MASUKAN DPW JATENG UNTUK KONGRES AKRINDO

Minggu, 14 April 20130 komentar


MASUKAN AKRINDO DPW JAWA TENGAH
PADA KONGRES  AKRINDO
MEWUJUDKAN TOKO SEBAGAI SIMBOL IDEOLOGI KOPERASI
Subyektifitas dalam Rasionalitas

A.  Sekedar Pengingat
Koperasi lahir dari adanya ketertindasan kaum buruh akibat dari eksploitasi yang dilakukan kaum pemilik modal. Mereka menyatukan potensi untuk memperbaiki kualitas hidup melalui mobilisasi ketertindasan sebagai sumber energi melahirkan kolektivitas. Bersatu menjadi pilihan karena meyakini perkuatan akan lahir  dari kebersamaan. Selanjutnya, koperasi tersebut menggelinding menjadi gerakan sosial (social movement) mandiri berbasis kolektif, dimana koperasi diperankan sebagai alat perjuangan keadilan ekonomi dan pembangunan hidup yang lebih berkualitas.

Tahun 1995, ICA (International Cooperative Alliance) selaku induk organisasi koperasi dunia, dalam statemennya tentang Jati Diri koperasi menyebutkan bahwa koperasi adalah kumpulan orang guna memenuhi aspirasi dan kebutuhan ekonomi, sosial dan budaya. Ada 2 (dua) hal yang menjadi catatan: (i) koperasi sebagai alat memenuhi aspirasi dan kebutuhan. Kita terbiasa dengan kata kebutuhan, tetapi sangat jarang memaknai kata aspirasi yang lekat dengan agenda duduk bersama untuk belajar mendengar dan merumuskan strategi  peningkatan kualitas hidup berbasis kebersamaan dan; (ii) ekonomi, sosial dan budaya. Dalam faham dan laku kebanyakan, koperasi dimaknai sebagai ekonomi semata. Hal yang paling nyata adalah terbudayakannya SHU Oriented. Ironisnya, walau faham ini begitu akud, tetapi tak banyak koperasi yang berhasil mencapai titik optimum. Apa yang salah dalam hal ini? Apakah SHU oriented adalah misi yang imposible?. Semoga ragam tanya ini berujung pada gairah untuk berkontemplasi, menyusun solusi dan mewujudkannya ke dataran praktis, sehingga kebermanfatan-kebermanfaatan koperasi akan tumbuh dan berkembang secara bertahap dan berkesinambungan.


B.  Akrindo Sebuah Terobosan Brilian Berbasis Profesionalisme
Kelahiran Akrindo dan semangat yang diusung layak diacungi jempol. Pembacaan peluang menunjukkan insting tajam yang disertai dengan kapasitas profesionalisme yang tak patut diragukan lagi. Kelahiran beberapa karya luar biasa Akrindo  di daerah asal kelahirannya  Jawa Timur merupakan sederetan bukti yang memperkuat bahwa Akrindo layak dijadikan tambatan untuk bersandar. Ini harapan baru bagi perwajahan koperasi-koperasi Indonesia, khususnya dalam konteks pengembangan unit toko, dimana mayoritas koperasi di Indonesia memiliki unit layanan ini.

Dalam semangat profesionalisme, membahasakan akumulasi data penjualan menjadi peningkatan bargainning position merupakan terobosan brilian, apalagi diikuti dengan pembenahan segala aspek manajemen pertokoan koperasi. Dengan demikian, akan tersaji unit layanan toko koperasi layak konsumsi bila ditinjau dari segala aspek. Adakah ini akan membuat toko koperasi akan dicintai anggotanya?. Semua berharap demikian.

Dalam tinjauan rasionalitas sebuah bisnis, terobosan profesionalisme semacam ini adalah prasyarat untuk bisa survive dan berkembang. Oleh karena itu, apa yang menjadi misi Akrindo adalah sebuah kebutuhan bagi koperasi yang memiliki kesadaran tinggi, maupun bagi koperasi-koperasi yang  masih memerlukan perjuangan perubahan mindset  dan bahkan bagi koperasi-koperasi yang masih dalam tensi hidup segan mati tak mau.


C. Ketika Toko Menjadi Salah Satu Simbol Ideologi Koperasi.   
Mengulang kembali sebagian semangat alinea sebelumnya, bahwa koperasi adalah alat perjuangan membangun kualitas hidup yang lebih baik, khususnya ekonomi, sosial dan budaya. Mempersonifikasikan koperasi sebagai mesin penjawab kebutuhan dan juga  aspirasi menjadi tantangan tersendiri. Pengintegrasian ekonomi, sosial dan budaya ke dalam perusahaan koperasi memerlukan pengayaan metode demi ketercapaian efekivitas. Satu hal yang menjadi catatan, koperasi tidaklah bebas nilai sehingga apapun yang dilakukan harus mereferensi pada nilai-nilai yang terumuskan dalam jati diri koperasi sebagaimana termaktub dalam ICIS (ICA Cooperative Indentity Statemen), 1995.

Pendekatan rasionalitas sebagaimana visi dan misi Akrindo adalah salah satu faktor penting ditengah persaingan layanan yang super sengit saat ini dalam dunia usaha. Namun demikian, mengembalikan anggota ke kandang koperasi adalah pekerjaan besar, dimana langkah-langkah rasionalitas harus di ikuti dengan langkah berikutnya, yaitu membangun kesadaran bahwa kolektivitas adalah muasal kelahiran efisiensi kolektif. Artinya, kesadaran-kesadaran semacam ini harus dibangun melalui pendidikan yang terus menerus, karena bila hanya pendekatan rasionalitas yang dilakukan, pelaku ekonomi lain pun telah lebih dulu melakukannya. Disinilah nilai beda koperasi perlu ditonjolkan lewat pembangunan kesadaran. Pola Sounding keberadaan toko koperasi harus mencerminkan pada semangat membangun kebersamaan, sehingga rasa memiliki menjadi faktor dominan dalam diri anggota dalam mentransaksikan kebutuhannya di koperasi. Semangat kepemilikan ini harus di drive menjadi kesadaran mengambil tanggungjawab untuk ikut membesarkan perusahaan milik bersama bernama koperasi. Dengan demikian, akan terbentuk transaksi subyektif yang didasarkan pada semangat untuk memperluas kebermanfaatan berkoperasi pada segenap stake holdernya, khususnya anggota sebagai unsur mayoritas.

Andai rasionalitas manajemen dan semangat kepemilikan ini menyatu, maka toko koperasi akan mewujud menjadi simbol ideologi dari kebersamaan yang terbentuk di koperasi. Adakah didunia ini hubungan yang lebih rekat ketimbang sebuah hubungan ideologi?. Bukankah hubungan ideologi terbukti efektif menggerus kekakuan struktur, jarak dan juga rentang status sosial antar personal?.  Intinya adalah, koperasi harus dijauhkan dari hubungan kepentingan sempit sebatas transaksional sesaat, tetapi harus didorong menjadi hubungan ideologi  yang menjunjung tinggi nilai-nilai persahabatan, kesetiakawanan, kegotongroyongan dan  saling tolong menolong.   

Pemikiran semacam ini tidak bermaksud untuk menilai rendah inisiasi besar yang telah dibangun oleh Akrindo dalam menumbuhkembangkan toko-toko milik koperasi di seluruh Indonesia, tetapi mendudukkan toko koperasi sebagai simbol ideologi sebagai induk semangat  akan lebih mendorong percepatan visi dan misi yang dikembangkan dan di geluti Akrindo itu sendiri. Dalam perumpamaan sederhana, tak satupun pasangan suami istri bisa menghalau laju perkembangan fashion dan tata kelola kecantikan yang telah membuat generasi muda tampil lebih kinclong dan lebih menarik dibanding generasi setengah abad, tetapi ketulusan cinta yang di kombinasi dengan kekuatan iman telah mendorong mereka untuk tetap bersatu dalam ikatan suci pernikahan yang pernah mereka ikrarkan di kala masih muda. Semoga perumpamaan ini membantu kita memaknai kedahsyatan sebuah hubungan ideologi yang bernama koperasi. 


D.  Penutup
Andai margin di koperasi hanya diperuntukkan menutup biaya operasional saja, bisa dibayangkan berapa banyak peningkatan pendapatan riil anggota koperasi melalui terciptanya efisiensi kolektif. Artinya, ketika koperasi SHU 0 (nol) sekalipun bukanlah sesuatu yang buruk ketika hal itu menjadi kesepakatan sosial dari segenap anggotanya. Hal ini sangat mungkin menjadi sebuah cara efektif membangun kesadaran akan kebermanfaatan koperasi secara nyata. Namun demikian, hal ini harus melalui kombinasi antara keterbangunan kualitas  kolektivitas  dengan rasionalitas manajemen yang komit mengusung efisiensi, efektivitas dan medernitas performance pelayanan. 

Inilah uniknya ideologi koperasi yang menjunjung tinggi kebersamaan untuk memperluas kebermaknaan, sebab koperasi lahir bukan dilandasi pada semangat pertumbuhan modal sebagaimana kapitalis, tetapi membentuk kualitas hidup melalui kesepakatan sosial yang kental.

Semoga pemikiran sederhana ini menginspirasi kebaikan, khususnya bagi perkuatan eksistensi AKRINDO di seluruh penjuru negeri tercinta ini. Bravo Koperasi....!!!!!!
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved