BAPPEDA BANYUMAS MENGGELAR FGD KLASTER EKONOMI

Rabu, 27 Juli 20160 komentar

BAPPEDA BANYUMAS MENGGELAR FGD KLASTER EKONOMI


A.  Pengantar
FGD Pengembangan Ekonomi lokal ini di inisiasi oleh Bappeda kali ini digelar tanggal 27 Jui 2016 di Aula Bappeda Banyumas. Hadir di acara ini FEDEP (Forum Employe Development Program), Kadin Banyumas, Cluster-Cluster Ekonomi di lingkungan Banyumas, perwakilan BI (Bank Indonesia), Beberapa Bank Teknis dan SKPD-SKPD yang terkait dengan pemberdayaan ekonomi dan potensi lokal.    

Dalam sambutan dan rahannya Bapak Eko, banyak aspek yang perlu diperhatikan dalam pengembangan ekonomi wilayah. Bagaimana untuk  mengerjakan menjadi penting sehingga tepat sasaran. Apa yang dilakukan forum ini ke depan harus berbasis pada kebutuhan lapangan sehingga bisa mendatangkan nilai tambah bagi peningkatan ekonomi, khususnya optimalisasi potensi ekonomi lokal. Beliau juga berharap forum-forum semacam ini efektif menumbuhkembangkan semangat meningkatkan kinerja ekonomi yang berorientasi pada pemberdayaan ekonomi rakyat. Sebagai auto koreksi, beliau juga menekankan pentingnya untuk menilik sejauh mana aplikasi dari ragam program yang sudah direncanakan. Komunikasi pemerintah dan non-goverment perlu di tingkatkan sehingga tidak terjadi mis-komunikasi yang memperlambat pertumbuhan dan perkembangan ekonomi daerah. Untuk itu, perlu dibentuk media komunikasi yang efektif sehingga mempermudah control dan evaluasi dari berbagai program, baik yang menjadi tugas pemerintah maupun yang menjadi tugas masyarakat. Sinergitas perlu ditingkatkan sehingga rakyat lebih terberdaya dan potensi daerah terkelola dengan optimal. Berkaitan dengan cluster Atrisi, beberapa kali didatangi oleh investor. Namun demikian, masih terdapat kesulitan komunikasi sehingga hal ini dinilai sangat menghambat pengembangan atsiri di Banyumas. Perkembangan Cluster Batik juga perlu ditingkatkan walau sudah mulai berkembang. Cluster Perikanan juga perlu meningkatkan kinerjanya sehingga terbentuk siklus yang baik. Cluster Parwisata juga dinilai masih tertinggal dengan iklim pariwisata di daerah-daerah lain. Perlu dilakukan peng-integrasian segala potensi wisata sehingga terkomunikasi lebih baik kepada masyarakat. Cluster gula juga perlu meningkatkan upayanya dan jangan sampai berpuas diri dengan gula kristal. Masih luasnya potensi pasar harus direspon dengan baik agar potensi lokal terkelola dengan baik.


B. Tentang FEDEP (Forum Economic Developmen & Employmen Promotion)
Refius Pradipta Setyanto,SE,MSi mewakili Prof. DR.Agus Suroso selaku ketua FEDEP mengawali paparannya mengenai tantangan perekonomian dimasa depan yang masih penuh ketidakpastian. Banyak hal yang terjadi begitu mendadak. Ada beberapa hal yang menjadi catatan dan memerlukan perhatian, antara lain:
1.      Aksesibilitas antar wilayah merupakan peluang untuk pertumbuhan.
2.      Program sektoral yang keterkaitannya tidak terukur jelas
3.      Tax amnesty diyakini akan medorong laju investasi.
4.      Gejolak di eropa [asca hasil referendum dimana inggris keluar dari EU.
5.      Pereknomian tiongkok yang menurun.
6.      Ketidakpastian kenaikan suku bunga acuan AS (Fed Fund Rate)
7.      Masih lemahnya linkage antar cluster.
8.      Sinkronisasi kebijakan pusat dan daerah.


Selanjutnya, beliau menyampaikan FEDEP merupakan mitra pemerintah dalam memberikan masukan kaitannya dengan pemberdayaan ekonomi berbasis potensi lokal. Untuk itu, FEDEP selalu aktif menggali input dari para pelaku ekonomi dan kemudian di identifikasi menjadi potesi ekonomi lokal. Tujuan akhir dari FEDEP adalah daya saing dan hal ini memerlukan pendekatan partisipatif yang melibatkan stake holder secara aktif.

Dalam aktiivitasnya, Fedep mencoba mengembangkan potensi lokal dengan pola klaster yang kemudain dibagi menjadi 5 (lima) cluster, yaitu Cluster Atsiri, Cluster Batik, Cluster Gula Kelapa, Cluster Perikanan dan Cluster Pariwisata. Sementara itu,  bentuk kegiatan pengembangan Cluster secara sektoral, antara lain; (i) Pelatihan teknis dan bantuan peralatan; (2) pameran; (3) pendampingan; (4) fasilitasi bantuan permodalan dan; (5)  temu bisnis. Secara defenisi cluster merupakan himpunan, gabungan obyek tertentu yang memiliki keserupaan atas dasar karakteristik tertentu yang saling berhubungan secara intensif dan membentuk partnership.

Ada beberapa permasalahan yang menjadi catatan FEDEP:  
1.      Pola hubungan natar anggota klaster masih dalam tataran
2.      Peran stakeholder belum optimal
3.      Belum optimalnya hubungan antar pokja
4.      Kemitraan masih bersift sporadis

Atas hal ini, FEDEP akan melakukan:
1.      Konsolidasi antara POKJA dalam perancangan dan pelaksanaan kegiatan
2.      Komitmen PEMKAB dalam mengakomodasi dalam kerangka anggaran dan regulasi
3.      Action Plan


C. PAPARAN KLASTER-KLASTER EKONOMI
untuk mendapatkan informasi yang utuh dari masing-masing cluster, masing-masing dipersilahkan untuk presentasi  seputar capaian dan kendala lapangan. Selanjutnya, kendala lapangan akan dijadikan bahan diskusi bersama untuk dicarikan solusi. Solusi yang dimaksud tidak saja sebatas pemikiran, tetapi juga mengkaji kemungkinan untuk memasukkan kedalam program Pemkab Banyumas dan atau men-sinergikan dengan pihak-pihak lain yang berkepentingan (stake holder). 

C.1. Cluster Gula Kelapa
Presentasi Cluster Gula Kelapa di wakili oleh Ibu Tuti. Beliau adalah Eksportir terbaik untuk kategori UMKM di wilayah jawa tengah. Inti presentasi beliau adalah:
1.      MEA memaksa untuk siap bila tidak ingin pasarnya diambil alih oleh lainnya.
2.      Inti bisnis ini ada pada pengrajin/petani. Untuk itu, perlu peran pemerintah dan universitas agar para petani bisa menyadari perlunya produk sehat, berkualitas kualitas dan proses produksi yang hygienis.
3.      Gula kelapa Banyumas sudah mulai diterima oleh pasar luar negeri mulai tahun 2004-an. Saat ini pangsa pasar nya sangat bagus dan bisa dioptimalkan sepanjang standar kualitas terjaga sesuai permintaan pasar. Vietnam dan srilangka mulai melirik pangsa pasar gula kelapa. Mereka pun sangat concern berproses untuk menghasilkan produk yang berkualitas.  
4.      Untuk bisa tetap bersaing di dalam negeri, berharap adanya kebijakan eksplisit bahwa gula kelapa non-PPN. Ini persoalan yang memerlukan upaya tindak lanjut dan bantuan pemerintah dan juga KADIN.
5.      Berharap para pelaku gula kelapa tidak bersaing tetapi bersinergi dalam satu assosiasi. Namun, sampai saat ini masih belum terbentuk kesadaran pentingnya bersatu. Dengan adanya assosiasi, diharapkan akan terbentuk komitmen untuk senantiasa menjaga kualitas sehingga kepercayaan pasar terjaga.  .  
6.      Berharap masing-masing pelaku konsisten pada wilayah kerja pendampingannya sehingga terjadi pemberdayaan masyarakat.


C.2. Cluster Pariwisata
Presentasi Cluster ini diwakili oleh Pak Kisoworo selaku ketua Pokdarwis (kelompok sadar wisata)
Tirta Kamulyan. Pokdarwis ini sudah memiliki anggota sejumlah 100 (seratus) orang. Semua anggota melakukan distribusi peran sehingga semua anggota bisa memperoleh pendapatan secara proporsional.  Mereka mengelola potensi wisata yang dimiliki Pemerintah Desa Karang Salam. Kemitraan mereka dengan pola sharing.  Pokdarwis ini masuk menjadi harapan I saat ikut lomba ditingkat Propinsi Jawa Tengah. Mereka menamakan obyek wisata ini dengan dengan Wisata Curug Telu. Tingkat kunjungan rata-rata per bulan sudah menyentuh angka 4.000 orang. Banyak paket yang mereka tawarkan seperti home stay, live in, out bond dan lain sebagainya. Konsep edu wisata menjadi inspirasi dari pengembangan paket-paket ini.  

5 (lima)  A dalam sukses wisata, yaitu : (1) Akses/jalan; (2) Atraksi berupa tampilan yang menarik perhatian pengunjung; (3) aktivitas; (4) amenity (kelengkapan) seperti telepon, P3K dsb dan; (5) Akomodasi (makan, home stay). Sementara itu, indikator keberhasilan pengembangan pariwisata dijelaskan : Tingkat kunjungan tinggi, lenght of stay, kunjungan ulang, pembelanjaan.

Dipenghujung, beliau menyampaikan rekomendasi bagi pengembangan wisata, yaitu : (1) Identifikasi produk2 wisata; (2) menyusun rekomendasi kebijakan dan strategi pengelolaan serta pengembangan wisata lokal dan; (3) menyusun dan mengintegrasikan produk wisata lokal menjadi satu kesatuan wisata banyumas.

Beberapa potensi yang mungkin dikembangkan : (1) Letak geografis yang strategis menghubungkan antar wilayah dan; (2) produk lokal unggulan batik, gula kelapa, minyak atsiri, perikanan dan pariwisata. Dalam rangka mempertahankan kualitas air, mereka meng-intensifkan konservasi.


C.3. Cluster Batik
Presentasi Cluster Batik diwakili oleh Mas Fauzan. Ada 7 (tujuh) kecamatan yang merupakan sentra pengembangan batik dan terdapat 62 IKM Batik.  Ada beberapa kendala, yaitu; (1) Pengadaan bahan baku yang masih dari luar kabupaten dan; (2) Pengolahan limbah batik yang belum sesuai dengan standar ramah lingkungan, sehingga hal ini bisa menimbulkan persoalan di masa depan. Beliau juga menyampaikan 3 (tiga) harapan dari IKM Batik : (1) terbentuknya koperasi batik yang menjual bahan baku prouksi batik dengan harga yang murah; (2) batik banyumas bisa dikenal di tingkat nasional; (3) pengadaan IPAL (Instalasai Pengolahan Air Limbah) sehingga Industri batik dapat menjadi industri yang ramah lingkungan. 


C.4. Cluster Minyak Atsiri
Presentasi disampaikan oleh Bapak Sutrisno. Beliau mengawali presentasinya dengan keluhan dimana masyarakat mulai tidak bersemangat dan menyebabkan hampir punah. Bahan baku yang minim merupakan salah satu penyebabnya. penanaman lanjut yang langka merupakan faktor lain yang mendukung kelesuan.

D. SESSION DISKUSI 
Pak Jaka selaku moderator diskusi mengawali pembukaan dengan mengingatkan bahwa ada 4 (empat) semangat yang diusung dari sesi diskusi ini, yaitu:
1.      Pro job artinya bisa menciptakan lapangan pekerjaan baru.
2.      Pro Foor  artinya bagaimana orang kaya menarik orang miskin
3.      Pro Enivironment, artinya tidak menimbulkan persoalan lingkungan dikemudian hari.
4.      Pro Growtth, artinya  mendorong Pertumbuhan yang bagus dan menekan inflasi.

Beberapa saran dan pendapat yang berkembang dalam diskusi dijabarkan sebagai berikut : 
1.      Umum
  1. Perlu survey langsung sehingga bisa menyerap informasi lapangan seutuhnya dan ini bisa dijadikan sebagai inspirasi dalam mendesign regulasi.
  2. Perlu monitoring cluster-cluster sehingga cepat diketahui kendala-kendala lapangan dan sekaligus dicarikan solusinya.
  3. Dinkes Banyumas memberikan izin IRT secara gratis dan didahului dengan pemberian PKP (Pelatihan Keamanan Pangan).
  4. Faktor regulasi juga perlu menjadi perhatian sehingga mendorong semangat masyarakat untuk terus mengembangkan. 
  5. Sinkronisasi antar cluster perlu dilakukan sehingga akan melahirkan lompatan manfaat.
  6. Perlu adanya konsep promosi daerah yang ter-integrasi dari semua SKPD.

2.      Cluster Batik
  1. Ada saran untuk selalu berinovasi dan berkoordinasi diantara anggota cluster sehingga menghasilkan sinergitas. Hospitality in business perlu terus dikembangkan sehingga melahirkan loyal customer.
  2. Regenerasi.Ada yang menjadi catatan bahwa pelaku batik rata-rata berusia lebih dari 50 tahun, sehingga hal ini berpotensi kepunahan bagi Batik Banyumas. Kondisi ini menjadi inspirasi pembentukan kelompok-kelompok anak muda yang kemudian beberapa waktu kemudian keluar sebagai pemenang dan mendapat penghargaan dari presiden. Capaian ini menginspirasi kesimpulan bahwa sesungguhnya batik Banyumas sangat potensial di kembangkan, baik secara mandiri maupun melalui sinergitas antar pelaku maupun cluster.

3.      Cluster Pariwisata
  1. Infrastruktur perlu dibenahi guna meningkatkan akses terhadap destinasi wisata.
  2. Perlu pendamping pembangunan Desa Wisata yang akan fokus pada identifikasi potensi, packaging dan marketing.
  3. Perlu ada regenerasi pelaku pariwisata sehingga kaum muda tidak saja menjadi penikmat, tetapi menjadi kreator pengembangan pariwisata Banyumas.
  4. Distribusi pendapatan dengan agen-agen wisata perlu menjadi perhatian sehingga mendorong mereka untuk ikut mempromosikan banyumas sebagai destinasi wisata yang menarik.
  5. Potensi pariwisata itu ada yang diciptakan dan ada yang merupakan anugerah dari Tuhan. Obyek-obyek wiasata yang merupakan anugerah ini harus dikelola dengan bijak sehingga tidak menimbulkan persoalan sosial di kemudian hari.

4.      Cluster Gula  Kelapa
a.      Perlu menyadarkan industri rumah tangga agar tidak menggunakan bahan-bahan kimia yang merusak kualitas produk. Hal ini belajar dari kejatuhan obat-obatan tradisional Banyumas akibat dari masuknya campuran kimia yang mengancam kesehatan.
b.      Perlu adanya kebijakan Pemkab Banyumas berupa pelarangan penggunaan “natrium bisulfit” yang membuat produk gula kelapa menjadi kurang aman di konsumsi.

E. PENDAPAT KADIN BANYUMAS
a.      Kadin Banyumas meng-apresiasi capaian cluster-cluster. Capaian-capaian ini sebagai inspirasi meningkatkan capaian-capaian berikutnya. 
b.      Penyatuan potensi adalah isu yang harus dimobilisasi sehingga terjadi sinergitas produktif baik di sesama anggta klaster maupun antar klaster. “Potensi nilai tambah ekonomis” harus dideteksi sehingga setiap orang memiliki harapan yang jelas dari pembangunan kebersamaan. Dengan demikian, setiap orang akan menjaga kepentingannya dan otomatis juga akan ikut aktif menjaga dan menumbuhkembangkan kebersamaan itu sendiri.

c.  Untuk agenda penyatuan ini, Sebagai awalan, perlu diwujudkan dalam bentuk assosiasi sehingga terjadi interaksi yang intensif. Agenda-agenda yang digelar dalam wadah assosiasi ini bisa sharing informasi dan saling mempelajari kemungkinan-kemungkinan meningkatkan interaksi kedalam kebersamaan mutualisme.  
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved