan  usaha yang berpeluang mapan adalah “menjual  apa yang dibutuhkan”.  Dengan demikian, peluang untuk mendapat respon dari yang membutuhkan senantiasa terbuka dan hal ini berarti perusahaan berpeluang  tetap survive dan terus berkembang. Sementara itu, untuk mempetahankan hidupnya, manusia tidak lepas dari keharusan dan kemampuan untuk mencukupi kebutuhannya. Artinya, setiap manusia  memiliki kebutuhan baik bersifat materil (misalnya sandang,pangan dan papan) maupun immateril (misalnya hiburan, pendidikan dsb). Kalau kemudian kita memaknai koperasi adalah kumpulan orang, maka koperasi juga adalah kumpulan kebutuhan. Kalau kemudian kebutuhan adalah peluang, maka keberadaan koperasi identik dengan peluang. Dengan kata lain, koperasi merupakan perusahaan masa depan karena dihuni oleh orang-orang yang memiliki kebutuhan dan dibungkus dalam status kepemilikan. Dalam istilah pemasaran modern biasa disebut pasar terorganisir. Bukankah menciptakan “pasar terorganisir” adalah mimpi para manager pemasaran modern berkelas dunia.

Ketika koperasi konsisten dengan kesejarahannya sendiri, maka “pasar terorganisir” bukanlah hanya benar pada tingkat lompatan berfikir saja, tetapi juga pada kondisi senayatanya. Dengan demikian, adalah sesuatu yang tak terbantahkan untuk berkesimpulan bahwa koperasi adalah perusahaan masa depan. Bahkan, ketika semua koperasi yang berjalan diatas sejarahnya melakukan merger (secara parsial), maka koperasi adalah ancaman serius bagi pelaku ekonomi lainnya. Satu hal yang perlu menjadi perhatian, ketika proses pembentukan kolektivitas koperasi ini terjadi secara alamiah, maka  tidak ada satupun yang akan bisa menghambat laju kedigdayaan koperasi.

Tidak  perlu mencari siapa yang salah atas kondisi mayoritas koperasi saat ini, koperasi hanya besar  bila diawali adanya kemauan untuk maju dan mandiri.  Berpangku tangan dan berharap bantuan pemerintah adalah pilihan sikap terburuk. Bagi pemerintah, memberi bantuan adalah pahala, namun bagi penerima bantuan yang memiliki “cara baca penerimaan” salah  adalah bantuan adalah potensi bencana.  

“Berangkat dari hal kecil dan kemudian beranjak naik lewat proses sistematik” lebih berpengharapan ketimbang tiba-tiba besar dan menderita selamanya.  Keterbatasan  difahami  sebagai proses dan  kemudian dijadikan penyemangat untuk menciptakan kondisi yang lebih baik.  Jangan pernah tergoda untuk melakukan langkah apapun yang sekiranya akan membuat koperasi meniggalkan sejarahnya. Sebab hal itu akan menjauhkan koperasi dari  garis  pembentukan “pasar terorganisir” yang menjanjikan kebahagiaan hidup selamanya
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved