Keluarga Besar dr Soeko Marsetiyo Menguatkan Ke-relaan di Hari Ke-40

Minggu, 03 November 20190 komentar


Keluarga Besar dr Soeko Marsetiyo Menguatkan Ke-relaan 
di Hari Ke-40



Kamis,31 Okt 2019. Ba’da isya, sebagian besar jama’ah sholat Isya di masjid memilih tidak pulang ke rumah dan langsung menuju tempat pelaksanaan tahlil yang hanya berjarak sekitar 25 meter.  Pelaksanaan tahlil ini dalam rangka meninggalnya dr. Soeko yang sudah memasuki hari ke-40. Acara ini bertempat di salah satu rumah kakak almarhum, tepatnya di krapyak, Semarang.  Satu per satu tamu undangan, tetangga dan juga anggota kelompok pengajian para ibu pun menyusul hadir dan bergabung. Setelah dirasa hampir semua sudah  hadir, sang pemimpin tahlil pun memohon izin pada tuan rumah untuk memulai.



Dalam pengantarnya, Sang Pemimpin tahlil malam itu memberikan beberapa nasehat yang sangat menyentuh, baik bagi yang hadir maupun tuan rumah dan segenap keluarga. “Hari ini kita duduk disini dan secara berjama’ah akan membacakan Surat Yasin yang akan dilanjutkan dengan kalimat-kalimat Toyyibah yang kita khususkan untuk Almarhum dr. Soeko Marsetiyo yang sudah lebih dulu dipanggil Sang Khaliq. Kepergian almarhum mengingatkan kita pada satu ketetapan Allah SWT tentang ajal yang apabila tiba waktunya tidak bisa dimajukan atau ditundakan untuk sesaat pun. Oleh karena itu, setiap dari kita perlu senantiasa meningkatkan ketaqwaan dan meluaskan amalan agar memiliki bekal yang baik saat giliran kita tiba waktunya. Kepergian almarhum juga mengingatkan kita semua pada satu pepatah yang  mengatakan “gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang dan manusia mati meninggalkan nama”. Almarhum dr.Soeko Marsetiyo meninggal saat sedang menjalankan tugas negara nan mulia, yaitu  tugas kemanusiaan sebagai dokter di Tolikara, wamena, Papua. Kepergian almarhum merupakan sebuah akhir jejak hidup yang sangat inspiratif dan semoga Allah SWT menempatkannya di sisi yang mulia. Hal ini juga menjadi kebanggaan bagi anak dan keluarga besar alamarhum  dan juga meng-inspirasi begitu banyak orang. Semoga  hal ini juga akan membangunkan dan menguatkan kerelaan dan keikhlasan anak, istri dan keluarga besar alamarhum atas semua hal yang terjadi. Semoga kita semua yang hadir disini dan masih diberi Allah SWT kesempatan hidup  juga diberikan kesempatan luas dan kemudahahan dalam melakukan hal-hal mulia yang menandaskan kita sebagai hamba yang selalu menjunjung tinggi semangat ber-ibadah dalam arti seluas-luasnya dan mendatangkan manfaat bagi banyak orang”, demikian prolog Sang Pemimpin tahlilan yang keseharian beliau adalah seorang dosen di Kampus UIN Walisongo, Semarang.



Dr. Soeko Marsetiyo telah pergi untuk selamanya dengan label korban kerusuhan di Wamena, Papua. Tuhan sudah men-cukupkan masa edar dan juga rezekinya di dunia untuk kemudian kembali kepada Sang Empunya Hidup. Kepergian beliau tidak saja membuat shock keluarga, tetapi juga mengundang simpati dari begitu banyak pihak, mulai dari kampus Undip tempat beliau menuntaskan study di fakultas kedokteran, Kampus Univ Cenderawasih Papua, IDI (Ikatan Dokter Indonesia), Pemkab Wamena, Pemprov Papua, Pemerintah RI, Komunitas RAPI (Radio Antar Penduduk Indonesia) Yogyakarta dan lain sebagainya yang tidak mungkin disebutkan satu persatu. Masyarakat Tolikara tempat beliau mengabdi sebagai dokter pun  merasa begitu kehilangan karena semasa hidupnya almarhum begitu dekat dan sangat perhatian, terutama dalam urusan kesehatan. Banyaknya respon dari berbagai pihak menandaskan apresiasi atas segala hal yang telah dilakukan almarhum, khususnya dalam mengabdi pada kemanusiaan lewat profesinya sebagai seorang dokter. 



Keluarga pun bertekad untuk tidak meratapi dan terus menerus larut dalam kesedihan yang  seolah tidak mengakui kalam Tuhan yang menjelaskan dari mana manusia berasal dan akan kembali. Mengingat pernah hidup dan tumbuh bersama, kebiasaan-kebiasaannya, caranya tersenyum dan tertawa, gaya tenangnya dalam memakna diamika hidup, keunikannya men-tafsir kesempatan hidup, bhaktinya kepada orang tua, sayangnya terhadap saudara, cintanya terhadap keluarga dan komitmennya terhadap persoalan kemanusiaan, menjadi serangkaian bahan penyejuk hati kala sabar seperti akan menyentuh batasnya.



Meng-hardik kenyataan tak pernah merubah keadaan, sebab menghardik  hanya memberi asupan energy syaitan untuk semakin bergelayut dan menjauhkan diri dari Tuhan. Mempersalahkan pilihan almarhum semasa hidupnya untuk tinggal dan mengabdi di Tolikara atas nama kemanusiaan pun tidak-lah bijak, sebab itu sama saja menyudutkan semua hal baik yang sudah dilakukannya. Menyambangi para peng-khilaf yang telah menghilangkan nyawa almarhum dan kemudian meng-ekepresikan amarahpun tak elok, karena hal itu hanya mengulangi keburukan serupa.   



Hari ini, di hari ke-40 kepergian almarhum, keluarga besar dr. Soeko Marsetiyo menguatkan ikhlas dan kerelaan. Memaknainya sebagai ketetapan Tuhan yang terbaik bagi almarhum lebih menentramkan dan mendekatkan diri pada Sang Khalik. Lafal Yassin dan kalimat-kalimat toyyibah itu benar-benar menguatkan kesabaran,ketabahan dan kerelaan yang dengan susah payah dibangun dan disusun hingga berbuah ketegaran. Senyum ramah para pen-tahlil disaat hadir dan berpamitan seolah berpesan untuk menjadikan kemuliaan dan kebaikan alamarhum sebagai penguat tekad untuk bangkit dan tidak berhenti melakukan dan menciptakan kebaikan-kebaikan baru berbekal kesempatan hidup yang masih diberikan Tuhan.



Saatnya mencukupkan airmata dan menemukan kekuatan untuk melangkah. Saatnya berfikir ke depan melanjutkan hidup dan sekaligus mengukir jejak inspiratif sebagaimana yang telah ditorehkan almarhum. Saatnya keluarga besar mempertebal keyakinan dan semangat istri dan anak-anak almarhum untuk melanjutkan hidup berbekal semangat berbuat baik yang pernah dicontohkan.  Membangkitkan keyakinan akan kasih sayang Tuhan yang selalu memberi jalan dari setiap kesulitan terus diperdengarkan.



Secara kasat mata dr.Soeko Marsetiyo  sudah tiada, namun semangat dan gairah juangnya untuk kemanusiaan akan senantiasa hidup dan hadir dalam diri keluarga, istri dan khususnya anak-anaknya. Kenangan itu mungkin tidak bisa hilang dalam memory istri dan anak-anaknya, namun meng-hikmah lebih dipilih ketimbang melanggengkan kekecewaan dan amarah. Dengan demikian, arah fikir bukan bernada berontak “kok bisa begini” dan juga arah rasa bukan pada satu tanya“mengapa harus ayahku”, tetapi menjadikan semua kebaikan dan semangat juang yang ditauladankankan almarhum sebagai sumber energy yang tidak berkesudahan dalam membangun jejak hidup yang baik dihadapan Tuhan dan layak dikenang karena meng-inspirasi bagi banyak orang. Kiriman do’a pun tak akan pernah luput setiap kali mengingat dan atau sedang berdiri atau sujut digelaran sajadah.    



Alhamdulillah, ada perasaan bahagia yang amat sangat keesokan harinya saat mendapati layar kaca TV memperlihatkan 1000-an lebih orang pengungsi kembali ke wamena untuk melanjutkan hidupnya. Hal ini menandaskan keadaan disana sudah kondusif dan kehidupan telah normal berjalan kembali. Semoga tidak ada celah bagi siapapun yang ingin menorehkan jejak buruk di Wamena, sebab damai itu menentramkan dan senyum itu meng-energi siapapun untuk merangkai kebaikan yang sekaligus menandaskan indahnya kebersamaan dan hidup berdampingan dikeberagaman. Saatnya anak-anak merasa merdeka kembali untuk bermain di halaman rumah dan tumbuh dalam kenormalan dengan jejak memory indah di Wamena. Saatnya orang tua tidak perlu lagi khawatir sehingga bisa konsentrasi penuh membangun ekonomi keluarga demi kecerahan masa depan anak-anaknya.  





Krapyak, Semarang, 31 Oktober 2019

Salam Cinta Damai Untuk Wamena

Keluarga Besar (alm) dr. Soeko Marsetiyo


baca juga di "klik disini"
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved