“MERENCANAKAN PETANI BER-GAJI”

Minggu, 27 November 20160 komentar

“MERENCANAKAN PETANI BER-GAJI”

Sore ini (25/11), mengambil tempat di Cafe Libero, Dekopinda Banyumas menggelar satu rapat bersama AMKI (Assosiasi Manajer Koperasi Indonesia) dan  beberapa punggawa PT BUMR (Badan Usaha Milik Rakyat) TERHUBUNG. Dari Dekopinda hadir ketuanya,  Bapak Muhammad Arsad Dalimunte beserta . beberapa anggotanya, yaitu : KUD Rukun Tani Cilongok ( Bapak Danan s), KUD Mekar Tani Pekuncen, KUD Aris Banyumas (Bapak Moko), KBUMP ( Bapak Budi dan Bapak Shaleh) dan  manajemen KUD Tani Maju (Bapak Agung).  AMKI dihadiri langsung oleh ketuanya, Bapak Larto.  Sementara itu, Tim PT BUMR TERHUBUNG dipimpin oleh Bapak Luwarso.

Pertemuan di siang menejlang sore ini meng-agendakan sosialisasi konsep yang sedang dikembangkan oleh PT BUMR TERHUBUNG dalam perbaikan nasib petani dan juga pertanian di Indonesia, khususnya komoditas padi berikut turunannya. Dalam penjelasan awalnya. Bapak Luwarso menyampaikan bahwa program prinsipnya adalah ingin mengulang  pengalaman sukses mereka dalam memperbaiki nasib petani padi di Wilayah Sukabumi melalui koperasi. Success story itupun kemudian diapresiasi oleh banyak pihak, termasuk Bapak Tanri Abeng yang kebetulan sedang menggagas BUMR (Badan Usaha Milik Rakyat).   Stabilitas harga, ketersediaan dan kecukupan  bahan pangan, pertumbuhan ekonomi pedesaan dan pengendalian inflasi kemudian didefenisikan sebagai target dari BUMR .

Dalam aksinya, BUMR akan bernaung dalam satu perusahaan yang diberi nama PT BUMR TERHUBUNG. Penggunaan kata TERHUBUNG dalam namanya me-referensi pada spirit dasarnya yaitu  ingin menghubungkan atau men-sinergikan koperasi-koperasi dalam skala ekonomi rasional dengan  sistem kerja sistematis berbasis IT. Dengan penggunaan IT, segala sesuatunya menjadi lebih mudah, terencana, terukur dan terkontrol.

Ada 2 (dua) dua hal menarik dari apa yang dikonsepkan mereka, yaitu : (i) petani akan digaji berdasarkan skala lahan yang dikelola. Disamping untuk memberikan living cost di rentang waktu tanam dan panen, pemberian gaji ini juga sebagai antisipasi praktek ijon yang selama ini begitu kental di lingkungan petani padi dan; (ii) Penggunaan integrated process dimana petani terlibat dari keseluruhan proses mulai persiapan tanam sampai dengan pasca panen. Dipenghujung, 60% dari net profit (total hasil penjualan dikurangi biaya keseluruhan) akan dikembalikan kepada petani melalui koperasi. Disamping itu, juga dilengkapi dengan asuransi sehingga terhindar dari resiko gagal panen.

2 (dua) hal ini akan merubah atau memperbaiki nasib petani yang selama ini selalu dalam kesulitan. Adanya perencanaan yang komprehensif mulai persiapan lahan sampai dengan panen, terkonsepnya aksi pasca panen, pendampingan disepanjang proses, membuat harapan baru layak disematkan pada program ini.

Program ini menuntut adanya perubahan tata kelola lahan pertanian sehingga tantangan terbesarnya terletak pada perubahan mindset petani. Dengan program ini, petani akan bekerja berdasarkan skema dan schedule yang di formulasikan oleh tim pendamping yang merupakan perwakilan PT BUMR TERHUBUNG. Untuk mensukseskan program ini, dibutuhkan kesamaan komitmen dan perilaku para petani. Pelibatan IT dalam sistem kerja ini bercirikan paperless dan kartal less. Tentu petani masih belum familiar sehingga memerlukan pelatihan dan pendampingan untuk melahirkan kebiasaan-kebiasaan baru.

Dalam cita-cita besarnya, BUMR berharap ekonomi berbasis gotong royong semacam ini  menjadi alternatif yang paling efisein dan produktif sehingga efektif sebagai bagian dari strategi pemenuhan kebutuhan pangan di Tanah air. 

Sebagai langkah awal, mereka men-target  Jawa Tengah (Banyumas dan Demak) dan jawa timur. Sebagai catatan, Banyumas memiliki 62ribu ha lahan sawah irigasi, sehingga konsep ini sangat potensial untuk dikembangkan.




Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved