Jadilah Dirimu dengan duniamu wahai Anakku

Rabu, 24 Desember 20140 komentar

Ditepi kali kecil Serayu, Purbalingga, kalimat2 ini mengalir dan tersusun, saat menjalankan peran ayah dan melayani ingin ketiga jagoan berendam air. Kudapati anak-anak langsung bergabung dengan temen sebaya mereka di kali bening nan jernih yang mempertontonkan dasarnya.

Kudapati senyum lepas ketiga jagoanku, tampaknya  mereka menemukan kemerdekaan dan kebebasan berekspresi setelah 2 (dua) minggu di jejali dengan soal-soal UAS di sekolah. Walau tak ikut mandi, tetapi akupun sebenarnya melakukan hal serupa, melepas lelah dan penat setelah 2 (dua)  minggu juga terlibat dalam serangkaian persiapan anak-anak ujian dan menjalankan aksi stabilisator iklim agar kondusifitas terjaga untuk belajar di rumah.

UAS sudah usai dan ruang yang tersedia tinggal berdo'a,semoga ketiga anakku mendapati nilai seperti 
yang mereka harapkan. Sebab, aku tak pernah mematok anak-anakku  harus mendapat nilai berapa atau rangking berapa. Aku hanya mencoba menanamkan keyakinan pada mereka bahwa orang berilmu akan dinaikkan derajatnya oleh Tuhan dan juga lebih berpeluang untuk berbuat  untuk meraih masa depan yang baik dan bermakna bagi sesama citaan Allah. Akupun terus belajar mengamati detail keseharian mereka agar bisa menemukan defenisi diri dan karakter mereka sesungguhnya, selanjutnya memfasilitasi sedaya mampuku. Aku berkomitmen tidak menjadikan sebagai korban obsesiku tentang hidup.  Aku ingin mereka tumbuh dan berkembang seperti yang mereka inginkan.  

 
Sebagai anak, tak jarang mereka memiliki keinginan berlebihan  dan terkadang diluar kemampuanku untuk mengikutinya. Aku hanya mencoba menalarkan  dalam level logika yang bisa mereka terima, bila keinginan itu bisa berdampak buruk bagi perkembangan jiwa dan pribadi mereka. Sesekali aku coba mengalihkan lewat optimalisasi kewibawaanku selaku ayah dari mereka.

Anak..anak adalah insan unik yang lahir dengan sifat dan karakternya sendiri. Aku..aku adalah lelaki yang pernah mengalami dan berusia seperti mereka. Aku  juga mengalami ragam keinginan yang tak tersampaikan dimasa itu. Aku bukan mereka..mereka bukan aku..tetapi aku dan mereka dihubungkan Tuhan dengan ikatan darah dan cinta. Namun, cap orang tua bukanlah peembenar bagiku untuk memaksa mereka seperti inginku. Kalaupun aku punya keinginan tentang mereja,setidaknya aku harus melihat apakah hal itu menjadi keinginan mereka juga. Aku akan mencoba melihat apakah ada peluang mengkomunikasikan inginku hingga semua itu berlangsung diatas keyakinan mereka sendiri.

 

Anak..anak adalah amanah atau sebentuk kepercayaan Tuhan...dimana pasti ada pertanggungjawaban atas caraku memaknai dan menterjemahkan kepercayaan itu. Aku sangat bersyukur dititipin Tuhan 3 (tiga) orang lelaki. Faktanya, kehadiran mereka begitu bermakna luar biasa bagi hidupku, menjadi penyemangat, penghilang penat, perekat, sumber energi dalam menjalani hiruk pikuk kehidupan  dan tempatku bermohon doa saat hidupku dicukupkan sang pemilik hidup nantinya. Untuk itu, aku mencoba mengenalkan Tuhan di hidup mereka baik langsung olehku dengan cara yang aku bisa  maupun lewat sekolah yang menyampaikan nalar tentang keberadaan dan bagaimana seharusnya ber-Tuhan hingga menjadi pribadi yang layak menghuni sorga dihari akhir nanti.

 


Mungkin aku masih jauh dari sebutan ayah sempurna, namun berbuat yang terbaik yang aku bisa  untuk mendukung mereka adalah sumpahku. Aku ingin mengantarkan mereka menjadi pria yang me-lelaki dan berharap mereka dipertemukan Tuhan dengan perempuan yang me-wanita pula. Sebab, aku ingin mendapati cucu dari sebuah keluarga yang selalu diliputi kebahagiaan karena kekayaan hati, kebijaksanaan berpandangan dan komitmen tinggi terhadap kalam Tuhan sebagai referensi tindakan di keseharian hidup mereka.

 

Aku ingin mereka mendapati hidup mereka kelak lebih baik dariku. Namun, bukan berarti aku tak bersyukur dengan kehidupan saat ini, tetapi karena ingin bisa ikut mencetak satu generasi yang mampu menjadi cahaya bagi lingkungannya yang luas dan juga wujud keseriusanku di hadaoan Tuhan dalam menterjemahkan amanah Nya.
 
Pada akhirnya...semua berpulang pada Sang Kuasa. Kuharapkan Allah memberiku kesempatan menjadi ayah yang akan dikenang sebagai lelaki terbaik dalam hidup mereka. Aku pun ingin Allah menjadikan mereka sumber kebagahiaanku didunia dan penyelamatku di usainya peredaranku di duniafana ini. Amin ya Allah...
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved