PENGUATAN PERSIAPAN INTEGRATED FARMING" DI DESA PERCONTOHAN, WLAHAR WETAN

Kamis, 03 November 20160 komentar


Pak Bima Kartka, dalam kapasitasnya sebagai Kabid Koperasi Dinkop Jawa Tengah, memiliki perhatian serius terhadap tindaklanjut dari pegelaran seminar “kedaulatan pangan melalui Integrated Farming berbasis koperasi pemberdaya”  yang di gelar tangal 20 Oktober 2016 kemarin di Fakultas Pertanian Unsoed. Bahkan beliau sengaja mengundang ke ruang kerjanya usai rapat koordinasi pengembangan retail yang kebetulan juga dihadiri oleh sebagian penggagas integrated farming di Purwokerto, antara lain Muhammad Arsad D (Dekopinda Banyumas) dan Herliana (Ketua Kopkun). Namun berbeda dengan Om Herry yang memang menyengajakan diri membelokkan rencana baliknya ke Purwokerto. Beliau menyusul ke semarang setelah beberapa hari menjeburkan diri dalam agenda pemberdayaan di Kabupaten lampung timur.Sebuah keseriusan dan penjiwaan perjuangan yang luar biasa......

Berlangsung di ruang kerja Pak Bima, beliau  memulai diskusi dengan tanya seputar perkembangan terakhir di Desa Wlahar Wetan dimana Kepala Desanya (Pak Dodit) menyediakan 80 ha untuk dijadikan sebagai contoh integrated farming. Om Herry, selaku aktivis yang memang concern mengawal agenda Wlahar ini menyampaikan seputar apa-apa yang sudah dilakukan pasca seminar dan hal-hal yang akan dlakukan berikutnya di Desa Wlahar Wetan. Dari penjelasannya, diperoleh informasi akan dilakukan uji coba pada skala 1 (satu) ha dengan menggunakan 2 (dua) metode, yaitu metode lama (yang biasa dilakukan oleh masyarakat wlahar wetan) dan metode baru. Disatu sisi, hal ini dimaksudkan untuk mendapati fakta perbedaan out put, penggunaan 2 (dua) metode ini juga bagian cara meng-edukasi masyarakat dan membangun keyakinan terhadap efektivitas perubahan pola. Dengan demikian, perubahan pola oleh para petani akan berlangsung atas dasar kesadaran dan keyakinannya sendiri.

Magnet “integrated farming” ini harus di konstruktifkan ke dalam karya tersistematis dan bernilai manfaat nyata bagi pemberdayaan masyarakat, khususnya petani. Oleh karena itu, perlu di susun mapping peran sehingga melahirkan sinergitas produktif”, demikian saran Pak Bima kartika.  Sementara itu, Pak Cahyo, staff Dinkop Jateng mengingatkan, “disamping aspek produksi,  aspek pemasaran perlu di formula sehingga menjawab hulu sampai hilir”. Om Herry sepakat bahwa kerja pemberdayaan ini harus disistematisir secara cerdas sehingga efektif mencapai sasarannya. Pak Arsad menekankan bahwa koperasi diyakini sebagai bentuk kelembagaan terbaik untuk menaungi perjuangan besar ini, karena koperasi merupakan organisasi berbasis pemberdayaan dan meng-agungkan kebersamaan dan kegotongroyongan.    

Spirit pemberdayaan adalah roh dari gerakan ini. Oleh karena itu, penyadaran masyarakat menjadi agenda mutlak yang harus dilakukan sehingga semua bergerak sesuai perannya masing-masing. Oleh karena itu,pencerdasan yang dilakukan dimaksudkan untuk membangun kemandirian dan menghindarkan ketergantungan. Para pemilik formula dan teknologi terbarukan juga perlu didorong sehingga merasa terpanggil untuk menjadi bagian dari gerakan besar ini. Sebab, semakin banyak para orang-orang pintar yang komit terhadap perjuangan integrated farming berbasis organic farming, maka semakin besar peluang efektivitas dan akselerasi perjuangan besar ini.     
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved