DOSA SEBUAH BISNIS

Kamis, 20 September 20120 komentar



Bisnis adalah bagian dari cara membuat hidup tetap hidup. Setidaknya itu mewakili sebagian realitas, ntah itu mayoritas atau minoritas. Mungkin akan menjadi aneh ketika bisnis adalah tentang “bagaimana menyampaikan pesan edukatif”. Apalagi ditengah paradigma bisnis dimaknai sebagai aktivitas yang lekat dengan putaran modal.
Kata “bisnis” sesungguhnya sudah terdefenisikan dalam kamus bahasa maupun teori ilmiah. Namun bukan berarti sebuah keharaman bagi setiap orang membangun persepsi baru tentang bisnis walau terkadang merusak defenisi yang berlaku secara umum. Inilah dinamika hidup, dimana dinamika zaman selalu membentuk pandangan-pandangan baru atas sesuatu.


Namun demikian, saya dikagetkan oleh pemikiran seorang sahabat yang mengatakan bahwa bisnis juga terkadang berhubungan dengan dosa. Seketika saya merespon dengan tegas bahwa “ adalah sebuah sebuah kesalahan yang nyata ketika komoditas  bisnis adalah barang-barang terlarang dan berpotensi merusak bagi konsumen”. Kemudian orang itu kembali menyahut : Semua orang tahu narkoba, minuman-minuman keras, money laundry, tempe bongkrek, daging segar berpengawet, bahan berformalin adalah sebuah kesalahan karena mengandung unsur-unsur yang berpotensi merusak atau merugikan orang lain atau pihak tertentu dalam arti luas. Tetapi saya tertarik mendalami kalimat anda tentang “merusak”, karena pada titik itulah sesungguhnya “maksud dasar” dari statemen saya. Saya tak mengerti maksudmu, ujarku.

Setelah menghisap rokoknya dalam-dalam, kemudian dia bersuara lagi, “ secara jujur saya menilai bahwa rokok adalah komoditas yang tidak hanya merusak diri (perokok aktif), tetapi juga berpotensi merusak orang lain (perokok passive). Gilanya lagi, saya pun tak kunjung bisa berhenti dari kebiasaan jelek ini walau menyadari akibat negatifnya. Metodologi pembahasaan produk ini telah berhasil memasukkan ke dalam otak saya kalau rokok adalah teman sejati sambil minum kopi, sebagai sumber inspirasi dan pemecah kebuntuan ide, pembunuh rasa sepi, sebagai teman setia dalam sesi berkhayal liar dan lain sebagainya yang terasa semua benar dan membuat saya semakin sulit menjauhinya. Saya tak bisa menyalahkan pabriknya, saya hanya bisa menyesali keterjebakan dalam candu rokok tanpa membangun keinginan kuat untuk meninggalkannya. Terbersit gagasan berhenti merokok  dengan meniadakan sumbernya atau mengasingkan diri di sebuah tempat dimana tidak ada tersedia rokok dari jenis apapun. Tetapi, saya berfikir hal terbaik adalah membangun “kesadaran sendiri” tanpa menggugat rokok itu sendiri. Akhirnya saya menetapkan tanggal dan bulan berhenti merokok walau saya belom menetapkan tahunnya. Tetapi, kembali mendalami kata “merusak” dalam bisnis, rusak yang diakibatkan mengkonsumsi komoditas narkoba, tempe bongkrek  gampang melihat kadar kerusakan yang ditimbulkannya. Tetapi yang paling meresahkan adalah kerusakan yang  diakibatkan bisnis tetapi hampir tak terlihat “. Maksudnya???, langsung ku sela karena penasaran dan ingin mengetahui isi fikiran orang aneh satu ini.  

“ sejujurnya  saya sedang resah dengan cara-cara bisnis yang menggunakan  metode perubahan mindset manusia alias cuci otak. Inilah yang sangat saya khawatirkan, sebab datangnya tak disadari tetapi efeknya jangka panjang dan bisa merusak tatanan nilai-nilai luhur bangsa ini . Saya melihat tumbuhnya hedonisme atau konsumerisme ditengah masyarakat adalah hasil rekayasa sistematis dan terencana. Bahkan hedonisme perlahan berhasil memposisikan diri sebagai “ideologi” bagi banyak orang dan hal ini berpengaruh besar dalam perubahan nilai-nilai dan budaya masyarakat. Barang/komoditas bisnis di persepsikan melebihi fungsi dasarnya. Cobalah anda lihat, bagaimana mobil tidak lagi sebatas fungsi transportasi tetapi telah menjelma menjadi fungsi harga diri dan menjelaskan status sosial. Demikian juga Handphone yang sudah melebihi fungsi dasarnya sebagai alat komunikasi. Anda lihat berapa banyak anak  yang merengek pada ibu bapaknya hanya karena ingin menukar merk HP nya agar terlihat modern dan mengikuti zaman. Kita juga melihat paradigma di masyarakat bahwa pesta pernikahan berlomba kemewahan melebihi fungsi dasarnya sebagai media sosialisasi agar terhindar dari fitnah. Kelompok Ibu-ibu juga mulai banyak menyelenggarakan kocokan arisan yang dapatnya hanya Rp 1 juta, tetapi dilaksanakan ditempat-tempat yang menghabiskan Rp 800.000,oo.  Arisan yang fungsi dasarnya untuk “belajar menabung dan saling membantu” telah beralih fungsi ajang kumpul2 berdasarkan kesamaan status sosial.  Rumah sakit pun memberlakukan kelas  yang tidak hanya membedakan pola pelayanan, tetapi juga  seolah memberi gambaran tentang status sosial dan tingkat ekonomi sang pasien. Bahkan sampai urusan tempat peristrahatan terakhir (baca: kuburan) pun telah menunjukkan kelas  sosial seseorang. Sepertinya Semua yang dilakukan untuk membangun kesan hebat, walau di lakukan tanpa sengaja dan di perkuat dengan kalimat pembenar yang semakin menancapkan betapa pentingnya terlihat hebat dalam segala hal. Tak jarang kita mendengar kalimat “sebagai penghormatan terakhir” sebagai pembenar atas pemilihan tempat kuburan elit. Tak jarang kita mendengar kalimat : mosok bos kok naik sepeda motor, mosok arisan RT panganane cuma seperti ini, kok mau kondangan hanya pakai baju ini yang sudah saya pakai di kondngan si anu, dan lain sebagainya dan lain sebagainya yang pada akhirnya mendorong orang untuk lebih konsumtif.  Pada titik inilah kemudian ladang bisnis menjadi terbuka lebar dan angka inflasi pun menjadi sulit dikendalikan. Celakanya, siapa yang panen dari suksesnya menumbuhkan budaya konsumtif itu???. Hebatnya lagi, masyarakat (baca: konsumen) tidak merasa kalau konsumtif adalah sebuah ancaman membahayakan.  Inilah yang kemudian saya katakan cara bisnis  yang menimbulkan efek kerusakan  luar biasa dan tidak terasa datangnya.  Turunan dari keberhasilan rekayasa itu adalah munculnya produk bisnis  sebagai pemuas naluri hedon yang tumbuh tadi. Artinya, gagasan pemunculan produk berawal dari semakin nyatanya budaya hedon di kalangan masyarakat. Disatu sisi, hal ini tampak baik karena memunculkan peluang bisnis, tetapi semakin kuatnya budaya hedon menjadi ancaman serius pada sisi lainnya.. Pungkasnya.

Semakin aneh aja ini orang fikirku. Tetapi, aku kemudian bertanya lagi, “apa salahnya kalau kemudian seseorang memanfaatkan peluang dan men-drive nya sebagai bisnis yang menghasilkan dan tidak hanya menghidupi dirinya, tetapi juga banyak orang.?? .  Kemudian secepat kilat dia menjawab pertanyaan dengan tanya baru yang membuatku berfikir: “ apakah disebut sebagai sebuah kebaikan ketika bisnis yang kita jalankan mendatangkan keburukan bagi orang lain (baca : konsumen), walau tak terlihat sekalipun???”. Apakah atas nama “biar hidup berlanjut” kemudian kita boleh alfa dalam hal kepedulian atas efek buruk yang ditimbulkan dari bisnis yang kita jalankan??”. Mungkin menjual sepatu sekolah dengan berbagai ragam merk dengan tingkat harga yang berbeda-beda tampak bukanlah masalah dan bahkan memberi  lebih banyak pilihan bagi konsumen. Tetapi terfikirkan kah kalau hal itu telah menimbulkan luka dalam bagi  seorang siswa yang orang tuanya tak mampu membelikan, sementara tema sekelasnya memakainya setiap hari di hadapannya??.  Bukankah seorang pasien akan bertambah menderita secara psichologis karena dia tak mampu membayar di kelas VIP, sehingga keadaan memaksanya untuk menerima kualitas pelayanan di kelas 3 (tiga) dan berjubel diantara pasien lainnya???. Masih ingatkah anda bagaimana seorang pemulung menggendong anaknya yang telah meninggal dan harus berjalan dari sebuah rumah sakit di Jakarta menuju kampungnya di bogor karena tidak memiliki uang untuk membayar biaya ambulance???. Kemudian saya lihat dia meneteskan air mata dan bahkan sesenggukan. Setelah menyeka air matanya, dia kemudian melanjutkan. “ aku tak bisa  menahan air mata saat anak TK  dari berbagai penjuru  sekolah  yang sedang mengikuti lomba “marching band” di sebuah kabupaten. Demi sebuah “nama baik atau reputasi sekolah” anak-anak belia itu diperlombakan. Atas nama sebuah capaian prestasi, para belia ini diajarkan untuk saling mengalahkan. siapa yang diuntungkan dari event ini??.  Apakah ini sebuah edukasi ataukah ini tentang sebuah bisnis bagi  penyelenggara??. Bahkan anak-anak belia itu belum mengerti apa arti kemenangan. Kalimat apa yang harus dijelaskan  oleh orang tua dan para guru pada anak belia itu ketika melihat temen-temennya dari TK yang lain berhak membawa pulang piala kemenangan, sementara  dia pulang tidak membawa apa-apa. Saya pun tak bisa melihat beda nyata cara berpakaian satu TK  dibanding TK lainnya. Aku tak bisa menyaksikan wajah-wajah tak percaya diri dari para orang tua siswa-siswi TK dari sebuah desa terpencil. Kalau ini tentang persoalan nama baik sekolah, tidak adakah cara lain untuk menaikkan citra sekolah???. Kalau ini tentang mencetak anak berprestasi, tidakkah ada cara lain membentuk prestasi siswa???. Kalau ini tentang bisnis bagi penyelenggara, tidak adakah ide lain yang juga bisa mendatangkan penghasilan???. Atau semua ini juga di awali dari keinginan “tampak hebat”???.  Aku juga ndak habis fikir mengapa perempuan dijadikan tool dalam pemasaran. Mereka diseragami dengan pakaian minim yang mempertontonkan lekuk tubuh indah dan bagaian-bagian sensitif yang begitu menonjol. Apakah metode pencitraan produk tidak ada cara yang lebih cerdas???.  Kalau itu hanya sebuah kebetulan, merngapa hanya wanita yang cantik dan memiliki tubuh yang aduhai yang diseragami. Pernahkah mereka berfikir seandainya itu terjadi pada anak mereka???.  Aku pun tak habis fikir mengapa  saat ramadhan yang jelas-jelas sebuah aktivitas religius dan mengajarkan tentang kesederhanaan hidup justru membuat hidup lebih boros di sebagian orang yang menjalani puasa itu sendiri. Idul Fitri yang hakekatnya hari kemenangan telah diartikan sebagai moment untuk perayaan yang berujung dari pelipatan budget pengeluaran. Ironisnya, harga-harga apapun menjadi mendadak melonjak. Siapa lagi yang diuntungkan dari mobilisasi persepsi tentang puasa dan lebaran itu????.  

Hmmm...aku speechless mendengar penjelasan itu. Terus, apa kesimpulan anda tentang semua itu, tanyaku. Kemudian dia menjawab; “Saya merasa semua ini adalah “hasil rekayasa” dari suatu kekuatan yang  tidak terlihat dan bahkan nyaris tak terdeteksi. Mereka telah berhasil merubah pandangan-pandangan kita lewat penancapan mindset lewat berbagai ragam media. Mereka berhasil mendorong keberpihakan kita atas hal-hal baru yang mereka kampanyekan, hingga yang tadinya bukan sebuah keinginan menjadi kebutuhan pokok dalam fikiran  kita. Keberhasilan mereka perlahan membuat kita menjadi konsumtif dan ironisnya sebagian dari masyarakat yang tidak mampu menyesuaikan terpinggirkan. Lihatlah betapa “hutang” demi memperoleh sesuatu yang kita inginkan sudah menjadi sebuah budaya. Bahkan tanpa disadari, untuk apa yang kita inginkan (sebagai hasil dari rekayasa mereka atas fikiran kita) kita rela mengorbankan pendapatan masa depan kita. Mereka sudah merancang “pemanfaatan” penghasilan kita walau kita belom menerimanya. Lihatlah paradigma materialitas yang begitu menggejala, sehingga sebagian besar orang berlomba-lomba  untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dengan harapan bisa membeli apapun yang diinginkannya. Kata “sederhana” terkooptasi menjadi kebiasaan orang miskin saja, dimana kesederhanaan adalah akibat dari ketidakmampuan. Kesederhanaan tidak lagi dipandang sebagai cara mengendalikan diri dari sifat tamak. Kesederhanaan tak dipandang lagi sebagai bagian dari kesetiakawanan atau muasal keterbangunan spirit berbagi satu sama lain. Mereka berhasil membuat kita meng-gilai persaingan individu  dan saling mengalahkan, akibatnya budaya gotongroyong perlahan kehilangan gairahnya ”. 
Tiba-tiba telepon genggamnya berdering. Ternyata dari Istrinya  yang mengabarkan kalau anak-anaknya sudah siap berangkat keluar kota untuk liburan tahunan keluarga ke tempat wisata terkenal di sebuah kota tepatnya di negara Australia.  Seketika aku protes, bukankah membiasakan  liburan keluarga juga bagian dari keberhasilan rekayasa kekuatan tak terdefenisi itu ???. Dengan enteng sambil tersenyum dia menjawab, “ Ini cara saya mengabarkan pada anak dan istri saya betapa luasnya ciptaan Tuhan  ”. Kemudian dia berlalu secepat kilat dengan mobil mewahnya sambil tersenyum pada saya.  

Hmmm...aku hanya bisa geleng-geleng kepala dan kemudian beranjak jalan kaki menuju kontrakanku sambil memutar kembali pembicaraan aneh bersama orang aneh itu.
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. Arsad Corner - All Rights Reserved