PATRIOTISME VERSI IIBF

Senin, 09 November 20150 komentar



Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan, Komunitas Indonesia Islamic Business Forum (IIBF) menggelar satu sarasehan dan refleksi dengan mengambil thema “ Dengan Semangat Kepahlawanan Kita Bela Ekonomi Rakyat dan Gerakan Beli Indonesia. Acara ini di gelar di alam terbuka tepatnya alun-alun Purwokerto pada tanggal 09-10-2015  dan dimulai jam 19.30 sampai jam 23.30.  



 Dalam acara ini, IIBF menghadirkan 3 (tiga) nara sumber atau lebih tepatnya disebut pemantik sarasehan, yaitu  : (1). Bapak Mayjen (Purn) sunarto: (2) Bapak
Rahmad Imanda dan ; (3) Muhammad Arsad Dalimunte.  Acara ini  dihadiri para pengurus dan anggota IIBF, masyarakat, para pengusaha dan tokoh muda Banyumas yang antara lain : Mas Oji yang dikenal sebagai tokoh muda Muhammadiyah,  Mas Larto yang biasa disebut tokoh koperasipreuner, Mas Herry Kristanto aktivis sosial dan salah satu punggawa zona bombong, Mas Aldo Sang bankir yang beralih profesi menjadi pengusaha dan lain sebagainya. 



Diawali dengan menyanyikan lagu indonesia raya yang dipimpin oleh Tante Uthe sang pemillik CafĂ© D’saung, refleksi ini kemudian dilanjutkan sarasehan yang langsung di moderatori  oleh Om Irwan Sang Ketua IIBF Banyumas. Sebagai bentuk penghormatan atas segala jasa dan pengorbanan para pahlawan, Om Irwan mengajak segenap peserta untuk membacakan surat Al-Fathihah.Beliau juga sempat menghimbau untuk senantiasa menjaga persatuan dan meningkatan kerekatan diantara komunitas-komunitas yang ada di lingkungan Kabupaten Banyumas.



Selaku nara sumber  I,  MayJen (pur) Sunarto membuka pembicaraannya dengan memaparkan tentang kutipan sejarah yang mengingatkan dan sekaligus menegaskan bahwa pendirian bangsa ini tidak mudah, penuh dengan tumpah darah dan pengorbanan yang tidak ternilai harganya. Beliau berpesan kepada generasi muda jangan sampai melupakan sejarah bangsa, sebab hal ini merupakan modal penting membangun spirit kebangsaan dan menjadi inspiasi  dalam mengisi kemerdekaan yang berkualitas dan sarat dengan spirit patriotisme. Beliau  juga menyampaikan pesan bijak kepada peserta yang sebagian besar para pengusaha bahwa
jujur, adil dan biJaksana dalam menJalankan bisnis merupakan modal penting untuk bisa tumbuh dan kembang.‎ Saat ditanya mengapa banyak pengusaha belum maju atau lari dutempat, beliau mengatakan masih lekatnya persoalan dalam hal sikap,mental, ulet, tahan uji dan kedisiplinan. 



Sementara itu, Mas Rahmat Imanda yang kesehariannya adalah anggota legislatif Kab Banyumas mengawali pembicaraan dengan mengingatkan tentang ancaman pemberlakuan pasar bebas‎ yang tinggal sebentar lagi . Beliau berpesan perlu penyiapan diri sehingga para pelaku ekonomi khusunya anggota IIBF.  Penyiapan SDM adalah bagian penting yang perlu dilakukan untuk mengimbangi kemungkinan hadirnya SDM-SDM unggul dari luar negeri yang berniat memanfaatkan segala potensi dan sumber daya yang berlimah ruah di negeri tercinta ini.



Sementara itu, Muhammad Arsad Dalimunte membicarakan tentang koperasi dan mengkaitkannya dengan patriotisme. Kali ini koperasi di bahsakan dengan  ke-KITA-an yang menurut beliau sudah mulai luntur dikekinian zaman dan kehidupan masyarakat. 

Untuk itu, Beliau menegaskan bahwa perlu dilakukan refresh spirit dalam gerakan membangun ke-KITA-an di masyarakat. Beliau mengurai singkat  tentang makna ke-KITA-an yang senantiasa membimbing pada kebijaksanaan bersikap maupun berpandangan. Perasaan ke-kita-an akan menge-nol kan penindasan dalam segala bentuk. Perasaan ke-kita-an akan melahirkan rasa damai dan tentram. Perasaan ke-kita-an akan mendatangkan perasaan malu untuk melukai siapapun. Perasaan ke-kita-an akan membuat semua orang memiliki harapan. Perasaan ke-kita-an akan memposisikan “berbuat baik” menjadi sebuah kebutuhan. Perasaan ke-kita-an akan membawa setiap diri untuk lebih menyadari muasal kelahirannya dan kemudian mendekatkan diri pada Tuhan. Beliau melanjutkan bahwa Setiap orang sesungguhnya memiliki perasaan ke-kita-an. Hanya saja, sering tanpa disadarari batas ke-kita-an terbentuk oleh kebanggaan atas kelompok yang biasanya terbangun berdasarkan status sosial, ras dan lain sebagainya hingga lahirlah sekat-sekat yang men-jarakkan antara satu dengan lainnya. Keinginan untuk saling mengalahkan atau mejaga kepentingan sempit kelompok  sering kali mengkerdilkan luasnya makna dari kebersamaan itu sendiri.  Ke-kita-an memang tidak mudah didengungkan, namun untuk alasan itu pula membangun karakter “peduli dan empati” layak diarus-utamakan. Semoga kesadaran akan makna sebuah ke-kita-an, menjadi inspirasi energi bagi setiap orang untuk mengambil inisiatif membangun ke-kita-an diantara kita dari ruang yang paling kecil dan hal ini juga merupakan bagian dari bentuk sebuah patriotisme.  



Ada satu hal yang layak menjadi catatan dari respon Om Herry Kristanto. Beliau menegaskan bahwa ‎Patriotisme atau kepahlawanan perlu dikontekstualkan ke realitas kekinian, mulai dari menjalankan profesi  pengusaha maupun aktivitas sosial bertajuk kepedulian.  ‎Oleh karena itu, perlu upaya konstruktif untuk membangun harapan-harapan dan mengarah pada capaian-capain baru yang meng-energi satu sama lain


Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved