HIPMI GOES TO CAMPUS

Sabtu, 19 September 20150 komentar

HIPMI GOES TO CAMPUS

Purwokerto,18 sept 2015. Tak seperti biasanya, sabtu pagi kampus fak hukum Unsoed dipenuhi mahasiswa/i. Sekiitar 400-an orang mahasiswa/i dari berbagai Fakultas di lingkungan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) berbondong2 menuju ruang justicia lantai 03. Mereka begitu antusias mengambil bagian dari satu perhelatan yang istimewa, yaitu Hipmi Goes To Campus. Program ini merupakan program kerja Hipmi (himpunan pengusaha muda Indonesia) BPC Banyumas yang dalam implementasinya bekerjasama dengan BEM (Badan Eksekutif Mahasiwa) Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.


Kali ini, pengurus Hipmi BPC banyumas membawa pasukan sekitar 10 (sepuluh) orang lengkap dengan kaos seragam khas Hipmi. Tentu saja kehadiran para pengusaha muda ini di kursi barisan depan mendatangkan aura semangat tersendiri. Sabtu itupun menjadi semakin istimewa, karena juga dihadiri oleh Pak Josep, CEO Pabrik Semen Bima, sebuah pabrik semen di Banyumas yang baru saja beroperasi di tahun 2015. 

Suasana hangat penuh semangat mulai terbangun saat Om Dimas Gustaman, Sekjen Hipmi BPC Banyumas‎ memainkan sugestinya ke segenap peserta. Semacam game yang khidmat diikuti seluruh peserta, Om Dimas sukses menghipnotis peserta dengan cara brilian. Om Dimas berhasil memasukkan pesan pertama ke otak kanan seluruh peserta bahwa “setiap orang bisa menjadi seperti yang difikirkkannya”. Setelahnya, acara inti pun dimulai yaitu pencerahan semangat
berwirausaha langsung dari pebisnis sukses yang kali ini menampilkan 2 (dua) wirausahawan muda yaitu; (i) Om Sandra, yang tak lain adalah ketua Hipmi BPC Banyumas dan; (ii)  Om Johannes yang juga merupakan salah satu pengurus Hipmi Banyumas.  
Moderator memulai sesi ini dengan memberikan tips yang membuat peserta akan segera menjadi pengusaha. Sambil berjalan menuruni panggung untuk lebih mendekat ke barisan peserta, moderator berpesan bila ingin menjadi pengusaha cukup melakukan satu langkah saja yaitu ambil HP dan kemudian mengirim pesan kepada orang tua yang berisi "bapak/ibu, mulai besok jangan pernah lagi kirimi aku uang". Seketika semua terbelalak dan terhenyak. Mungkin seketika terbayang pada penderitaan dan kemiskinan akud yang begitu menyiksa.  Melihat pesan ini sudah efektif masuk ke otak kanan peserta, moderator pun melempar joke ringan yang disambut tawa seluruh peserta. Kemudian, moderator pun mulai
menjalankan tugas utamanya dengan mempersilahkan kedua narasumber untuk naik ke panggung dan menduduki tahta nara sumber. Om Sandra dan Om Jo pun bangkit dari tempat duduknya dan kemudian melangkah menuju panggung disambut dengan tepuk tangan seluruh peserta  dan juga iringan musik pemacu adrenaline layaknya ketika 2 (dua) petinju memasuki ring.  Kesan kepenasaran dan ketidaksabaran tampak begitu kuat diwajah-wajah peserta yang seluruhnya adalah mahasiswa/i hingga membuat suasana hening seketika. Mendapati suasana semacam ini, moderator pun memberikan kesempatan pertama kepada Om Jo untuk tampil.


Om Jo pun menyambut microfon dan kemudian berdiri dan melangkah maju kedepan. Om Jo mengawali pidato magisnya dengan cerita seputar jejak juang liku perjalan bisnis yang beliaualami. Seketika peserta terbelalak saat Om Jo menampilkan foto2 masa sulit yang membawanya pada kemiskinan tiada tara dan hutang yang menumpuk sampai menyentuh angka Milyaran. Pada bagian ini Om Jo menegaskan bahwa tidak ada alasan untuk menyerah sebelum keberhasilan datang.  Om Jo mencontohkan walau  tragedi
kecelakaan yang menyisakan cedera ditangan  kirinya membawanya pada kebangkrutan dan terlilit hutang, namun Om Jo bertekad hanya kematian yang membuatnya berhenti melangkah. Setelah melalui perjuangan panjang dan kisah beragam, perjalanan Om Jo berakhir dengan cerit indah, yaitu kesuksesan. Dengan bendera perusahaannya CV MULTI KARYA BERDIKARI, Om Jo saat ini memiliki aktivitas beragam mulai dari pilingkontraktor sampai Pabrikasi Baja Deneridtion. Pelanggan Om Jo juga tidak sembarangan seperti Pertamina, Adhikarya dan Waskita. Bahkan, Om Jo juga memiliki kapal tongkang yang terparkir di Kalimantan. Dalam testimoninya, Om Jo
mengaku tamatan S3, yaitu SD, SMP dan STM..sebuah pengistilahan yang kemudian mengundang tawa seluruh peserta Hipmi Goes To Campus. Untuk menyemangati peserta, Om Jo sedikit membuka tips nya menuju tangga sukses, antara lain; berani memutuskan alias langsung action, memiliki relasi yang baik dan luas, fokus, tidak menunda waktu, jangan Kasar, jangan suka menyalahkan, jangan males dan jangan menjadi pribadi pendendam. Tips ini pun tampak dicatat seluruh peserta yang tampak kian semangat.


Om Sandra yang juga ketua Hipmi BPC Banyumas pun berhasil menambah semangat dan kekaguman para peserta. ”Tidak ada yang mustahil di dunia ini”, kalimat pertama ini langsung memancing adrenaline dan sekaligus menghilangkan rasa takut segenap peserta untuk menjadi seorang wirausahawan. Beliau mengaku kalau  beliau anak kampung yang berasal dari pedalaman dan telahir dari pasangan PNS (Pegawai Negeri Sipil). Beliau mulai merintis usaha sejak saat mahasiswa dengan menjadi makelar Handphone. Menjadi makelar dipilih karena saat itu tidak memiliki modal kecuali semangat untuk berkarya dan mendapatkan uang. Untuk memulai bisnisnya, beliau membuang jauh-jauh rasa malu dan gengsi. Beliau memilih cuek dan tetap fokus menjalankan per-makelarannya. Beliau sepakat dengan Om Jo, memulai usaha jangan terlalu banyak
pertimbangan. Lansung action adalah pilihan terbaik dan segala dinamika yang kemudian mewarnainya akan membuat mental menjadi lebih tangguh. Prinsip-prinsip semacam itu akhirnya membawa beliau pada kesuksesan yang
luar biasa. Saat ini, beliau sukses menjalankan ragam usaha. Beberapa outlet handphone dengan nama Mitra Celluler berhasil didirikan. Beliau juga sukses membangun rental mobil dengan 22 unit dari berbagai jenis kendaraan yang siap memanjakan konsumen mulai dari kelas rakyat sampai kelas pejabat dan konglomerat. Unit rentalan ini diberi nama ” Moreno”.  Beliau juga membangun toko khusus aksesoris yang diberi nama ”mayangsari”. Tidak sampai di situ, beliau juga berhasil dengan bisnis modifikasi motor yang dikenal dengan nama ”Mugello”. Ada satu yang unik dari nama-nama usaha yang dijalankan beliau, yaitu selalu dimulai dengan huruf ”M”. Sepertinya beliau punya hubungan khusus dengan huruf M.

Setelah kedua narasumber selesai presentasi, tangan diatas pun langsung  ramai kala moderator memulai sesi tanya jawab. Saking banyaknya, moderator sampai bingung harus 
memberi kesempatan pada siapa dulu. Mensikapi semangat yang demikian rupa, akhirnya moderator membagi 2 (dua) session dimana masing-masing session diberi kesempatan kepada 3 (tiga) penanya. Dengan cerdas dan kreatif, kedua narasumber inipun melahap semua pertanyaan dari peserta. Hmmmm.....session ke 3 (tiga) belum dibuka, tunjuk tangan bermunculan begitu banyak pertanda minta diberi kesempatan untuk bertanya langsung pada kedua nara sumber luar biasa ini. Kali ini moderator pun membalik keadaan dan sengaja tidak memberi kesempatan mereka untuk bertanya. Moderator memberi kesempatan kedua pembicara untuk sejenak istrahat sambil menikmati sajian panitia. Selanjutnya, moderator memanfaatkan barisan pengurus Hipmi yang duduk di depan untuk memberi pertanyaan kepada seluruh peserta. Kesempatan pertama diberikan kepada Pak Josep CEO Semen Bima yang juga komisaris Persibas Banyumas. Sepertinya, Pak Josep mencoba menguji mindset peserta tentang tujuan berwirausaha dengan satu pertanyaan bijak, yaitu; ”apa beda pengusaha sukses dengan pengusaha kaya”. Melihat banyaknya yang minat untuk menjawab, 5 (lima) peserta pun diberi kesempatan untuk menjawab pertanyaan itu. Pertanyaan selanjutnya berasal dari Om Wastam, pengusaha fenomenal pemilik Dream Land dan juga RM. Kampung Logawa. Beliau membuat segenap peserta terhenyak dengan pertanyaan sederhana yang intinya bagaimana mendapatkan modal untuk membangun hotel di seberang hotel yang ramai. Beberapa peserta mencoba menjawab, namun tak ada satupun yang berhasil menyentuh pertanyaan sesungguhnya. Bahkan, Om wastam memberi stimulan bagi yang bisa menjawab akan diberi kesempatan satu bulan gratis berkunjung ke Dream Land dan juga makan di RM. Logawa. Om Sandra pun memberikan bonus tambahan bila bisa menjawab pertanyaan Om Wastam, yaitu free bermain bilyard selama satu bulan dan uang cash Rp 300.000,oo. Suasana makin memanas namun tak satupun yang berhasil menjawab inti pertanyaan. Akhirnya, Om Wastam pun memberikan jawaban kreatif yang disambut dengan tepuk tangan seluruh peserta. Berikutnya Om Budi yang diberi kesempatan melemparkan pertanyaan. Pengusaha property ini memilih tidak melemparkan pertanyaan, tetapi memberi kesempatan uang cash Rp 10 juta bagi yang berhasil berhasil membawa konsumen untuk membeli rumah di lokasi-lokasi perumahan yang dibangunnya. Wowww...peluang ini pun disambut dengan hangat dan langsung memantik semangat peserta untuk menjadi broker. Setalah itu, giliran Om Ben yang melempar pertanyaan. Kali ini, Om ben menantang peserta mengoreksi defenisinya bahwa ”pebisnis itu harus pinter berkelit”. Om Ben juga mempersilahkan peserta untuk mendefenisikan sendiri tentang kata ”bisnis”. Pertanyaan ini pun langsung disambar oleh banyak peserta dengan berbagai jawaban yang mencerminkan kreatifitas dan semangat yang tinggi. 


Giliran terakhir, Tante Uthe. Pengusaha pemilik RM D’Saung, RM. Rakyat dan Toko Universal Gift ini meminta 10 (sepuluh) orang peserta yang mempunyai nyali untuk maju ke depan. Seketika peserta berhamburan maju ke depan. Terpaksa panitia membantu untuk membangun kebesaran jiwa yang lain, sebab kesempatan hanya diberikan kepada 10 (sepuluh) orang peserta. Tante Uthe meminta kepada 10 (sepuluh) orang ini mengutarakan mimpinya dan sekaligus strategi mencapainya. Wow...celetukan mereka cukup beragam dan sangat kreatif. Terlihat jelas bahwa mereka memang punya bakat cukuup untuk menjadi pengusaha.

Sebelum menutup acara, moderator memberi kesempatan kepada kedua nara sumber untuk memberikan closing statemen. Saat moderator mau mengakhiri sesi presentaai ini, spontan Pak Josep meminta waktu untuk memberikan jawaban atas pertanyaan beliau tadi. Diluar dugaan, Pak Josep mengatakan jawabannya ”next time” ya.....itu artinya, Pak Josep akan berkenan lagi untuk kembali ke Unsoed memberikan pencerahan. Statemen ini langsung disambut tepuk tangan seisi ruangan. Akhirnya, moderator menutup sesi ini dengan mengatakan bahwa agenda sabtu ini adalah sebuah permulaan. Hipmi Goes To Campus yang bekerja dengan BEM Unsoed akan menindaklanjuti kegiatan hari ini dengan mengadakan ”Coaching Clinic” yang diampuh langsung para pengusaha muda yang terhimpun dalam organisasi HIPMI BPC Banyumas. Foto bersama pun menjadi acara penghujung untuk agenda luar biasa kali ini.

Semua peserta tampak meninggalkan ruangan dalam keadaan bersemangat dan segera ingin memulai menjadi pengusaha. Sebagian dari mereka juga tampak lebih riang gembira karena berhasil meraih sovenir dan voucher yang dipersembahkan oleh RM Otentik, Mullegh ahli  Urusan Parfume dan Cendera mata dari Universal Gift.    



Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved