PENGHORMATANKU UNTUK DWIANA HARIDATA

Kamis, 23 Oktober 20140 komentar



PENGHORMATANKU UNTUK DWIANA HARIDATA


Dwiana Haridata nama lengkapmu, aku dan kawan2 di SMA dulu biasa memanggilmu Ana. Riang,lincah, smart, friendly, cantik, itulah kata yang tepat menggambarkan diri dan sifatmu. Bahkan, Endah mendefenisikanmu sebagai wanita sempurna.

Sore ini, bagai disambar petir, aku mendapat kabar di grup BB kelas kita di SMA kalau Ana telah pergi untuk selama2nya, setelah bertarung dengan kanker ganas yang bersemayam di tubuhnya. Aku shock...terdiam…tear....

Terkenang kembali persahabatan kita yang cukup akrab saat SMA dulu. Kita memang berlomba dalam urusan perolehan nilai dan peringkat, tetapi kita bersahabat kental untuk urusan keseharian. Hal ini tidak banyak diketahui oleh teman-teman sekelas kita. Sebagian besar dari mereka mungkin mengira Ana itu selalu riang dan penuh tawa dan canda, tidak ada yang tahu kalau Ana itu suka nangis kalau lagi galau atau hatinya lagi kacau oleh karena terbentur sesuatu.

Aku masih ingat pintamu atas waktuku sepulang sekolah hanya untuk curhat tentang kegalauan yang sedang menerpa perasaanmu, mulai dari persoalan di kos-kosan, cinta monyetmu, kucingmu, home sick mu. "Dasar anak cengeng", ujarku suatu waktu saat kamu menangis karena sedang kangen banget sama suasana rumah di sesi curhat yang entah keberapa kali. Kamu malah marah ke aku, tetapi setelah aku jelasin "memakimu" adalah teknikku untuk membangun kekebalan jiwa merantaumu, akhirnya kamu faham dan marahmu pun hilang berganti seyum kekanakan.  Aku masih ingat ekspresi lugu itu....


Di waktu yang lain lagi, kamu ngajakin aku untuk sesi curhat dengan penuh  paksaan. Sebenarmya aku sangat punya alasan kuat untuk menolak saat itu, sebab besoknya kita ada ujian mid semester. Tapi, dasar anak cengeng dan manja dimasa itu, Ana malah memohon  dengan penuh harap...plisss, kalau aku ndak luapkan semua uneg2, aku nggak bakalan bisa konsentrasi belajar dan pasti nilaiku akan jeblok besok, kamu tega?". Atas nama iba, lagi2 aku iya kan walau hanya untuk mendengarkan curhatan kamu yang tak jauh dari seputar tema kangen rumah dan cinta monyetmu yang menggelikkan itu. Karena keburu sore selesainya, akhirnya kamu memaksa aku agar mau dianter sama kamu pulang ke kosku dengan sepeda motor astrea primamu. Aku iyakan dengan seneng hati. Tapi dampaknya..seisi kosku berfikir kalau kamu dan aku ada hubungan special, aku digarapin se penghuni kos habis2an malam itu dan tak satupun dari mereka tak ada yang percaya penjelasanku kalau kita itu hanya bersahabat saat itu. Walau kemudian mereka meyakininya setelah beberapa waktu kemudian

Kita lulus dari SMA 6 Yogyakarta..aku diterima di Jurusan Akuntansi Unsoed Purwokerto dan kamu keterima di kampus Unpad Bandung jurusan HI. Komunikasi kita pun terputus, sebab saat itu belum ada HP seperti zaman sekarang yang serba modern ini. 5 tahun sesudah kelulusan kita dari SMA, tanpa sengaja kita bertemu di terminal Purwokerto dan kebetulan naik bis dengan tujuan yang sama, yaitu Jakarta. Ku dapati kamu sudah berhijab dan sedikit lebih kalem. Mungkin waktu telah membuatmu lebih dewasa atau hiruk pikuk kota Bandung telah membuatmu menjadi pendiam, begitu fikirku saat itu menghibur hati. Kita sempet kesulitan mencairkan suasana komunikasiyang kaku pada awalnya . Mungkin karena sudah terlalu lama kita tidak bersua dan bersapa. Disamping itu, sepertinya kamu sangat menjaga aura kehijabanmu. Akhirnya, disepanjang jalan Purwokerto-Jakarta, tidak terlalu banyak yang kita bicarakan walau duduk bersebelahan.  selebihnya kita hanya diam sampai di jakarta dan kemudian berpisah lagi.

Saat facebook merebak, engkau nge-add aku. Caramu menyapa begitu familiar, sehingga silaturrahmi tersambung kembali. Aku mendapatimu seperti dulu lagi, selalu ceria, friendly dan suka bercanda. Chattingan kocak dan saling bertukar cerita pun sering kita lakukan, mulai tentang keluarga masing-masing, kelucuan pola tingkah anak2 dan suasana pekerjaan yang terkadang membosankan. Disela-sela kesibukan pun sering kita say hello walau hanya sekedar bertanya kabar masing-masing.

Suatu waktu, saat dirimu dan keluarga liburan lebaran ke Yogya, kalian berencana mampir ke Purwokerto yang kebetulan dilewati saat kalian juga mau pulang kampung ke Cilacap. Sayangnya, karena kena macet dan tidak ada kepastian jam datangnya di Purwokerto, akhirnya keluargamu dan keluargaku  tidak jadi ketemuan sebab aku dan keluarga juga kebetulan ada acara keluar kota di sore harinya. Demikian pula saat aku ada meeting di Jakarta, beberapa kali kita rencanakan ketemuan di sela2 kesibukan masing-masing, tetapi tak satu kalipun matching waktunya. Memang belum rezeki kita bisa bersua kembali.


Saat BB mulai nzamani, kita terhubung di BB setelah bertukar PIN lewat Facebook. Komunikasi kita lancar kembali. Tegur sapa sering berlangsung dengan klu tema serupa, keluarga, anak-anak, pekerjaan dan tak ketinggalan berita2 yang lagi heboh di negeri ini, mulai dari politik sampai dunia keartisan. Tak jarang, kita sering terjebak perdebatan seru seputar  pandangan politik yang sering berbeda, karena kebetulan kamu kerja di sekretariat DPR-RI sehingga faham betul tensi politik yang sedang berlangsung di negeri ini. Kita sering saling bantah-bantahan dalam urusan ini  walau selalu diakhiri dengan gelak canda tawa sebagai penutup. Tak ketinggalan aku selalu ngeledekin kamu dengan kalimat "ngabisin uang negara aja" saat kamu sedang melakukan perjalanan dinas ke luar negeri. Tetapi, kamu selalu jawab dengan santai.."Demi kemajuan bangsa bro….". Kita juga sering melakukan candaan kolektif sahut bersahut tak berujung di group BB dengan temen-temen satu kelas di SMA 6 Yogyakarta dulu.

Ah..aku bener-bener shock dan air mataku terus mengalir disepanjang jemariku menari diatas papan keyboard labtop menuangkan segala kenangan persahabatan kita.  Aku sangat sesalkan tak sempat bertemu lagi dengan Ana walau sudah beberapa kali direncanakan. Beberapa minggu lalu, aku dan firman  sempat membicarakan tentang perjuangan hebatmu melawan penyakit kronis yang menghinggapi. Kebetulan sebulan lalu aku berganti HP dan PIN BB mu tak tersambung lagi denganku walau di group kita masih bisa bersapa.  2 (dua) hari lalu pun aku baru saja bermaksud menyapamu khusus untuk menanyakan perkembangan kesehatanmu.  Namun. Lagi-lagi kesibukan membuatku alfa  menunaikan niat menyapamu, sampai kemudian sore ini aku mendapati berita kamu telah berpulang....

Aku terhenyak...terdiam beberapa saat..kemudian aku mengucapkan belasungkawa  di group BB kelas kita.sesudahnya..aku kembali terdiam..seperti kehilangan ingatan. Aku meneteskan air mata tanpa terasa. Waktu begitu cepat dan Allah mencukupkan masamu  di dunia dalam usia yang tergolong relatif muda. Semua tentang kebersamaan denganmu seolah tersaji kembali dihadapanku dalam wujud tontonan sinema. Sulit bagiku percaya kalau kamu telah pergi selama-lamanya. Tetapi, ini semua sudah takdir Tuhan yang tak mungkin tergugat. 

 
Aku mencoba menghubungi teman-tema kita untuk mendapati informasi apakah kamu akan dikebumikan di Jakarta atau di kota asalmu Cilacap. Tetapi, Hengki mengabarkan bahwa kamu dan keluarga sudah meninggalkan Cilacap beberapa tahun lalu sehingga kemungkinan besar kamu akan dikebumikan di Jakarta. Aku coba menanyakan firman untuk memastikan informasi, beliau bilang juga belum punya informasi valid tentang akan dikebumikan di mana. Akhirnya aku menyerah dan mencoba membangun ikhlas  untuk tak bisa bertemu kamu lagi walau jasadmu sekalipun.

Sobat..aku hanya bisa berdo'a untuk kembalimu pada Sang kuasa. Aku berharap Allah menempatkanmu di sisi yang mulia. Aku sangat yakin itu, karena aku tahu pribadimu begitu baik dan bijaksana. Aku pun mendo'akan ketabahan dan keikhlasan 2 (dua)  anak dan suami tercintamu. Aku tahu mereka pasti begitu menyayangi dan mencintaimu, mereka pasti sangat membutuhkan hadirmu dihari-hari mereka. Tetapi..ini ketetapan Allah yang tak tertolak, namun engkau pasti akan tetap hidup dihati mereka. Ajaran-ajaran mu akan terus membimbing hari-hari anakmu untuk menjalani kehidupan berikutnya. Ragam kebaikan dan kebijaksanaanmu semasa hidup akan menjadi penuntun mereka untuk terus berjuang melanjutkan hidup. Ku doakan kalian akan berkumpul kembali di hari akhir nanti.


Selamat jalan sahabat..banyak orang  merasa kehilangan atas kepergianmu..termasuk kawan-kawan kita se kelas di  SMA 6 yogyakarta dahulu, ada Bambang, Erlin,
Dwi Purwantoro, Hengki,Yanti, Endah, Firman, Elvina, lilik Nurhayati, Achmad Sonhaji, Sari dan riduwan duce.  Bahkan aku sempat bersitegang malam ini dengan Arum yang sempat berpersepsi bahwa aku tidak peduli dengan mu. Namun, sesudah melalui proses klarifikasi akhirnya kami bertemu ujung yang baik dan kemudian terbangun tekad untuk semakin mempererat tali silaturrahmi diantara kawan-kawan SMA dulu.



Dwiana sahabatku.....tulisan ini mewakili rasa hormatku atas persahabatan penuh hikmah denganmu. Selamat jalan sahabatku Dwiana Haridata..indah lah di sisi- Nya bersama amal-amal baik yang telah kau torehkan disepanjang hidupmu...Amin Ya Robbal ‘Alamin...
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved