2 (dua) Pilihan Jalan Untuk Menikah

Kamis, 22 Februari 20180 komentar


2 (dua) Pilihan Jalan Untuk Menikah

Prolog
Terinspirasi menulis tentang pernikahan usai chatting dengan salah satu junior yang belum menikah. “meng-inspirasi kebaikan” menjadi semangat dalam membiarkan jemari ini menari di papan keybord komputer membentuk satu kalimat ke kalimat berikutnya. Secara tegas, tulisan ini tidak diperuntukkan bagi mereka yang mau menikah lagi (dalam artian nambah), tetapi khusus bagi mereka yang baru pertama kali akan menikah. Ngomong-ngomong, kenapa harus menulis tentang pernikahan?.

Entahlah, namun banyaknya para junior yang membincang pernikahan di lingkungan aktivis telah menjadi pemicunya. Ada yang mau nikah namun sedang mencari jalan tengah atas perbedaan agama, ada yang sedang pusing dengan perbedaan budaya dan adat istiadat , ada yang belum lulus namun sudah pengen sang lelaki menyatakan keseriusannya, ada lagi yang terjebak di kecemburuan hebat karena dihantui “rasa takut kehilangan” teramat sangat. Bahkan, ada yang mau menikah “lagi” namun masih trauma dengan kegagalan sebelumnya. 

Tampaknya ini bulan yang agak aneh karena curhat tentang “nikah” demikian banyaknya. Apa mungkin karena pengaruh musim hujan ya?. Atau sebagian besar dari mereka sudah mendapati tanda-tanda kiamat sehingga khawatir ndak sempat menikmati apa itu pernikahan?.    

Sebagai informasi saja, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan berdasarkan data Susenas 2014 dan 2015, jumlah penduduk Indonesia mencapai 254,9 juta jiwa dimana penduduk laki-laki mencapai 128,1 juta jiwa sementara perempuan sebanyak 126,8 juta jiwa. Data ini setidaknya memberi pesan untuk tidak terlalu resah bagi yang belum menikah karena stock menunjukkan cukup, walau data ini tidak menjelaskan berapa yang ber-istri lebih dari satu, setidaknya khawatir “ndak kebagian” adalah tidak perlu.


2 (dua) Jalan Terbuka
Terlepas dari perdebatan tentang LGBT yang akhir-akhir ini sedang Inc diperbincangkan, hakekat menikah adalah terpesatukannya 2 (dua) insan berlainan jenis dalam satu “ikatan suci”. Dalam urusan ritual, semua melangsungkan pernikahan dalam lingkar Tuhan sesuai keyakinannnya masing-masing, kecuali mereka yang ber-ikrar a-theis alias tidak ber-Tuhan. Pertanyaan menariknya adalah apakah pelibatan Tuhan hanya pada saat “akad nikah” berlangsung?.

Berikut disampaikan tentang 2 (dua) jenis jalan yang mungkin baik menjadi bahan kontemplasi:
1.  Terpersatukan oleh akal dan rasa.  Banyak orang mendefenisikan pernikahan merupakan  puncak keyakinan untuk hidup bersama setelah sebelumnya berproses dan menjajagi sifat dan karakter satu sama lain.  Proses tersebut biasa didefenisikan dengan sebutan “pacaran”. Bagi penganut faham ini, “pacaran dulu baru nikah”. Artinya, nikah adalah ujung dari proses entah singkat atau lama sampai munculnya keyakinan bersama untuk melanjutkan ke jenjang sakral pernikahan. Dinamikan Proses bernama pacaran itu pun begitu beragam.  Jutaan kisah pun terbangun dari interaksi dua sejoli berlainan jenis, mulai dari proses bertemu, jalannya kisah sampai akhir yang tidak jelas alias berantakan. Janda atau duda sebelum waktunya pun sering tidak terhindarkan kala memilih berpisah dengan alasannya masing-masing.  Bagi mereka yang kuat dengan perpisahan itu, mengatakan “hilang satu tumbuh seribu”, tetapi bagi mereka yang tidak kuat, tak jarang melakukan pelarian dan bahkan ada yang nekat menempuh jalan tak lazim atas nama “galau cinta”.  

      Dari sisi pertautan bermula, ada yang mengalami apa yang disebut the first love in the fisrt light alias jatuh cinta dipandangan pertama dan  ada pula yang melalui proses PDKT alias pendekatan. Ada pula yang terpaksa mengalami PMDK (Pendekalatan Melulu dapat Kagak). Sedihnya, ada yang  tertolak di pendekatan pertama, ada yang terjebak dalam ketidakpastian panjang, ada pula persahabatan yang melahirkan cinta bertepuk sebelah tangan, ada pula korban PHP (Pemberi Harapan Palsu), ada pula yang mengalami sukses berjangka dan kemudian berujung dengan kekecewaan mendalam dan bahkan menahun. 

Tidak sampai disitu saja, prosesnya pun melahirkan banyak drama, mulai dari persoalan tak dapat restu dari orang tua, salah pilih alias  bosan dan kemudian beralih, cinta segi banyak, persaingan antar teman, perbedaan agama, perbedaan adat, perbedaan bangsa  dan lain sebagainya. Demikianlah pertautan akal dan rasa  terjadi yang terkadang berakhir karena keduanya mengalami kebuntuan dan kemudian berpisah atas nama “sudah tidak ada lagi kecocokan lagi”.

2.     Terpersatukan oleh Tuhan. Cara ini biasanya nikah dulu baru pacaran. Artinya, proses pacaran dimulai saat akad nikah mendefenisikan sah. Faham ini biasanya dipilih oleh orang-orang yang sangat dekat dengan Tuhan-nya dan khawatir terjerambab apa yang disebut "dosa". Mereka meyakini bahwa restu Tuhan di jalannya sebuah pernikahan hanya hadir bila prosesnya perolehannya pun sesuai kalam Tuhan, Mereka meyakini bahwa pertolongan dan penjagaan Tuhan hanya hadir pada mereka yang peduli dan senantiasa menjaga kualitas ber-Tuhan nya. Proses pencarian pun mereka lakukan dengan mendekat pada Tuhan dan tentunya diiringi lantunan do’a berulang untuk diberikan pasangan hidup yang menentramkan jiwa. Mereka meniadakan keraguan untuk menikah pada pasangan yang diyakininya sebagai kiriman Tuhan. 

Mereka meyakini sepenuhnya bahwa Tuhan akan membimbing munculnya rasa suka dan cinta, membangunkan kefahaman atas kekurangsempurnaan satu sama lain, merekatkan ikatan kala perbedaan mengemuka. Artinya, mereka meyakini bahwa intervensi Tuhan akan membimbing kinerja “akal dan rasa” dalam hidup sebagai pasangan suami-istri. Mereka tidak memandang perbedaan sebagai tiket perpecahan, tetapi termotivasi selalu mencari hikmah dengan mendasarkan pada kalam-kalam Tuhan-nya.       
    
Pertanyaannya, metode manakah yang terbaik?. Penulis merasa kurang bijak men-judgment dan kemudian menjatuhkan pilihan pada salah satu metode. Yang jelas, bagi mereka yang meng-agungkan akal dan rasa cenderung memilih menikah dengan cara pertama. Sementara itu, bagi mereka yang begitu akrab dengan Tuhan-nya, pasti memilih cara kedua.  



Penghujung
Hidup adalah pilihan dan memang harus memilih walau “tidak memilih” sering juga dianggap sebagai sebuah pilihan. Artinya, Sebagian memilih men-Tuhankan akal dan rasa dalam memilih pasangan hidupnya dan sebagian lainnya memposisikan Tuhan diatas kecerdasan akal dan rasa-nya. Yang dibutuhkan adalah kebesaran jiwa  sebab setiap pilihan memiliki konsekuensinya masing-masing.  Dengan kata lain, tak bijak saat “akal dan rasa” tidak mampu mencerna realitas atau menyelesaikan persoaalan yang ada kemudian baru melibatkan Tuhan.   

Sampai hari ini, penulis belum menemukan data statistik yang menunjukkan angka perceraian berikut penjelas tentang muasal terpersatukannya 2 (dua) insan tersebut memasuki jenjang pernikahan. Akibatnya, tulisan ini clear hanya menyajikan opsi tanpa tendensi pada pilihan tertentu.



Jum’at yang meng-inspirasi
Gelagat fikir Sang Pembelajar




sumber gambar : hasil google searching

Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved