UMKM BERBENAH MENYAMBUT KETADANGAN MEA

Selasa, 18 November 20140 komentar

materi disampaikan pada Agenda FGD UMKM yang diselenggarakan oleh BAPPEDA Kab. Banyumas, tanggal 19 Nopember 2014 di RM Sari Rasa, Jalan HR. Bunyamin, Purwokerto, Kab. Banyums, Prop. Jawa Tengah, Indonesia

 
A.  Prolog
Adalah sebuah kepastian MEA hadir di 01 Januari 2014. Era baru dimulai dimana negara-negara ASEAN seolah bersatu dan sekat-sekat kenegaraan seperti tak tampak. Pasar semakin terbuka dan persaingan pun sangat dimungkinkan semakin sengit, baik disebabkan oleh memproduksi atau memperdagangkan barang yang sejenis secara fungsi maupun disebabkan oleh berebut dipasar yang sama. Kreativitas dan kecerdasan pun diuji, apakah pada akhirnya menjadi pemain aktif ataukah menjadi obyek MEA. Ini tentang pilihan dengan konsekuensi yang melekat pada masing-masing pilihan itu.

Sebagai bagian dari meningkatkan semangat persiapan, Kabupaten Banyumas melalui BAPPEDA (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) menggelar satu FGD (Focus Group Discussion) dengan menghadirkan berbagai Unsur antara lain pelaku UMKM, Kadin dan beberapa instansi yang terkait denga penanganan UMKN.


B.  Materi


















C. RESUME


FGD (Focus Group Discussion) kali ini dimaksudkan untuk bisa meningkatkan kesiapan UMKM dalam menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi Asean), khususnya para pengrajin gula kelapa. Sebagaimana diketahui bersama, gula kepala adalah produk unggulan kabupaten Banyumas, sehingga perlu melakukan berbagai treatmen guna meningkatkan kaasitas diri, khususnya dalam hal kualitas produk dan juga pemasaran.

FGD ini dihadiri oleh stake holders yang antara lain; para pengrajin gula kelapa;
cluster gula kelapa;SKPD terkait di lingkungan Kabupaten Banyumas, dunia perbankan dan tidak ketinggalan para pelaku bisnis di sektor ini. FGD kali ini juga menghadirkan beberapa nara sumber, yaitu Sdr. Kukuh dari LSM LPPLSH, Mr.Peter dari GIZ dan Sdr. Muhammad Arsad Dalimunte mewakili Kadin Banyumas .Sementara itu, Bapak Jaka yang kesehariannya menjabat  Kabid ekonomi Bappeda Kab.Banyumas, bertindak sebagai moderator.

Dalam materinya, Mr. Peter dari GIZ  berkesimpulan bahwa  koordinasi antara Kadin, SKPD, kelompok2  gula kelapa dan dunia pendidikan masih tergolong lemah. Hal ini beliau nilai menjadi salah satu factor yang memperlambat  pertumbuhan dan perkembangan UMKM. Tiap kali dilakukan survey, pasti pelaku UMKM. Dalam penelitian yang dilakukan GIZ, tiap kali para pengrajin gula kelapa ditanya apa yang menjadi persoalan mereka, hamper semua menjawab tentang “kurang modal dan pemasaran yang lemah”. Namun demikian, ketika didalami lebih jauh, ternyata persoalan sesungguhnya bukan pada hal itu tetapi  pada persoalan mindset para pengrajin gula kelapa, keterjebakan pada produksi tanpa diikuti dengan perencanaan pemasaran yang baik. .

Secara kelembagaan, Mr. Peter juga mengutarakan bahwa  FEDEP selaku organisasi yang concern pada pemetaan dan pembahasaan potensi sebuah daerah, belum berjalan sebagaimana cita-cita awalnya yang ingin menduplikasi keberhasilan strategi pengembangan UMKM di Negara Jerman.  Salah satu indikatornya adalah masih lemahnya  inisiasi dan kontribusi pemikiran  dari pihak swasta terhadap jalannya PEDEF. 



Mr.Peter juga mengingatkan bahawa , gasil penelitian GIZ  menunjukkan bahwa UMKM di lingkungan Kabupaten Banyumas berada pada titik ancaman eksistensi yang serius. Hal ini disebabkan oleh persoalan regenerasi dimana anak-anak muda tidak mau atau tidak bercita-cita untuk meneruskan profesi orang tua mereka sebagai seorang penderes gula kelapa. Padahal, gula kelapa menempati porsi 70% dari total pendapatan para pelaku UMKM di Kabupaten Banyumas. Dari telisik musabab, mereka menyimpulkan bahwa ketidakmauan generasi muda untuk menjalankan profesi ini disebabkan kenyataan yang menunjukkan bahwa kehidupan para petani gula kelapa rata-rata kurang menggembirakan. Hal ini kemudian mendorong mereka berkesimpulan kalau sector ini tidak bernilai harapan hidup.  

Kaitannya dengan pembinaan UMKM, beliau mengatakan kalau hal tersebut tidak bisa dilakukan short term atau sporadis, tetapi memerlukan konsep yang integrative dan menjawab semua persoalan secara bertahap dan berkesinambungan. Beliau menggambarkan bahwa untuk efektivitas pembinaan UMKM diperlukan minimal 3 (tiga)  tahun dengan catatan  terbentuk intensitas komunikasi antara pembina dan umkm.   

Sementara itu, nara sumber dari LPPLSH, Kukuh menginformasikan bahwa pangsa padar komoditas gula semut masih sangat terbuka. Hanya saja, kaitannya dengan produksi, ada kekhususannya  yaitu memerlukan specific product untuk menghasilkan produk  dengan kadar gliscemix index yang rendah.  

Dalam sesi diskusi, juga diingatkan perlunya etika dan fair play mengingat banyaknya pelaku bisnis di sector ini. Sebab, persaingan atas pelaku usaha di sektor ini sering sekali menjadikan para para pengrajin gula kelapa menjadi bingung.






Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved