MENAKAR “KETAMAKAN” SEORANG JULIUS SETYA KESUMA

Senin, 11 Februari 20190 komentar

MENAKAR “KETAMAKAN” SEORANG JULIUS SETYA KESUMA

Saya tidak bisa menakar tingkat kreativitas kawan yang satu ini. Lelaki ganteng yang biasa tak panggil dengan sapaan Om Julius ini seperti tak pernah kehabisan ide. Keluar dari salah satu bank ternama di tanah air merupakan satu keputusan berani atau bahkan lebih tepat dikatakan nekad. Atas keputusan itu, tentu ada “segepok kenikmatan” ditanggalkan dengan penuh kesadaran, yaitu salary bulanan berikut bonus kinerja yang  jumlahnya tentu tidak sedikit dan pasti membuat ngiler kelompok penghamba salary. Keputusan ini mungkin terkesan kurang populer. Tetapi Om Julius memang memilih berbeda dan memiliki perspektif sendiri tentang hal itu.  

asyiknya akhir bulan ini merdeka dari tekanan target”, demikian inti update statusnya di salah satu akun medsosnya beberapa bulan sesudah memutuskan resign dari tempat kerja. Status ini setidaknya mengkisahkan tentang indahnya sebuah kemerdekaan. Hal ini  mungkin berbeda ketika beliau masih bekerja dimana tekanan akhir bulan kerab menghimpit kenyamanan hidup dan bahkan tak jarang  berasa seperti kiamat kecil kala capaian kinerja sedang tidak berpihak seperti keinginan sang bos.  Apakah Om Julius hari ini hidup tanpa tekanan hidup?

Hidup adalah tentang perjalanan yang belum terpetakan dan manusia sesungguhnya selalu diajarkan oleh alam untuk bisa nyaman diketidakpastian. Alasannya sederhana saja, karena satu detik sesudah saat ini sesungguhnya prerogatif Sang Khalik. Ahli klimatologi pun hanya berani memberi judul “Prakiraan Cuaca” dalam men-simpulkan apakah esok hari hujan, berawan atau terang. Sikap ini menandaskan pengakuan bahwa diatas kecanggihan ilmu pengetahuan masih ada Tuhan sebagai Sang Penentu.  Sepertinya Om Julius begitu memahami tentang hal ini. Kenyamanan terletak pada ketidaknyamanan itu sendiri dan kepastian terletak pada ketidakpastian itu sendiri. Kalau demikian adanya, menjadi diri sendiri sepertinya lebih menarik bagi Om Julius untuk digeluti ketimbang menyerahkan masa depan dengan bersandar atau mengabdi pada corporate besar sekalipun. Tampaknya, hal ini  yang mendasarinya Om Julius memilih untuk menggeluti profesi mulia yang disebut wirausaha atau biasa diistilahkan dengan Entrepreneur.

Laundry sepatu” menjadi rintisan pertama yang dilakukannya. “ Ini sebentuk pilihan cerdas nan brilian dalam memilih segmen market”, fikirku saat mengantarkan lelaki barepku me-laundry sepatu kesayangannnya. Bisa dipastikan segmen yang digarap dari usaha ini adalah konsumen yang cenderung tidak begitu reseh dengan harga tetapi peduli kualitas. Tak lama berselang, Om Julius  sudah mendirikan usaha  baru lagi yaitu potong rambut berlabel “WKWK Barber Shop”. Unik, nyaman, keren, gaul dan kekinian merupakan kesan yang menonjol saat masuk ke dalam ruang layanan memperganteng diri ini. “Ini kreativitas tingkat tinggi”, simpulku sambil membiarkan sang tukang cukur wkwk barber shop berkreasi atas rambutku yang cenderung keriwil bila sedikit panjang. 

Beberapa malam lalu, Om Julius mengirim WA padaku berisi satu poster promosi   seminar motivasi bertajuk “cara cerdas melek finansial”. Sepertinya Om Julius tengah menggeluti usaha EO (Event Organizer), fikirku sambil membaca isi poster itu. Dugaanku itu pun terkonfirmasi saat kemarin sore kami jagongan di WA (Wedangan Asyik) untuk membincang satu potensi bisnis yang mungkin di sinergikan. “Sepertinya Om Julius terjebak apa yang disebut ketamakan ide, semoga bukan ketamakan ekonomi”, selorohku kepadanya disambut senyum Om Julius dan tawa lepas Om Andin. “Bisa jadi memang begitu mas”, respon spontan Om Budi, lelaki yang kukenal sebagai salah satu laskar Zona Bombong . “kita lihat saja 3 (tiga) bulan ke depan, Jika  segala  sesuatunya dikerjakan sendiri oleh Om Julius dan tidak mendelegasikan pekerjaan itu kepada karyawan, maka hypotesis om Budi benar kalau ini memang tentang ketamakan ekonomi”, tambahku disambut tawa mereka.  

Saat akan berpamitan menjelang maghrib, lagi-lagi kejelian dan ketajaman insting Om Julius muncul. Tiba-tiba saja beliau memperlihatkan satu produk herbal dan memintaku untuk memberi sepatah dua kata semacam endorse atas produk itu. terfikir fikir ini peluang ibadah yang menarik dan seketika diriku mengamini permintaan Om Julius. Dengan sigap sang entrepreneur super kreatif itu pun merekam dengan video smart phone nya.    

Satu hal yang bisa  penulis pastikan bahwa sampai detik ini sederetan kreativitas tanpa batas  dari Om Julius Setya Kusuma itu bukanlah persoalan ketamakan ekonomi. Penulis mengenal beliau sejak beberapa tahun lalu saat bersama para sahabat karibnya yang tengah asik dengan ragam aksi sosial bernada kepedulian dan begitu concern pada persoalan kemanusiaan  yang terhimpun dalam lingkar “Zona bombong”. Konsistensinya dalam urusan mengaji dan keakrabannya  dengan Pondok Pesantren Langgongsari Cilongok yang diasuh oleh Gus Abror, menggambarkan Om Julius memiliki mimpi besar dalam membangun masyarakat dengan cara-cara kreatif.

Simpulannya, kreativitas produktif yang terus dikembangkan Om Julius dan juga kawan-kawan hebatnya bukan saja tentang berapa keuntungan yang akan mereka raup, tetapi lebih menekankan dan mengutamakan pada seberapa banyak orang yang bisa hidup dari setiap ide kreatif yang dikembangkan. Yang jelas, segala hal keren yang dilakukan Om Julius bersama kompatriotnya merupakan satu bentuk edukasi kreatif bernada ketauladanan nyata yang sangat inspiratif.  



Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved